
Tak terasa lima belas menit pun telah selesai. Viona yang sedang sibuk melihat - lihat hasil fotonya hampir lupa bahwa saat ini sudah lima belas menit.
Kalau saja ia tak melihat jam di handphone nya ia mungkin akan tetap sibuk melihat - lihat foto itu.
"Ya ampun ini beneran jam segini. Ah... cepet banget sih udah jam segini aja. Aku kan masih pengen main tapi kalau udah jam segini mana bisa main lagi." kata Viona yang telah melihat jam.
"Ah... sedih nya harus pulang. Padahal masih betah di sini. Em... nggak papa Vio mungkin lain kali kamu bisa main sepuas nya di sini."
"Hem... iya deh mungkin aja ada waktunya. Kalau gitu aku langsung pulang aja deh. Tuh baso takut dingin juga."kata Viona pada dirinya sendiri sambil ia pun mengingat mengenai baso yang di beli nya untuk mamah Vina.
"Oke... sekarang kita langsung pulang" kata Viona yang entah sejak kapan sudah berada di motor nya.
Di nyalakan lah motor yang di duduki Viona saat ini. Tak lama setelah itu motor kemudian melaju meninggalkan taman.
Saat di tengah - tengah perjalanan menuju jalan pulang. Viona malah mendapatkan kemacetan, ntah macet karena apa tapi yang jelas ini sangat membuat Viona bosan.
Coba aja tadi ia masih main di taman mungkin tak akan merasa bosan kaya gini.
Kenapa bisa di bilang bosan? itu karena Viona hampir lebih dari satu jam terjebak kemacetan ini.
Walau ia bisa menyelip ke sana kemari tapi ini tetap aja. Karena sepertinya kemacetan ini hampir macet total.
Dan yang membuat Viona bosan itu karena ia harus berada di dalam kemacetan ini. Serta tak hanya itu Viona pun merasa aneh karena ini bukan jama - jam nya anak sekolah berangkat ke sekolah atau pun pulang sekolah.
Selain itu bukan juga waktu nya para pekerja pulang tapi ko bisa macet kata gini. Apa ada kecelakaan di depan sana sampai - sampai bisa macet seperti ini.
"Ini kemacetan sampai mana sih. Ko lama bener bisa terbebas nya."
"Pegel nih badan nunggu laju in motor tapi sedikit - sedikit dari tadi kaya jalan siput."
"Hahaha... ada - ada aja sih kamu Vio masa kamu sama in jalannya motor sama siput sih."
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi memang itu kenyataannya kalau saat ini laju motor nya kaya jalan siput."
"Ya udah lah terserah aku, eh... dari tadi juga aku bicara pada diri ku sendiri dan aku jawab sendiri juga. Ini bener - bener efek bosen kaya gini nih jadi nya. Apa aja di ucapin. Bahkan yang nggak masuk akal aja bisa keluar kalau udah kaya gini. Hahaha.... ada aja tingkah mu ini Vio."
"Eh... ini udah mulai lancar nih jalan nya. Semoga aja beneran udah nggak macet."
Viona lalu menjalankan motornya dengan penuh semangat karena ia mengira jalan sudah kembali lancar lagi.
Tapi baru aja ia merasa bahwa jalan kembali normal dan melakukan motornya memang sudah lumayan jauh. Eh... harus berhenti lagi secara tiba - tiba.
"Ya ampun aku kira beneran udah lancar boro semangat laju in motor nya. Eh...malah segini udah macet lagi."
"Kaya nya kalau macet kaya gini jangan terlalu berharap bisa secepatnya lancar lagi jalanan nya."
"Hem... barusan aja pas udah ngira bakalan lancar. Tiba - tiba di bikin kecewa karena malah nggak jadi jalanan nya kembali lancar."
"Ckckck... bener - bener harus sabar menunggu ini mah. Tapi gimana ya sama baso nya udah jam segini lagi. Dan ini udah mulai dingin baso nya." kata Viona sambil memegang baso yang di belinya itu.
"Tapi ko ini udah lama nunggu belum ada pergerakan lagi. Ada apa sih sebenernya."
"Argh... bikin emosi deh jadinya. Tapi kamu harus sabar Vio jangan emosi kaya gini."
"Hem dari tadi juga udah sabar tapi ini aku udah mulai keringetan karena mulai panas kaya gini."
"Nasib ku ini loh sangat - sangat gini amat. Apa karena tadi malah main dulu ya makannya jadi kejebak macet kaya gini."
"Tapi masa iya karena itu makannya aku ke jebak macet."
"Hem... mungkin memang udah harus nya kaya gini kali Vio bukan karena kamu tadi main dulu."
"Iya deh mungkin kaya gitu."
__ADS_1
Kemudian Viona pun tak berbicara lagi karena saat ini ia sedang menunggu kendaraan yang ada di depannya melajukan kendaraannya itu.
Lima menit Viona menunggu tapi masih belum ada pergerakan sama sekali. Membuat ia mulai berpikir cara yang harus ia lakukan agar cepat terbebas dari kemacetan.
"Ini jalan nggak akan lancar apa? masa iya udah dari tadi tapi nggak jalan - jalan lagi sih ini mobil di depan."
"Kalau gini caranya lebih baik aku parkirin aja motor ini di sini. Terus aku pulang jalan kaki deh." kata Viona yang mulai mendapatkan ide aneh nya ini.
"Eh... tapi kalau aku simpan motor di sini. Ntar aku cape dong jalan kaki dari sini ke rumah."
"Hem bener juga dan terus nanti kalau jalan kembali lancar lagi. Tapi motor aku simpan di sini. Bagaimana ya nasib motor ku nanti." kata Viona yang saat ini sedang sibuk dengan pikirannya itu.
Sampai akhirnya ia tersadar kembali saat kendaraan di belakang nya memberikan klakson pada Viona untuk segera melajukan kendaraan nya.
"Eh... iya bentar dong berisik amat sih. Jadi kaget kan aku." kata Viona yang malah ngomel - ngomel.
"Ya makan nya mba cepetan ngapa laju in motor nya. Bukan malah ngelamun kaya gitu." kata salah satu pengendara di belakang Viona.
"Hem... iya pak maaf. Ini juga mau di laju in lagi motor nya." kata Viona menjawab ucapan pengendara itu.
"Cepetan saya lagi buru - buru nih." kata pengendara itu lagi pada Viona.
"Iya, iya pak bawel amat sih" kata Viona menjawab ucapan pengendara itu.
"Apa kamu bilang barusan?" kata pengendara itu yang tak terima dengan jawaban Viona.
"Nggak ada ko pak, bapak kaya nya salah dengar tadi. Aku nggak bilang apa - apa ko." kata Viona menjawab ucapan pengendara itu.
"Jangan kira saya nggak dengar ya kamu tadi bilang apa ke saya. Cepet laju in motor mu itu. Menghalangi jalan aja tau nggak." kata pengendara itu masih tak bersahabat berkata pada Viona.
To be continued
__ADS_1