
Perlahan demi perlahan wajah Rendi kini telah berjarak sangat dengan dengan wajah Viona.
Kedua mata mereka pun sudah saling tatap satu sama lain. Tanpa ada yang berniat untuk berkedip sedikit pun.
Mata itu bagaikan hal yang entah kenapa sulit untuk mereka alihkan ke lain arah selain saling tatap seperti yang saat ini mereka lakukan.
Jarak yang tersisa di antara mereka pun hanya tinggal beberapa cm saja.
Bahkan sepertinya ini sudah hampir sangat dekat.
Kedua hidung mereka pun kini hampir bersentuhan satu sama lain.
Bibir mereka bahkan sudah hampir bersentuhan.
Viona kini mulai menutup matanya. Entah apa yang ia rasakan. Namun, yang jelas ia merasakan berbagai hal saat ini.
Ada rasa berdebar - debar, takut, dan ada juga perasaan aneh. Sangat aneh yang kini di rasakan oleh Viona.
Tak jauh berbeda dengan Rendi saat ini. Ia pun mengalami hal yang sama dengan yang saat ini Viona rasakan.
Bahkan dorongan untuk menyentuh bibir Viona semakin membuat ia lupa akan segala hal.
Dan yang tertuju hanya satu hal yaitu menyentuh bibir Viona dengan bibir nya yang berjarak sangat dekat.
Saat bibir itu hampir bersentuhan. Terdengarlah suara ketukan pintu yang akhirnya mereka berdua pun tersadar. Bahwa yang mereka lakukan adalah kesalahan.
Tok... Tok...
"Astaghfirullah, maaf dek abang nggak bermaksud mau berbuat macam - macam sama kamu." Kata Rendi yang tersadar saat mendengar suara ketukan pintu.
Sementara Viona yang masih menutup matanya. Kini mulai membuka mata itu perlahan demi perlahan.
Hingga mata itu pun terbuka dengan sempurna.
Saat mata itu telah terbuka sempurna. Viona tak mengeluarkan suaranya sama sekali. Hanya mematung tak berniat untuk menjawab ucapan Rendi untuk nya itu.
Rendi yang melihat Viona hanya terdiam. Kembali mengeluarkan suaranya lagi.
"Dek, ko malah diem"
Masih tak ada jawaban sama sekali dari Viona.
"Dek" saat Rendi memanggil Viona lagi. Namun, sayangnya Viona tak menjawab panggilan itu.
__ADS_1
Sekarang yang Rendi rasakan sangat serba salah. Di satu sisi semua ini tak akan terjadi jika ia tak berniat untuk mengerjai Viona.
Maka hal yang mereka lakukan barusan tak akan mereka alami saat ini.
Tapi sayang hal itu sudah terjadi. Membuat Rendi makin merasa bersalah.
"Dek maafin abang, abang nggak bermaksud ingin lakukan hal seperti itu sama kamu dek."
"Dek jawab, abang mohon jawab ucapan abang. Kamu boleh marahin abang atau pun kalau kamu mau pukul abang pun juga abang nggak masalah dek. Tapi tolong jangan diemin abang kaya gini. Abang nggak tau apa yang harus abang lakuin kalau kamu hanya diem aja dek." kata Rendi pada Viona.
Sementara Viona ia masih terdiam tak mengeluarkan suaranya.
Sampai di mana Viona mulai mengeluarkan suara nya untuk menjawab ucapan Rendi beberapa menit kemudian.
"Aku mau pulang" kata ini lah yang keluar dari bibir Viona untuk Rendi.
"Kenapa mau pulang dek? jawab dulu perkataan maaf abang sama kamu." kata Rendi menjawab ucapan Viona.
"Aku bilang aku mau pulang, mana kunci nya." kata Viona meminta kunci pada Rendi.
"Nggak, abang nggak akan kasih kunci nya sebelum kamu jawab permintaan maaf abang itu."
"Hem... ya udah nggak usah di kasih sekalian."
"Dek maaf, abang minta maaf sama kamu." kata Rendi masih mencoba meminta maaf pada Viona.
Apalagi dengan sikap yang Viona berikan untuk nya. Ini semua membuat Rendi menjadi sangat bersalah terhadap Viona.
Di saat ia sibuk memikirkan hal yang harus ia lakukan untuk membuat Viona bisa memaafkan nya.
Di saat itu juga ia mendengar suara orang yang sedang ia pikirkan untuk membuatnya memaafkan dirinya.
"Bang, hey bang ko diem. Ini abang kenapa? coba buka bang pintu nya. Sedari tadi terus - terus di ketuk nih pintu. Buat aku pusing mendengar ketukannya itu. Bang, abang, bang..."
"Hadeh nih abang malah bengong lagi. Kesambet atau apa ya nih abang. Dari tadi aku panggil - panggil malah terus bengong." kata Viona di dalam hatinya.
"Aku coba panggil lagi deh. Lebih keras nggak papa kali ya manggil nya. Hem... iya deh aku panggil lagi." kata Viona lagi di dalam hatinya.
"Bang" kata Viona sedikit berteriak memanggil Rendi.
Sontak panggilan Viona ini menyadarkan Rendi dari lamunannya itu.
"Eh... iya dek, kenapa?" kata Rendi yang tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Akhirnya bang, abang jawab juga panggilan aku."
"Emangnya adek sejak kapan panggil abang."
"Sejak tadi saat dimana abang malah terdiam tak bergerak sama sekali. Dan ntah apa yang sedang abang pikirkan sampai bersikap seperti itu."
"Maksudnya dek? ko bisa sejak tadi."
"Ya memang itu kenyataannya bang. Abang tuh terdiam tak mengeluarkan suaranya lagi. Saat aku bilang abang berani berbuat macam - macam sama aku. Saat itu juga abang malah tiba - tiba tak bicara lagi."
"Dan selain itu, abang tau orang yang ketuk pintu di luar terus - menerus mengetuk pintu sampai aku ingin mendobrak nih pintu biar bisa ke buka."
"Apalagi nunggu abang kasih kunci nya ke aku tapi malah diem tak bergerak sama sekali."
"Hem... capek nya aku terus - terusan panggil abang."
"Jadi maksudnya, abang nggak lakuin hal itu sama kamu dek."
"Hal itu maksudnya bang?" kata Viona yang aneh mendengar ucapan Rendi itu untuk nya. Sehingga ia pun bertanya mengenai yang di maksud oleh Rendi itu.
"Ya, hal itu dek" kata Rendi masih membuat Viona bingung dengan jawabannya itu.
"Hal apa sih bang, ko aku makin nggak paham sama yang abang maksud itu."
"Em..." kata Rendi yang malah tak meneruskan ucapannya itu.
"Em... apa bang?"
"Ya udah dek lupain aja."
"Ih... abang ko aneh sih. Apa karena tadi terlalu lama diem ya hingga akhirnya buat abang jadi aneh kaya gini."
"Mungkin dek, bisa di bilang kaya gitu."
"Emangnya abang diem karena apa?"
"Karena... abang pengen diem aja." kata Rendi yang berbohong pada Viona mengenai apa yang ia pikirkan saat terdiam itu.
"Ih... ini abang beneran aneh deh."
"Maaf ya dek abang harus bohong sama kamu. Soalnya abang juga masih nggak nyangka abang malah berpikiran hal kaya gitu sama kamu." kata Rendi berbicara pada dirinya sendiri.
"Abang kira kejadian barusan itu beneran dek. Tapi ternyata ini hanya bayangan abang aja. Ya ampun dek kenapa abang jadi kaya gini ya. Kamu ko malah buat abang berpikiran hal yang aneh - aneh." kata Rendi di dalam hatinya
__ADS_1
"Waktu abang pacaran sama mantan abang. Abang nggak pernah berpikiran kaya gini. Bahkan membayangkan hal barusan, tak pernah abang bayangin sama sekali. Tapi sama kamu abang malah mikir yang aneh - aneh. Bisa kamu jawab dek kenapa abang bisa kaya gini." kata Rendi masih di dalam hatinya.
To be continued