
"Kalau gitu kamu pergi aja. Ngapain juga masih ada di sini. Ganggu tau nggak." Kata Galang dengan santainya menjawab ucapan Viona.
"Lah aku ganggu dari mana nya kak. Perasaan aku nggak jahilin kakak deh. Dari mana nya aku ganggu." Kata Viona yang tak terima dengan jawaban Galang tersebut pada dirinya.
"Kamu nggak tau dek ke salah kamu dari tadi itu apa? ckckck... dek... dek... masa nggak tau." Kata Galang sambil menggelengkan kepalanya menjawab ucapan Viona ini.
Walaupun hal ini tak dapat di lihat oleh Viona. Namun, Galang tetap melakukan hal tersebut di dalam kamar.
"Hem... aku beneran nggak tau kak, kesalahan aku tuh apa?"
"Ya udah lupain, sana kamu pergi. Pusing lama - lama denger ucapan kamu ini." Kata Galang yang menyuruh Viona untuk pergi.
"Ih... ko gitu sih kak, adek kan pengen masuk ke kamar adek, kenapa harus pergi? terus kalau adek pergi adek harus pergi kemana?"
"Ya udah kamu masuk aja ke kamar kamu. Kalau kamu mau pergi ya itu terserah kamu mau pergi kemana, kenapa harus tanya kakak?"
"Hem... ya udah deh aku mau masuk ke kamar aku aja. Sekarang kakak buka ya pintu kamar aku nya. Biar aku bisa masuk."
"Iya kakak buka"
Kemudian terdengarlah suara kunci yang di putar sebanyak dua kali.
Tak lama setelah itu, terdengarlah suara pintu yang di buka.
Ceklek... Ceklek...
"Lah barusan aku denger ada pintu yang di buka. Tapi ko pintu ini nggak ke buka ya." Kata Viona di dalam hatinya menjadi bingung sendiri karena saat ini pintu kamar miliknya tak terbuka sama sekali. Sementara ia baru saja mendengar pintu yang terbuka secara perlahan.
"Dek, kenapa masih berdiri aja di sana. Masuk sana ke kamar kamu." Kata Galang yang membuat Viona kebingungan di mana arah sumber suara itu berasal. Bahkan Viona sempat menempelkan telinganya ke depan pintu kamarnya itu sambil berkata.
"Kak, barusan kakak buka pintu nya kan. Tapi ko kakak nya nggak keliatan. Terus ini Pintunya ko nggak di buka. Kakak masih ada di sana kan." Kata Viona mengeluarkan berbagai macam pertanyaan untuk Galang.
"Hem... iya kakak memang buka pintu barusan dan saat ini kakak nggak keliatan karena..." Kata Galang yang seketika di potong ucapannya oleh Viona.
"Karena apa kak?"
"Karena kakak ada di belakang kamu dek."
"Di belakang aku. Ko bisa sih kak. Kakak kan ada di kamar aku, kenapa bisa sekarang ada di belakang aku."
"Ya kalau kamu nggak percaya, kamu bisa lihat sendiri bener atau nggak ucapan kakak ini ke kamu."
Dengan sedikit ragu - ragu Viona lalu membalikan tubuhnya untuk melihat Galang yang katanya ada di belakang tubuh nya saat ini.
Di saat Viona telah membalikkan tubuh nya. Terlihatlah oleh nya bahwa saat ini Galang memang berada di belakang tubuhnya.
"Lah kak, ko bisa sih. Terus sejak kapan kakak ada di belakang aku dan berada di kamar kakak."
"Ya bisa lah dek, dari tadi juga kakak ada di kamar kakak."
__ADS_1
"Bukan di kamar aku."
"Bukan lah, buat apa kakak ke kamar kamu."
"Tapi, tadi kakak bilang..."
"Ya udah dek, kalau gitu kakak masuk kamar kakak dulu ya. Dah dek." Kata Galang memotong ucapan Viona dan langsung menutup pintu kamarnya kembali tanpa menunggu Viona menjawab ucapannya itu.
Dug...
Pintu di tutup oleh Galang membuat Viona kini mulai emosi di dalam hatinya.
"Jadi aku tuh di bohongi sama kakak. Argh... nyebelin, bikin kesel orang aja. Mana udah mohon - mohon di depan pintu kamar tapi kenyataannya kakak nggak ada di kamar aku. Bikin kesel banget dan sangat - sangat kebangetan kakak ini."
Setelah itu, Viona mulai membuka pintu kamar nya dan langsung menutup pintu dengan begitu keras.
Bahkan suara pintu yang tertutup itu, sampai terdengar oleh Galang yang berada di kamarnya saat ini.
"Ya ampun adek marah banget nih kaya nya. Hem... tapi ko aku malah pengen ketawa ya liat wajah adek yang kebingungan barusan. Lucu banget wajah nya itu. Argh ketawa nggak papa kali ya. Hahaha... Hahaha... Hahaha..." kata Galang yang langsung tertawa begitu lepasnya tanpa beban sedikit pun.
"Awas ya kak, lain waktu aku bales ulah kakak ini." Kata Viona yang saat ini sedang berjalan menuju tempat tidurnya.
Tak lama setelah itu, Viona pun telah sampai didekat tempat tidurnya dan langsung mendudukkan dirinya di tempat tidurnya tersebut.
Lalu dengan marah ia mulai menyimpan hanphone miliknya dengan sedikit melempar hanphone tersebut di atas ranjang.
Sampai hanphone tersebut berada cukup jauh di posisi duduk nya ia saat ini.
Tut... Tut... Tut...
"Siapa sih? Berisik banget nggak tau apa aku lagi emosi." Kata Viona kini mulai mendekati hanphone miliknya yang berada cukup jauh itu.
Saat hanphone miliknya telah ia pegang di saat itu juga sambungan telpon itu terputus.
"Giliran udah aku pegang nih hanphone. Malah mati lagi sambungan telponnya. Dari siapa sih? Mana nggak ada nama nya lagi. Kayanya nomor kesasar bikin resah yang punya hanphone aja nih orang yang telpon. Kalau penting sih nggak masalah, tapi kalau nomor iseng keterlaluan banget ganggu orang yang lagi emosi kaya gini."
Tak lama setelah Viona menyelesaikan ucapannya, terdengar lagi lah suara telpon dari hanphone miliknya saat ini.
Tut... Tut... Tut...
"Ih... bikin kaget aja sih. Ini nomor malah kembali hubungi aku. Nomor siapa sih? Mana buat aku kaget lagi. Hem... aku biarin aja deh sampai mati sendiri nggak perlu aku terima."
Benar saja Viona tak menerima telpon tersebut sampai suara telpon itu tak terdengar lagi.
Tak lama setelah itu, terdengar kembali bunyi ketiga dari nomor yang sama.
Tut... Tut... Tut...
"Siapa sih? nggak tau apa aku lagi males terima telpon mana nomor tak di kenal lagi. Ya udah deh biarin aja aku nggak peduli." kata Viona masih enggan untuk menerima panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
Ketika suara telpon itu berhenti. Terdengarlah notifikasi pesan masuk ke hanphone Viona.
"Apa lagi nih. Ada pesan segala. Dari siapa sih?"
Kemudian Viona melihat hanphone miliknya. Lagi dan lagi itu dari nomor yang sama saat ia mengabaikan tiga panggilan dari nomor tersebut.
Awalnya ia enggan juga untuk menerima pesan dari nomor tersebut. Namun, setelah di pikir - pikir kembali ia mulai merasa penasaran dengan orang yang menelpon dan memberikan pesan pada dirinya saat ini.
"Liat jangan liat jangan. Tapi kalau aku liat, terus pesannya nggak penting gimana? em... kalau aku nggak liat aku jadi penasaran kaya gini. Hem... jadi bingung nih aku." kata Viona sambil memegang handphone miliknya, lalu menyimpan kembali di ranjang nya.
Namun, setelah ia menyimpan kembali handphone miliknya di ranjang. Tak lama setelah itu dia kembali memegang hanphone miliknya dan ini berlangsung selama tiga kali ia melakukan hal yang sama terus - menerus.
Hingga akhirnya keputusan untuk melihat isi pesan tersebut. Kini Viona ambil karena rasa penasarannya sudah sangat tak bisa di tahan lagi.
Di lihatlah isi pesan dari nomor tersebut oleh Viona.
Setelah ia lihat, kemudian ia mulai membaca isi pesan tersebut.
"Assalamualaikum, dek ini bang Rendi. Kamu kenapa nggak terima telpon dari abang." Inilah kurang lebih isi pesan dari nomor yang tak di kenal tersebut.
Sebelum menjawab Viona sempat kebingungan dengan nama yang tak asing tersebut.
"Bang Rendi, Rendi siapa ya ini maksudnya? ko tiba - tiba bilang kaya gini. Terus ko bisa ya orang ini punya nomor aku." kata Viona yang kebingungan berbicara di dalam pikirannya.
Lalu ia pun mulai menjawab pesan tersebut. Dengan masih bingung ia kemudian bertanya pada pemilik nomor yang memberikan pesan pada nomor nya ini.
"Wa'alaikumussalam, maaf ini maksudnya bang Rendi siapa ya? saya nggak tau maksudnya bang Rendi ini yang mana. Bisa tolong kasih tau saya lebih jelas, Rendi yang mana yang di maksudnya ini." kata pesan yang di kirim Viona pada pemilik nomor tak di kenal itu.
"Rendi yang ketemu adek di taman dan yang ketemu adek pagi hari di kantor. Sekarang apa udah tau Rendi yang di maksud itu." inilah jawaban pesan yang di kirim oleh Viona.
"Yang ketemu di taman dan yang ketemu di kantor. Jadi maksudnya..." kata Viona di dalam pikirannya.
Kemudian dengan refleks ia malah mengetikkan kata yang ada di pikirannya saat ia mengehentikan ucapannya itu.
"Abang nyebelin itu." kata ini lah yang malah terkirim sebagai jawaban dari pesan yang di kirim oleh Rendi pada Viona.
"Hem..." kata Rendi hanya menjawab dengan satu kata ini saja.
"Ya ampun bang, maaf ya ini saya kecepatan ketik nya dan terburu - buru. Jadi ke kirim tiba - tiba." kata Viona mencoba meminta maaf atas jawaban refleks nya itu pada Rendi.
"Iya dek nggak papa, abang tau ko abang nyebelin." kata Rendi menjawab pesan Viona.
"Aduh gimana nih? abang nyebelin nya malah jadi baper gini lagi. Aku jawab apa lagi nih. Ko jadi bingung sendiri sih." kata Viona di dalam pikirannya.
"Ayo Vio berpikir kamu harus jawab apa. Biar nggak tambah baper nih abang - abang."
Hening saat ini Viona mulai kebingungan menjawab pesan dari Rendi. Bahkan ia sampai hampir lebih dari lima menit baru lah ia menjawab pesan dari Rendi yang sedari tadi menunggu jawaban Viona. Bahkan sampai beberapa kali nunggu karena saat Viona tak menjawab pesannya.
Rendi yang saat ini juga berada di kamar nya malah seperti orang yang udah bosan karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Viona atas pesan yang ia berikan pada Viona.
__ADS_1
"Ya ampun dek, ko lama sih jawab nya. Ayo lah dek jawab lagi, jangan buat abang nunggu lama. Udah nggak sabar nih pengen tau jawaban kamu." kata Rendi setelah hampir lebih dari sepuluh kali ia terus menerus melihat hanphone miliknya. Bahkan jika ia tak kunjung menerima jawaban dari pesannya itu. ia akan kembali menghubungi Viona. Ntah lah sikap ia yang seperti ini pun ia tak tahu bisa seperti ini. Padahal baru kenal dan belum ada ikatan apa - apa tapi rasanya seperti ia udah kenal lama sama Viona. Hingga saat Viona tak kunjung menjawab pesannya. Ia menjadi seperti ini sikap nya.
To be continued