
Kemudian pak Agus pun mulai berdiri dari duduk nya saat ini. Lalu setelah ia berdiri, ia pun mulai pergi meninggalkan ruangan Galang untuk kembali ke ruangannya.
Tap... Tap...
Suara langkah kaki yang terdengar oleh Galang mulai kecil semakin kecil hingga langkah itu pun tak terdengar lagi.
"Hem... jadi kepikiran nih, boss marah nggak ya sama sikap adek itu. Apalagi adek langsung pergi setelah kunci boss di ruangannya. Ah... dek kamu bikin masalah terus." Kata Galang yang mulai kepikiran dengan apa yang dilakukan Viona terhadap Rendi.
Di lain tempat, tepat nya di ruangan Rendi. Ia pun sama sedang memikirkan yang terjadi pada dirinya hari ini.
Di mulai dari ia ketemu dengan Viona di luar kantor, bicara di dalam lift, makan bareng, berdebat sampai yang terakhir ia di kunci oleh Viona. Semua ini sedang ia pikir kan setiap kejadiannya bukan membuat ia marah melainkan sebaliknya.
Semua ini seperti momen langka yang sudah lama tak pernah ia rasakan lagi semenjak putusnya ia dengan perempuan yang pernah ada di dalam hatinya sebelum Viona. Bahkan rasa itu membuat ia trauma tak ingin mengenal perempuan lagi. Setelah matan pacarnya lebih memilih orang lain dari pada dirinya.
Bahkan keluarga perempuan itu pun mendukung keputusan anak nya untuk memilih laki - laki itu.
Saat mengingat semua kejadian itu membuat ia kembali mengenang rasa sakit yang tak semua orang bisa merasakan ini semua.
Rasa sakit yang tak berdarah. Namun, sangat membuat luka yang terdalam pada hati yang begitu tulus mencintai perempuan itu.
Mau marah, kecewa, dan menyalahkan pun ia tak tahu harus siapa yang di salahkan. Karena mungkin inilah yang harus ia terima saat rasa yang memang seharusnya ia tahan malah ia ungkapkan dan ia jalani dengan perempuan itu.
Sampai dimana rasa itu membuat luka yang membekas sampai saat ini. Namun, sekarang rasa itu mulai hilang sedikit demi sedikit rasa itu akan hilang karena ada nya sosok perempuan yang mulai membuatnya nyaman. Dan perasaan ingin memiliki pun kerap kali selalu ia inginkan saat bersama perempuan itu.
Perempuan yang membuatnya terus ada di dalam pikiran dan hatinya. Membuat ia semakin ingin menginginkan perempuan itu selalu ada di setiap hari yang ia lalui.
Namun, ternyata semua itu tak akan mudah ia dapatkan. Karena setiap bertemu pun bukan hal baik yang ia dapatkan. Melainkan sebaliknya, tetapi hal itu anehnya membuat ia bukannya marah tapi semakin penasaran dan semakin ingin tau lebih tentang kehidupan perempuan itu.
__ADS_1
Ya perempuan yang di maksud Rendi adalah Viona. Perempuan yang entah kenapa bisa meluluhkan hati yang terluka ini.
Dari sekian banyak nya perempuan yang ia temui setelah putus dengan perempuan yang membuat ia harus merubah semua sikapnya. Kini ia di hadirkan kembali dengan sosok perempuan yang bukan hanya sekedar ingin untuk menghilangkan rasa penasaran. Melainkan untuk menjadikan ia seseorang yang berarti dalam hidupnya.
Walau dalam mendapatkan hati nya, ia harus berjuang karena sikap nya yang luar biasa. Tapi tak membuat ia menyerah untuk mendapatkannya. Malah semakin membuat ia semangat untuk mendapatkan perempuan itu.
"Dek kamu tau semenjak abang kehilangan perempuan yang membuat abang pertama kalinya merasakan cinta. Pertama kalinya menjalin hubungan sejak saat itu abang tak ingin mengenal cinta lagi. Bahkan hati ini rasanya enggan untuk mengenal lagi arti sebuah cinta. Tapi setelah ketemu kamu walau baru dua kali, entah kenapa rasa yang udah lama abang lupain dan tak pernah abang rasakan lagi. Kini abang rasakan kembali dek, setelah bertemu kamu. Keinginan untuk memiliki kamu pun semakin membuat abang terus berpikir bagaiman abang bisa meluluhkan hati kamu dan mendapatkan hati kamu. Rasa nya menunggu hal itu akan penuh perjuangan. Tapi semua itu akan abang lakukan agar kamu bisa abang dapatkan dan akan abang jadikan kamu seseorang yang sangat berarti dalam hidup abang. Tunggu dek abang pasti akan membuat kamu jadi milik abang karena kamu perempuan yang sedikit demi sedikit telah menghilangkan rasa sakit yang di berikan oleh cinta pertama abang. Kamu tau dek, setelah kejadian ini abang akan berusaha untuk mendapatkan kamu sampai dimana abang bisa mendapatkan kamu dek." Kata Rendi yang saat ini sedang berbicara di dalam hatinya.Yang terlihat begitu yakin bahkan ada tekad yang kuat untuk bisa mendapatkan Viona berada di dalam hidupnya. Sebagai bagian dalam hidupnya di masa depan.
Sementara pak Agus yang telah menyelesaikan dokumen yang harus di perbaiki. Kini ia pun mulai mengetuk pintu ruangan Galang.
Tok... Tok...
"Masuk" kata Galang pada seseorang yang mengetuk pintu ruangnya.
Pak Agus yang mendengar suara Galang mengizinkan ia masuk. Ia pun kemudian mulai membuka pintu sedikit demi sediki hingga pintu itu terbuka sempurna.
Ceklek...
"Permisi pak Galang boleh saya duduk di sini." Kata pak Agus yang kini telah berada di depan Galang yang masih sibuk melihat komputer nya. Tanpa melihat siapa orang yang masuk ke ruangannya saat ini.
Galang yang mendengar suara begitu dekat berada di sekitar nya. Langsung mengalihkan pandangan ke arah sumber suara itu.
Setelah ia melihat bahwa itu adalah pak Agus. Ia pun mulai menjawab ucapan pak agus.
"Maaf, maaf pak Agus saya malah fokus liat komputer sampai nggak tau kalau bapak udah ada di hadapan saya. Oh iya pak silakan duduk." Kata Galang merasa tak enak pada pak Agus karena sempat tak tahu kedatangannya pak agus.
"Iya pak Galang nggak papa, sepertinya saya yang harusnya minta maaf karena udah ganggu bapak yang lagi sibuk ini. Maaf ya pak saya malah datang di waktu yang nggak tepat." Kata pak Agus merasa bersalah juga pada Galang.
__ADS_1
"Nggak ko pak, bapak nggak ganggu saya. Oh iya bapak pasti mau tunjukin hasil yang di perbaiki ya." Kata Galang menjawab ucapan pak Agus sambil menebak kedatangan pak Agus menemui dirinya saat ini.
"Hehehe... iya pak Galang saya memang mau tunjukin hasil nya. Tapi..." Kata pak Agus yang seketika di potong ucapannya oleh Galang.
"Ya udah pak, sini biar saya liat hasil dokumennya." Kata Galang yang memotong ucapan pak Agus.
"Tapi pak Galang saya..." Kata pak Agus yang dipotong lagi oleh Galang.
"Udah pak sini biar saya liat." Kata Galang yang memotong ucapan pak Agus.
"Ini pak Galang dokumen nya dan sama ini dokumen pak Galang. Makasih ya pak udah di bolehin liat dokumen bapak ini."
"Iya pak Agus santai aja. Ya udah biar saya baca dulu ya pak dokumennya."
"Iya pak Galang silahkan"
Pembicaraan diantara mereka berdua pun kini berhenti dengan sendirinya.
Karena saat ini Galang sedang membaca dokumen yang telah diperbaiki oleh pak Agus. Sementara pak Agus ia sedang duduk menunggu hasil yang Galang baca tentang dokumen yang ia perbaiki itu.
Lima menit telah berlalu, Galang yang membaca dokumen pun kini telah selesai membaca dokumen tersebut.
Lalu tanpa menunggu lama ia pun mulai memberitahukan hasilnya pada pak Agus.
Setelah ia memberitahukan hasil perbaikan dokumen yang dilakukan pak Agus. Yang hasilnya sudah bagus dan tak ada kesalahan.
Kemudian pak Agus pun pamit untuk pergi meninggalkan ruangan Galang. Setelah pamit dan tak lupa mengucapkan terimakasih pak Agus pun pergi meninggalkan ruangan Galang.
__ADS_1
Saat pak Agus sudah tak terlihat lagi karena telah pergi dari ruangannya. Galang kini kembali melihat komputer nya untuk menyelesaikan pekerjaan ia hari ini.
To be continued