
Setelah Rendi berada di ruangan nya, ia pun mulai duduk di kursi kerja nya.
Ketika Rendi telah duduk, ia lalu berbicara pada dirinya sendiri.
"Dek kenapa kamu pulang sih? argh... nyebelin banget kamu dek tapi walaupun kamu nyebelin kamu tetep ngangenin."
"Eh... ya ampun Rendi ko bicaranya kaya gitu."
"Padahal kamu baru aja di kunci loh di ruangan kamu sama tuh adek. Malah bilang ngangenin. Bukannya seharusnya itu kamu nggak suka ya karena sikap nya itu ke kamu. Eh... ini malah kebalik. Rendi, Rendi."
"Iya juga ya, ko malah kebalik. Em... kalau di pikir - pikir lagi tuh adek ko bisa ya buat aku jadi kaya gini sikap nya. Hal yang nggak baiknya aja aku suka, apalagi ntar kalau aku tau hal baik di dirinya itu. Tapi sepertinya akan lama deh aku tau hal baiknya. Setiap ketemu aja sikapnya nyebelin dan aneh. Tapi aku malah suka dengan sikap nya itu. Bener, bener aneh nih aku. Kalau gitu aku jadi ikutan aneh dong kaya dia." kata Rendi mengakhiri ucapannya itu di dalam hatinya.
Sementara Galang yang telah pamit untuk kembali ke ruangannya. Kini ia pun baru saja duduk di kursi kerjanya.
Dengan perasaan yang nggak bisa di jelasin dengan sebuah kata - kata. Galang kini hanya bisa memikirkan hal yang terjadi hari ini tanpa mau mengucapkan sebuah kata apapun.
Bahkan saat ini ia malah terdiam tak bergerak sama sekali. Entah ia sedang memikirkan apa. Yang jelas saat ini ia sedang terdiam di kursi nya.
Satu detik, dua detik, tiga detik telah berlalu. Galang masih di posisi yang sama. Sampai detik itu pun kini berubah menjadi menit. Ia masih tetap terdiam.
Kalau saja di menit kelima pak Agus tidak datang keruangan Galang. Mungkin Galang masih tetap terdiam.
Tok... Tok...
Suara pintu yang di ketuk oleh pak Agus di depan ruangan Galang.
Tak ada jawaban sama sekali dari dalam yang terdengar oleh pak Agus yang saat ini sedang mengetuk pintu.
__ADS_1
"Ko nggak ada jawaban, apa pak Galang nggak ada di ruangannya ya." kata pak Agus yang berkata pada dirinya sendiri setelah ia mengetuk pintu. Namun, tak ada jawaban dari Galang atas ketukan pintunya itu.
"Masa sih nggak ada, perasaan ini kan masih jam kerja. Kalau pak Galang nggak ada, terus dia kemana? atau aku ketuk lagi aja. Siapa tau di ketukan yang kedua pak Galang menjawab ketukannya buat aku bisa masuk keruangnya."
"Kaya nya memang kaya gitu aja. Aku ketuk lagi sambil panggil juga biar cepet di jawab." kata pak Agus yang masih berbicara di dalam hatinya.
Tok... Tok...
"Pak Galang, boleh saya masuk ke ruangan bapak. Pak Galang..." kata pak Agus setelah mengetuk pintu.
Masih tak ada jawaban dari Galang saat ini. Membuat pak Agus akhirnya memutuskan untuk mencoba membuka pintu ruangan Galang untuk memastikan apakah Galang ada di ruangannya atau nggak ada sama sekali.
Ceklek...
Pintu pun di buka secara perlahan oleh pak Agus. Terlihat lah Galang yang sedang duduk termenung di kursinya. Setelah pintu terbuka sempurna.
Sehingga kebiasaan ini membuat ia jadi ragu jika tak bertanya dulu pada Galang sebelum memberikan dokumen ini pada boss.
"Aduh gimana nih? pak Galang kayanya lagi banyak pikiran sampai termenung kaya gitu. Apa aku tetep temui dia atau jangan ya. Tapi kalau nggak jadi, aku nggak yakin boss mau tanda tangan dokumen ini." kata pak Agus setelah melihat Galang yang termenung sambil ia pun melihat dokumen yang ia bawa ketika ia berkata di akhir kalimat yang ia ucapkan.
"Jadi bingung sendiri nih aku."
"Ya udah deh seperti nya lain kali aja aku temui pak Galang nya. Lebih baik selesain dokumen yang satunya lagi aja. Biar ntar semakin tanya ke pak Galang nya." kata pak Agus akhirnya memutuskan untuk tak bertanya pada Galang.
Di saat pak Agus membalikan tubuhnya dan hendak menutup pintu ruangan Galang. Disaat itu pak Agus mendengar suara Galang.
"Pak Agus, kenapa keruangan saya? apa pak Agus ada perlu sama saya." kata Galang pada pak Agus.
__ADS_1
"Em... sebenernya ada pak Galang, tapi sepertinya pak Galang lagi nggak bisa di ganggu ya pak." kata pak Agus menjawab ucapan Galang.
"Bapak ini ko gitu bicaranya. Ya udah pak sini kalau bapak perlu sama saya. Saya nggak lagi sibuk ko dan bisa bapak ganggu lah tenang aja. Tapi kalau ganggunya mau godain saya sepertinya saya pikir ulang buat izinin bapak ganggu saya." kata Galang sambil sedikit bercanda menjawab ucapan pak Agus.
"Bapak ini bisa aja bicara nya. Tapi beneran nggak papa kan pak Galang." kata pak Agus memastikan ucapan Galang lagi untuk meyakinkan ucapan yang di dengarnya itu tidak salah.
"Iya pak Agus beneran, pak Agus mau perlu apa ke saya."
"Ini pak biasa" kata pak Agus sambil menunjukkan dokumen yang di bawanya pada Galang.
Galang yang di tunjukan dokumen oleh pak Agus seketika langsung mengerti dengan tujuan pak Agus menemuinya saat ini.
"Oh ya udah pak Agus, kalau gitu kemari biar saya liat dokumen nya."
"Baik pak Galang" kata pak Agus yang saat ini sedang melangkahkan kakinya ke tempat Galang saat ini duduk.
Setelah pak Agus berada di hadapan Galang. Pak Agus pun mulai memberikan dokumen yang ia bawa pada Galang.
Galang yang di berikan dokumen oleh pak Agus. Langsung menerima dokumen tersebut. Dan setelah ia menerima dokumennya. Ia pun tak lupa mempersilahkan pak Agus untuk duduk sambil menunggu ia selesai membaca dokumen yang pak Agus berikan untuk nya ini.
"Silahkan duduk dulu pak Agus, takutnya ntar pegel kalau terus - terusan berdiri kaya gitu."
"Iya pak Galang" kata pak Agus sambil duduk di kursi yang ada di hadapan Galang saat ini.
Lalu Galang pun mulai fokus membaca satu demi satu lembar dokumen yang di buat oleh pak Agus.
Sementara pak Agus yang melihat Galang sedang fokus melihat dan membaca dokumen milik nya itu. Kini ia mulai merasa cemas apa pekerjaannya akan banyak yang harus di perbaiki atau nggak sama sekali.
__ADS_1
To be continued