Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Buat Orang Penasaran


__ADS_3

"Entahlah kak, adek nggak tau. Mungkin kakak modus karena...(Viona pun terdiam, lalu setelah itu ia melanjutkan lagi ucapannya) kakak kaya barusan bicara sama kak Reta beda banget waktu bicara sama aku." Kata Viona pada Galang.


"Beda gimana dek? perasaan sama aja ko. Nggak ada yang beda sama sekali." Kata Galang bertanya lagi pada Viona.


"Beda tau nggak sih kak"


"Beda apa dek sama aja ko? iya nggak bu Reta." Kata Galang menjawab ucapan Viona sambil bertanya pada sekretaris Reta.


Di saat sekretaris Reta ingin menjawab ucapan Galang. Seketika tertahan karena Viona lebih dulu menjawab ucapan Galang.


"Pokoknya beda kak, beda. Ya udah kak, adek pulang dulu ya." Kata Viona berpamitan pada Galang untuk menghindari pembicaraan diantara mereka saat ini.


"Gini nih kalau bicara sama kamu. Udah buat orang penasaran tiba - tiba langsung pergi tanpa mau kasih tau rasa penasarannya. Pinter kamu dek buat orang penasaran."


"Wow bagus dong kak, itu artinya adek bakalan dapet piala dong. Seneng nya dapet piala."


"Piala apaan dek? Kamu nih ya ada - ada aja."


"Piala penghargaan lah kak. Apalagi coba."


"Penghargaan apa sampai dapet piala segala?"


"Ya itu yang kakak bilang, kalau adek tuh paling pinter soal buat orang penasaran. Jadi penghargaannya ya karena itu."


"Nggak salah kamu dek, masa buat orang penasaran dapet piala. Yang bener aja dek."


"Ya justru adek yang harusnya bilang kaya gitu ke kakak. Kakak nggak salah bilang adek pinter buat orang penasaran. Adek kan nggak kaya gitu orang nya. Kakak tau sendiri kan kalau adek itu baik, pinter, cantik, imut, dan banyak lagi deh pokonya yang ada di adek tuh. Jadi kakak salah, bilang adek orang nya kaya gitu."


"Terserahlah mu lah dek, pusing kakak lama - lama bicara sama kamu. Mana bilang segala macem lagi. Padahal kan selain kata - kata yang kamu sebutin barusan, masih ada satu hal yang kurang di diri kamu ini dek."


"Oh ya kak, yang mana yang kurang. Coba kasih tau adek."


"Sifat nyebelin kamu nggak kamu sebutin dek. Apalagi Sekarang makin jadi tuh sifat nyebelin nya."


"Apa kak? nggak salah bilang kaya gitu ke adek. Ya ampun kakak ko jahat gitu ke adek. Adek bilangin mamah ntar biar kakak di marahin sama mamah."


"Coba aja kalau berani."


"Lah ini ko pak Galang sama Viona malah pada berdebat. Perdebatannya juga kaya yang nggak mau ngalah satu pun. Apa aku hentiin ya biar nggak berdebat lagi. Tapi ntar malah nggak enak kalau aku tiba - tiba ikut dalam pembicaraan mereka. Jadi bingung gini aku jadinya." Kata sekretaris Reta di dalam hatinya yang sedari tadi menjadi pendengar perdebatan adik kakak ini. Yang ntah kapan akan berakhir. Membuat sekretaris Reta menjadi bingung. Apa ia harus menghentikan perdebatan tersebut atau nggak sama sekali.


Namun, ternyata sekretaris Reta lebih memilih untuk menghentikan perdebatan tersebut. Karena ia mendengar ketukan pintu dan kemudian menjadi sebuah gedoran di ruangan Rendi.


Tok... Tok... Dor... Dor... (Ini lah suara ketukan dan gedoran dari Rendi yang terdengar oleh sekretaris Reta).


"Pak Galang, Viona" kata sekretaris Reta memanggil mereka berdua.


Baik Galang maupun Viona yang mendengar panggilan sekretaris Reta. Langsung menghentikan ucapan diantara mereka berdua tersebut. Lalu mulai menjawab ucapan sekretaris Reta.


"Iya" satu kata ini yang keluar secara bersamaan dari bibir Galang dan Viona.

__ADS_1


Sempat bingung mau bicara apa ketika kedua adik kakak ini menjawab panggilannya. Kemudian sekretaris Reta pun mulai mengeluarkan suaranya lagi.


"Viona sama pak Galang mau sampai kapan berdebat?" Akhirnya sekretaris Reta pun menjawab ucapan mereka berdua.


"Oh ya ampun kak Reta, maaf Vio malah lupa kalau ini masih di kantor abang nyebelin. Hehehe... maaf ya kak, jadi buat kakak bertanya seperti itu sama Vio."


"Kamu sih dek, jadi lupa kan kakak juga malah berdebat sama kamu. Maaf bu Reta saya malah debat kaya gini sama adek saya." Kata Galang malah menyalakan Viona dan Galang pun menjawab juga ucapan sekretaris Reta.


"Apaan sih kak, malah salahin adek yang mulai perdebatannya siapa coba? ko jadi salahin adek sih."


"Ya kan kamu dek yang salah."


"Pusing aku kak, kalau terus - terusan di sini. Aku pulang aja dek. Dah kak, dah kak Reta. Assalamualaikum." Kata Viona yang langsung pergi meninggalkan Galang dan sekretaris Reta yang malah diam terpaku. Saat Viona menyelesaikan ucapannya itu.


Ketika Viona telah masuk kedalam lift, baru lah mereka berdua mulai menjawab ucapan Viona.


"Wa'alaikumussalam" kata mereka berdua menjawab salam Viona terlebih dahulu. Karena kata salam itu yang mereka dengar terakhir kali.


"Maaf ya bu Reta sikap adek saya nggak baik, malah pergi gitu aja."


"Nggak papa pak Galang. Oh iya pak Galang. Ini saya buka pintu ruangan boss nya kapan ya? Soalnya sedari tadi pintu terus di ketuk dan di gedor sama boss di dalam."


"Oh ya bu, ko saya nggak denger sama sekali."


"Mungkin karena bapak terlalu fokus berbicara sama Viona barusan. Sampai nggak denger kalau pintu di ketuk dan di gedor."


"Ya udah pak, kalau gitu saya langsung buka aja ya pintu nya."


"Iya bu silahkan."


Setelah itu sekretaris Reta pun mulai ingin membuka pintu.


Namun, belum sempat kunci di putar oleh sekretaris Reta. Galang pun kemudian mengeluarkan suaranya lagi.


"Bentar bu jangan dulu di buka."


"Kenapa jangan di buka dulu pak?"


"Saya mau kembali ke ruangan saya dulu bu. Takut nya ntar boss banyak pertanyaan lagi. Saya kan jadi bingung nanti jawabnya bu."


"Terus nanti kalau boss tanya ke saya juga gimana pak?"


"Em... iya juga ya, ya udah deh bu di buka aja pintunya. Biar nanti saya yang jawab aja."


"Beneran nggak papah nih pak."


"Iya bu beneran, di buka aja."


"Ya udah kalau gitu saya langsung buka ya pak."

__ADS_1


"Iya bu"


Kunci pun mulai di putar dua kali untuk membuka pintu ruangan yang terkunci ini.


Ceklek... Ceklek...


Tak lama setelah itu, pintu pun di buka dengan cepat oleh Rendi yang ada di dalam ruangnya.


Membuat sekretaris Reta yang ingin mendorong pintu hampir terjatuh jika Galang tak langsung membantu sekretaris Reta dengan memegang salah satu tangan sekretaris Reta untuk menyeimbangkan tubuhnya.


"Kaget nya pak saya, makasih pak Galang udah bantu saya."


"Iya bu"


"Kemana adek? berani - berani nya dia dorong dan kunci saya di dalam."


"Maaf boss maksudnya boss adek saya."


"Ya iya lah adek kamu, siapa lagi coba yang kunci saya kalau bukan adek kamu."


"Oh maaf boss saya kira orang lain. Soalnya boss bilang adek ke adek saya. Kalau boleh tau sejak kapan adek saya jadi adek boss."


"Sejak hari ini. Kemana dia sekarang?"


"Oh gitu, tapi ko bisa ya boss adek saya jadi adek nya boss."


"Jangan bahas itu, saya mau tau adek kamu kemana ko nggak ada?"


"Itu boss adek saya udah pulang barusan."


"Ko pulang, siapa yang suruh dia pulang."


"Nggak ada yang suruh boss, tapi itu kemauan adek saya sendiri."


"Argh... adek kamu ini saya kan udah bilang jangan pulang sebelum penuhi syarat dari saya. Kamu juga sebagai kakak nya ko malah perbolehkan dia pulang sih." kata Rendi pada Galang dengan sedikit emosi.


"Lah boss ko aneh gini sih." Kata Galang di dalam hatinya sebelum menjawab ucapan Rendi.


"Em... mau gimana lagi boss. Adek saya memang kaya gitu kalau udah pengen pulang ya dia pasti pulang sendiri dan saya nggak bisa tahan dia untuk nggak pulang boss."


"Alasan aja kamu, ya udah sana kembali ke ruangan kamu aja."


"Ya udah kalau gitu boss. Saya permisi dulu. Bu Reta saya permisi kembali keruangan saya ya."


"Iya pak Galang." Kata sekretaris Reta menjawab ucapan Galang.


Sementara Rendi tak menjawab ucapan Galang karena saat ini ia malah langsung masuk ke ruangannya lagi.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2