Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku


__ADS_3

"Maaf, maaf bang. Aku nggak bermaksud ko bilang abang nyebelin. Tapi karena kenyataannya abang kan memang nyebelin." kata Viona menjawab pesan Rendi tanpa sadar pesan ini pun telah terkirim pada Rendi.


Rendi yang telah menunggu cukup lama dengan tak sabar langsung membuka isi pesan tersebut.


Begitu terkejut nya ia saat ia telah membaca isi pesan dari Viona.


"Ya ampun dek, kamu ko malah bikin abang jadi pengen ketawa. Apa lagi kalau kata - kata ini kamu yang bilang langsung ke abang. Apa aku coba telpon lagi kali ya, siapa tau sekarang di terima telponnya." kata Rendi berkata pada dirinya sendiri.


Di tekan lah tombol hubungi oleh Randi saat ini. Tak berapa lama hanphone Viona kemudian berbunyi.


Tut... Tut... Tut...


Viona yang masih memegang handphone dengan terdiam. Sempat terkejut saat hanphone miliknya tiba - tiba berbunyi.


"Astaghfirullah, ini hanphone bikin kaget aja. Siapa lagi ini yang telpon? eh... tunggu, tunggu ko abang nyebelin malah telpon aku lagi sih. Mau apa sih? nggak tau apa kalau aku lagi males terima telpon. Ya udah deh biarin aja jangan aku terima." kata Viona pada dirinya sendiri.


"Lah ko nggak di terima sih telpon dari aku. Aku coba kasih pesan lagi deh sama adek nya." kata Rendi yang melihat hanphone nya sudah tak memanggil nomor Viona lagi.


"Dek, ko telpon abang nggak di terima sih." kata Rendi mengirimkan pesan lagi pada Viona.


Viona pun dengan cepat menjawab pesan tersebut.


"Emangnya mau apa bang? sampai harus telpon aku." inilah jawaban pesan dari Viona untuk Rendi.


"Ada yang ingin abang bicarakan sama adek. Terima ya telpon nya. Abang minta waktu adek sekitar lima sampai sepuluh menit. Boleh kan ya dek, boleh." kata Rendi menjawab pesan Viona.


"Hem... emangnya nggak bisa lewat pesan ya bang. Kan sama aja bang."


"Nggak bisa dek, abang pengennya lewat telpon aja. Bisa kan dek, itu pun kalau adek bisa sih abang nggak akan maksa ko."


"Mau bicara apa sih nih abang. Bikin penasaran aja. Tapi kalau aku setuju ntar dia bicara yang aneh - aneh, terus buat aku emosi lagi gimana? aku kan nggak suka kalau harus terima telpon kaya gitu." kata Viona di dalam hatinya.


"Maaf bang aku nggak bisa." kata Viona menjawab pesan Rendi.


"Baiklah kalau adek nggak bisa, mungkin lain waktu abang bisa telpon sama adek. Kalau ketemu adek lagi besok pagi gimana, bisa nggak dek." kata Rendi menjawab pesan Viona.


"Nggak bisa bang, maaf ya. Udah dulu ya bang aku lagi nggak mau di ganggu. Assalamualaikum." kata Viona mengakhiri pesan dari Rendi secara sepihak.


"Maaf ya dek udah ganggu adek. Ya udah nggak papa dek lain waktu mungkin bisa ketemu lagi. Wa'alaikumussalam." kata Rendi menjawab pesan Viona.


"Ternyata susah juga buat telpon kamu dek, apalagi buat ketemu kamu. Hem... yang sabar ya Rendi. Kamu pasti bisa ko, di lain waktu telpon dan ketemu lagi sama adek." kata Rendi di dalam hatinya.


"Jadi nggak sabar nunggu waktu itu tiba. Sekarang sikap kamu masih biasa aja dek. Tapi abang yakin suatu saat nanti, kamu pasti akan jauh lebih baik dari ini sikap nya ke abang. Apa pun yang terjadi abang nggak akan pernah mundur untuk yang ke dua kali nya. Apa lagi kalau harus kehilangan kamu. Abang nggak akan bisa, jadi tunggu aja dek, abang akan buat kamu jatuh cinta sama abang. Abang bener - bener nggak mau kehilangan kamu. Dan abang akan tunggu kamu sampai kamu mau nerima cinta nya abang." kata Rendi lagi di dalam hatinya.


Detik demi detik kini berganti dengan menit, sehingga menit pun berubah menjadi jam dan jam ini, kini berubah menjadi hari.


Hari demi hari telah berlalu. Sampai tak terasa Hari itu pun berubah menjadi Minggu demi Minggu.


Sehingga Minggu pun kini berubah menjadi bulan. Bulan pun telah berganti menjadi tahun.


Hubungan Rendi dan Viona kini telah berjalan selama dua tahun. Dan hubungan mereka masih sebatas adek dan abang tanpa ada ikatan sama sekali.


Melainkan hubungan diantara mereka akan seperti apa Viona nggak tau sama sekali.


Bahkan saat pertama kali, Viona ketemu sama mamah Reni dan papah Rudi membuat ia menjadi gugup dan ada rasa yang berbeda dengan teman - teman laki - laki nya yang lain saat berkunjung ke rumah tempat tinggal teman laki - laki nya.


Entahlah satu tahun yang lalu saat Viona pertama kali bertemu dengan mamah Reni dan papah Rudi ia merasakan hal tersebut. Tetapi itu tak berlangsung lama karena sikap mamah Reni dan papah Rudi yang begitu baik dan ramah membuat ia bisa menghilangkan rasa gugup nya.


Sampai - sampai ia merasa bahwa saat ini ia telah masuk menjadi bagian dalam keluarga ini.


Sampai hubungan Viona dan mamah Reni seperti ibu dan anak yang saling melengkapi. Kekompakan, kasih sayang, bahkan Viona seperti telah memiliki dua ibu yang entah kenapa membuat ia jadi takut keadaan ini berubah di dalam hidup nya.

__ADS_1


Walau saat ini ia masih belum tau kenapa hal ini bisa terjadi pada dirinya.


Hingga akhirnya, ia pun di buat sadar saat Rendi tiba - tiba menghilang selama satu bulan lebih di dalam hidup nya.


Ada sesuatu hal yang membuat ia kesepian, dan ada perasaan aneh saat ia tak bisa bertemu dengan Rendi.


Dan hal tersebut akhirnya ia sadari saat ia kembali di hubungi oleh Rendi. Bahwa satu Minggu lagi Rendi akan melamar seseorang.


Deg...


Tiba - tiba air mata nya menetes begitu saja saat ia mendapatkan kabar dari Rendi bahwa Rendi akan melamar seseorang.


"Dek maaf ya, abang baru bisa hubungi kamu lagi." kata Rendi mengirim sebuah pesan pada Viona.


"Iya bang nggak papa."


"Dek gimana kabar nya kamu?"


"Alhamdulillah baik, kalau abang gimana kabar nya?"


"Baik juga dek. Oh iya dek, abang juga mau bilang sesuatu ke adek."


"Mau bilang apa bang?"


"Abang Minggu depan mau ngelamar seseorang dek. Doain ya biar semua nya lancar." kata Rendi menjawab pesan Viona.


Kata tersebut lah yang membuat Viona terus - menerus membaca pesan ini. Bahkan air mata terus - menerus terjatuh mendengar kabar tentang Rendi ini.


Dengan masih meneteskan air mata, Viona kemudian menjawab pesan dari Rendi.


"Iya bang aku doain ko acara lamaran abang nya bisa di lancarin." kata Viona dengan berderai air mata semakin banyak.


"Oh iya bang, aku ntar boleh ikut kan saat abang ngelamar seseorang nya. Ngomong - ngomong aku kepo nih bang. Siapa sih seseorang yang udah berhasil buat abang sampai harus ngelamar nya. Hebat banget seseorang nya bang bisa buat abang seberani ini."


"Emangnya kamu kira abang nggak berani apa lamar seseorang. Dan satu lagi kamu nggak boleh ikut saat abang ngelamar seseorang nya."


"Ya kan abang memang orang nya nggak cukup berani buat ajakin serius. Makannya aku bilang kaya gitu ke abang. Lah bang ko aku nggak boleh ikut sih."


"Kamu bisa aja bicaranya. Ya pokok nya kamu nggak boleh ikut dek. Tapi ntar di hari sebelum abang pergi ngelamar seseorang kamu dateng ke rumah dulu ya, bantu - bantu mamah siapin semuanya."


"Ih... giliran bantu - bantu aku malah di ajakin. Giliran minta ikut nggak boleh. Abang jahat banget sih sama aku."


"Ini tuh nggak jahat dek, kamu artinya berbuat baik sama mamah. Jadi jangan ada penolakan lagi. Hari sebelum abang melamar seseorang, abang jemput kamu pagi - pagi ya. Sore nya abang anterin kamu. Soalnya malem nya kan abang lamar seseorang jadi abang akan dateng ke rumah kamu nya pagi - pagi. Oke dek, kamu setuju kan, setuju lah pasti. Pokok nya tunggu aja sampai hari di mana abang ngelamar seseorang abang pasti jemput kamu. Dah dek, assalamualaikum." kata Rendi mengakhiri pesan nya pada Viona.


"Hem... terserah abang aja. Wa'alaikumussalam." kata Viona menjawab pesan dari Rendi.


Setelah itu, tak terasa satu Minggu pun tiba. Ini lah hari di mana Rendi akan melamar seseorang.


Sesuai dengan apa yang ia katakan satu Minggu sebelumnya pada Viona. Kini ia pagi - pagi sudah berada di rumah Viona untuk menjemput Viona.


Setelah menjemput Viona, Viona mulai menyibukkan dirinya membantu mamah Reni untuk persiapan lamaran malam ini.


Di sela - sela saat Viona membantu mamah Reni, ia pun sempat membujuk mamah Reni untuk mengizinkan ia ikut dalam acara lamaran ini.


Namun, lagi dan lagi jawaban nya sama dengan apa yang Rendi ucapkan. Bahwa ia harus diem di rumah nggak perlu ikut lamaran malam ini.


Membuat Viona akhirnya menyerah untuk membujuk lagi. Sampai tak terasa sore hari pun telah tiba. Rendi kembali mengantarkan Viona pulang.


Setelah Viona masuk ke dalam rumah, Rendi pun bergegas meninggalkan rumah Viona.


Malam hari telah tiba. Waktu yang sangat di nanti - nanti kini akhirnya tiba. Rendi dan keluarga besar nya sudah siap untuk pergi ke rumah seseorang yang akan di lamar nya.

__ADS_1


Sementara Viona awalnya sempat merasa aneh karena ia di suruh untuk mengenakan pakaian yang telah di sediakan di kamar nya saat ini.


Walau ia merasa aneh dengan pakaian yang saat ini ia kenakan. Tetapi ia masih tetap mengenakan pakaian tersebut.


Di saat Rendi telah sampai ke tempat seseorang yang akan di lamarnya. Di saat itu juga Viona telah selesai berpakaian dengan sedikit riasan yang membuat ia tambah cantik dan anggun.


Acara yang di nanti - nanti pun kini telah menyampai puncaknya. Dengan hati yang berdebar - debar, Rendi mulai menormalkan hatinya ini dengan beberapa kali menarik napas nya.


Viona yang telah selesai bersiap, kini ia pun mulai melangkahkan kaki menuruni tangga untuk bertemu dengan tamu yang kata mamah Vina akan datang hari ini.


Tap... Tap...


Langkah kaki Viona yang menuruni tangga kini mulai terdengar oleh semua tamu yang ada di rumah nya. Bahkan pandangan semua tamu pun tertuju pada Viona saat ini.


Banyak yang begitu takjub melihat kecantikan Viona. Sampai - sampai ada seseorang yang tak bisa berkedip melihat wajah cantik dan angun yang ia lihat saat ini.


"Masya Allah cantik nya." kata seseorang yang tak berkedip itu tanpa sadar berkata seperti itu untuk Viona.


Berbeda hal dengan yang di rasakan oleh Viona yang saat ini begitu terkejut saat ia melihat seseorang yang sangat ia kenal sedang duduk di antara mamah, papah dan kakak nya saat ini.


Dengan ragu ia tetap melangkahkan kaki duduk diantara mamah papah nya.


Saat telah duduk, ia masih sempat berbicara di dalam hatinya. Apa yang terjadi dengan nya saat ini. Apa ini mimpi, kenapa bisa hal ini terjadi. Kata - kata itu lah yang ada di dalam hatinya saat ini.


Lalu ia pun di buat terkejut saat tiba - tiba ia mendengar suara yang ia kenal berkata pada dirinya.


"Dek, abang datang ke rumah adek malam ini bersama keluarga besar abang. Ingin melamar adek jadi istri abang untuk jadi teman hidup abang dan jadi ibu dari anak - anak abang. Adek mau kan menerima lamaran abang ini." kata seseorang itu yang ternyata adalah Rendi orang nya.


Entah karena Viona sedang terdiam atau ia sedang terkejut dengan ucapan tiba - tiba dari Rendi ini.


Hingga tanpa sadar ia pun menjawab ucapan Rendi dengan lantang nya. Entah karena ia mendengar ucapan Rendi yang hanya kalimat akhirnya nya saja atau karena itu bentuk keterkejutannya atas niat baik Rendi pada dirinya saat ini.


"Iya bang aku mau." kata ini lah yang keluar dari bibir Viona dengan lantang nya.


Sontak jawaban Viona tersebut membuat orang - orang yang hadir mengucapkan rasa syukur atas ucapan Viona yang membuat mereka semua menjadi lega karena sebelumnya banyak orang yang tegang menunggu jawab dari Viona.


"Alhamdulillah" kata ini lah yang serempak terdengar oleh Viona maupun Rendi.


Di dalam hatinya, tak lupa Rendi pun mengucapkan rasa syukurnya atas lamarannya ini yang langsung di terima oleh Viona.


"Alhamdulillah ya Allah, engkau telah melancarkan acara hari ini."


"Makasih dek kamu udah mau nerima lamaran abang. Abang janji akan selalu membahagia kan kamu dan akan menjadi imam yang baik buat kamu. Kamu adalah Cinta Kedua Dan Terakhir ku. Tak akan pernah aku lepaskan kamu dek. Bagaimana nanti ke depan nya kamu jangan pernah tinggalin abang dan abang pun janji tak akan pernah ninggalin kamu. Makasih buat semuanya. Abang uhibbuka fillah dek." kata Rendi di dalam hatinya.


"Apa yang aku jawab untuk ucapan bang Rendi ini. Kenapa aku tiba - tiba menjawab dengan kata seperti itu. Apa arti nya ini, aku, aku salah bicara kan. Ini nggak nyata kan, aku lagi mimpi kan." kata Viona yang saat ini juga sama sedang berbicara di dalamnya hatinya.


Viona kemudian menghentikan ucapan di dalam hatinya saat banyak orang memberikan selamat atas lamaran yang ia terima malam ini.


Sampai - sampai ia pun akhirnya menerima kenyataan bahwa ia saat ini adalah tunangan Rendi.


The End


Terimakasih sudah menyempatkan waktu buat nunggu kelanjutan demi kelanjutan ceritanya. Sampai tak terasa sudah sampai di akhir cerita. Buat kalian yang penasaran ada seoson 2 nya atau tidak. Akan di jawab nanti.


Sambil nunggu, yuk baca cerita author yang lain. Judul ceritanyanya : Cinta Yang Rumit Berujung Akad atau bisa juga baca cerita author yang lainya.


Terimakasih sudah kasih semangat dan dukungannya. Tanpa kalian author bukan siapa - siapa.


Author tunggu di cerita author yang lain ya.


Sampai jumpa...

__ADS_1


__ADS_2