
Setelah itu tak ada lagi yang bicara. Galang kemudian duduk di salah satu kursi yang ada di meja makan.
Sambil menghela nafas untuk menormalkan kembali rasa emosi yang sempat ia keluarkan ketika berdebat dengan adik nya itu.
Viona dengan ragu menatap kakaknya saat ini dan saat ia ingin berucap. Ia terlebih dulu mendengar suara Galang.
"Dek"
"Iya kak"
"Em... sekarang kita temuin mamah buat minta hukuman yang lainnya."
"Kenapa harus minta kak?" kata Viona bertanya pada Galang.
"Kamu denger kan dek tadi kata mamah itu gimana?" bukannya menjawab ucapan Viona Galang malah bertanya pada Viona.
"Denger ko kak, tadi tuh kalau gak salah mamah suruh kita buat temuin mamah lagi untuk tanyain hukuman yang harus kita lakukan."
"Ya terus kenapa kamu tanya kaya gitu."
"Ya karena..., ya udah deh kak lupain aja. Kita langsung temuin mamah."
"Hem... iya deh"
Setelah itu Galang berdiri dari duduk nya dan mulai melangkahkan kaki menemui mamah Vina dan papah Galang.
Viona juga melakukan hal yang sama dengan Galang mulai melangkahkan kaki berada di belakang Galang.
"Kak"
"Apa?"
"Nanti kakak aja ya yang bicara sama mamah. Karena adek mau diem aja nanti."
"Kenapa diem aja dek? kamu harus ikut bicara juga dong. Bantuin kakak jangan mau enak nya aja."
"Bukannya nggak mau kak, tapi adek takut salah bicara. Ntar bukannya cepet selesai malah di tambahin lagi hukumnya."
"Hem ucapan kamu ada bener nya juga dek, soalnya kan kamu memang selalu buat..."
"Buat apa kak, jangan bilang buat salah."
"Bukan kakak ya yang bilang."
"Ih... nyebelin" kata Viona sambil memalingkan wajahnya dari Galang.
__ADS_1
"Nyebelin dari mana nya dek, itu kan kamu yang bilang bukan kakak, jadi di sini yang nyebelin itu siapa coba." kata Galang menjawab ucapan Viona sambil bertanya juga pada Viona.
"Ya tetep kakak lah yang nyebelin"
"Hem... ya udah anggap aja kakak beneran nyebelin oleh kamu. Tapi kenyataannya kakak nggak ngerasa sama sekali kalau kakak ini nyebelin."
Viona tak menjawab lagi ucapan Galang ia malah melangkah kan kaki lebih cepat dari Galang saat ini.
membuat Galang ingin tertawa melihat tingkah adek nya itu yang bener - bener tak ada dua nya.
"Ya ampun punya adek gini amat sih. Kocak banget pingin ketawa tapi takut makin tak bersahabat nanti. Hehehe... Galang, Galang ada - ada aja sih kamu." kata Galang di dalam hati.
Dengan wajah yang cemberut dan wajah yang tak enak di lihat ini. Viona masuk ke dalam ruang keluarga begitu saja.
Lalu duduk di samping mamah nya yang sedari tadi duduk dengan santai dan nyaman.
Namun harus berubah menjadi tak seperti tadi saat Viona telah duduk di samping nya.
"Lah dek ko wajah kamu kaya gini. Nggak enak di liat banget. Apalagi tiba - tiba langsung duduk di samping mamah. Kamu kenapa sebenernya dek?"
Tak ada jawaban dari Viona atas pertanyaan dan ucapan dari mamah Vina.
membuat mamah Vina mulai memberikan kode pada papah Galang.
Lalu mereka berdua sama - sama diam sambil berpikir apa kira - kira yang membuat Viona seperti ini di dalam benak mereka masing - masing.
Saat Viona akan berucap sesuatu seketika terhenti saat suara Galang terdengar di ruang keluarga begitu jelas.
"Dek" kata Galang dengan cukup keras.
Sehingga secara otomatis semua pasang mata yang ada di ruang keluarga langsung melihat pada nya.
Galang yang mendapatkan tiga tatapan sekaligus merasa gugup. Tapi kemudian ia hilangkan rasa gugup itu.
"Em... maaf mah, maaf pah barusan suara kakak terlalu keras."
"Adek sih ninggalin kakak, jadi kakak harus panggil - panggil adek dari tadi, tapi nggak di jawab - jawab." kata Galang lagi.
Bukannya langsung menjawab Viona seperti nya enggan untuk menanggapi ucapan kakak nya itu.
Itu jelas terlihat saat Viona tak melihat ke arah kakak nya lagi melainkan memalingkan wajah nya.
"Ya udah kak sini duduk" kata papah Gilang pada Galang."
Galang yang mendengar suara papah Gilang bergegas menghampiri papah Gilang untuk duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Setelah duduk ia merasa serba salah dan seperti tersangka karena mamah Vina dan papah Gilang melihat dengan tatapan yang sulit di jelaskan pada dirinya.
Sambil duduk dengan tegang dan serba salah Galang mencoba bersikap biasa dalam situasi seperti ini.
Walau dalam hati ia merasa kesal dengan sikap adeknya itu yang telah membuat ia berada dalam situasi ini.
"Awas kamu dek kalau buat kakak dapet masalah lagi. Nggak akan kakak bantuin kamu lagi kalau misalnya hal itu terjadi pada kakak saat ini." kata Galang di dalam hatinya dengan penuh amarah.
"Kak coba jelasin kenapa adek jadi kaya gini wajah nya nggak enak di liat sama sekali. Apa yang kakak perbuat sampai adek jadi kaya gini." kata mamah bertanya pada Galang dengan serius.
"Hem... baru aja di bilang, ini kamu bener - bener deh dek buat kakak dapet masalah lagi." kata Galang masih di dalam hatinya.
"Kak denger nggak sih mamah tadi bicara apa ke kakak atau mau pura - pura nggak denger sama sekali." kata mamah yang mulai sedikit emosi.
Sebelum menjawab Galang sudah menyiapkan diri nya untuk di marahi oleh mamah nya ini.
"Denger mah"
"Terus kenapa nggak di jawab?"
"Bukan gitu mah tadi kakak mau jawab ko, tapi keburu mamah yang tanya lagi ke kakak."
"Hem... ya udah sekarang jawab ucapan mamah itu."
Dengan detail Galang menceritakan semuanya tanpa melebihkan dan mengurangi kejadian yang sebenernya terjadi diantara ia dan Viona.
Mamah Vina dan papah Gilang mendengarkan semua cerita yang Galang bicarakan pada mereka dengan sikap yang tenang.
Sepertinya mereka mencoba mendapatkan solusi agar hal ini tak berlarut - larut.
"Udah mah hanya itu aja kakak nggak bohong."
"Oke karena sekarang mamah dan papah sudah tau ceritanya kaya gimana. Dan kakak juga udah mau minta maaf sama adek. Sekarang mamah tanya sama adek. Adek mau maafin kakak nggak." kata mamah Vina dengan bijak.
Viona yang mendengar namanya di panggil sempat ragu untuk mengeluarkan suaranya untuk memaafkan kesalahan Galang pada dirinya tadi.
Tapi setelah ia melihat ketulusan Galang dalam meminta maaf. Akhirnya ia juga luluh dan memaafkan Galang atas perbuatannya itu.
"Iya mah adek maafin kakak"
"Ya udah karena sekarang sudah saling minta maaf dan memaafkan kalian berdua akan dapet hukuman selanjutnya dari mamah."
"Hah" kata Galang dan Viona secara bersamaan.
To be continued
__ADS_1