
Saat pintu terbuka sedikit demi sedikit. Viona pun mulai melihat mamah nya berdiri di depan kamarnya.
"Mah maaf adek lama buka pintunya"
"Hem... iya, mamah mau masuk ke kamar mu."
Ketika mendengar ucapan mamah Vina barusan Viona lalu menggeser kan tubuhnya agar mamah Vina bisa masuk ke kamarnya.
"Iya mah silahkan"
"Hem"
Mamah Vina melangkahkan kaki masuk ke kamar Viona setelah Viona mempersilahkan ia masuk ke kamarnya ini.
Tap... tap...
Langkah kaki yang mulai mamah Vina langkahkan untuk masuk ke kamar Viona.
Sampai tak terasa kini mamah Vina sudah masuk ke dalam kamar Viona.
Berhentilah mamah Vina di sana. Lalu ia mulai membalikan tubuhnya menghadap ke Viona. Dan mamah Vina lalu memanggil Viona.
"Dek"
"Iya mah"
"Barusan kamu habis ngapain sih. Ko lama buka pintu nya sama waktu mamah panggil - panggil kamu ko lama juga jawabnya. Lagi apa sih kamu dek."
"Em... itu anu... adek lagi. Em... tapi mamah nggak akan marah kan kalau adek kasih tau mamah." kata Viona menjawab ucapan mamah Vina dengan ragu hingga akhirnya ia bertanya pada mamah nya. Jika ia memberitahukan ia tadi sedang apa pada mamah Vina apakah mamah Vina akan memarahinya.
Sepertinya Viona ingin memastikan terlebih dulu. Kalau jawaban mamah Vina akan marah ia sebaiknya tidak usah memberitahukan ke mamah nya ini.
"Ya tergantung jawaban kamu kalau jawaban kamu bisa buat mamah marah ya mamah pasti marah. Ya udah ayo kasih tau mamah abis ngapain kamu."
__ADS_1
"Em... kalau gitu nggak jadi deh mah. Adek nggak abis ngapa ngapain. Oh iya mamah panggil - panggil adek mau apa mah."
"Hem... kamu maunya ambil keputusan sendiri dan simpulin sendiri nggak jadi. Takut di marahin ya kamu dek kalau mamah tau kamu tadi habis ngapain."
"Nggak gitu mah, tapi ucapan mamah juga ada bener nya sih mah."
"Ye... apa bedanya kalau gitu"
"Hehehe... nggak ada sih mah intinya sama - sama kaya gitu."
"Ckckck... dek, dek kamu ada - ada aja sih"
"Nggak papa mah ada - ada aja juga. Daripada nggak ada - ada aja. Ntar malah ngebosenin."
"Terserah kamu lah dek"
"Hem... ya udah kalau terserah adek mah. Kalau boleh tau mamah kenapa panggil adek. Tadi adek tanya ko mamah nggak jawab - jawab pertanyaan adek."
"Mamah mau minta tolong sama kamu"
"Tadi kan mamah dapet telpon dari kakak kamu. Katanya dia ketinggalan dokumen di kamarnya. Dan dokumen itu tuh penting banget buat kakak mu hari ini. Eh malah lupa di bawa. Jadi mamah temuin kamu sekarang buat anterin dokumen itu ke kakak mu. Gimana kamu bisa nggak anterin dokumen itu." kata mamah Vina memberitahukan Viona apa tujuan nya mamah Vina memanggil dan menemui Viona saat ini.
"Oh gitu ya mah, em... adek sih tergantung mamah kalau mamah izinin adek buat keluar rumah sekarang dan anterin dokumen ke kakak adek bisa - bisa aja mah. Tapi kan sekarang adek lagi di hukum sama mamah nggak boleh keluar rumah." kata Viona menjawab ucapan mamah Vina.
"Ya mau gimana lagi. Mamah lagi nggak bisa anterin dan pak supir juga barusan baru pergi anterin papah ke kantor. Yang ada sekarang hanya kamu dan itu sebabnya sekarang mamah temuin kamu. Ya udah pasti dong mamah izinin kamu dek buat pergi keluar. Gimana sih kamu dek? Ya kali mamah minta tolong ke kamu buat anterin dokumen tapi mamah nggak izinin kamu buat keluar rumah. Emangnya itu dokumen bisa jalan sendiri apa. Kan nggak bisa dek. Jadi pertanyaan kamu itu bikin orang naik darah tau nggak. Yang jelas - jelas kamu udah tau jawabannya itu apa. Eh malah di tanyain lagi." kata mamah Vina menjawab ucapan Viona dengan lumayan panjang.
Viona yang mendapatkan perkataan yang lumayan panjang itu sempat terdiam untuk beberapa saat.
Ketika mamah Vina telah selesai mengucapkan perkataannya.
Setelah itu tak lama kemudian Viona mulai menjawab ucapan mamah Vina.
"Maaf mah adek kira mamah nggak akan izinin adek. Hem... ya udah mah adek langsung anterin aja dokumennya. Terus kata kakak dokumen nya ada di mana." kata Viona menjawab ucapan mamah Vina sambil ia pun bertanya juga pada mamah Vina.
__ADS_1
"Em... tadi tuh kalau nggak salah kata kakak mu ada di meja biasa ia selalu simpan dokumen. Kamu tau kan dimana tempatnya." kata mamah Vina memberitahukan apa yang di tanyakan Viona barusan kepada nya.
"Hem... iya mah adek tau ko. Kalau gitu adek ambil dokumen nya dulu ya mah." kata Viona menjawab ucapan mamah Vina.
"Ya udah sana ambil gih dokumen nya. Mamah mau ke bawah lagi."
"Iya mah" kata Viona menjawab ucapan mamah Vina dengan singkat.
Kemudian mereka berdua mulai melangkahkan kaki menuju tempat tujuan mereka. Dimana Viona mulai melangkahkan kaki menuju kamar kakak nya.
Sementara mamah Vina melangkahkan kaki menuju ke bawah.
Tak berselang lama kini Viona telah berada di kamar kakaknya.
"Em... tadi kata mamah kalau nggak salah dokumennya ada di tempat kakak biasa simpan dokumen." kata Viona yang mengingat kembali ucapan mamah Vina.
Lalu setelah itu ia mulai melangkahkan kaki menuju tempat penyimpanan dokumen.
"Nah ini tempatnya tapi dokumennya yang mana nya ya. Ini kan ada banyak berapa ya ini. Satu... dua... tiga, mana ada tiga dokumen lagi. Yang kakak maksud yang mana ya." kata Viona berkata pada dirinya sendiri.
"Em... apa aku bawa ketiga nya aja kali ya atau tanyain dulu ke kakak lewat telpon atau pesan yang mana yang harus aku bawa dokumennya." kata Viona yang masih berkata pada dirinya sendiri.
"Em... kaya nya aku harus tanyain dulu deh biar nggak salah bawa dokumen. Iya deh aku tanya in." kata Viona lalu mulai mencari hanphone miliknya.
Di cari lah hanphone tersebut di saku celana yang ia gunakan saat ini. Namun setelah mencari ia tak menemukan hanphone nya sama sekali.
Terdiam lah Viona untuk waktu yang lumayan lama. Dan di saat ia terdiam ia sedang mengingat - ingat terakhir kali ia memegang hanphone dan menggunakan handphone itu kapan. Lalu setelah itu ia pun mengingat kembali dimana ia menyimpan hanphone miliknya itu.
Satu menit kemudian Viona akhirnya mengingat bahwa hanphone nya saat ini ada di atas meja di dekat kamar nya.
Bergegaslah ia kembali ke kamar nya dan tanpa menunggu lama ia mulai menelpon kakak nya. Setelah ia menemukan handphone nya itu.
Tut... Tut...
__ADS_1
To be continued