
Tanpa menjawab ucapan Viona, Galang pergi melangkahkan kaki setelah ia mengambil piring - piring dan gelas - gelas yang harus di cuci.
Walau dalam hati ia enggan untuk mencuci tapi mau gimana lagi. Ia telah tertipu dengan sikap adik nya itu.
"Em... kak"
"Apa?" kata Galang dengan jutek.
"Aku pergi dulu ya, selamat mencuci kakak ku. Semangat." kata Viona pada Galang.
Mungkin perkataan itu akan berkesan kalau di ucapkan dengan ikhlas dan tentu orang yang di berikan kata tersebut tidak dalam situasi marah seperti Galang saat ini.
Bahkan suara itu bukannya membuat Galang terkesan tapi malah seperti meledek Galang yang saat ini sedang mencuci.
Dan yang terjadi Galang hampir tak bisa menahan emosi nya yang meletup - letup itu. Jika saja ia tidak memikirkan kembali perkataannya yang ingin membalas perlakuan Viona itu terhadap nya.
"Sabar Galang sabar kamu harus bisa sabar. Biarkan saat ini adek mu itu bahagia. Tapi nggak untuk nanti saat kamu membalas nya. Hehehe..." kata Galang dalam hatinya sambil tersenyum tidak jelas.
Membuat Viona jadi takut dengan tingkah kakaknya itu.
"Ih... kak ko malah ketawa. Aneh... ih... aneh... takut..." kata Viona setelah melihat Galang tersenyum - senyum sendiri.
"Apa? nggak boleh gitu kakak ketawa."
"Bu... bu... bu...kan gi... gi...tu kak, tapi..." kata Viona dengan gugup.
"Tapi apa? udah sana kamu bisa nya ganggu aja, ntar yang ada nggak kelar - kelar lagi ini cuci piring sama gelas nya." kata Galang menjawab ucapan Viona sambil menyuruh Viona untuk pergi.
"Ih... sensian banget sih"
"Masalah buat kamu"
"Nggak sih, cuman gak baik aja sikap nya kaya gitu ke adek. Bukannya seorang kakak harusnya itu kasih contoh yang baik ya sama adek nya. Ko ini malah contoh in kaya gini."
"Ucapan kamu memang bener harus kasih contoh yang baik sama adek nya. Tapi adek nya yang kaya gimana dulu. Kalau adek nya kaya kamu sih mikir - mikir dulu kakak."
"Jahat banget sih kak"
"Kamu juga jahat sama kakak, jadi kita sama - sama impas."
"Jahat apa nya kak aku, perasan aku nggak jahatin kakak ko."
"Masa sih terus tadi yang ambil piring dari tangan kakak dan yang nggak mau cuci piring siapa? apa itu nggak bisa di bilang jahat?"
"Em... kalau itu beda lagi kak"
"Bedain nya kaya gimana?"
"Em... kaya, ya pokoknya susah kak di jelasinnya bisa - bisa panjang, habisin waktu mencapai dua sampai tiga jam. Emang kakak beneran mau aku jelasin."
"Ada - ada aja kamu dek tinggal di jelasin aja bisa memakan waktu kaya gitu. Satu kata buat kamu. Aneh."
__ADS_1
"Kakak yang aneh malah aku yang di bilang aneh."
"Udah sana kamu dek jangan buat kakak pusing."
"Ih... aku nggak buat kakak pusing ko."
"Tapi karena kamu banyak bicara yang akhirnya buat kakak jadi pusing dadakan."
"Ya kalau gitu minum obat kak"
"Iya nanti setelah kakak selesai buat bibir kamu bisa diem tidak bicara lagi."
"Terserah kakak aja lah, padahal aku sebagai adek yang baik menyarankan kakaknya yang sedang pusing minum obat. Eh... malah di kasih respon kaya gini."
"Diem, diem dan diem. Bisakah diem" kata Galang yang sudah emosi terus - menerus mendengar suara Viona.
"Bisa"
"Jadi?"
"Adek harus diem"
"Anak pinter, sekarang diem oke"
"Oke kak"
Galang kemudian menarik nafas begitu panjang setelah melihat Viona yang duduk terdiam di meja makan.
"Ih... nyebelin banget sih, kakak malah bersikap kaya gitu ke aku. Huh... sebel nya." kata Viona di dalam hatinya juga.
Dengan tak mempedulikan lagi setiap hal yang terjadi barusan antara Galang dan Viona. Kini Galang mulai fokus untuk segera menyelesaikan cuci mencucinya.
Sekitar beberapa menit akhirnya Galang telah selesai mencuci piring dan gelas. Kemudian piring dan gelas di simpan satu demi satu ke tempat penyimpanannya.
Tak terasa semua piring dan gelas telah tersusun rapih di tempatnya. Lalu Galang langsung mencuci tangannya dan langsung mengeringkan tangan yang basah itu.
Viona yang melihat kakak nya telah selesai mencuci bergegas ingin bertanya pada kakaknya.
"Kak udah nyuci nya."
"Menurut kamu gimana? selesai belum."
"Udah soalnya kakak udah ngeringin tangan kakak dan piring sama gelasnya juga udah pada bersih."
"Terus kenapa kamu tanya kalau udah tau jawabannya."
"Hehehe... pengen tau aja dari kakak nya langsung."
"Nggak ada manfaatnya dek kamu tanya kalau kamu udah tau jawabannya. Buang - buang waktu tau nggak."
"Masa sih kak kaya gitu."
__ADS_1
"Ya emang itu kenyataannya"
"Jadi adek salah dong"
"Nggak salah tapi kurang tepat"
"Sama aja dong kak kalau gitu mah"
"Beda dong dek ucapan kakak itu lebih di per halus."
"Iya in aja deh biar cepet dan nggak panjang."
"Terserah"
"Lah ko jadi marah gitu kak"
"Siapa bilang marah"
"Keliatan tau dari mukanya"
"Nggak ko muka kakak gini - gini aja nggak ada perubahan sama sekali masih ada hidung di posisi yang sama, masih ada bibir, mata, pipi semuanya masih dalam posisi yang sama dan nggak berubah sama sekali."
"Iya memang nggak berubah masih terletak di tempat yang sama. Namun yang membedakannya ekspresi wajah kakak yang berubah jadi seperti orang yang MARAH" kata Viona menjawab ucapan kakaknya dengan santai tapi di akhir kalimat ia sengaja menekan kata marah dengan sangat jelas dan keras.
"Tapi perasaan kakak nggak marah ko dan wajah kakak juga nggak terlihat sedang marah. Tuh liat bisa kamu liat kan wajah kakak biasa - biasa aja nggak sedang marah sama sekali." kata Galang sambil menunjukan wajahnya pada Viona.
Membuat Viona enggan untuk menjawab karena saking kesel dan nyebelin nya itu sikap kakaknya saat ini.
Tapi di detik berikutnya Viona langsung berucap lagi pada kakak nya.
"Sekarang sih iya nggak marah tapi tadi wajah kakak itu terlihat sangat marah."
"Oh ya, berarti kamu takut dong liat kakak marah."
"Nggak ko nggak sama sekali."
"Terus kenapa kamu mempermasalahkan nya."
"Ya pengen aja"
"Lain kali jangan kaya gitu dek, biar nggak buat orang emosi."
"Emangnya salah ya kak aku kaya gitu tadi." kata Viona bertanya pada Galang.
"Ya iya lah salah" kata Galang menjawab ucapan Viona dengan santai nya.
"Hem... maaf deh kak, adek nggak akan ulangi lagi."
"Bagus lah kalau gitu."
To be continued
__ADS_1