Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Pura - Pura Sibuk


__ADS_3

Sementara di dalam ruangan Rendi. Saat Galang mengetuk pintu ruangan tersebut.


Viona yang mendengar ketukan itu langsung memberitahukan pada Rendi yang sedang sibuk pada pekerjaannya.


"Bang" kata Viona memanggil Rendi.


Tak ada jawaban sama sekali dari Rendi. Malah seolah - olah panggilan Viona barusan tak ada sama sekali.


Karena bisa di lihat oleh Viona saat ini. Rendi malah sibuk dengan pekerjaannya. Membaca dan mendatangani dokumen yang ada beberapa di meja kerjanya itu.


"Ih... ko nggak di jawab sih. Malah sibuk gitu. Emangnya suara aku nggak kedengaran apa? Terus barusan ada yang ketuk pintu, masa nggak kedengeran juga." Kata Viona berbicara pada dirinya sendiri. Saat melihat Rendi yang malah sibuk dengan pekerjaannya.


"Aku coba panggil lagi deh" kata Viona memutuskan untuk memanggagil kembali Rendi.


"Bang, bang, bang. Ih... abang nyebelin jawab nggak panggilan aku. Aku lempar juga nih pake pas bunga." Kata Viona yang geram karena panggilannya tak di jawab - jawab oleh Rendi.


Rendi yang ternyata sengaja tak menjawab panggilan Viona. Sempat ingin tertawa melihat tingkah Viona ini.


Tapi sebelum itu terjadi, ia kembali teringat bahwa ia saat ini sedang berpura - pura sibuk membaca dokumen dan mendatangani nya.


"Aduh dek kamu ini ya, buat abang jadi pengen ketawa. Tau nggak sih dek. Tapi kalau abang ketawa, ntar yang ada ketahuan lagi kalau abang lagi pura - pura sibuk." Kata Rendi di dalam hatinya setelah mendengar ucapan Viona.


"Hem... aku jawab sekarang atau nanti ya. Jadi bingung nih." Kata Rendi lagi di dalam hatinya.


"Ya ampun bang, masih nggak mau jawab juga. Oke aku hitung sampai tiga. Kalau abang nggak jawab panggilan aku, aku langsung lempar nih pas bunga. Entah akan mengenai tubuh abang atau nggak, tapi setidaknya aku beneran akan lempar nih pas bunga." Kata Viona yang menjeda ucapannya.


Kata Viona lagi setelah menjeda ucapannya itu untuk beberapa detik.


"Aku hitung sekarang, satu... dua... ti..." Belum sempat kata tiga itu selesai Viona ucapkan. Terdengarlah suara Rendi menjawab ucapan Viona.


"Iya dek, maaf abang baru denger ucapan adek. Adek mau bilang apa ke abang?" Inilah kata yang di dengar oleh Viona. Hingga menghentikan apa yang ingin Viona lakukan yaitu melempar pas bunga ke arah Rendi.


Di simpan kembali lah pas bunga yang sempat Viona pegang untuk di lempar. Ke tempat di mana pas bunga itu berada sebelum nya.


Lalu setelah itu, Viona mengeluarkan suaranya untuk menjawab ucapan Rendi.


"Kalau udah di ancam kaya gitu baru deh abang jawab ucapan aku. Tadi kemana aja bang. Jangan kira aku nggak tau, kalau abang sebenernya nggak bacakan itu dokumen dan tangan abang juga nggak beneran tandatangan tuh dokumen." Kata Viona pada Rendi.


"Ya ampun ko adek bisa tau. Apa keliatan ya aku bohong nya." Kata Rendi sempat berkata di dalam hatinya.


"Kenapa diem bang? bener ya apa yang aku ucapin itu." Kata Viona lagi setelah menunggu Rendi menjawab ucapnya. Namun, Rendi malah terdiam tak mau menjawab ucapan Viona.


"Bu...kan gitu dek, kamu salah abang beneran baca dan tandatangan ko. Jadi nggak denger ucapannya kamu karena lagi fokus baca dan tandatangan juga." Kata Rendi menjawab ucapan Viona.


"Bilangnya bukan, tapi ko di awal malah gugup gitu jawabnya. Udah lah bang jawab jujur aja kalau abang memang lagi bohong."


"Nggak dek, abang nggak lagi bohong, beneran."


"Kalau gitu mana coba dokumen nya aku mau liat tandatangan abang. Sama aku juga pengen tau dokumen apa yang abang baca." Kata Viona meminta pada Rendi untuk melihat dokumen yang Rendi lihat tadi.

__ADS_1


Seketika membuat wajah Rendi menjadi panik. Namun, semua itu tak berjalan lama. Karena kini Rendi mulai mengubah wajah panik nya itu dengan wajah biasa. Seolah - olah ia memang tak bersalah sama sekali dan tak merasa panik sedikit pun.


Hingga tak lama setelah itu, Rendi pun mulai menjawab ucapan Viona.


"Beneran dek kamu mau liat. Ini banyak loh dokumen yang udah abang baca dan tandatangani." Kata Rendi meyakinkan kembali ucapan Viona tersebut.


"Iya bang buat aku tak masalah sama sekali. Mau itu banyak kek nggak kek aku nggak masalah sama sekali." Kata Viona menjawab ucapan Rendi dengan yakin.


"Ya udah dek, kalau gitu kamu bisa ke sini liat dokumennya." Kata Rendi meminta Viona untuk mendekati tempat yang saat ini ia berada.


"Abang aja yang ke sini. Aku males jalan." Kata Viona malah meminta Rendi yang menemui dirinya.


"Yang mau liat siapa?"


"Aku"


"Terus yang harusnya datang itu berati siapa?"


"Abang lah yang harus ke sini."


"Ya ampun dek, harus nya kamu dong yang ke sini. Buka abang."


"Aku kan udah bilang bang kalau aku tuh lagi males jalan dan selain itu juga, ntar kalau ada dukumen yang ilang. Aku lagi yang di salahin karena sempat liat dan baca dokumennya. Jadi alangkah lebih baik nya abang aja yang bawa dukumen itu ke sini." Kata Viona menjelaskan keinginan dan kekhawatiran nya pada Rendi.


"Bisa aja kamu dek jawab nya. Hem... ya udah kali ini abang ngalah. Abang yang ke sana bawa dokumen nya." Kata Rendi akhirnya lebih memilih menyetujui keinginan Viona.


Setelah Rendi mengambil tiga dokumen, ia pun mulai membawa ketiga dokumen itu ke tempat Viona duduk saat ini.


Suara langkah yang terdengar semakin mendekat itu. Kini telah terhenti tepat di hadapannya.


"Ini dokumen nya dek, bisa kamu baca dan kamu liat." Kata Rendi yang telah sampai di hadapan Viona sambil memberikan tiga dokumen pada Viona.


Viona yang mendapatkan tiga dokumen ada di hadapannya. Ia pun langsung mengambil dokumen itu dari tangan Rendi.


"Oke bang, aku baca dan liat dulu dokumennya." Kata Viona setelah mengambil dokumen dari Rendi.


"Silahkan, nggak perlu buru - buru dek. Biar kamu bisa baca dokumennya dengan teliti." Kata Rendi menjawab ucapan Viona.


Lalu tak lama setelah berucap seperti itu. Rendi pun duduk di kursi yang ada di hadapan Viona.


Dua menit telah berlalu, Viona yang baru melihat satu dokumen pun menjadi jenuh dan pusing karena dokumen ini. Tak ada seru - seru nya membuat ia menjadi cepat bosan.


"Udah bang aku percaya abang nggak lagi bohong." kata Viona yang telah membaca satu dokumen pada Rendi.


"Lah dek ko cepet gitu. Kamu kan baru liat satu dokumen dek. Dan itu juga baru tiga lembar kan. Kenapa udah bilang percaya?"


"Ya setidaknya aku udah buktiin kalau ternyata abang beneran tandatangan dokumen ini. Itu udah cukup bang menurut aku. Jadi nggak perlu di terusin lagi."


"Ini beneran jawabnya kaya gini atau kamu memang bosen dek karena baca dokumen nya."

__ADS_1


"Em... kalau boleh jujur sih. Aku memang males bang baca dokumen kaya gini. Nggak ada seru - seru nya. Mending aku baca yang lain deh dari pada harus baca ini." Kata Viona menjawab ucapan Rendi sambil mengangkat salah satu dokumen untuk di tunjukan pada Rendi.


"Ya iya lah dek, dokumen kaya gini nggak akan ada lucunya. Masa iya di dokumennya harus berisi komedi. Mana bisa percaya nanti orang - orang yang mau kerja sama, sama perusahaan. Kamu nih dek ada - ada aja. Ckckck..."Kata Rendi sambil menggelengkan kepalanya di akhir kalimat yang ia ucapkan untuk Viona.


"Iya juga ya bang, tapi kalau misalnya ada gimana ya bang? Jadi penasaran aku, kalau di dokumennya malah berisi komedi semua. Pasti akan ketawa - ketawa terus kerjasama nya malah gagal. Karena terus ketawa dan lupa untuk mendatangai dokumen. Lucu kali ya bang kalau beneran kaya gitu." Kata Viona malah memikirkan ide aneh.


"Iya lucu, tapi bikin emosi juga. Masa iya dokumen pekerjaan harus di buat komedi." Kata Rendi menjawab ucapan Viona.


"Ya nggak papa bang, mungkin gaya baru. Buat menarik klain." Kata Viona menjawab ucapan Rendi.


"Gaya baru yang buat orang geram, gitu maksudnya dek."


"Its... bukan gitu lah bang, gini nih kalau abang jarang baca cerita komedi makannya fokusnya selalu hal - hal yang serius - serius gitu. Coba deh bang kali - kali abang baca buku komedi. Pasti abang bakalan..." kata Viona yang seketika di potong oleh Rendi.


"Udah dek jangan di terusin lagi. Kamu ya malah mempengaruhi hal yang nggak baik. Nanti bukannya fokus kerja abang malah fokus baca buku dan koleksi buku komedi. Terus kantor nggak ada kemajuan sama sekali karena abang nya fokus baca buku komedi." Kata Rendi menjawab ucapan Viona.


"Ya ampun bang, nggak gitu juga bang. Abang kan bisa bacanya abis pulang kerja. Malem - malem mungkin sebelum tidur. Bukan pas abang lagi di kantor. Abang nih ya bawaan nya curigaan gitu sama aku." Kata Viona protes dengan jawaban Rendi untuk nya.


"Ya tetep aja lah dek, itu nggak baik."


"Hem... ya udah deh terserah abang. Oh iya bang mana coba kunci pintunya. Tadi ada yang ketuk pintu. Mungkin pihak berwajib yang datang." Kata Viona menjawab ucapan Rendi sambil meminta Rendi memberikan kunci ruangannya.


"Emang bener gitu dek, ada yang ketuk pintu. Tapi perasaan kakak nggak denger apa - apa tuh. Jangan bohongin abang deh dek." Kata Rendi menjawab ucapan Viona dengan tak percaya.


"Mau denger gimana bang? abang nya aja fokus sama pekerjaan abang. Terus panggilan aku aja baru di jawab sama abang. Padahal aku udah beberapa kali panggil abang." Kata Viona menjawab ucapan Rendi.


"Masa sih dek saking fokusnya abang nggak denger ketukan pintu. Tapi beneran ko dek abang nggak dengr pintu di ketuk. Kamu nggak lagi bohongin abang kan biar pintu nya bisa ke buka. Terus kamu bisa pergi dari sini."


"Apa sih bang, aku tuh beneran nggak bohong bang. Memang barusan ada yang ketuk pintu. Kalau nggak percaya sekarang abang langsung buka aja pintu nya." Kata Viona menjawab ucapan Rendi.


Sebelum menjawab ucapan Viona. Rendi sempat terdiam untuk beberap detik. Lalu ia pun mulai mengeluarkan suaranya lagi.


"Ya udah dek, kalau gitu abang sekarang buka pintu nya."


"Ya udah bang langsung di buka aja."


"Kamu mau ikut nggak"


"Ikut dong bang, aku kan orang yang ngelaporin abang nya. Jadi ya harus ikut."


"Yakin bener dek itu pihak berwajib yang ketuk pintu."


"Harus dong, biar aku nya bisa cepet pulang.


"Kenapa pengen cepet pulang sih dek? di sini aja lah temenin abang."


"Nggak mau ntar malah ada yang laporin lagi. Kalau aku lagi berdua - duaan sama abang di sini. Terus nanti ada yang marah sama aku atau besar kemungkinan aku malah di tuduh berbuat hal aneh - aneh sana abang. Ih... takut aku bang ngebayangin nya juga."


"Ya udah kalau gitu jangan di bayangin dek. Kamu ya bayangannya udah sampai situ aja."

__ADS_1


"Bisa bang efek terlalu banyak baca buku cerita, makannya suka berimajinasi yang aneh. Hahaha... Ooppss sorry nggak lucu yang bang. Maaf ya aku malah ketawa kaya gitu." Kata Viona yang merasa bersalah pada Rendi karena ia malah tertawa. Apalagi melihat Rendi yang malah terdiam seperti enggan untuk menjawab ucapan nya itu. Membuat Viona menjadi berkata seperti itu untuk Rendi.


To be continued


__ADS_2