Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Rasa Penasaran


__ADS_3

Beberapa menit telah berlalu. Galang yang telah membaca dokumen pak Agus sempat terdiam untuk beberapa saat sebelum memberitahukan pada pak Agus.


Entah lah diam nya Galang karena apa. Apa karena ia sedang mempertimbangkan kesalahan yang terdapat di dalam dokumen untuk diperbaiki dengan berbagai cara atau karena ia sedang mengingat - ingat ada di lembar mana saja dokumen yang salah tersebut.


Pak Agus yang melihat Galang telah selesai membaca dokumen. Kini sedang menunggu Galang untuk memberitahukan diri nya hasil yang ada di dalam dokumen tersebut.


Rasa penasaran mulai di rasakan oleh pak Agus saat Galang terdiam cukup lama. Namun, tak mengeluarkan suaranya sama sekali.


Membuat pak Agus yang tak sabar ingin mengetahui hasil nya pun mulai bertanya pada Galang. Saat pak Agus mulai ingin mengeluarkan suara nya, di saat itu juga ucapan yang akan keluar dari bibir pak Agus harus tertahan karena ternyata Galang lebih dulu mengelurakan suaranya untuk pak Agus.


"Pak Agus dokumen nya udah saya baca dan saya liat. Ternyata hasilnya..." kata Galang yang seketika terdiam.


Dan hal ini akhirnya membuat pak Agus mulai merasa detak jantung nya berdetak tak karuan. Karena ada rasa takut, gelisah, cemas dan yang paling terpenting adalah rasa penasaran dengan hasil nya ingin segera di ketahui oleh pak Agus. Sehingga ia dengan tak sabar langsung berkata pada Galang yang kini terdiam.


"Hasilnya apa pak Galang? saya udah nggak sabar pengen tau, penasaran banget nih pak Galang sampai berdetak kencang gini jagung saya." kata pak Agus menjawab ucapan Galang sambil memegang jantungnya.


"Oh ya pak, sangat kencang pak berdetak nya."


"Hem... iya pak kencang banget."


"Rileks aja pak, kaya yang nunggu kelulusan masuk seleksi aja pak sampai berdetak kencang gitu. Lagi pula saya juga bukan boss jadi nggak perlu terlalu tegang pak." kata Galang mencoba menenangkan pak Agus yang sedang cemas itu.


"Iya pak Galang akan saya coba. Tapi walaupun pak Galang ini bukan boss tapi nggak papa pak sebagai simulasi aja pak. Maksudnya gladi gitu sebelum ketemu sama boss langsung." kata pak Agus menjawab ucapan Galang.


"Hahaha... bapak ini bisa aja. Sampai di bilang simulasi sama gladi lagi. Hahaha... jadi saya pengen ketawa deh pak, bapak bilang kaya gitu barusan. Maaf ya pak Agus saya malah ketawa, abisnya saya udah nggak tahan pengen ketawa. Maaf ya pak Agus sekali lagi." kata Galang yang malah tertawa dan tak lupa ia pun meminta maaf pada pak Agus karena telah tertawa.


"Iya pak Galang nggak papa santai aja. Saya juga pak kalau boleh jujur pengen ketawa juga saat bilang kaya gitu ke bapak, tapi saya urungkan untuk tak ketawa pak."


"Oh gitu, tapi kenapa di urung kan pak?"


"Takut pak Galang lagi serius jadi saya nggak berani tertawa tapi setelah saya dengar kalau bapak ketawa saya malah jadi sedih pak."


"Ko bisa sedih pak Agus."


"Bisa pak"


"Bisa nya karena apa pak?"

__ADS_1


"Karena saya nggak ikut tertawa sama bapak. Padahal sayang banget pas lagi tegang - tegang gini kan kalau tertawa jadi mencairkan suasana dan tegang nya akan sedikit menghilang. Bener nggak pak Galang apa yang saya ucapin ini." kata pak Agus memberitahukan pada Galang dengan cukup panjang.


"Iya pak bener banget malahan, ya udah pak biar bapak nggak sedih lagi. Gimana kalau sekarang kita tertawa bersama aja. Biar bapak nggak merasa sedih lagi."


"Tapi pak Galang kalau kaya gitu namanya udah terlambat dong pak."


"Nggak papa terlambat pak daripada nggak sama sekali kan. Jadi sedih kan nantinya."


"Hem... ya udah pak kalau gitu kita langsung ketawa aja pak."


"Oke pak Agus, mau di hitung nggak ketawanya atau mau langsung aja."


"Langsung aja pak. Satu... dua..." kata pak Agus menjawab ucapan Galang sambil menghitung.


"Bentar, bentar pak. Ko di hitung, katanya langsung aja ko malah di hitung dulu pak."


"Ya biar kompak aja pak Galang. Jadi saya hitung."


"Oh gitu, tapi ko jadi aneh ya pak. Kalau kaya gini itu namanya bapak nggak pilih salah satu yang saya bilang ke bapak. Melainkan memilih ke dua - dua nya." kata Galang menjawab ucapan pak Agus.


"Em... apa yang di bilang sama pak Galang ada bener nya juga. Kalau saya memang nggak pilih salah satunya ya pak. Ini malah ambil ke dua - dua nya." kata pak Agus setelah terdiam menjawab ucapan Galang.


"Hem... bener kan pak"


"Iya pak Galang. Tapi nggak papa pak Galang ke dua - dua nya juga biar adil karena nggak pilih salah satunya."


"Hem... iya sih pak biar adil, tapi kalau kaya gitu namanya bapak nggak mau pilih salah satunya dong."


"Iya juga ya pak, eh... bentar deh pak, ko kita malah bahas ini ya."


"Hem... bener juga yang pak Agus bilang ko malah bahas ini ya. Padahal kan harusnya bahas tentang dokumen. Eh... malah lupa karena bahas ini."


"Ya udah pak kita lupain aja hal ini. Sekarang lebih baik bahas tentang dokumennya aja pak."


"iya pak Agus." kata Galang menjawab ucapan pak Agus.


"Kita langsung bahas tentang dokumen aja. Jadi setelah saya baca dokumen pak Agus ini. Hasilnya udah bagus tapi ada beberapa yang harus di perbaiki." kata Galang lagi melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Kalau boleh tau yang mana aja ya pak Galang yang harus saya perbaiki." kata pak Agus menjawab ucapan Galang.


"Bentar pak saya coba cari solusi nya juga. Nah yang ini pak, di lembar ketiga yang di tengah - tengah. Sepertinya harus di perbaiki jadi seperti ini pak." kata Galang memberitahukan pada pak Agus lebar yang harus di perbaiki sambil memberikan contoh dokumen yang telah ia kerjakan pada pak Agus untuk di sesuaikan seperti milik nya itu.


Pak Agus yang di beritahu oleh Galang tanpa pikir panjang ia pun mulai melihat dokumen yang di tunjukan Galang untuknya.


Setelah selesai melihat dan membaca pak Agus pun mulai mengeluarkan suara nya lagi.


"Oh jadi harus seperti ini ya pak Galang. Jadi dokumen yang saya ini hanya perlu menambahkan beberapa kata ini dan menghilangkan beberapa kata yang saya buat di lembar ketiga yang ada di tengah kan, yang barusan bapak bilang ke saya."


"Iya pak Agus yang itu."


"Baik pak Galang biar nanti saya perbaiki. Selain yang ada di lembar ketiga, apakah masih ada lagi yang harus saya perbaiki pak Galang."


"Ada pak dua lagi."


"Yang di lembar berapa pak?"


"Tujuh dan sepuluh pak Agus. Yang di lembar tujuh ada di bagian bawah nya yang harus diperbaikinya. Kalau di lembar sepuluh yang bagian atas nya yang harus di perbaiki." kata Galang menjawab ucapan pak Agus.


"Oh gitu, apakah ada lagi pak selain tiga lembar ini yang harus saya perbaiki."


"Nggak ada pak hanya itu aja."


"Oh jadi hanya tiga ya pak, ya udah pak Galang kalau gitu saya permisi kembali ke ruangan saya ya untuk memperbaikinya."


"Iya pak, eh... bentar pak yang di lembar tujuh sama lembar sepuluh bapak bisa liat contoh nya di dokumen yang saya buat ini di lembar empat sama lima ya pak. Boleh ko bapak bawa dulu dokumen yang saya buat ini." kata Galang menjawab ucapan pak Agus.


"Beneran boleh pak"


"Iya pak Agus boleh ko bawa aja"


"iya pak Galang, makasih. Nanti saya kesini lagi sambil tunjukin hasil yang saya perbaiki sama kembaliin dokumen bapak ini." kata pak Agus menjawab ucapan Galang.


"Iya pak" kata Galang menjawab ucapan pak Agus dengan singkat.


To be continued

__ADS_1


__ADS_2