Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Kebetulan Ketemu


__ADS_3

"Apa bedanya pah kalau kaya gitu. Sama - sama marah ujung - ujung nya juga."


"Beda lah mah papah kan cuman kesel aja karena mamah lama. Em... mamah emang di kamar mandi ngapain betah bener kaya nya di sana. Sampai datang temuin papah aja lama kaya gini."


"Di kira apa pah kamar mandi bisa buat betah. Aneh - aneh aja sih papah ini."


"Terus kenapa mamah lama ke sini nya."


"Itu karena tadi pas mamah mau ke sini temuin papah lagi. Kebetulan ketemu sama abang jadi mamah bicara dulu sebentar sama abang."


"Emangnya abang udah pulang?"


"Udah lah pah kalau belum pulang terus tadi yang bicara sama mamah siapa."


"Kirain belum pulang, mamah ko dari tadi marah - marah terus. Dan abang juga ko nggak biasa nya pergi keluar cuman sebentar."


"Siapa yang marah sih pah, dari tadi mamah biasa aja ko bicaranya. Dan kata abang tadi sih udah panas sama nggak betah makan nya pulang cepet."


"Tapi kaya yang marah mah papah liatnya, oh gitu ya mah padahal biasanya kan abang kalau pergi keluar itu bisa habisin waktu hampir tiga jam baru pulang. Nah ini baru hampir satu jam aja udah pulang. Kan aneh."


"Cara liatnya kaya gimana pah mamah kaya yang marah?"


"Ya sih pah biasanya kaya gitu tapi mungkin hari ini Abang memang nggak mau habisin waktu tiga jam kali pah."


"Em... ya dari nada bicara mamah sama wajah mamah."


"Hem... Iya mungkin mah kaya gitu."


"Tapi pah mamah bicaranya biasa aja ko, wajah mamah juga nggak keliatan marah."


"Hem... ya udah mah lupain aja. Sekarang mamah duduk diem di sini tunggu papah selesain baca dokumen ini dulu. Nanti kita lanjut lagi bicaranya."


"Hem... tapi lama nggak pah. Mamah tuh bosen kalau harus nunggu papah selesai baca dokumen itu."


"Nggak lama ko mah paling sekitar satu jam."


"Hah... satu jam paling pah. Itu tuh lama lah yang bener aja masa mamah suruh diem satu jam liatin papah aja baca dokumen. Lebih baik mamah nonton televisi kali pah dari pada harus nungguin papah kaya gini."


"Bercanda kali mah, di anggap serius kaya gitu."


"Huh... Mamah kira beneran pah."


"Bercanda mah cuman sepuluh menit ko. Ini tinggal satu lagi yang belum papah baca."

__ADS_1


"Hem... Iya deh mamah tunggu."


"Oke tunggu yang mah"


"Iya pah"


Ketika mamah Reni telah selesai berbicara keadaan di ruang keluarga seketika hening. Mamah Reni yang duduk diam menunggu papah Rudi selesai membaca dokumen sambil ia juga membaca sebuah majalah agar tak bosan menunggu dengan diam saja.


Tak terasa sudah sepuluh menit berlalu papah Rudi pun menepati waktu yang telah ia ucapkan pada mamah Reni untuk menunggu ia selesai membaca dokumen sekitar sepuluh menit itu akhirnya telah selesai.


"Mah kita lanjut bicara lagi"


Mamah Reni yang masih membaca sebuah majalah awalnya tak begitu mendengar saat papah Rudi berkata padanya.


Jika papah Rudi tak mengeluarkan suara nya lagi mamah Reni tak akan menyadari bahwa papah Rudi telah bertanya pada nya barusan.


"Mah"


"Eh... iya pah, kenapa?"


"Ya ampun mah mamah nggak denger tadi papah berkata apa sama mamah."


Dengan yakin dan tanpa beban mamah Reni menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas ucapan papah Rudi untuk nya.


"Mah, mah gini nih kalau mamah udah baca majalah pasti deh lupa segalanya."


"Tapi memang itu kenyataannya mah"


"Tapi mamah nggak ngerasa kaya gitu ko pah. Ini bukti nya mamah langsung tanya sama papah."


"Iya tanya tapi telat papah dari tadi juga tanya nya sama mamah."


"Gitu ya pak, ya udah lah pah lupain aja. Sekarang papah mau bicara apa sama mamah?"


"Nggak jadi papah nya udah nggak pengen bicara lagi."


"Bener nih pah udah nggak pengen bicara"


"Iya bener"


"Hem ya udah pah, kalau gitu mamah lanjutin baca majalah lagi ya."


"Hanya itu aja mah"

__ADS_1


"Ya terus harus apa pah?"


"Ya setidaknya mamah bujuk papah kek, biar jadi bicaranya. Ini ko malah nggak sih mah."


"Em... soalnya apa lagi pah, ntar malah lama kalau harus bujuk papah. Jadi lebih baik mamah lanjutin aja baca majalah."


Belum sempat papah Rudi menjawab ucapan mamah Reni terdengar lah suara Rendi yang berkata pada mereka berdua.


"Pah, mah abang boleh gabung kan sama kalian."


"Em... tapi kayanya abang salah datang nya deh. Mamah sama papah malah lagi seperti ini. Jadi abang..."


"Apa sih bang mamah sama papah nggak kenapa - kenapa ko. Sini gabung sama kita. Tapi ko abang lama ke sini nya."


"Em... tadi urusan abang memakan cukup banyak waktu jadi lama ke sini nya mah."


"Hem... gitu ya bang, ya udah karena sekarang abang di sini yuk sekarang abang duduk di sini." kata mamah Reni menjawab ucapan Rendi sambil menepuk kursi di sampingnya untuk Rendi duduk.


"Em... abang di sini aja mah, ntar malah di..."


"Di apa bang?"


"Udah bang jangan pikirin sikap papah mu. Sini abang di samping mamah duduk nya."


"Di sini aja mah"


"Hem...ya udah deh bang kalau abang mau nya di sana."


Bagaimana Rendi bisa duduk di samping mamahnya. Sedangkan ia melihat tatapan papah nya yang sangat tajam agar Rendi tak duduk di samping mamah nya.


Walau tidak mengucapkan sepatah kata tapi Rendi sangat hafal dengan tatapan itu. Yang memintanya untuk tak menyetujui keinginan mamah nya.


Hingga membuat Rendi memutuskan duduk di depan mamah dan papah nya saat ini.


"Oh iya bang, gimana tadi jalan - jalan nya?" kata mamah Reni pada Rendi.


"Ngga gimana - gimana ko mah, gitu - gitu aja. Memang kenapa mah? kenapa mamah tanya seperti itu ke abang?"


"Mamah penasaran aja nggak biasa nya loh bang kamu pergi nggak sampai satu jam udah pulang. mamah sih memiliki filing kalau tadi pas abang jalan - jalan terjadi sesuatu makannya cepet pulang kaya gini."


"Mamah bisa aja. Nggak terjadi apa - apa ko mah. Abang pengen aja pulang lebih cepet. Biar bisa habisin waktu banyak sama mamah di rumah."


"Bener nih bang kaya gitu. Nggak ada yang lagi di tutup - tutupin kan dari mamah."

__ADS_1


"Nggak ada mah, memang itu kenyataannya mah abang ingin punya banyak waktu sama mamah. Selama ini kan abang jarang punya banyak waktu sama mamah apa lagi pekerjaan banyak banget yang harus abang selesain. Waktu sama mamah nya jadi sedikit. Makan nya abang mau mamfaatin waktu sekarang kapan lagi coba mah kalau bukan hari ini."


To be continued


__ADS_2