Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Tak Kunjung Datang


__ADS_3

Sementara Galang yang saat ini sedang menunggu angkutan umum sempat gelisah karena waktu terus berjalan.


Tetapi ia masih belum menjumpai angkutan umum yang bisa ia naiki untuk membawa dirinya pulang ke rumah.


"Aduh... udah jam empat lewat delapan belas menit lagi. Gimana ya? ini udah jam segini ko belum keliatan sih angkutan umumnya." kata Galang yang mulai panik dan gelisah.


"Padahal kan biasa nya kalau di jam - jam kaya gini suka banyak tuh angkutan umum. Tapi ko sekarang belum ada ya."


"Apa bentar lagi kali ya. Hem... iya deh kayanya bentar lagi. Tunggu bentar lagi aja deh." kata Galang yang kemudian menunggu lagi angkutan umum.


Dua menit telah berlalu. Tetapi angkutan umum belum juga kelihatan sama sekali.


Hingga membuat Galang ingin memaki dan mengeluarkan kata - kata yang bisa membuatnya meluapkan emosi yang di tahan nya ini. Karena menunggu angkutan umum yang tak kunjung datang.


Namun hal itu tak terjadi karena ia masih ingin menjaga image agar tak di ketahui orang bahwa saat ini ia sedang marah karena emosi.


"Sabar Galang tahan jangan sampai kamu meluapkan emosi mu ini. Inget ini masih si sekitaran kantor emangnya kamu mau apa kalau teman - teman kantor mu ini malah menjauhi mu karena tau sifat asli mu yang sebenarnya nya. Nggak kan, jadi kamu harus bisa tahan jangan sampai meluapkan emosi mu ini." kata Galang di dalam hatinya.


"Iya juga ya ntar kalau mereka pada tau malah jadi berabe lagi nanti banyak yang jauhi terus ntar aku malah jadi nggak betah kerja di sini. Karena teman - teman nya malah jauhi aku." kata Galang lagi di dalam hatinya.


Lalu tak lama setelah Galang berkata di dalam hatinya angkutan umum yang di tunggu pun telah ada di hadapannya.


Bunyi klakson angkutan umum pun terdengar oleh Galang. Hingga membuat Galang akhirnya menghentikan berbicara di dalam hati nya itu.


"Eh... ini angkutan umum nya udah dateng. Akhirnya nya kamu dateng juga. Kenapa lama sih dateng nya." kata Galang di dalam pikirannya.

__ADS_1


Setelah di pastikan mobil telah berhenti. Galang pun mulai memasuki angkutan umum bersama beberapa teman kantor nya yang sama - sama menunggu angkutan umum juga bersama nya barusan.


Ada sekitar tiga sampai empat orang yang saat ini masuk kedalam angkutan umum bersama Galang.


"Eh... pak Galang saya kira tadi bapak lagi nunggu seseorang yang mau jemput. Tapi ternyata sama juga ya lagi nunggu angkutan umum." kata Beni teman kantor nya Galang.


"Em... iya pak Beni soalnya untuk beberapa hari ke depan saya akan sering naik angkutan umum kaya gini pak." kata Galang menjawab ucapan pak Beni.


"Oh... sepertinya pak Galang ini pengen tau rasanya naik angkutan umum ya pak. Kaya lagi cari suasana yang beda gitu." kata Juna teman nya Beni yang ikut dalam pembicaraan.


"Em... i...ya pak bener banget itu pak" kata Galang menjawab ucapan pak Juna.


"Gimana pak Galang sekarang rasanya setelah naik angkutan umum?" kata Santo teman Beni dan Juna bertanya juga pada Galang.


"Em... itu anu pak, gimana ya rasanya itu kaya. Em... campur aduk gitu pak ada rasa seneng sama ada rasa kurang nyaman juga. Tapi lebih ke pertengahan ya deh pak kalau menurut saya masih di antara keduanya gitu." kata Galang menjawab ucapan pak Santo.


"Hem... iya pak semoga bisa sepeti itu" kata Galang menjawab ucapan pak Santo.


"Iya pak Galang semoga cepat terbiasa dengan keadaan seperti ini." kata pak Santo pada Galang.


"Iya pak" kata Galang menjawab ucapan pak Santo dengan singkat.


Sementara satu orang lagi teman kantor Galang hanya menjadi pendengar saja.


Tanpa berniat untuk ikut dalam pembicaraan diantara mereka. Namun ini semua tidak di permasalahkan oleh Galang dan yang lainnya.

__ADS_1


Karena setiap orang berhak melakukan apa yang menurut mereka mesti di lakukan atau tidak.


Hingga di sepanjang jalan begitu cepat berlalu karena tak terasa dengan banyak nya mengobrol hal - hal seperti yang mereka lakukan saat ini.


Membuat mereka jauh lebih akrab dan sepertinya enggan untuk turun ke tempat tujuan mereka masing - masing karena terlalu keasyikan mengobrol.


"Ya sebentar lagi saya mau turun nih. Jadi nggak tau deh kelanjutan ceritanya. Em... jadi males buat turun nih bapak - bapak." kata pak Juna orang yang saat ini akan turun dari angkutan umum karena jarak rumahnya yang paling dekat dari kantor.


"Hem... iya pak, tapi nggak papa pak besok saya ceritain deh di kantor sampai mana kita akhirnya selesai mengobrol. Oke pak." kata pak Beni menjawab ucapan Juna barusan.


"Hem... tapi bener ya pak nanti ceritain sama saya. Udah mau nyampe nih jawab dong pak." kata pak Juna menjawab ucapan pak Beni.


"Iya pak pasti, tenang aja asal jangan lupa uang kopi nya biar pas saya ceritain nggak buat haus karena banyak cerita." kata pak Beni menjawab ucapan pak Juna.


"Ye... saya kira nggak akan ada uang kaya gitu. Em... kalau ada yang kaya gitu mah nggak usah di ceritain aja deh. Ntar pas udah di kasih uang kopi eh malah minta di tambahin uang buat temen kopi nya. Kan bisa abis isi dompet terkuras." kata pak Juna menjawab ucapan Beni.


"Bercanda kali pak, ya udah tuh di depan udah keliatan rumah nya." kata pak Beni pada pak Juna.


"Em... pak, pak saya kira beneran. Ya udah deh pak Galang, pak Santo sama pak Bagas saya duluan ya. Pada mau mampir juga nggak nih." kata pak Juna pada semua orang yang masuk angkutan umum secara bersamaan dengannya tadi. Namun pak Juna tak menyebutkan nama satu orang lagi.


Hingga membuat orang yang tak disebutkan namanya itu mulai protes pada pak Juna.


"Eh... pak, ko nama saya nya nggak di sebutin sih. Tega bener sampai di lupain kaya gitu." kata pak Beni seseorang yang namanya tak di sebutkan oleh pak Juna.


"Oh ya masa sih pak, barusan saya nggak sebutin nama pak Beni. Masa iya sih pak perasaan udah deh pak." kata pak Juna yang berpura - pura bilang pada pak Beni bahwa ia sempat menyebutkan namanya namun kenyataannya ia memang tak menyebutkan nama pak Beni sama sekali.

__ADS_1


"Iya pak beneran pendengaran saya nggak salah ko. Kalau nggak percaya tanya ke yang lain aja deh pak." kata pak Beni menjawab ucapan pak Juna.


To be continued


__ADS_2