
"Ya udah kalau gitu sekarang saya kasih tau kamu dulu dek. Syaratnya apa? kamu mau sekarang atau nanti di kasih tau nya." Kata Rendi menjawab ucapan Viona.
"Besok aja bang.Ya sekarang lah bang aku kan pengen cepet - cepet pulang." Kata Viona dengan sedikit emosi menjawab ucapan Rendi.
"Kirain kamu mau tau nya besok."
"Sekarang bang sekarang aku mau tau nya sekarang bukan besok."
"Iya, iya abang tau"
"Ya udah kalau abang tau cepet kasih tau aku nya."
"Em... kalau abang mau nya nanti gimana dek kasih tau kamu nya?"
"Argh... kalau gitu abang nggak perlu tanya aku barusan. Bikin kesel tau nggak dan buang - buang waktu aku aja."
"Hem... gitu ya dek, maaf dek kalau abang buat kamu kesel."
Viona kini malah terdiam seperti enggan untuk menjawab ucapan Rendi untuk nya itu.
Membuat Rendi yang melihat Viona malah terdiam. Langsung mengeluarkan suaranya lagi pada Viona.
"Dek kenapa ucapan abang barusan nggak di jawab?"
Hening masih tak ada jawab dari Viona. Bahkan saat ini Viona malah sibuk melihat hanphone nya tanpa memperdulikan Rendi yang bertanya pada dirinya.
"Dek kamu nggak mau tau syarat nya apa?"
"Jadi kamu lebih pilih tinggal di sini sampai saya pulang kerja. Gitu dek yang kamu inginin." kata Rendi yang sengaja terdiam untuk menunggu apakah Viona akan menjawab ucapannya itu sampai sini.
Namun hasilnya setelah ia menunggu sekitar tiga menit. Viona tak menjawab ucapnya itu sama sekali.
"Ini adek susah juga di bujuk nya. Argh... pake cara apa lagi coba biar nih adek bisa bicara lagi dan jawab ucapan aku lagi." kata Rendi di dalam hatinya
__ADS_1
"Ayo lah Rendi berpikir cara yang harus kamu lakuin agar nih adek bisa bicara lagi." kata Rendi masih di dalam hatinya.
"Argh... ko aku malah mendadak nggak tau harus melakukan apa lagi. Ini juga pikiranku biasanya selalu cerdas. Lah sekarang malah nggak ada ide sama sekali. Nasib, nasib gini amat ya. Mau deketin cewe aja sampai di buat kaya gini dulu sama cewe nya. Hem... tak apa Rendi kamu pasti bisa buat nih adek bicara lagi sama kamu." kata Rendi pada dirinya sendiri.
"Apa sekarang aku coba lagi ya, bicara sama nih adek."
"Hem... sepertinya harus di coba. Siapa tau sekarang dia mau jawab ucapan aku. Ya udah deh langsung aku tanya lagi."
"Dek lagi liat apa sih di hanphone?" kata Rendi pada Viona.
"Abang kan tanya sama kamu. Ko malah sibuk sama hanphone nya. Apa hanphone lebih penting ya dek. Dari pada ucapan abang barusan." kata Rendi lagi yang tak mendapatkan jawaban dari Viona.
Viona yang sibuk melihat hanphone nya sempat melihat Rendi sekilas. Sebelum ia melihat lagi hanphone nya.
Di tatap lah wajah Rendi setelah Rendi menyelesaikan ucapannya itu oleh Viona.
Membuat Rendi mulai merasa senang karena besar kemungkinan Viona akan menjawab ucapnya itu.
Namun sayang nya itu hanya angan - angan belaka. Karena setelah Viona melihat Rendi. Ia malah kembali fokus melihat hanphone nya tanpa berniat mengeluarkan suara nya sama sekali.
"Dek, dek pinter banget sih kamu. Buat abang jadi kebingungan kaya gini bujuk kamu biar mau bicara lagi ke abang. Ckckck..."
"Aku harus apa lagi ya, biar adek mau bicara lagi sama aku."
"Em... apa aku pura - pura cuek dan nggak peduli juga kali ya. Iya deh kaya nya harus di coba kaya gitu."
Itulah kata yang Rendi keluarkan di dalam hatinya.
Lalu setelah itu ia pun mulai mengeluarkan suara nya lagi untuk Viona.
"Dek, kamu nggak akan jawab ucapan abang. Hem... ya udah kalau gitu abang mau kerja dulu aja. Kamu bisa duduk di sini sampai abang selesai kerja." Kata Rendi pada Viona sambil pergi meninggalkan Viona untuk duduk di kursi tempat kerja nya.
Viona yang melihat Rendi malah pergi meninggalkannya menjadi emosi. Sampai - sampai ia kembali mengata - ngatai Rendi di dalam hatinya.
__ADS_1
"Ih... ko malah pergi sih. Aku kan pengen abang bilang. 'Nih dek kunci nya kalau kamu pengen pulang' ini mah boro - boro yang ada aku malah di tinggalin kaya gini dan di suruh duduk sampai qbang selesai kerja. Ya ampun bikin kesel tau nggak sih bang. Argh... abang nyebelin, nggak peka, bikin aku tambah emosi, jahat, nggak punya perasaan. Em... Pokonya itu semua masih banyak tapi bukan hal baik melainkan hal buruk yang abang kasih ke aku. Argh... argh... Ingin ku lempar ini hanphone jadi nya. Tapi kalau di lempar aku nggak punya hanphone lagi dong. Minta di beliin ke papah atau ke kak Galang kan nggak mungkin. Apalagi ini hanphone baru papah beliin tiga bulan lalu. Hem... sayang juga kalau harus di lempar." kata Viona di dalam hatinya.
"Tapi argh bikin greget deh aku. Pingin ku pukul nih abang biar tau rasa. Nunggu dia sampai selesai kerja itu kan membosankan. Apalagi harus duduk diem kaya gini. Argh... bang kamu ko bikin aku naik darah sih."
Rendi yang saat ini telah sampai dan duduk di kursi tempat kerjanya. Sempat melihat Viona yang terlihat aneh ketika melihat hanphone nya itu.
"Adek ko jadi aneh gini ya tingkahnya. Kaya orang yang lagi nahan marah gitu. Sampai handphone aja di pegang nya kaya gitu. Apa ada yang aneh ya di handphone nya." Kata Rendi berbicara pada dirinya sendiri.
Ternyata tingkah aneh yang Viona tunjukan itu adalah tingkah aneh di saat Viona berbicara di dalam hatinya barusan.
Membuat Rendi menjadi terheran - heran melihat tingkah Viona itu.
Lalu Rendi pun mulai ingin bertanya mengenai tingkah aneh Viona itu. Tetapi ia urungkan niat itu sampai di mana ia berani untuk bertanya lagi pada Viona.
"Aku tanya nggak ya tingkah adek ini. Tapi... ntar kalau nggak di jawab lagi gimana?"
"Em... jadi bingung aku. Dek kamu sebenarnya kenapa? ko aneh gitu tingkahnya."
"Tapi kalau di pikir - pikir lagi. Daripada aku penasaran lebih baik aku tanyain deh ke adek nya. Hem... kaya nya memang harus di tanyain."
"Gimana nanti aja, mau di jawab atau pun nggak setidaknya rasa penasaran ini bisa aku hilangkan."
"Hem... langsung aku tanyain deh."
Itulah kata - kata yang Rendi keluarkan untuk dirinya sendiri.
Sebelum ia mengeluarkan suara nya untuk bertanya pada Viona.
"Dek" kata Rendi setelah ia memutuskan untuk bertanya pada Viona.
Masih tak ada jawaban dari Viona. Membuat Rendi kembali memanggil Viona lagi.
"Dek" kata Rendi memanggil Viona untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
Namun hasilnya masih sama, tak ada jawaban dari Viona atas panggilan Rendi tersebut.
To be continued