Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Meminta Bukti


__ADS_3

"Pinter banget nih abang jawab ucapan aku. Ayo Vio berpikir jawab apa lagi atas ucapan abang ini." Kata Viona di dalam hatinya.


Beberapa detik kemudian, Viona pun telah menemukan kata yang tepat untuk menjawab ucapan Rendi.


"Ya ampun bang, ini tuh sama aja bang. Secara tidak langsung abang udah kurung aku di sini. Kalau pun nanti pihak berwajib meminta bukti, aku punya bukti nya." Kata Viona pad Rendi setelah ia berpikir kata yang tepat untuk menjawab ucapan Rendi.


"Oh ya dek, kamu punya bukti nya. Apa coba bukti nya?" Kata Rendi menjawab ucapan Viona dengan sebuah pertanyaan.


"Em... rahasia, abang nggak boleh tau bukti nya. Ntar yang ada abang malah memutar balikan fakta lagi. Aku kan nggak punya bukti lagi nanti." Kata Viona menjawab ucapan Rendi.


"Hem... sekarang kamu mau main rahasia - rahasian sama abang. Ya udah kalau gitu kamu hubungi aja pihak berwajib nya."


"Oke, siapa takut aku langsung hubungi nih pihak berwajib nya." Kata Viona sambil melihat hanphone nya untuk menghubungi pihak berwajib.


"Kita liat apa bener nih adek mau laporin aku ke pihak berwajib atau cuman pura - pura aja." Kata Rendi di dalam hatinya.


Viona yang sedang melihat hanphone nya menjadi bingung dan bimbang apakah ia beneran akan menghubungi pihak berwajib atau nggak sama sekali.


Berhubung ia hanya ingin membuat Rendi memberikan kunci untuk nya. Dan cara ini lah yang Viona ambil untuk membuat Rendi bisa memberikan kuncinya itu.


Namun, sayangnya Rendi malah menantang ia untuk menghubungi pihak berwajib.


Apalagi saat ini Viona melihat Rendi yang tak merasa takut sedikit pun membuat ia menjadi ragu untuk melaporkannya.


"Aduh gimana nih? aku beneran hubungi pihak berwajib atau jangan ya. Jadi bingung nih aku."


"Ini lagi wajah abang nya ko nggak keliatan takut sih. Argh... bikin kesel deh. Pake cara apa lagi coba aku bisa dapetin kuncinya. Masa iya aku setuju syarat dari abang ini."


"Ayo lah Vio kamu pasti nemuin caranya tanpa harus penuhi syarat. Kalau syarat nya aneh - aneh gimana? kamu sendiri kan yang repot."


"Hem... iya juga ya, kalau aku pikir - pikir lagi nanti aku lagi juga yang repot."


"Ya udah deh aku pura - pura hubungi aja pihak berwajib nya."


Setelah selesai berbicara di dalam hatinya. Viona pun kini mulai mengangkat hanphone milik nya itu untuk ia dekatkan di telinganya.


Setelah hanphone berada di dekat telinganya. Ia pun mulai mengeluarkan suaranya pada seseorang yang ia hubungi.


"Halo pak, selamat pagi. Saya mau melaporkan bahwa saya saat ini sedang di sekap pak. Ini saya bisa menghubungi bapak karena kebetulan seseorang yang menyekap saya sedang tidur. Bapak bisa datang ke alamat yang akan saya beritahu di pesan ya pak. Tolong datang segera pak saya mau di hukum berat. Terimakasih." Kata Viona pada seseorang yang ia hubungi itu.


Lalu setelah itu Viona kembali melihat hanphone nya dan mengetikan sesuatu di handphone nya.


Dan tanpa menunggu lama, ia pun mengirimkan pesannya pada seseorang yang baru saja ia hubungi.


"Udah selesai bang, sekarang kita tunggu pihak berwajib pasti akan datang." Kata Viona memberitahukan pada Rendi.


"Hem... gitu ya dek, eh tapi ko kamu bilang melaporkannya kaya gitu sih dek. Banyak bohong nya. Hahaha... hahaha... Ooppss sorry dek. Soalnya abang nggak bisa tahan pengen ketawa dari tadi. Kamu itu beneran telpon pihak berwajib atau nggak sih dek." Kata Rendi menjawab ucapan Viona.


"Ya ampun bang jadi maksud abang aku tuh bohong hubungi pihak berwajib nya. Ckckck... Ckckck... kalau abang nggak percaya tunggu aja bentar lagi pihak berwajib pasti datang." Kata Viona menjawab ucapan Rendi.

__ADS_1


"Berapa lama kira - kira dek, pihak berwajib nya datang ke sini."


"Entahlah bang aku nggak tau. Mungkin lagi di dalam perjalanan atau bisa juga bentar lagi datang ke sini nya."


"Hem... gitu ya dek, bisa kali ya abang kerja dulu sambil nunggu pihak berwajib datang ke sini."


"Terserah abang aja. Tapi yang jelas abang siap - siap aja pihak berwajib datang temuin abang bentar lagi."


"Oke dek, kalau gitu abang kembali duduk di sana lagi ya. Ntar kamu kasih tau abang lagi aja. Kalau pihak berwajib nya udah sampai di sini."


Lalu Rendi pun langsung pergi meninggalkan Viona untuk kembali ke kursi tempat kerja nya.


Viona yang mendengar ucapan Rendi menjadi geram dan emosi lagi.


"Argh... nih abang ko bisa sesantai ini sih. Apa karena aku nggak meyakinkan ya hubungi pihak berwajib nya barusan." Kata Viona di dalam hatinya.


"Terus sekarang aku harus gimana dong, masa iya nunggu di sini. Kan bosen." Kata Viona lagi di dalam hatinya.


Sementara di lain tempat, yaitu di ruangan Galang.


Ia yang mendapatkan telpon dari adek nya barusan menjadi bingung sendiri. Dengan apa yang adek nya bicarakan barusan.


Ya ternyata Viona menghubungi pihak berwajib itu adalah menghubungi kakak nya Galang.


"Ini adek ko aneh ya, kenapa bilang bapak? terus kata nya dia di sekap. Bukannya dia ada di ruangan boss ya. Apanya yang di sekap. Aneh bener nih adek." Kata Galang yang baru saja selesai mendapatkan telpon dari Viona.


Tak lama setelah itu, ia pun mendapatkan sebuah pesan dari adek nya.


Galang yang telah membaca pesan yang di kirimkan oleh Viona. Sempat terdiam beberapa saat.


Mungkin diamnya Galang , ia sedang memikirkan apa yang harus ia lakukan saat ini.


Apakah ia harus menemui adek nya atau membiarkan adek nya dan ia kembali fokus pada pekerjaannya.


Atau bisa juga ia sedang memikirkan hal yang lainnya. Dan yang tau hanya Galang sendiri lah apa yang sedang ia pikirkan saat ini.


"Aduh adek ko bisa ya di kunci di ruangan boss. Sekarang apa yang harus aku lakuin ya."


"Temuin adek atau jangan. Tapi tadi kan kata boss mau bicara aja sama adek."


"Terus yang adek bilang di sekap apa? apa jangan - jangan adek beneran di sekap lagi di ruangan boss."


"Gawat nih kalau beneran di sekap. Aku harus buru - buru temuin adek."


"Hem... iya Galang kamu memang harus buru - buru temuin adek mu."


"Tapi ini pekerjaan aku kan belum beres."


"Ya udah deh aku tinggalin aja. Lebih penting adek lah dari pada pekerjaan. Apalagi aku yang bawa adek ke sini. Ntar aku bilang apa ke mamah sama papah kalau adek ternyata beneran di sekap."

__ADS_1


Itulah kata - kata yang Galang keluarkan di dalam hatinya.


Setelah itu, ia langsung bergegas pergi meninggalkan ruangannya untuk menemui Viona di ruangan boss.


Rasa panik dan cemas kini Galang rasakan. Setelah ia keluar untuk pergi menemui adek nya.


Bahkan hal - hal negatif pun ia sempat pikirkan di setiap langkah yang ia langkahkan untuk pergi menuju ruangan boss.


"Tenang Galang, kamu jangan panik dan jangan berpikiran yang aneh - aneh. Adek kamu pasti baik - baik aja." Kata Galang mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Walau sudah mencoba menenangkan dirinya. Namun, rasa panik itu masih Galang rasakan saat ini.


Bahkan di saat pintu lift tak kunjung terbuka pun Galang menjadi makin panik.


Sampai - sampai ia berlari menuju tangga untuk segera menemui adeknya menaiki tangga.


"Ayo Galang kamu harus cepat adek kamu ntar di apa - apain lagi sama boss kamu."


"Bisa, bisa kamu di marahin abis - abisan sama mamah dan papah kamu."


"Ayo kamu pasti bisa secepatnya sampai di atas." Kata Galang yang saat ini telah berlari menaiki tangga.


Tanpa berhenti sedikit pun kini Galang sudah sampai di lantai atas dimana ruangan Rendi berada.


"Huh... huh... huh... capek banget nih. Ada air nggak ya di sini. Aku tanya sekretaris Reta aja deh." Kata Galang yang kecapean karena telah berlari menaiki tangga.


"Selamat pagi, sekretaris Reta."


"Pagi pak Galang. Ada yang bisa saya bantu pak." Kata sekretaris Reta menjawab ucapan Galang.


"Ini bu, huh... huh... huh... di sini ada air minum nggak bu. Saya kebetulan lagi haus. Kalau ada boleh saya minta bu." Kata Galang menjawab ucapan sekretaris Reta.


"Capek bener ya pak, emangnya bapak abis apa? sampai baju aja basah kaya gitu karena keringetan. Terus nafas pak Galang juga seperti yang kecapean."


"Ini bu saya abis lari menaiki tangga datang ke sini bu."


"Kenapa nggak menggunakan lift aja pak."


"Em... tadi lift nya lama bu, jadi saya ke sini nya lari lewat tangga."


"Oh gitu, ya udah pak. Ini kebetulan air punya saya belum saya minum. Bapak bisa meminum nya."


"Em... saya jadi nggak enak gini sama ibu. Ini kan air punya ibu. Terus nanti kalau ibu haus gimana?"


"Nggak papa pak, di minum aja. Bapak lebih membutuhkan. Nanti saya bisa ambil lagi ko kalau haus."


"Ya udah kalau gitu bu, saya minum ya airnya."


"Iya pak silahkan." Kata sekretaris Reta menjawab ucapan Galang.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2