
"Em... kamu" kata Viona hampir bersamaan dengan Rendi.
"Kamu..." Kata Rendi hampir bersamaan dengan Viona.
Hening tak ada lagi yang bicara di antara mereka. Lalu tak lama setelah itu. Rendi pun kembali mengeluarkan suaranya.
"Kenapa nggak kamu terusin bicaranya?"
"Em... anu... itu... gimana ya, sebenarnya saya tunggu abang bicara dulu ke saya. Baru setelah itu saya bicara juga ke abang."
"Oh gitu, ya udah kamu mau bicara apa ke saya?"
"Itu... saya mau bicara, eh... tapi abang nggak jadi bicara sama saya."
"Jadi, tapi nanti setelah kamu bicara ke saya."
"Oh..."
"Ya udah lanjutin ucapan mu itu."
"Lanjutin gimana bang? ko saya jadi nggak paham kaya gini ya." Kata Viona yang mendadak lupa dan nggak paham dengan apa yang di bicarakan oleh Rendi pada dirinya.
"Kamu ya, lanjutin bicaranya lah. Kamu mau bicara apa ke saya tadi." Kata Rendi menjawab ucapan Viona dengan sedikit geram.
"Oh itu, em... iya deh bang terusin ucapan saya itu."
"Sebenernya saya tadi mau bilang maaf bang karena udah berkata kasar dan nggak sopan sama abang. Untuk itu mau kan abang maafin kesalahan saya itu. Soalnya saya terbawa emosi kalau lagi..."
"Cukup saya nggak mau dengar alasan dari kamu itu."
"Ih... nyebelin banget sih, coba aja kalau dia ini bukan boss baru nya kakak. Nggak mau aku bicara baik kaya gini ke dia. Dasar abang - abang nyebelin." kata Viona yang ngata - ngatain Rendi di dalam hatinya.
"Ko diem, pasti kamu lagi ngata - ngatain saya ya di dalam hati kamu."
"Lah ko abang ini tau ya isi hati aku. Kalau aku memang lagi ngatain dia." kata Viona lagi di dalam hatinya.
"Em... apa sih bang, mana berani aku ngatain abang. Jangan curigaan gitu deh bang." kata Viona pada Rendi.
"Tapi ko saya nggak percaya ya, kamu pasti ngatain saya kan. Jangan bohong deh kamu. Keliatan tau nggak bohongnya."
"Masa sih bang, dari mana nya saya keliatan bohong. Wajah saya gini - gini aja ko dari tadi. Nggak berubah sama sekali."
"Tapi wajah kamu masih keliatan bohong bahkan di buat - buat agar tak berbohong."
"Ya ampun bang, kalau abang nggak percaya ya udah. Saya tau saya salah tapi saya beneran nggak ngatain abang lagi di dalam hati saya. Jangan aneh - aneh deh bicaranya."
Sontak suara Viona barusan membuat orang - orang di sekitar melihat ke arah mereka berdua.
Rendi yang menyadari itu. Kini sedang berpikir cara apa agar orang - orang tak berpikiran aneh - aneh tentang dirinya yang sedang berbicara dengan Viona ini.
Sehingga ide aneh pun muncul seketika tanpa di minta sama sekali.
"Em... dek jangan marah - marah dong. Maafin abang ya abang salah. Ya udah yuk kita bicara di atas aja. Nggak enak di liatin sama orang."
"Lah ini abang ko jadi bilang aku adek sih. Sejak kapan aku jadi adek nya?" Kata Viona yang terheran - heran dengan ucapan Rendi.
"Mana sikapnya baik lagi. Beda banget sama ucapan dia yang tadi. Apa karena mau jaga image ya. Aneh bener sih."
"Hey dek yuk kita lanjut bicara nya di atas aja."
Viona yang mendengar suara Rendi barusan tak menolak sama sekali ajakan nya itu.
Karena bisa di lihat saat ini Viona berjalan beriringan dengan Rendi untuk menuju ke lantai atas atau lebih tepatnya ke lantai paling atas di ruangan Rendi bekerja.
Galang yang melihat itu semua menjadi panik dan bingung apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
"Aduh itu adek mau di apain ya sama boss. Aku bingung nih masuk ke ruangan ku atau pergi susulan adek yang di bawa sama boss."
"Galang ayo lah ambil keputusan. Liat adek kamu di bawa sama boss masa kamu sebagai kakak nya nggak bertindak sama sekali. Kalau nanti terjadi sesuatu pada adek kamu gimana?" Kata Galang berbicara pada dirinya sendiri.
"Em... ya udah deh aku langsung susulin aja. Ntar yang ada adek di apa - apain sama boss. Nanti aku harus bilang apa ke mamah sama papah kalau adek beneran di apa - apain sama boss."
"Bener juga kamu Galang. Ya udah tunggu apa lagi susulin sana adek kamu."
"Hem... memang itu yang harus nya aku lakuin."
Tap... Tap...
Dengan sedikit berlari Galang pun pergi menyusul Viona dan Rendi yang telah berada jauh di tempat nya saat ini berada.
Saat pintu lift itu tertutup. Galang masih berada di jarak yang lumayan jauh. Hingga ia terlambat masuk ke dalam lift yang sama.
"Huh... Huh... Huh... terlambat nya aku. Em... tak apa biar aku percepat lagi aja jalan nya terus langsung naik lift yang lainya."
"Hem... bener juga kamu Galang."
Tak lama setelah itu, Galang pun kini telah masuk ke dalam lift dan langsung menekan angkat yang paling tinggi. Karena ruangan Rendi berada di lantai paling atas.
Suasana di dalam lift membuat Galang merasa sangat lamban membawa ia naik menuju lantai paling atas.
"Ini lift ko lama sih, biasanya juga langsung nyampai nggak sampai berlama - lama kaya gini."
"Mana adek udah di bawa pergi lagi sama tuh boss. Aku kan jadi khawatir sama keadaan adek."
"Boss juga lagi, ko main bawa - bawa aja adek ku itu."
"Em... tapi dek semoga kamu nggak di apa - apain sama boss."
Berbeda hal dengan suasana lift yang Viona dan Rendi saat ini berada. Karena lift ini seperti begitu cepat sampai di lantai paling atas.
"Em... abang bicara sama saya."
"Nggak sama hantu, ya iya lah sama kamu di sini kan cuman ada saya sama kamu aja."
"Maaf saya kira bukan sama saya. Tapi bentar deh bang kenapa abang panggil saya adek."
"Nggak boleh emangnya"
"Aneh aja bang ko tiba - tiba panggil saya adek."
"Lah terus kamu kenapa panggil saya abang."
"Itu karena..."
"Karena apa?"
"Lupain deh bang"
"Ko di lupain saya kan pengen tau."
"Abang nggak perlu tau jadi lupain aja."
"Tapi kalau saya nya pengen tau."
"Em... ya udah kalau gitu abang cari tau sendiri aja."
"Lah ko gitu sih dek"
"Ih... bang jangan panggil saya adek."
"Emang nya salah saya panggil kamu adek atau mau saya panggil tante."
__ADS_1
"Eh... ko jadi tante sih bang. Em... ya udah deh panggil adek aja. Kalau panggil tante aku jadi... em... ya udah deh bang lupain aja. Abang boleh panggil aku adek."
"Kenapa nggak di terusin"
"Nggak jadi aja bang"
"Hem"
Pintu lift pun terbuka dengan sempurna. Kini mereka berdua telah berada di lantai paling atas.
"Eh... tunggu bang"
"Tunggu apa?"
"Tunggu dulu bang ini kita mau ngapain ke sini."
"Masuk aja dulu. Ntar juga kamu tau dek kita mau ngapain."
Tanpa curiga sedikit pun Viona masuk ke dalam ruangan Rendi saat ini.
Cekrek... Cekrek...
Dua kali pintu ruangan Rendi di kunci oleh Rendi.
Membuat Viona menjadi was - was dan takut.
"Em... bang kenapa pintunya harus di kunci."
"Biar nggak ada yang ganggu aja."
"Ganggu maksudnya bang?"
"Ya udah lupain aja. Sini kamu duduk di sini dulu."
"Em... saya berdiri aja bang."
"Mau sampai kapan kamu berdiri?"
"Ntahlah bang saya nggak tau, mungkin sampai abang selesai bicara sama saya."
"Kalau selesai bicaranya sampai tiga jam. Emangnya kamu mau tetep berdiri kaya gitu."
"Apa bang tiga jam? abang nggak salah apa?"
"Nggak sama sekali."
"Terus sekarang kamu masih mau berdiri kaya gitu atau mau duduk. Ini tawaran terakhir saya ya buat kamu duduk."
"Ya ampun kalau berdiri terus kan pegel. Em... Ya udah deh aku duduk aja." Kata Viona akhirnya memilih untuk duduk.
Duduk lah Viona saat ini di tempat yang di tunjuk oleh Rendi.
"Adek mau minum atau makan nggak."
"Em... nggak usah bang"
"Yakin nggak usah"
"Em... I... ya bang."
"Ya udah tunggu sebentar ya saya pesen sesuatu dulu buat di bawa ke sini."
"Nih abang mau pesan apa sih. Makin lama dong aku berada di sini. Mana udah nggak betah lagi aku berada di sini. Suasana nya makin menyeramkan." kata Viona di dalam hatinya.
To be continued
__ADS_1