Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Di Buat Ribet


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Rendi dan Viona telah menyelesaikan makan nya.


"Dek mau nambah lagi nggak?"


"Nggak, nggak bang aku udah kenyang. Ntar yang ada aku malah gemuk lagi. Aku kan nggak mau gemuk."


"Kenapa nggak mau gemuk? gemuk kan lucu dek. Apalagi kalau kamu yang gemuk nya."


"Ih... apaan sih bang malah bilang kaya gitu. Aku tuh nggak mau gemuk. Argh... pokoknya nggak mau gemuk."


"Hem... bercanda kali dek. Pipi kamu cabi kaya gini juga abang suka." kata Rendi berkata spontan pada Viona.


"Ya ampun ini bibir kenapa bilang kaya gitu. Semoga aja nih adek nggak denger. Bisa berabe ntar kalau ke dengeran." Kata Rendi di dalam hatinya setelah berkata spontan pada Viona.


Viona yang samar - samar mendengar ucapan Rendi yang spontan itu.


Mulai berkata lagi pada Rendi untuk bertanya memgenai ucapannya itu pada dirinya.


"Em... bang barusan abang bilang apa ke aku. Maksudnya cabi apa?" ternyata Viona hanya mendengar kata cabi itu saja yang terdengar jelas dan selebih nya ia tak mendengar lagi ucapan Rendi.


"Selamet aku, adek cuman denger kata cabi aja. Em... tapi aku harus jawab apa ya? ayo Rendi berpikir buat jawab ucapan adek." Kata Rendi di dalam hatinya.


Setelah berpikir cukup lama Rendi kemudian mengeluarkan suaranya untuk menjawab ucapan Viona.


"Em... lupain aja deh dek. Mungkin kamu salah denger."


"Masa sih bang aku salah denger. Perasaan nggak deh bang. Aku tuh denger jelas banget kata cabi. Apa jangan - jangan..." kata Viona yang ucapannya seketika di potong oleh Rendi.


"Jangan mikir yang aneh - aneh deh dek. Lupain aja lagi pula kamu salah denger." kata Rendi yang memotong ucapan Viona.


"Ih... tapi bang itu tuh beneran. Abang bilang cabi deh ke aku."


"Nggak dek, kamu salah denger."


"Hem... ya udah deh aku lupain aja."


"Nah ini baru bener dek"


"Oh iya dek, sekarang abang langsung bicara aja ya sama kamu." kata Rendi lagi pada Viona.


"Hem... iya bang biar aku juga bisa cepet pulang."


"Kamu ke sini mau apa?" kata Rendi pada Viona.

__ADS_1


"Em... aku di suruh kak Galang buat dateng ke sini minta maaf ke abang buat kesalahan aku waktu di taman."


"Ya udah coba sekarang kamu minta maaf ke abang."


"Eh... ko gitu sih bang"


"Ya emang nya kamu mau kaya gimana? bukannya kamu mau minta maaf kan."


"Iya sih bang tapi..."


"Ya udah langsung minta maaf aja dek."


"Iya deh bang"


"Bang aku minta maaf ya, buat kesalahan aku waktu di taman dan buat kesalahan aku tadi. Aku sadar itu semua memang salah. Aku minta maaf sama abang. Abang mau maafin aku kan." kata Viona meminta maaf pada Rendi dengan tulus.


"Iya bisa"


"Beneran bang, hem... makasih bang."


"Iya beneran tapi ada syaratnya"


"Ih... aku kira abang beneran maafin aku. Eh... malah minta syarat. Ya udah deh aku langsung pulang aja."


"Lah ko gitu sih dek"


"Nggak, karena buat apa aku tanya. Aku kan udah minta maaf juga sama abang nya. Jadi aku udah penuhi permintaan kak Galang dan selesai. Sekarang lebih baik aku langsung pulang."


"Tapi kan abang belum maafin kamu dek."


"Tak masalah bang buat aku, setidaknya aku udah meminta maaf sama abang. Kalau gitu aku permisi pulang ya bang. Boleh aku minta kunci nya."


"Saya nggak akan izinin kamu pulang sebelum kamu mendapatkan maaf dari saya."


"Lah ko jadi kaya gini sih bang."


"Sejak kapan ada hal seperti ini?"


"Sejak saat ini. Jadi sekarang terserah sama kamu. Kalau kamu mau secepatnya pulang itu artinya kamu harus penuhi dulu syarat yang saya minta. Kalau kamu nggak mau ya udah itu artinya kamu akan tetap di sini sampai saya pulang."


"Ih... sifat nyebelin nya abang mulai muncul lagi. Argh... kesel aku kenapa bisa sih aku ketemu orang kaya abang ini."


"Itu udah resiko kamu karena ketemu dengan saya."

__ADS_1


"Dan membuat aku nyesel datang ke sini." kata Viona menjawab ucapan Rendi.


"Terserah mu aja."


"Argh... abang ngeselin. Bikin emosi nggak punya perasaan, jahat dan bikin tambah sebel aku di buatnya." kata - kata umpatan yang Viona keluarkan ini membuat Rendi bukannya marah melainkan sebaliknya. Rendi malah ingin tertawa mendengar ucapan Viona yang terdengar lucu saat Viona mengatakan perkataan itu untuk nya.


"Hahaha... ini adek lagi marah juga bikin lucu sih. Sampai segala macem yang buruk ia keluarkan untuk aku. Nggak ada yang baik apa dek. Tapi ko aku malah suka ya. Aneh nih aku beneran udah aneh." kata Rendi di dalam hatinya.


"Bang mana ih... kunci nya. Aku mau pulang."


"Pulang kemana dek?"


"Ke rumah lah bang emangnya mau kemana lagi."


"Oh... kirain mau pulang ke rumah abang."


"Ya ampun bang buat apa coba aku pulang ke rumah abang tau aja nggak."


"Kalau udah tau mau ikut pulang ke rumah abang nggak dek."


"Nggak" kata Viona menjawab ucapan Rendi dengan satu kata itu.


"Ko nggak sih dek"


"Ya karena buat apa bang aku ke rumah abang. Aku kan nggak punya kepentingan buat ke rumah abang. Jadi ngapain aku ke rumah abang." kata Viona menjawab ucapan Rendi apa adanya.


"Hem... gini amat sih dek jawabannya."


"Ya emang nya harus kaya gimana bang?"


"Ya udah deh lupain."


"Kebiasaan bilang nya kaya gini terus. Ya udah mana aku minta kunci nya." kata Viona sambil meminta kunci pada Rendi.


"Nggak ada sebelum kamu penuhi syarat nya dek."


"Ih... nyebelin, abang tau nggak sih. Aku tuh harus cepet - cepet pulang. Ayo coba kunci nya."


"Nggak ya nggak dek, kamu harus penuhi dulu syarat nya. Baru setelah itu abang kasih kunci nya."


"Argh... kenapa sih aku harus ketemu sama orang ribet seperti abang ini. Apa - apa harus di buat ribet, padahal gampang banget tinggal abang kasih kunci nya ke aku. aku buka pintu nya pake kunci yang abang kasih. Selesai aku bisa langsung pergi. Ini malah di buat ribet harus penuhi syarat dulu. Oke kalau aku harus penuhi syaratnya. Tapi sebelum itu aku pengen tau syaratnya apa?" kata Viona menjawab ucapan Rendi dengan cukup panjang.


"Syaratnya gampang dan mudah ko dek, tapi kamu beneran mau lakuin syaratnya kan." kata Rendi menjawab ucapan Viona sambil bertanya juga pada Viona untuk memastikan bahwa Viona akan melakukan syarat yang akan ia kasih tahu pada Viona.

__ADS_1


"Hem... itu tergantung dengan syarat nya lah bang. Kalau misalnya syaratnya nggak buat aku ribet dan gampang aku tanpa pikir panjang langsung setuju dengan syarat nya tapi kalau syaratnya malah buat aku ribet ya aku pikir - pikir ulang untuk melakukannya." kata Viona menjawab ucapan Rendi.


To be continued


__ADS_2