
Di dalam mobil yang saat ini Rendi gunakan. Suasana begitu hening karena baik Rendi maupun Bayu. Kedua nya tak ada lagi yang bicara.
Bayu yang sibuk mengemudi sementara Rendi yang kini sibuk melamun. Karena ternyata Rendi sedang di buat pusing oleh permintaan mamah nya tadi.
Hari ini yang awalnya akan bahagia karena mau ketemu gadis aneh menjadi bingung cara apa yang bisa buat gadis aneh itu mau nggak mau harus ia bawa ke rumah dalam waktu satu minggu.
Pertemuan hari ini juga Rendi tak tahu apa yang akan terjadi. Apa ia akan berdebat lagi dengan gadis aneh itu atau berbaikan.
"Argh... pusing nih kepala ku. Mamah lagi permintaan nya ada - ada aja. Jadi merusak mood ku yang dari semalam udah nggak sabar pengen ketemu tuh gadis aneh." kata Rendi di dalam pikirannya.
"Ko aku jadi ragu ya mau ketemu tuh gadis aneh. Bingung mau ngapain, semalem banyak banget yang pengen aku tanya sama dia. Tapi setelah mamah bilang kaya gitu. pertanyaan - pertanyaan itu ko ngedadak ilang." kata Rendi lagi di dalam pikirannya.
Lalu Rendi pun menghela nafas terlebih dahulu. Sebelum ia melanjutkan lagi berbicara di dalam pikirannya itu.
"Pusing, pusing nih pikiranku, argh... argh..." kata Rendi sambil mengacak - acak rambut nya dengan kedua tangannya saat ini.
Dan ini sukses membuat Bayu yang sedang mengemudi menjadi terheran - heran dan merasa takut.
Kenapa bisa seperti itu? itu karena sedari tadi, selain Bayu fokus mengemudi, sesekali ia pun melihat Rendi yang ada di belakang.
"Lah bang Rendi ko malah acak - acakin rambutnya kaya gitu ya."
"Jadi takut aku bang Rendi kenapa - kenapa. Apa aku tanya aja kali ya. Em... kalau aku tanya ntar bang Rendi marah nggak ya."
"Tadi aja aku di marahin, apa lagi sekarang aku tanya. Ah... jangan di tanya deh. Nunggu nanti aja kalau bang Rendi tanya duluan."
"Em... ini yang lebih baik Bay dari pada ntar kamu malah di marahin lagi. Kan nggak banget."
Itulah kata - kata yang di keluarkan Bayu pada dirinya sendiri mengenai sikap Rendi.
Sementara Rendi yang telah mengacak - acak rambutnya sempat terdiam beberapa detik. Lalu setelah itu ia pun tersadar dan mengeluarkan suaranya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, Bay ini rambut saya pasti acak - acakan ya." kata Rendi pada Bayu.
"Nah, akhirnya bang Rendi bicara juga sama aku. Kenapa nggak dari tadi sih bang bicara kaya gini lagi ke Bayu." kata Bayu di dalam hatinya sebelum ia menjawab ucapan Rendi.
"Em... iya bang" kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
"Mana coba Bay kaca, saya mau liat wajah saya yang rambutnya acak - acakan. Mana hari ini ada pertemuan penting lagi." kata Rendi meminta sebuah kaca pada Bayu.
"Mana saya punya bang kaca. Saya kan bukan cewe yang tiap kemana - kemana selalu bawa kaca. Walau nggak setiap cewe sih bawa kaca. Tapi kebanyakan kaya gitu bang kalau cewe pasti selalu bawa kaca." kata Bayu menjawab ucapan Rendi dengan cukup panjang.
"Kenapa harus panjang kaya gitu sih Bay? jawab nggak punya aja kan beres. Kenapa harus bawa - bawa cewe segala." kata Rendi yang protes dengan jawaban Bayu untuk dirinya itu.
"Hehehe... maaf bang. Siapa tau buat pengetahuan aja biar abang tau kalau cewe selalu bawa kaca." kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
"Gaya bener Bay bicaranya sampai ada pengetahuan kaya gitu. Eh... tapi Bay ini acak - acakan nya parah banget nggak sih Bay." kata Rendi bertanya pada Bayu mengenai rambutnya saat ini.
Di lihatlah sekilas rambut Randi yang acak - acakan oleh Bayu. Lalu setelah itu Bayu pun mengeluarkan suaranya lagi.
Setelah mendengar ucapan Bayu tersebut tanpa pikir panjang Rendi langsung bergegas melihat dirinya di dalam kaca tersebut.
Saat Rendi telah melihat dirinya di dalam kaca itu. Ia sempat terkejut dengan keadaan rambut nya yang bener - bener acak - acakan.
"Ya ampun Bay, ini beneran rambut saya kan Bay." kata Rendi pada Bayu.
"Iya bang masa rambut saya." kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
"Ini kamu tau nggak siapa yang acak - acakin nya sampai parah kaya gini lagi."
"Kan abang yang acakin nya juga. Kalau boleh tau kenapa abang acak - acakin rambut abang. Apa abang lagi punya masalah. Maaf bang saya malah tanya kaya gini ke abang."
"Oh ya masa sih, eh... tapi bener juga sih Bay. Setelah di pikir - pikir kan memang saya yang acak - acakin. Em... mengenai saya acak - acakin rambut saya sih itu karena saya lagi banyak pikiran Bay makannya malah refleks acakin rambut sendiri. Nggak papa Bay nggak perlu minta maaf kamu kan hanya tanya ke saya. Jadi santai aja." kata Rendi menjawab ucapan Bayu.
__ADS_1
"Oh jadi karena itu bang, em... tapi tetep aja bang saya nggak enak. Ntar kesannya malah saya kepo urusan abang. Walau sebenernya sih ini juga pertanyaan yang saya tanyakan ke abang nggak jauh - jauh juga dari kata kepo." kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
"Hahaha... Haha... kamu Bay, jadi maksudnya sama aja kaya gitu. Apa bedanya kalau kaya gitu. Ada - ada aja sih Bay kamu." kata Rendi yang malah tertawa mendengar ucapan Bayu barusan.
"Iya juga ya bang, ko saya baru kepikiran." kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
"Ckckck... Bayu, Bayu kamu ya. Eh ia Bay kalau sekarang rambut saya keliatan masih acak - acakan nggak atau udah sedikit rapih." kata Rendi yang bertanya mengenai rambut yang telah ia rapihkan kembali agar tak terlalu parah pada Bayu.
Bayu yang di berikan pertanyaan seperti itu melihat ke arah Rendi terlebih dahulu. Lalu ia pun menjawab ucapan Rendi.
"Udah jauh lebih baik bang bahkan kayanya udah rapih juga." kata Bayu menjawab ucapan Rendi sesuai dengan apa yang ia liat.
"Beneran kan Bay kamu bicara kaya gitu. Bukan karena saya yang tanya makannya kamu bilang kaya gitu." kata Rendi yang masih kurang yakin dengan jawaban Bayu untuknya itu. Sehingga ia pun bertanya lagi pada Bayu untuk memastikan kebenarannya.
"Bener ko bang, rambut abang udah rapih. Saya nggak berani bang kalau harus jawab bohong ke abang." kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
"Oke karena kamu udah bilang kaya gitu. Saya sekarang percaya. Soalnya saya takut Bay rambut saya ini acak - acakan." kata Rendi menjawab ucapan Bayu.
"Takut kenapa bang?" kata Bayu bertanya pada Rendi.
"Ya takut aja Bay, ntar di bilang... ya udah deh lupain aja." kata Rendi menjawab ucapan Bayu namun tak ia selesaikan.
"Saya kira abang mau terusin ucapannya. Eh... ternyata nggak." kata Bayu pada Rendi.
"Lupain aja lah Bay" kata Rendi pada Bayu
"Iya bang" kata Bayu menjawab ucapan Rendi.
Percakapan diantara mereka berdua pun akhirnya berhenti dengan sendirinya nya.
To be continued
__ADS_1