
"Bentar, bentar deh kalau beneran ada buku kaya gitu. Serem juga dan pastinya aku bakalan kaget saat pertama kali mengetahui nya." Kata Viona setelah mempertimbangkan kembali ucapannya itu.
"Apalagi pas di kamar ku ini nggak ada siapa - siapa hanya ada diri ku aja. Udah pasti aku bakalan ketakutan dan besar kemungkinan aku lari terbirit - birit karena takut." Kata Viona lagi pada diri nya sendiri.
Di ambilah buku yang di carinya itu. Ketika buku itu telah berada di tangan Viona.
Tanpa harus berpikir lagi. Viona mulai membuka buku tersebut.
Dan mencari tanda terakhir kali ia baca sampai halaman berapa.
Satu demi satu halalam mulai di buka oleh Viona sampai pada akhirnya Viona menemukan halaman buku yang di tandai nya itu.
"Akhirnya ketemu juga kamu. Ah... udah nggak sabar pengen banget langsung baca kelanjutan ceritanya." Kata Viona sambil mengangkat buku yang di pegangnya ini.
Rasa penasaran dan rasa yang tak bisa di tahan lagi membuat Viona mulai membaca buku tersebut.
Satu demi satu kata hingga akhirnya menjadi kalimat demi kalimat setelah itu kalimat demi kalimat ini pun menjadi paragraf demi paragraf.
Sampai tak terasa satu halaman telah di baca oleh Viona.
Tapi tak sampai situ, rasa penasaran itu bukannya hilang karena Viona telah membaca lagi buku ini.
Melainkan makin bertambah saat apa yang ia baca lagi seru - serunya.
Hingga tanpa menunggu lama ia mulai membaca lagi di halaman berikutnya.
Bahkan jika Galang tak mengetuk dan memanggil - manggil dirinya di luar sana sampai ia tak menghiraukan sama sekali.
Karena terlalu asyik dan fokusnya ia baca buku tersebut.
Sampai Galang yang memanggilnya berulang - ulang menjadi geram karena panggilannya tak ada satu pun yang di jawab Viona.
"Dek, dek, dek" Tiga kali dalam satu waktu yang sama Galang memanggil Viona.
__ADS_1
Tetapi tak ada satu pun yang di jawab oleh Viona.
Sampai di waktu yang tak lama setelah itu. Ia kembali memanggil Viona.
"Dek... Dek... Dek... buka pintu nya. Kamu lagi apa sih ko panggilan kakak nggak ada jawaban sama sekali. Dek... Dek... woi buka pintu nya. Dor... Dor... Dor..." Kata Galang yang sudah mulai emosi sampai mengetuk pintu pun sangat keras seperti itu.
Viona yang mendengar gedoran pintu dan suara panggilan itu berulang - ulang malah menjadi geram.
"Argh... nggak bisa apa tuh orang nggak perlu teriak - teriak dan gedor - gedor pintu sampai segitu nya. Aku juga nggak tuli. Argh... argh... siapa sih." Inilah kata yang keluar dari bibir Viona secara spontan karena mungkin saking geram dan emosinya. Saat ia lagi asyik - asyik nya membaca, malah ada orang yang memanggil - manggil dirinya berulang kali.
Dan bahkan sampai menggedor pintu kamar sangat keras. Membuat Viona langsung meledakkan rasa tak nyamannya itu dengan mengucapkan kata tersebut.
"Woi... dek... buka. Ada orang nggak sih. Woi... dek..." Kata Galang yang masih memanggil - manggil Viona.
"Argh... argh... berisik banget." Kata Viona yang berteriak sangat kencang.
Bahkan tak hanya itu buku yang ia pegang pun sempat ingin ia lempar saking kesal nya, ia mendengar suara teriakan di luar kamar nya itu.
Jika saja ia tak ingat bahwa melemparkan buku itu tak baik di lakukan. Ia sudah sedari tadi melempar buku ini sesuka hatinya.
Hingga ia akhirnya memutuskan untuk menemui orang yang manggilnya itu.
"Ya ampun Vio, sabar jangan kaya gini. Masa iya karena kamu kesal buku yang nggak salah ini aja mau kamu lempar begitu aja. Ckckck... nggak banget deh Vio. Kamu harus lakuin itu."
"Yang bener itu kamu langsung temui aja orang yang memanggil mu itu biar tak memanggil mu lagi."
"Hem... iya juga, buat apa aku lempar buku nya. Buku ini kan nggak salah apa - apa."
Tak lama setelah itu Viona mulai mendekatkan diri nya untuk membuka pintu.
Langkah demi langkah kini Viona telah sampai di depan pintu kamarnya.
Dan yang terakhir Viona hanya tinggal membuka pintu tersebut.
__ADS_1
Ceklek...
Di bukalah pintu kamarnya perlahan demi perlahan hingga menjadi terbuka sempurna.
Terlihat di balik pintu tersebut wajah kakak nya yang tak bersahabat sangat di tunjukkan dengan jelas pada dirinya.
Awalnya Viona sempat takut melihat wajah Galang yang seperti itu.
Namun, rasa takut itu ia hilangkan dan mencoba bersikap biasa aja.
"Kemana aja kamu dek? Sampai bibir kakak berbusa seperti ini aja kamu baru buka sekarang pintu nya. Ckckck..." Kata Galang sambil menunjukkan wajah tak bersahabat nya itu pada Viona.
"Ya ampun kak sampai segitu nya. Emang kakak udah makan deterjen apa, sampai bisa berbusa seperti itu." Kata Viona menjawab ucapan Galang setelah ia menghilangkan rasa ketakutannya itu. Bahkan ia sangat berani berbicara seperti itu pada Galang.
"Ya kali dek kakak makan deterjen. Kamu ya, ini tuh perumpamaan bukan kakak...(kata Galang yang tak melanjutkan lagi ucapannya) Argh... udah lah percuma juga di jelasin. Ntar malah panjang lagi nggak kelar - kelar." Kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Ya udah kak nggak usah di kasih tau aja kalau gitu. Mau apa sih kak, kakak panggil - panggil adek." Kata Viona menjawab ucapan Galang sambil bertanya juga pada Galang.
Galang bukannya langsung menjawab ucapan Viona. Tapi ia malah terdiam dan seperti nya enggan untuk menjawab ucapan Viona itu.
Sampai Viona kembali mengeluarkan suaranya lagi.
"Kak kenapa nggak di jawab?"
Masih tak ada jawaban sama sekali dari Galang bahkan sepertinya ia bersikap acuh tak acuh dengan ucapan Viona itu.
Viona yang menunggu Galang untuk menjawab ucapannya nya mulai merasa bosan dan kesal karena Galang tak kunjung menjawab ucapan nya itu.
"Argh... kenapa sih kakak ini. Malah bersikap kaya gitu lagi. Pengen deh rasanya ini tangan langsung pukul kakak. Tapi kalau di pukul ntar aku malah di bilang nggak sopan. Terus... terus... nanti aku di marahin. Setelah itu... aku... aku... ah... udah deh nggak perlu di terusin lagi. Mungkin bentar lagi juga di jawab tuh ucapan aku itu." kata Viona akhirnya memutuskan untuk menunggu.
Hampir tiga menit Viona menunggu Galang menjawab ucapannya itu. Tapi tak di jawab - jawab sama sekali.
Membuat ia memutuskan untuk mengeluarkan suaranya lagi.
__ADS_1
"Kak mau apa sih panggil - panggil adek. Jangan gini lah kak, adek tuh bukan orang yang bisa tebak apa yang kakak rasain. Maaf adek buat kakak nunggu dan teriak - teriak seperti tadi. Adek tau adek salah, maaf ya kak." kata Viona pada Galang sambil meminta maaf.
To be continued