Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Mikir Keras


__ADS_3

Viona lalu memikirkan ucapan Galang untuk beberapa saat, bahkan ia pun berkata di dalam hatinya.


"Maksudnya kakak itu apa sih. Apa nya yang harus aku pastiin. Di sekeliling aku juga nggak ada yang aneh. Kakak nih bener - bener deh, buat aku harus mikir keras, kaya batu." Kata Viona di dalam hatinya.


"Eh... tapi emang apa hubungannya ya, mikir keras sama batu. Ko aku jadi aneh gini sih, sikapnya." Kata Viona yang mulai menyadari ada kesalahan di dalam ucapannya itu.


"Ya udah deh lupain aja. Dari pada di pikirin terus tapi nggak ketemu hasilnya yang ada aku bisa - bisa bingung sendiri nanti." Kata Viona mengakhiri ucapannya.


Lalu setelah ia selesai berbicara di dalam hatinya. Ia pun mulai bertanya lagi pada Galang.


"Kak yang kakak maksud itu apa sih? Jangan buat aku pusing deh. Kasih tau yang jelas, jangan kaya gini." Kata Viona pada Galang.


"Kamu cari tau sendiri aja dek. Masa nggak bisa." Kata Galang menjawab ucapan Viona.


"Bukan nggak bisa tapi aku males cari tau nya. Jadi biar simpel kakak aja yang kasih tau."


"Kakak juga males dek, kasih tau kamu nya. Ntar malah panjang."


"Ih... kakak ini ya, bener - bener deh. Kakak tau nggak..." Kata Viona yang belum sempat selesai menjawab ucapan Galang.


Namun, malah di potong oleh Galang secara tiba - tiba.


"Nggak tau dek" kata Galang yang memotong ucapan Viona.


"Ya iya lah kakak nggak tau. Aku belum selesai bicara aja udah di potong kaya gitu. Dari mananya bisa tau." Kata Viona menjawab ucapan Galang dengan sinis nya.


"Ya udah lah pusing aku terus - terusan debat sama kakak. Sekarang lebih baik aku temuin mamah sama papah." Kata Viona memutuskan untuk mengakhiri ucapannya itu.


"Ya udah sana pergi aja. Tapi ntar kalau kamu malu sendiri jangan salahin kakak. Karena kakak sebelumnya udah kasih tau kamu." Kata Galang pada Viona.


"Aku nggak peduli." Kata Viona kemudian pergi melangkahkan kakinya.


Namun dengan jawaban seperti itu. Kini Viona malah kepikiran dengan ucapan Galang.


Bahkan di saat ia ingin melangkahkan kaki untuk menuruni tangga. Ia pun menjadi ragu karena ucapan Galang tersebut selalu ia pikirkan di setiap langkah yang ia langkahkan saat ini.


"Ih... ini kenapa sih? ucapan kakak malah terus - terus aku ingat. Mana tadi katanya aku bakalan malu. Malu apa sih? argh... aku jadi ragu buat temuin mamah sama papah." Kata Viona di dalam pikirannya.


"Apa temuin kakak lagi ya, buat pastiin ucapan kakak itu."


"Tapi kan tadi juga sikap nya kakak kaya gitu. Aku jadi males bicara sama kakak."

__ADS_1


"Apa aku kembali dulu aja ya. Lalu aku pertimbangin dulu buat temuin mamah atau nggak." Kata Viona pada dirinya sendiri.


"Hem... kaya nya lebih baik kaya gitu."


Lalu Viona mulai membalikan tubuhnya untuk melangkahkan kaki menuju tempat ia semula berteriak - teriak berbicara dengan Galang.


Tap... tap...


Langkah kaki pun terdengar oleh Galang yang masih berdiam diri di balik pintu.


"Kaya nya adek nggak jadi pergi temuin mamah sama papah nya nih."


"Aku coba dengerin dulu aja. Ini langkah adek akan ke mana."


Tepat di saat Galang sedang menunggu Viona menghentikan langkahnya.


Kini Viona pun telah berhenti di depan pintu kamar nya.


Dengan keadaan yang sangat ragu. Apa ia harus mengetuk pintu atau memanggil Galang tanpa mengetuk pintu. Viona mulai kebingungan bahkan ia pun berbicara pada dirinya sendiri.


"Ketuk jangan, ketuk jangan. Argh... gimana nih." Kata Viona yang sudah bersiap mengetuk pintu. Namun ragu saat tangan itu akan mengenai pintu tersebut.


Hingga tangan yang akan mengetuk pintu, kini masih ia angkat dengan posisi yang bersiap untuk mengetuk. Namun, sedikit ada jarak diantara tangan dan pintu tersebut.


"Hem... aku panggil kakak aja deh."


"Kak... Kak... buka pintunya."


"Mau apa kakak harus buka pintu?"


"Aku mau masuk kak."


"Ya kamu masuk aja. Kenapa harus panggil kakak."


"Ya kan kakak kunci pintu nya, mana bisa aku masuk kak. Kalau pintu nya di kunci."


"Gitu ya, sejak kapan kakak kunci pintunya?"


"Sejak zaman kakak lahir. Nih pintu udah di kunci. Kenapa sih kak suka banget buat aku emosi." Kata Viona menjawab asal ucapan Galang.


"Hahaha... kamu ko lucu sih dek. Mana ada kakak pas lahir bisa kunci pintu. Kamu ya kalau bicara suka aneh - aneh."

__ADS_1


"Ya di bisain aja kak. Mungkin bayi ajaib."


"Terserah kamu aja lah dek. Kakak mah nggak mau ikutan. Ntar malah kaya kamu aneh sikapnya."


"Hem... biarin aneh juga. Gini - gini juga adek nya kakak. Kalau aku aneh otomatis kakak nya juga sama kan, aneh juga."


"Mana ada dek kaya gitu. Kalau kamu aneh ya kamu sendiri yang aneh. Jangan bawa - bawa kakak jadi ikutan aneh."


"Ya suka - suka aku dong kak. Mau kakak ikutan kek nggak kek itu terserah aku. Tadi kan kakak yang bilang terserah sama aku."


"Hem... iya deh iya kamu menang. Kakak mah selalu kalah kalau berdebat sama kamu."


"Baru sadar ya kak, barusan kemana aja?"


"Kakak, nggak kemana - kemana ko. Dari tadi di sini - sini aja sambil jawab ucapan kamu itu."


"Oh ya, masa sih. Ku kira udah pergi jauh."


"Pergi kemana? kakak kan ada di kamar."


"Ke jurang mungkin buat..." kata Viona yang di potong ucapannya oleh Galang.


"Buat apa kakak pergi ke jurang. Kaya yang nggak punya kerjaan aja." kata Galang yang memotong ucapan Viona.


"Ya kan memang kakak nggak punya kerjaan." kata Viona menjawab santai ucapan Galang.


"Kamu ini gimana sih dek? dari mana nya kakak nggak punya kerjaan. Ini aja masih pake baju kerja. Kamu nggak liat apa?" kata Galang pada Viona dengan sedikit mengeraskan suaranya.


"Nggak, soalnya kakak kan ada di dalem sedangkan aku ada di luar, mana tau aku kak. Kalau kakak masih pake baju kerja."


"Ya ampun dek, sebelumnya juga kamu tau, kalau kakak itu baru pulang kerja."


"Kapan kak aku tau nya? perasaan aku nggak tau tuh." kata Viona bertanya pada Galang.


"Kamu beneran nggak tau atau pura - pura nggak tau dek." kata Galang menjawab ucapan Viona.


"Menurut kakak yang mana" kata Viona membuat Galang semakin emosi dengan jawab Viona ini.


"Yang kamu pikirin aja. Itu jawabannya." Kata Galang dengan emosi.


"Hem... gitu ya, tapi aku nggak mikirin apa - apa. Jadi gimana dong?" Kata Viona menjawab ucapan Galang dan bertanya juga pada Galang.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2