Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Terlanjur Mau


__ADS_3

Viona dan Galang kini telah sampai di depan tempat kerjanya Galang.


Tak lama setelah itu, Rendi pun juga ternyata sudah sampai di depan tempat kerjanya.


Hanya berbeda dua atau tiga menit Rendi baru sampai di tempat kerjanya.


Galang yang telah memarkirkan motor nya. Kini mulai melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kantor.


Di ikuti oleh Viona yang berada di belakangnya.


"Dek cepetan dong lama bener sih jalannya." Kata Galang yang melihat Viona jalan dengan begitu pelan.


"Ya masa kak, adek harus lari. Capek dong ntar adek nya kak." Kata Viona menjawab ucapan Galang.


"Terus bisa - bisa ntar adek bau keringet lagi karena lari - lari. Kan nggak banget gitu kak kesannya iya nggak."


"Bisa aja kamu dek jawabnya"


"Hehehe... Vio gitu loh. Paling bisa soal jawab - menjawab."


"Makin tinggi deh jadi nya kamu dek, nyesel kakak bilang kaya barusan."


"Nggak boleh di sesali kak. Adek kan memang gitu orang nya. Paling jago kalau soal menjawab. Hehehe..."


"Hem" kata Galang menjawab ucapan Viona dengan malas nya.


"Hem aja kak, nggak ada yang lain apa jawabannya."


"Nggak ada"


"Ih... jahat bener sih. Ya udah deh kalau gitu biar adek duluan aja jalannya."


Viona yang tak melihat ke sekelilingnya terus berjalan dengan kecepatan yang sangat cepat.


Tiba - tiba...


Bruk...


Ia menubruk seseorang dan saat ini ia benar - benar di buat kesal. Sampai ia pun mulai mengeluarkan kata - kata luar biasanya.

__ADS_1


"Aduh ya ampun, punya mata nggak sih. Sakit nih kepala ku. Terbentur dengan tubuh belakang mu ini."


"Haduh di tambah pusing lagi nih kepala. Kaya ada bintang yang berputar mengelilingi kepala nih."


"Hey aku bicara panjang lebar kaya gini. Ko nggak ada jawaban sama sekali sih. Kebangetan banget sih. Minta maaf kek apa kek. Ini mah boro - boro."


Deg...


Suara yang sangat ia hafal dan selalu ia pikirkan. Kini ia mendengar lagi suara itu.


Ya seseorang yang di tubruk Viona itu adalah Rendi yang kebetulan ia juga akan masuk ke dalam kantor nya.


Setelah ia baru saja keluar dari mobil. Namun, sayangnya ia malah di tubruk oleh Viona.


"Hem... apa ini dia? Gadis aneh yang suka marah - marah yang aku temui di taman itu." Kata Rendi saat ia pertama kali mendengar suara Viona yang telah menubruknya itu.


Ia lalu sengaja tak mengeluarkan suaranya dan tak membalikan tubuh nya.


Sampai di mana Viona berhenti mengucapkan kata - kata kasar nya itu.


Selain itu, Rendi pun sudah yakin bahwa apa yang ia dengar memang berasal dari suara gadis aneh itu.


Namun, saat Rendi telah membalikan tubuhnya, saat itu juga Viona di panggil oleh Galang kakak nya.


Sehingga secara otomatis Viona pun membalikan tubuhnya dan melihat kakak nya yang memanggilnya itu.


"Dek tunggu"


"Ya ampun, aku lupa kakak kan masih di belakang aku ya. Hem... aku liat kakak dulu aja deh." Kata Viona yang langsung membalikan tubuhnya.


"Iya kak maaf adek lupa." Kata Viona menjawab ucapan kakak nya.


"Huh... Huh... Huh... capek nih dek. Kamu sih jalannya cepet banget. Eh... tapi ko kamu masih di sini dek. Nggak langsung masuk aja."


"Nggak kak, tadi tuh adek sebenernya mau langsung masuk. Tapi malah nubruk seseorang."


"Seseorang maksud kamu siapa dek?" Kata Galang yang belum menyadari bahwa saat ini Rendi pun berada di sekitar mereka.


"Tuh di belakang aku kak orang nya. Udah aku panggil - panggil eh... tau nggak kak. Tuh orang nggak nengok - nengok ke belakang. Bikin sebel kan kak jadi nya. Pingin ku buat babak belur deh tuh orang. Emangnya dia siapa? Malah halangin jalan, jadi ketubruk kan sama aku. Mana kepala ku pusing lagi kak. Bawa aku ke rumah sakit kak, aku butuh pertolongan medis."

__ADS_1


"Ya ampun dek gaya bener sih. Ketubruk gitu aja harus ke rumah sakit. Tapi ngomong - ngomong kata kamu orangnya itu ada di belakang kamu ya. Maksudnya..." Kata Galang yang malah tertahan tak melanjutkan lagi ucapannya.


Karena ternyata Rendi menyuruh Galang untuk tidak meneruskan ucapannya agar tak memberitahukan Viona bahwa orang yang di tubruk nya itu adalah di dirinya. Dengan menyimpan satu jari telunjuk nya di dekat bibirnya itu sebagai kode untuk Galang.


Galang yang ingin memberitahukan Viona seketika tak jadi karena melihat kode tersebut.


"Dek maaf ya, kakak nggak bisa bantu kamu nih. Orang itu... eh... maksudnya boss baru kakak ngelarang kakak memberitahukannya kalau orang yang kamu tubruk adalah dirinya. Ah... kakak jadi serba salah gini dek. Maaf ya kali ini kakak nggak bisa bantu kamu." kata Galang di dalam hatinya.


"Kak ko nggak di terusin. Kakak udah liat kan orang nya."


"Hem... udah dek."


"Masih liat ke arah sana kan."


Lalu Galang pun menjawab ucapan Viona dengan menggelengkan kepalanya.


"Jadi orang nya udah pergi gitu maksudnya kak."


"Buk..." Kata Galang yang tak jadi karena Viona telah membalikan tubuhnya.


"Kurang ajar banget kak, tuh orang kalau beneran udah pergi tanpa mau minta maaf ke aku. Awas aja kalau beneran pergi." Kata Viona dengan mengomel sambil membalikan tubuhnya.


"Ntar akan ku buat jadi..." Kata Viona setelah ia membalikan tubuhnya dan melihat orang yang di tubruk nya itu kini menghadap kepada dirinya.


"Eh... bentar, bentar ini beneran orang nya kan kak. Ko aku jadi agak nggak asing gitu kak dengan wajah ini." Kata Viona yang seakan - akan ia sedang berbicara dengan Galang. Tetapi nyatanya ia sengaja berkata seperti itu karena terlanjur malu telah mengomel - ngomel nggak jelas dengan orang yang akan ia temui hari ini.


"Argh... kakak ko nggak kasih tau aku sih. Kalau orang yang aku tubruk itu abang - abang nyebelin ini. Eh... maksudnya abang - abang yang akan aku temui."


"Jadi malu kan jadi nya, aku mana udah marah - marah nggak jelas lagi. Sampai ngata - ngatain juga. Aduh malu banget nih aku." Kata Viona di dalam hati nya.


"Awas aja kak, setelah pulang dari sini dan kakak pulang kerja aku akan marah juga sama kakak. Karena udah tega nggak kasih tau aku." Kata Viona masih di dalam hatinya.


"Aduh aku bilang apa nih. Ayo Viona berpikir bilang apa pada abang - abang ini."


Disaat bersamaan Viona dan Rendi mereka berdua sama - sama mengeluarkan suara nya.


Hingga yang terjadi mereka berdua pun malah sama - sama terdiam dan tak meneruskan ucapannya itu.


Sampai dimana Rendi pun membiarkan Viona untuk berkata terlebih dahulu.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2