Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Malu Banget


__ADS_3

Tak lama setelah itu Viona akhirnya sampai di tempat penjual ice cream.


Sementara Galang sudah pergi dari tempat penjual ice cream sebelum Viona datang kemari.


"Pak beli ice cream nya dua ya, yang rasa strawberry sama coklat." kata Viona ketika ia telah sampai di tempat penjual ice cream.


"Siap neng di tunggu ya"


"Iya pak"


Sekitar tiga menit akhirnya dua ice cream itu telah berada di tangan Viona.


Lalu Viona mulai mengeluarkan uangnya untuk membayar ice cream yang sedang ia pegang saat ini.


"Ini pak uangnya"


"Iya neng"


"Makasih pak"


"Iya neng"


Setelah uang pembelian ice cream di kasihkan ke penjual. Viona lalu meninggalkan tempat penjual ice cream untuk pergi menuju tempat kakak nya tadi.


Dengan tergesa - gesa ia melangkahkan kaki menuju kursi tempat kakaknya berada saat ini.


Setelah sampai tanpa melihat ke sekeliling ia hanya melihat kakaknya yang sedang menunduk si kursi yang tadi.


Membuat ia mulai memikirkan drama yang akan ia mainkan saat ini. Untuk menghindari kemarahan kakak nya karena terlalu lama pergi.


Ketika telah berada di hadapan Galang Viona mulai duduk di sebelahnya. Tanpa berucap sepatah kata.


Namun ia malah menyenderkan kepala nya pada bahu Galang.


Setalah itu ia mulai berucap pada kakaknya.


"Kak maaf ya adek lama ke sini nya lagi. Jangan marahin adek ya. Nih ice cream pesenan kakak udah adek bawain." kata Viona dengan lemah lembut sambil memberikan ice cream pada Galang.


Tak ada jawaban sama sekali dari ucapan Viona ini untuk Galang membuat Viona harus memutar otaknya lagi agar Galang dapat menjawab ucapannya.


"Em... kak maaf adek salah."


"Kak"


"Jangan kaya gini dong" kata Viona yang masih berada di bahu Galang.

__ADS_1


"Kak jawab ngapa ucapan adek ini."


Hening karena sat ini Viona tak lagi mengeluarkan suaranya pada Galang.


Sementara orang yang berada di samping Viona mulai merasa resah dan emosi saat ia tiba - tiba mendapatkan seseorang yang menyender di bahu nya.


Ingin rasanya ia marah saat itu juga tapi entah kenapa ia malah seperti menikmati senderan di bahunya itu.


Apa karena ia sudah lama tidak mendapatkan seseorang yang menyender di bahunya.


Setelah cukup lama sebelum kejadian itu terjadi. Kejadian yang membuat nya mengalami sebuah trauma untuk tak mengenal cinta lagi dalam waktu dekat kala itu.


Tapi sekarang perasaan apa ini? ia malah menikmati senderan gadis aneh yang tiba - tiba menyender di bahu nya.


Ingin rasanya ia menjawab setiap ucapan yang keluar dari gadis aneh ini. Tapi ada sesuatu hal yang menahan ia untuk tak mengeluarkan suaranya.


Hingga ia akhirnya hanya membiarkan gadis aneh ini terus menyender di bahunya dan membiarkan ia juga berucap pada dirinya yang mungkin dia kira seseorang yang ia kenal atau mungkin seseorang yang duduk di sini sebelum ia duduk.


Dan ya Viona ternyata tadi salah mengira bahwa seseorang yang bahunya ia gunakan untuk bersender ternyata bukan Galang kakaknya.


"Kak aku suapin deh ya ice cream nya, mau nggak"


Rasanya saat gadis aneh ini berkata seperti itu. Ada sesuatu hal yang di ucapkan dalam hati untuk mengiyakan ucapannya itu.


Tapi sangat susah untuk ia keluarkan suaranya melalui bibirnya saat ini.


Namun di saat ice cream itu hampir mengenai bibir seseorang. Seketika Viona malah mendengar suara yang sangat jelas ia mengenalnya. Siapa lagi kalau bukan Galang.


"Dek akhirnya kamu ketemu juga. Eh... tapi kamu sama siapa dek."


Dengan mengerjab - ngerjab kan matanya Viona sempat tak percaya bahwa saat ini kakak nya malah sedang berdiri di hadapannya.


Lalu ia mulai berpikir siapa orang yang saat ini sedang ia pinjam bahunya untuk bersender. Apalagi tadi ia banyak bicara lagi sama orang ini.


Di tambah lagi ia cukup berani menawarkan diri untuk menyuapi orang ini.


Malu bener bener sangat malu yang dirasakan Viona saat ini.


Sebelum ia semakin malu kemudian ia langsung bangkit dari tempat duduk itu dan langsung berada di balik tubuh kakak nya.


"Em... kak bisa tolongin adek buat minta maaf sama orang itu." kata Viona yang berada di balik tubuh kakaknya.


"Dia siapa dek? jangan bilang ini doi yang kamu maksud tadi ke kakak. Ya ampun dek kamu bener - bener udah lewati kakak cari doi."


"Jangan aneh - aneh deh kak dan jangan buat aku makin malu. Dia bukan doi aku. Dan lagi pula sejak kapan aku punya doi."

__ADS_1


"Ya mana kakak tau mungkin sejak saat ini."


"Jangan banyak bicara kak cepet wakili adek buat minta maaf lalu setelah itu kita langsung pulang ke rumah."


"Lah dek ko jadi kakak yang minta maaf. Kan kamu yang salah."


"Nggak papa kak sama kakak aja. Aku tau aku yang salah tapi aku nggak berani liat orangnya kak takut di marahin nanti. Jadi buat jaga - jaga aja kalau di marahin kan kakak yang di marahin terlebih dahulu."


"Ya ampun dek kamu ko tega bener jadi in kakak yang di marahin sama orang ini."


"Nggak papa kak biar kakak bisa jadi kakak yang baik di mata orang lain."


"Baik sih baik dek tapi kalau harus di marahin mikir - mikir dulu kali dek kakak."


"Jangan terlalu banyak mikir kak ntar malah kelamaan."


"Ya udah sekarang kamu sini berdiri di samping kakak, buat kakak yang duluan berkata sama orang ini nanti kamu harus minta maaf sama dia nya langsung."


"Em... bisa nggak kak kalau adek diem di belakang tubuh kakak aja."


"Nggak bisa lah dek kamu yang buat salah ya kamu juga yang harus menyelesaikan masalahnya."


"Iya sih kak memang itu seharusnya. Tapi sekarang aku malu banget kak kalau harus bertatapan sama orang itu."


"Ya terus kamu maunya kaya gimana?"


"Aku sih maunya tinggal beres aja terus kita langsung pulang."


"Ye itu mah enak di kamu dong dek."


"Ya kan memang itu yang aku mau kak, bantuin ya kak please bantu ya."


"Hem iya deh iya kakak bantu tapi kalau nanti orangnya mau mukul kakak atau marah ke kakak kamu jangan tinggalin kakak, oke."


"Hem iya kak oke."


"Janji nih nggak akan pergi."


"Iya, iya adek janji."


"Oke kalau gitu. Em... tapi dek ko kakak jadi gerogi gini ya."


"Jangan gerogi kak biasa aja."


"Ngomong sih gampang dek jangan gerogi tapi yang jalaninnya itu sudah nya minta ampun. Padahal kamu yang berulah eh... malah kakak yang harus nanggung nya. Nasib - nasib jadi kakak kaya gini bener sih."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2