
"Coba mana sedih nya mamah pengen liat" kata mamah Vina malah ingin melihat papah Gilang nangis.
"Ini emang nya mamah nggak bisa liat apa, papah lagi sedih. Liat coba mah nih liat." kata papah Gilang sambil menunjuk wajah nya.
"Uluh - uluh papah lagi nangis ya, mamah kira lagi drama. Hahaha... hahaha... hahaha..." kata mamah Vina yang udah nggak tahan ingin tertawa. Hingga akhirnya mamah Vina pun mengeluarkan tawanya yang begitu keras untuk papah Gilang.
"Oh jadi gini mamah mau ketawa in papah, hem ya udah ketawa aja mah biar puas." kata papah Gilang pura - pura merajuk.
"Eh... nggak pah ini mamah kelepasan aja. Jangan gini dong pah ya. Ini mamah udah nggak ketawa lagi ko. Em... liat pah udah nggak ketawa lagi." kata mamah Vina menjawab ucapan papah Gilang dengan sedikit panik setelah mendengar ucapan papah Gilang pada dirinya.
Papah Gilang yang sedang merajuk kemudian melihat wajah mamah Vina. Setelah melihat wajah mamah Vina papah Gilang langsung mengeluarkan suaranya.
"Kurang mah itu masih keliatan menahan tawa" kata papah Gilang menjawab ucapan mamah Vina.
"Oh... ya udah pah nih kalau gini gimana?" kata mamah Vina mulai menunjukkan wajah biasa - biasa nya pada mamah Vina.
"Masih keliatan mah" kata papah Gilang lagi sengaja berkata seperti itu.
"Eh... masa sih pah masih keliatan, perasaan mamah nggak ko pah nggak keliatan. Bentar - bentar kalau gitu mamah mau liat wajah mamah dulu di cermin." kata mamah Vina yang mulai bangkit dari duduk nya saat ini.
Belum sempat mamah Vina berdiri dan melangkah kan kaki nya menuju cermin. Seketika tangan mamah Vina langsung di pegang oleh papah Gilang.
"Mau kemana mah?" kata papah Gilang pada mamah Vina.
"Mau ke sana pah liat wajah mamah yang kata papah masih keliatan ketawa." kata mamah Vina sambil menunjuk cermin.
"Mamah percaya sama ucapan papah itu" kata papah Gilang pada mamah Vina.
"Sebenernya sih pah percaya nggak percaya tapi yang lebih besar nggak percaya nya sih pah. Em... jadi mamah ingin liat biar bisa bukti in." kata mamah Vina menjawab ucapan papah Gilang apa adanya sesuai yang ia rasa kan saat ini.
__ADS_1
"Ya ampun mah ko yang nggak percaya nya yang lebih besar. Ckckck... mamah, mamah." kata papah Gilang tak percaya dengan ucapan mamah Vina barusan pada dirinya.
"Ya kan memang itu pah yang mamah rasain pas papah bilang kalau wajah mamah itu..." kata mamah Vina yang di potong oleh papah Gilang.
"Hem... iya deh iya terserah mamah. Mau percaya atau nggak. Tapi yang jelas papah seneng liat mamah udah nggak nangis lagi. Gini kek mah dari tadi adem liat nya." kata papah Gilang menjawab ucapan mamah Vina sambil tersenyum di ujung kalimat yang ia ucapkan.
"Bentar - bentar pah maksudnya papah apa? ko mamah masih belum paham." kata mamah Vina yang bingung dengan ucapan papah Gilang yang sebenernya udah sangat jelas bahwa papah Gilang nggak bener - bener merajuk pada mah Vina.
Melainkan hanya ingin mencoba menghibur mamah Vina agar tak menangis lagi. Dan akhirnya cara itu pun berhasil buat mamah Vina jadi tertawa.
Tapi sayang mamah Vina belum menyadari rencana papah Gilang itu.
"Ya udah mah lupain aja. Kita bahas hal lain aja. Oke." kata papah Gilang yang ingin mengalih kan pembicaraan mereka ini.
"Ya mamah kecewa dong. Hem... ya udah deh mau bahas tentang apa pah?" kata mamah Vina menjawab ucapan papah Gilang.
"Tentang apa aja lah mah yang penting jangan yang sedih - sedih aja. Ntar yang ada wajah mamah keliatan jelek." kata papah Gilang menjawab ucapan mamah Vina.
Lalu mereka berdua pun mulai membicarakan hal - hal yang membuat mereka terus tertawa di setiap kalimat yang di lontarkan satu sama lain.
Mamah Vina pun akhirnya bisa melupakan rasa sedih nya itu.
Sementara Viona dan Galang mereka berdua kini sedang menenangkan diri masing - masing setelah pembicaraan mereka tadi.
Yang berlangsung sangat - sangat menguras emosi. Banyak sekali sebuah pelajaran dari perdebatan mereka itu.
Bagaimana mereka bisa mengendalikan emosi, merubah emosi seketika dan bahkan ketika mereka saat ini yang sedang merasa bersalah dengan sikap mereka yang terlalu berlebihan menurut mereka berdua.
Tak terasa detik demi detik berganti dengan menit demi menit lalu jam pun berganti dengan jam demi jam.
__ADS_1
Kini malam pun telah tiba. Dan saat ini adalah waktu yang menjadi jadwal rutin keluarga Viona melakukan makan malam.
Gilang lalu keluar dari kamar nya. Kebiasaan yang sering ia lakukan untuk Viona malam ini ia mulai ragu untuk mengetuk pintu kamar Viona dan mengajak Viona untuk ke bawah secara bersama.
Karena pembicaraan diantara mereka tadi lah yang membuat Galang saat ini ragu.
Ceklek...
Terdengar lah suara pintu yang terbuka, dan pintu yang terbuka itu adalah pintu kamar adek nya.
Tak lama setelah itu terlihat lah Viona yang keluar dari kamar nya.
Kamar mereka yang bersebelahan membuat jarak antara mereka berdua tidak terlalu jauh. Viona yang belum menyadari bahwa saat ini Galang sedang memperhatikan nya hanya fokus untuk keluar dan menutup kembali pintu kamar nya.
Setelah pintu kamar nya telah ia tutup, ia pun mulai membalikan tubuh nya dan mulai melangkahkan kaki.
Saat Viona telah sampai di depan pintu kamar kakak nya ia pun mulai melihat kakak nya yang sedang berdiri di sana.
Viona juga sempat ragu untuk mengeluarkan suara nya pada Galang. Tapi akhirnya karena ia teringat dengan semangat dan tekad ia yang ingin merubah sikapnya itu.
Dengan yakin ia pun mulai mengeluarkan suaranya.
"Kak" kata Viona memanggil Galang.
Galang tak langsung menjawab ucapan Viona karena ia masih merasa enggan untuk berbicara pada Viona saat ini.
Viona yang menyadari sikap kakak nya yang tak berniat menjawab panggilan nya itu pun langsung memanggil Galang lagi.
"Kak maaf buat sikap adek sama kakak tadi. Adek tau dan sadar bahwa sikap adek itu memang salah. Sekarang adek mau minta maaf sama kakak. Mau kakak maafin adek atau pun nggak itu terserah kakak aja. Tapi yang jelas adek minta maaf sama kakak dengan tulus. Maaf kak udah buat kakak marah ke adek. Udah buat kakak merasa..." kata Viona meminta maaf pada kakak nya dengan sangat tulus. Namun harus terhenti karena Galang sudah tak kuat mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari bibir Viona untuk meminta maaf pada diri nya.
__ADS_1
To be continued