Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Meneteskan Air Mata


__ADS_3

Percakapan itu akhirnya terhenti, baik Rendi maupun papah Rudi kedua nya malah sama - sama terdiam.


Membuat mamah Reni yang mendengar dan melihat percakapan antara anak dan papah ini pun hampir meneteskan air mata.


Jika papah Rudi dan Rendi masih terus melanjutkan percakapan mereka itu. Besar kemungkinan air mata yang tertahan dari kedua mata mamah Reni akan menetes dengan sendirinya.


Namun, air mata tersebut. Bukan lah air mata mamah Reni yang merasa sedih, melainkan air mata terharu dan baper melihat percakapan dan mendengar percakapan diantara anak dan papah ini.


Di saat Rendi terdiam, ia lalu mengalihkan pandangannya pada mamah Reni. Begitu terkejutnya ia melihat mamah Reni yang sudah berkaca - kaca ingin mengeluarkan air mata nya.


"Mah, mamah ko nangis" kata Rendi pada mamah Reni.


Papah Rudi yang mendengar ucapan Rendi. Seketika mengalihkan pandangan juga yang langsung melihat ke arah mamah Reni.


Saat papah Rudi telah melihat mamah Reni. Ia pun mulai mengeluarkan suaranya juga untuk mamah Reni.


"Iya mah, mamah kenapa nangis?" ini lah yang di ucapkan papah Rudi untuk mamah Reni.


Mamah Reni yang mendapatkan dua pertanyaan sekaligus dari orang yang membuat ia hampir meneteskan air matanya. Sempat terdiam beberapa saat sebelum menjawab ucapan mereka berdua.


Tak lama setelah mamah Reni terdiam, ia mulai menjawab ucapan dari keduanya.


"Em... siapa yang nangis coba, (Mamah Reni lalu mengerjap - ngerjapkan kedua matanya beberapa kali, sebelum ia melanjutkan lagi ucapannya) mamah nggak lagi nangis ya bang, pah." kata mamah Reni setelah mengerjap - ngerjapkan kedua matanya.


"Masa sih mah, abang ko nggak percaya."


"Iya bang, papah juga nggak percaya. Mamah lagi bohong ya."


"Nggak ko" kata mamah Reni sambil mengalihkan pandangan nya bukan kearah Rendi maupun papah Rudi.


"Bilang nggak nya, kenapa liat ke sana mah? liat sini coba mah bilang nggak nya." kata Rendi pada mamah Reni.


"Iya nih, mamah ko aneh banget. Mamah kan lagi bicara sama papah dan abang, ko liat nya malah ke arah lain." kata papah Rudi pada mamah Reni juga.


Mamah Reni yang mengalihkan pandangannya ternyata sudah meneteskan air mata. Hingga ia harus mengalihkan pandangan nya itu dari Rendi dan papah Rudi.


Awalnya mamah Reni mencoba agar suara tangis itu tak terdengar, baik oleh papah Rudi maupun oleh Rendi.

__ADS_1


Namun, sayang sekali hal itu tak terjadi. Karena suara isak tangis dari mamah Reni terdengar juga oleh mereka berdua.


"Hiks... hiks.... hiks..." inilah suara isak tangis yang terdengar oleh papah Rudi dan Rendi hampir bersamaan.


Membuat kedua nya kini mendekatkan diri pada mamah Reni untuk memastikan. Apakah mamah Reni yang mengeluarkan suara tersebut.


Setelah keduanya berada di dekat mamah Reni. Mereka berdua pun terkejut karena suara tangis itu ternyata berasal dari mamah Reni.


"Hiks... hiks... hiks..."


"Mah, kenapa nangis? ayo coba bilang sama abang kenapa mamah bisa nangis?" kata Rendi pada mamah Reni.


"Mah, mamah nangis kenapa? bilang juga ke papah, siapa yang udah buat ratu di rumah ini nangis." kata papah Rudi pada mamah Reni.


"Hiks... hiks... hiks.... abang sama papah yang buat mamah nangis. Hiks... hiks... hiks..." kata mamah Reni menjawab keduanya dengan menangis.


"Ko jadi abang sama papah mah" kata Rendi pada mamah Reni.


"Ya kan papah sama abang yang salah. Hiks... hiks... hiks..."


"Salah nya abang sama papah apa mah?"


Sebelum menjawab ucapan mamah Reni. Rendi lalu mulai memberikan kode pada papah Rudi untuk membantu ia menjawab ucapan mamah Reni barusan.


Papah Rudi yang mendapatkan kode dari Rendi lewat tatapan mata itu. Seketika paham apa yang harus ia lakukan untuk menenangkan mamah Reni.


Papah Rudi langsung memeluk mamah Reni. Lalu ia pun membisikan sesuatu di telinga nya mamah Reni saat ia telah memeluk mamah Reni.


"Mah, mah beneran nangis atau hanya pura - pura nangis." inilah kata yang papah Rudi bisikkan pada mamah Reni.


Mamah Reni yang mendengar bisikan dari papah Rudi sempat melihat papah Rudi sebentar. Lalu setelah itu ia pun memukul papah Rudi pelan dengan salah satu tangannya yang ada di dada papah Rudi.


Kemudian mamah Reni pun berucap pada papah Rudi dengan berbisik juga.


"Papah ini gimana sih? istri nangis bercucuran kaya gini masa di bilang bohong. Beneran dong pah, mamah ini nangis. Jahat bener sih." kata mamah Reni pada papah Rudi dengan berbisik.


"Oh... maaf mah, papah kira mamah lagi bohong. Mamah nangis kenapa?"

__ADS_1


"Karena liat papah sama abang yang berbicara barusan buat mamah terharu, baper dan iri karena kalian nggak ajakin mamah bicara. Mamah jadi pengen punya temen bicara pah."


"Kenapa mamah nggak bilang? ya udah papah ntar cariin temen buat bicara sama mamah di sini."


"Mamah nggak mau, mamah maunya seorang putri buat putra kita."


"Ya ampun mah, kalau itu mah susah. Mamah minta ke abang aja. Buat cepet di bawain putri."


"Papah bantu bilang ke abang"


"Hem... iya papah bantu, terus tangisan mamah ini, mau di berhentiin sekarang atau masih mau lanjut."


"Menurut papah bagusnya kaya gimana?"


"Em... di lanjutin dulu aja mah biar berhasil."


"Tadi mamah juga mikirnya gitu sih pah. Ya udah deh pah, ayo papah langsung bilang ke abang. Kita mulai dramanya."


"Oke mah"


Itulah kata - kata yang papah Rudi dan mamah Reni bisikan.


"Mah udah ya jangan nangis lagi." kata papah Rudi yang memulai dramanya.


"Hiks... hiks... hiks..." mamah Reni hanya menangis tak menjawab ucapan papah Rudi sama sekali.


"Mamah kenapa pah?" kata Rendi yang bertanya pada papah Rudi.


"Katanya mamah, mamah iri bang liat abang sama papah bicara barusan. Makannya mamah jadi nangis pengen punya temen bicara juga." kata papah Rudi menjawab pertanyaan Rendi.


"Temen bicara maksudnya apa pah? di sini kan ada bibi sama anak nya bibi. Apanya yang temen bicara." kata Rendi yang bertanya lagi pada papah Rudi.


"Tapi bukan itu bang maksudnya. Kita kan barusan bicara berdua. Nah, mamah juga pengen punya temen bicara seperti kita barusan berdua juga. Tapi sama seorang putri kaya gitu. Berhubung di sini anak nya mamah sama papah hanya abang aja. Jadi mamah pengen abang buat bawa putri ke rumah." kata papah Rudi menjawab ucapan Rendi.


"Bawa putri siapa pah? masa iya abang bawa anak orang ke rumah. Mamah ini ada - ada aja sih. Kenapa nggak panggil Lina aja ke rumah? bukannya sama aja kan." kata Rendi menjawab ucapan papah Rudi dan memberikan solusi juga pada papah Rudi.


Seketika mamah Reni mulai menangis lebih kencang.

__ADS_1


"Hiks... hiks... hiks... abang jahat hiks... hiks... hiks... abang nggak ngertiin mamah dan nggak sayang sama mamah hiks... hiks... hiks..." kata mamah Reni pada Rendi.


To be continued


__ADS_2