
"Eh... iya dek apa?" Ini lah kata yang Galang keluarkan saat Viona telah memegang tangannya.
"Kakak ko malah terdiam gitu. Kenapa?"
"Em... nggak, gak papa."
"Beneran nih kak nggak papa."
"Iya dek kakak nggak papa. Eh... Iya bukannya barusan kamu pergi ya. Ko malah ada lagi di sini."
"Em... Itu kak, adek balik lagi ke sini soalnya adek baru keinget belum ajakin kakak buat ke bawah bareng. Maaf ya kak."
"Baru inget kamu dek. Ckckck... kemana aja tadi." Kata Galang di dalam hatinya.
"Kak, ih... ko malah diem lagi. Jawab dong ucapan adek."
Galang yang sedang berbicara di dalam hatinya langsung menghentikan kegiatannya itu dan langsung menjawab ucapan Viona.
"Gitu ya dek, kenapa baru keinget nya sekarang."
"Kan namanya juga lupa kak. Jadi nggak tau."
"Hem... ya udah sekarang adek mau tetep di sini atau kita langsung ke bawah aja."
"Ke bawah dong kak, adek kan pastinya udah di tungguin sama mamah."
"Pede banget kamu dek, mana mau mamah tungguin kamu."
"Kakak nggak percaya kalau apa yang aku ucapin itu bener."
"Nggak lah buat apa percaya?"
"Hem... ya udah kalau gitu kakak berani bertaruh gak. Kalau mamah saat ini lagi nungguin adek." Kata Viona pada Galang.
"Siapa takut, yang kalah harus kasih apa sebagai hadiah nya. Rugi dong kalau cuman bertaruh aja tanpa hadiah."
"Em... kakak mau nya apa sebagai hadiah nya." Kata Viona bertanya pada Galang.
"Gimana kalau kakak yang menang taruhan, bukan kakak yang harus cuci piring di malam hari tapi adek yang lakuin. Gimana setuju nggak adek?" Kata Galang memberitahukan hadiah yang ia inginkan dari Viona sebagai pemenang dalam taruhan nanti nya.
"Oke deal, tapi kalau adek yang menang kakak harus kasih adek uang 2 juta plus beliin adek buku baru lima. Oke, kakak setuju kan." Kata Viona menjawab ucapan Galang dengan penuh semangat.
Gimana nggak semangat hadiah taruhan yang Viona inginkan tak sebanding dengan yang Galang dapatkan nanti nya.
Membuat Galang sempat terkejut dengan keinginan Viona ini sebagai hadiah nya.
__ADS_1
"Apa? Kamu nggak salah kan dek minta hadiah taruhan nya kaya gitu."
"Nggak lah kak, itu memang yang adek inginkan."
"Tapi itu nggak sebanding dengan yang kakak minta. Malah ini tuh kaya pemerasan tau nggak. Uang kakak bisa abis sama kamu."
"Nggak akan kak, adek juga jarang kan minta seperti ini ke kakak. Jadi uang kakak nggak akan abis."
"Ya tetep aja dek, ini namanya pemerasan. Nggak, kakak nggak setuju sama hadiah yang kamu ingin kan itu."
"Ayo lah kak setuju, lagi pula ini kan belum tentu adek yang menang. Jadi masih belum pasti gitu. Setuju ya."
"Ya tetep aja dek, kalau beneran kamu yang menang abis dong uang kakak nanti."
"Nggak akan kak, nggak akan habis. Kalau adek minta nya 1 triliun baru deh uang kakak pasti abis."
"Mana punya kakak uang segitu. Yang ada bukannya abis aja tapi kakak ntar malah punya hutang ke kamu dek."
"Hehehe... iya juga ya kak" kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Maka dari itu ganti dek hadiah yang kamu inginkan itu."
"Nggak bisa kak, adek mau nya itu aja. Emangnya kakak mau adek ubah sama kaya kakak tukerin hukuman. Kakak bisa gitu diem di rumah selama seminggu. Sementara kakak kan harus kerja. Coba kakak pikirin lagi. Mau yang aku ingin itu atau mau pilih yang hukuman aku itu." Kata Viona memberikan dua pilihan untuk Galang.
"Em... dua - duanya nggak ada yang sesuai sama keinginan kakak."
"Em... tau ah dek, kakak bingung mau pilih yang mana." Kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Ko gitu sih kak, pilih aja."
"Kakak kan udah bilang kakak bingung. Jangan paksa gitu deh dek."
"Ya udah kalau gitu adek ke bawah duluan aja. Dah kak." kata Viona akhirnya menyerah untuk membujuk kakaknya.
"Adek ngambek sama kakak."
"Nggak" kata Viona menjawab ucapan Galang dengan ekspresi wajah yang berbeda saat mengucapkan kata itu.
Ia bilang nya tidak marah tapi ekspresi wajah yang Galang lihat sangat berbeda dengan jawaban adek nya ini. Dan ekspresi wajah Viona terlihat begitu jelas sedang marah.
"Kata nya nggak marah tapi ko wajah kamu beda gitu sih dek. Kaya orang yang marah."
"Masa sih kak, enggak ko liat deh ekspresi wajah adek tuh nggak lagi marah kak. Senyum kaya gini. Masa di bilang marah." kata Viona kemudian merubah ekspresi wajah diri nya dengan tersenyum.
"Hem... gitu ya"
__ADS_1
"Iya kak kaya gitu"
Hening tak ada lagi yang bicara di antara mereka berdua saat ini.
Galang yang sedang mempertimbangkan keinginan adek nya pun, kini sedang bingung dan bimbang memilih pilihan yang adek nya itu inginkan.
Sementara Viona ia sedang menunggu kakak nya untuk berbicara lagi pada dirinya.
Namun, sampai saat ini kakak nya tak ada mengeluarkan suaranya lagi.
"Kak" kata Viona yang sudah menunggu Galang untuk mengeluarkan suaranya tapi tak kunjung ada sampai ia menunggu cukup lama.
Galang yang mendengar Viona memanggil dirinya. Langsung bergegas menjawab ucapan Viona.
"Iya dek" kata Galang menjawab panggilan Viona.
"Em... mau tetep diem disini atau mau ikut adek ke bawah kak."
"Gimana ya dek, kalau kakak ikut ke bawah perjanjian taruhannya masih berlaku atau nggak dek."
"Ya adek tergantung kakak aja kalau kakak masih ingin berlaku. Oke adek setuju, setuju aja. Tapi kalau nggak juga nggak masalah."
"Hem... gitu ya dek, ya udah deh kakak setuju."
"Bener nih kak, setuju. Terus hadiah yang akan aku dapatkan yang mana dong."
"Bener dek, kakak setuju dan hadiah nya kakak pilih yang pertama aja."
"Oke, oke kak cus langsung ke bawah yuk kak. Ah... adek udah nggak sabar pengen tau yang menangnya siapa. Yuk, yuk kak langsung ke bawah." kata Viona penuh semangat menjawab ucapan Galang. Bahkan ia pun sampai menarik - narik salah satu tangan Galang.
"Bahagia bener dek kayanya. Sampai tangan kakak aja ditarik - tarik kaya gini. Ini kan bukan mau nyebrang dek nggak perlu di pegang kaya gini."
"Siapa bilang mau nyebrang kak, adek kan cuman tarik tangan kakak, emang nggak boleh ya."
"Nggak ada yang bilang sih, cuman kakak simpulin sendiri aja kaya gitu."
"Ya nggak boleh lah dek, apaan coba di tarik - tarik kaya gini." kata Galang lagi melanjutkan ucapannya.
"Hem... iya deh maaf" kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Maaf untuk apa dek?" kata Galang bertanya pada Viona.
"Maaf karena udah tarik - tarik tangan kakak." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Oh itu, em... iya kakak maafin." kata Galang menjawab ucapan Viona.
__ADS_1
To be continued