
"Jadi gitu Nya ceritanya" kata Bayu mengakhiri cerita nya.
"Bagus, bagus kenapa kamu lama bener sih Bay kasih jawaban kaya gini dari tadi kek, ini malah buat saya emosi dulu baru kasih jawaban kaya gini."
"Jadi Nya jawaban saya yang ini lebih baik dari yang tadi."
"Hem... iya, ya udah sana Bay kamu kembali ke pekerjaan kamu."
"Siap nya, kalau gitu Bayu permisi dulu. Mari Nya, Mari Tuan."
Bayu pun meninggalkan ruang keluarga. Mamah Reni mulai menunjukkan rasa senangnya pada papah Rudi.
"Alhamdulillah pah ini kabar baik, em... tapi perempuan yang di maksud itu kira - kira seperti apa ya? terus dia cantik nggak ya pah? apa dia baik? em... mamah jadi nggak sabar pengen ketemu perempuan itu." kata mamah pada papah Rudi dengan penuh semangat bahkan banyak yang di tanyakan pada papah Rudi.
"Iya mah Alhamdulillah, tapi papah lebih penasaran liat orang nya langsung mah. Kalau cantik itu tergantung tapi sikap nya nih mah yang pasti nya buat unik, makanya abang bisa ketawa gitu terus - menerus."
"Hem... iya juga pah"
"Siapa pun perempuan itu papah setuju - setuju aja mah, kalau mamah gimana?"
"Mamah juga setuju soalnya mamah itu salut gitu sama perempuan itu pah bisa buat abang jadi ketawa sampai segitu nya."
"Hem... kaya ketawa langka ya mah"
"Bener banget pah langka"
"Ah...jadi nggak sabar pengen ketemu sama perempuan itu."
"Kita tunggu aja mah kalau cepet Alhamdulillah kalau lama berarti abang memang harus berjuang buat dapetin perempuan itu mah."
"Semoga aja nggak lama pah"
"Aamiin"
"Ya udah mah jangan bicarakan abang lagi kita bahas hal lain aja."
"Oke pah, tapi mamah si sebenernya pengen lanjut bahas tentang abang. Ya udah deh pah kita bahas yang lain aja."
"Hem... kalau gitu mulai darimana kita bahas hal lainnya.
__ADS_1
"Terserah papah aja"
"Oke mah"
Saat mereka merubah topik pembicaraan mereka. Sementara di kamar Rendi. Ia saat ini malah memikirkan kembali ucapan dari mamah dan papah nya.
"Maksud mereka berdua itu apa ya? kabar baik yang seperti apa yang mereka maksud? ko jadi ngedadak lemot ya, aku ini."
"Terus tadi kalau nggak salah karena wajah aku yang keliatan beda. Beda gimana sih padahal kan gini - gini aja ko dari tadi."
"Apa aku liat di cermin aja ya wajah aku ini."
"Hem... iya deh liat di cermin dulu."
Tap... tap...
Rendi mulai melangkahkan kaki mendekati cermin yang ada di kamar sebelah kanannya.
Ketika Rendi sampai di depan cermin iya pun mulai melihat tampilan wajahnya di cermin itu.
Di amati lah semua apa yang ia lihat dari atas sampai bawah. Tak ada yang berbeda sama sekali saat ia melihat tampilan diri nya di cermin.
"Tapi wajah aku biasa aja. Gini ko dari tadi sampai sekarang juga kaya gini. Masih tetep tampan bahkan sepertinya sangat tampan. Aduh... Rendi pede banget sih kamu. Tapi memang iya juga sih kamu tampan." kata Rendi memuji dirinya sendiri dan bertanya juga serta di jawab juga oleh dirinya sendiri.
"Tapi bentar - bentar deh yang mereka maksud beda itu apa ya? apa karena... wajah aku seperti... apa yang di katakan Bayu. Aneh ketawa - ketawa sendiri gitu."
"Emang keliatan ya aku ketawa tadi sama mamah sama papah."
"Em... ngomong - ngomong itu gadis aneh ko bisa ya buat aku jadi ketawa - ketawa nggak jelas dan ada perasaan aneh juga saat berdebat dengannya. Apalagi saat dia menyender di sini (Rendi lalu menunjuk bahu nya sendiri) Ah... ada rasa aneh gitu. Ya ampun Rendi istighfar jangan bayangin gadis aneh itu."
"Hem... seperti nya aku harus bisa mengontrol diri untuk tidak mengingat gadis itu. Kalau terus - terusan di ingat ntar yang ada aku makin tak karuan rasa nya."
"Tapi dia lagi apa ya sekarang?"
"Jadi kangen, ya ampun Rendi baru aja di bilangin jangan mengingat gadis aneh itu. Ini ko malah keringetan terus."
"Coba di tidurkan dulu kali ya, biar nggak keinget gadis itu."
"Iya nih harus tidur biar nggak kepikiran terus."
__ADS_1
"Ya udah deh langsung tidur"
Rendi lalu melangkah kan kaki menuju tempat tidur nya. Setelah sampai di tempat tidur ia mulai membaringkan tubuh nya dan mulai memejamkan matanya.
Namun saat memejam kan mata bukannya hilang ingatannya tentang gadis aneh itu tapi malah makin terus teringat setiap hal yang terjadi tadi.
"Argh... kenapa inget terus sih"
"Please gadis aneh coba ilang dulu ya, aku mau tidur."
Rendi makin aneh tingkahnya mana ada hal itu bisa di lakukan. Bener - bener aneh bukan. Tapi itu lah yang saat ini Rendi lakukan untuk bisa tertidur tanpa mengingat kejadian itu.
"Argh... ini ko makin di suruh hilang makin teringat terus. Argh... argh... please ilang dulu." kata Rendi yang mulai emosi dan kesal karena teringat terus kejadian tadi.
"Apa cuci muka dulu kali ya? siapa tau setelah cuci muka sedikit lebih baik."
"Iya deh cuci muka dulu"
Rendi lalu bangkit dari tempat tidur dan ia langsung bergegas ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Rendi telah sampai di kamar mandi. Di cuci lah muka nya saat ini dengan beberapa kali.
Namun yang terjadi ia masih tetap mengingat gadis aneh itu.
"Argh... cukup, cukup aku harus bisa lupa in gadis itu. Tapi kenapa ada perasaan yang sedih ya saat bilang kaya gitu."
"Em... ini gadis aneh bikin aku makin penasaran. Apa dia udah punya pacar ya, kekasih, atau udah punya suami. Argh... kenapa jadi mikir kaya gitu sih."
"Rendi jangan kaya gini dia itu gadis aneh masa iya kamu suka sama gadis aneh kaya gitu."
"Tapi aneh - aneh juga ko buat aku makin penasaran ya ingin kenal dia lebih dekat."
"Apa cari tahu ya kehidupan dia?"
"Seperti apa? kalau belum punya siapa - siapa dan masih tak ada ikatan sama orang lain bukannya itu masih ada kesempatan buat mendapatkan nya."
"Its.... apa sih kamu Rendi. Jangan aneh - aneh deh. Kamu itu terlalu di ambil hati. Bisa jadi kan dia malah ngata - ngata in kamu di sana."
"Pertemuan dengan nya aja sangat jauh dari kata baik. Tapi ko aku malah suka ya dengan sikap nya itu. Luar biasa banget tuh gadis aneh bisa bikin aku jadi seperti ini."
__ADS_1
"Hem... tadi tuh kata kakak nya nama dia itu siapa ya? Vi... Vi... apa ya? ah... padahal ini tuh yang penting ko malah lupa ya."
To be continued