
Sementara di lain tempat Viona dan Galang mereka berdua kini telah sampai di depan rumah nya.
"Dek tunggu jangan masuk duluan"
"Huh... huh... capek bener"
"Nggak aku mau masuk dulu aja kak"
"Jangan lah dek bareng ngapa, kita kan pergi nya juga bareng jadi masuk ke rumah nya juga harus bareng."
Dengan malas Viona malah memutarkan bola mata nya ketik ia telah mendengar ucapan Galang barusan.
Lalu Viona pun mulai berucap pada Galang "Ya nggak papa dong kak suka - suka aku."
"Jangan gitu lah dek sama kakak sendiri juga. Nggak ada kasihan - kasihan nya dari tadi kejar kamu yang jalannya cepet bener kaya orang yang di tagih utang tau nggak."
"Terserah kakak aja aku mau masuk sekarang"
"Dek tunggu"
"Apalagi sih kak? pusing aku denger nya."
"Hem... maaf, ya udah deh sana masuk"
"Huh... huh... sabar Vio, sabar"
Brug...
Suara pintu yang di buka sangat kencang olah Viona. Membuat Galang yang berada di belakang nya jadi panik seketika.
Kenapa bisa panik? itu karena saat ini Viona sudah membuat kesalahan.
Rasa was - was mulai di rasakan Galang saat ia juga mulai masuk ke dalam rumah.
Dan yang paling di takuti adalah saat tingkah Viona ini di ketahui oleh mamah Vina.
__ADS_1
Kalian pasti tahu apa yang terjadi jika mamah Vina sudah mengetahui hal ini.
Akan di pastikan bahwa Viona pasti mendapatkan hukuman lagi.
"Aduh... dek kamu ini gimana sih? ko malah gini. Bukannya di bebasin dari hukuman ini malah tambahin hukuman. Punya adek gini - gini amat sih." kata Galang di dalam hati nya.
Baru aja berkata seperti itu, Galang pun mendengar suara mamah Vina yang berteriak pada Viona.
"Adek... kamu kenapa? datang - datang langsung kaya gitu sikap nya. Hey... adek jawab jangan malah pergi gitu aja." kata mamah Vina dengan emosi.
"Vio... Vio... ya ampun pah itu anak kamu gitu amat sikap nya." kata mamah Vina pada papah Gilang.
"Sabar mah kita tanya ke kakak aja. Biarkan adek tenangin diri dulu. Udah jangan marah - marah terus." kata papah Gilang mencoba menenangkan mamah Vina.
"Gimana nggak marah coba pah, tadi berangkat dari rumah kan biasa - biasa aja. Ini pulang - pulang ko malah gini sikap nya." kata mamah Vina menjawab ucapan papah Gilang.
"Hem... papah juga marah sebenernya, sikap Viona bener - bener kelewatan. Tapi kita harus tau dulu mah penyebab nya karena apa?" kata papah Gilang memberitahukan mamah Vina bahwa ia juga marah dengan sikap Viona barusan.
"Iya deh iya pah, tapi kakak nya, ko nggak keliatan." kata mamah Vina yang menyetujui perkataan papah Gilang. Selain itu mamah Vina juga baru menyadari bahwa ia tidak melihat Galang saat ini.
"Ini kaya nya kakak ngehindar deh pah dari kita makannya belum keliatan." kata mamah Vina yang mulai curiga dengan Galang yang tak kunjung datang.
"Tunggu bentar mah jangan berpikiran kaya gitu dulu. Mungkin bentar lagi juga keliatan." kata papah Gilang menjawab ucapan mamah Vina.
Gilang yang baru menutup pintu mulai melangkahkan kaki menuju sumber suara teriakan dari mamah nya itu.
Langkah demi langkah Galang mulai pergi dari depan pintu menuju tempat mamah Vina dan papah Galang yang terlihat ada di ujung tangga.
Dengan harap - harap cemas karena takut di marahi juga oleh mamah Vina. Galang mulai mencoba menenangkan diri dan mulai memikirkan sebuah jawaban untuk menghindari kemarahan mamah Vina.
"Yakin Galang kamu harus yakin nggak akan terjadi apa - apa. Mamah mu hanya marah pada adek mu. Jadi jangan terlalu di pikirkan mamah mu juga akan marah sama kamu." kata Galang pada dirinya sendiri.
"Em... kalau mamah mu marah kamu tinggal kasih alasan biar mamah mu nggak marah lagi sama kamu."
"Tapi kasih alasan apa ya?" kata Galang yang mulai berpikir sambil melangkahkan kaki.
__ADS_1
Tak berapa lama kemudian ia mulai mendapatkan ide untuk menjawab perkataan mamah nya nanti.
"Ya, aku bilang gini aja kali ya. Kalau mamah tanya Viona atau adek kenapa? aku tinggal bilang aja apa adanya. Tapi mungkin sedikit di kurangi deh cerita keluruhan nya. Kasihan juga kalau harus semua di ceritain. Bisa - bisa adek dapet hukuman berat dari mamah. Hem... iya deh bilang gitu aja." kata Galang yang telah mendapatkan sebuah ide.
Tinggal tersisa tiga langkah lagi Galang sampai di dekat mamah Vina dan papah Gilang. Tapi baru saja ia ingin mengeluarkan suara nya.
Mamah Vina dan papah Gilang yang membelakanginya. Tiba - tiba membalikan tubuh mereka langsung menghadap pada dirinya sendiri.
Dengan wajah kesal dan penuh amarah mamah Vina melihat Galang dengan melipatkan kedua tangannya di depan dada.
Sambil mamah Vina pun berucap dengan dingin dan sinis pada Galang.
"Kemana aja? ko baru keliatan." kata mamah Vina pada Galang.
"Itu... anu mah, kakak tutup pintu dulu. Baru ke sini." kata Galang dengan menundukkan pandangannya tanpa berani menatap mamah Vina saat ini.
"Tutup pintu aja bisa lama kaya gitu. Jangan coba - coba bohongi mamah deh kamu kak. Awas ya kalau kamu bohongi mamah liat aja apa yang akan mamah kasih sama kamu." kata mamah Vina dengan penuh penekanan di setiap kata yang keluar untuk Galang.
"Kakak nggak berani bohong mah, kakak beneran abis tutup pintu." kata Galang menjawab ucapan mamah Vina.
Situasi saat ini membuat Galang seperti tahanan yang di interogasi karena melakukan kesalahan yang begitu fatal.
Hem bahkan ini sepertinya sangat membuat Galang merasa was - was di buat nya. Dan lebih parah lagi jantung Galang seperti ingin copot dari tempat nya.
Lebay mungkin ini lah yang bisa di gunakan untuk situasi yang di pikirkan Galang. Tapi itu lah kenyataan yang Galang rasakan saat ini.
Kalian tidak akan tau bagaimana rasanya di kasih pertanyaan begitu memujukkan ia saat ini.
Membuat ia hampir kehabisan kata - kata untuk menjawab pertanyaan nya itu. Tapi beruntung ide nya selalu muncul tiba - tiba di saat ia mulai kebingungan dengan jawaban apa yang akan ia berikan untuk setiap pertanyaan dari mamah Vina untuk nya.
"Sekarang coba kasih tau mamah sama papah adek kamu kenapa sikap nya kaya gitu?" kata mamah Vina pada Galang.
Pertanyaan yang di pikirkan Galang tadi akhirnya keluar juga dari mamah Vina. Sekarang tinggal Galang menjawab sesuai dengan apa yang ia rencanakan tadi saat mendapat pertanyaan ini.
To be continued
__ADS_1