
"Hehehe...Emangnya nggak boleh gitu kak"
"Ya nggak boleh dong dek"
"Kenapa nggak boleh kak?"
"Itu kan nggak baik dek sikapnya"
"Gitu ya kak tapi kalau sekali - sekali kaya gitu nggak papa kan kak."
"Ya ampun dek kakak kan udah bilang itu tuh nggak baik. Mau itu sekali kek, sering kek pokonya itu tuh nggak boleh. Tau nggak sih dek kamu kalau itu semua itu nggak boleh." kata Galang yang mulai geram dengan ucapan Viona itu.
"Hehehe... iya deh kak adek nggak akan ulangi lagi. Maaf tadi adek salah sikapnya ke kakak."
"Bener ya nggak akan kaya gitu lagi sikapnya."
"Iya kak bener"
"Hem... ya udah katanya tadi adek mau pulang. Sana gih langsung pulang."
"Mau di tambahin lagi nggak kak uangnya biar adek bisa cepet pulang."
"Apa? kamu dek ini namanya pemerasan bisa - bisa uang kakak habis sama kamu."
"Pemerasan apa sih kak, adek kan cuman bilang kaya gitu ke kakak. Siapa tau kakak ku ini beneran mau tambah uangnya. Eh... ternyata adek salah karena adek malah di bilang pemerasan." kata Viona pada Galang.
"Ya coba kamu pikir aja dek, kata kamu tadi mintanya lima. Ini ko malah mau minta lagi."
"Ih... kakak ini ya adek itu kan cuman bercanda bilang gitu. Jangan di anggap serius ngapa kak. Ya udah deh kak daripada kakak malah jadi marah - marah nggak jelas kaya gini. Lebih baik adek pulang aja deh."
"Bercanda kamu itu loh dek kaya yang serius makannya kakak bilang kaya gitu. Ya udah kalau mau pulang sekarang. Hati - hati di jalan ya. Inget jangan kemana - kemana dulu harus langsung pulang." kata Galang menjawab ucapan Viona.
__ADS_1
"Iya kak tapi kalau beli sesuatu dulu boleh kali ya kak. Sayang banget kalau di izinin keluar kaya gini nggak adek manfaatin. Bener nggak kak." kata Viona pada Galang sambil menarik turunkan halisnya di ujung kalimat yang ia ucapakan pada Galang.
"Ya ampun dek kamu sampi berpikir kaya gitu. Jangan gitu dek langsung pulang aja. Ntar di cari in mamah kamu nya dek."
"Kalau cuman sebentar nggak akan kak, adek yakin ko mamah nggak akan curiga. Kecuali kakak yang kasih tau ke mamah kalau adek pergi main dulu."
"Kalau kamu main nggak akan mungkin sebentar dek. Yang ada tanpa kakak kasih tau ke mamah juga mamah bakalan tau sendiri."
"Ya udah kak kalau mamah tau adek main nggak papa. Karena kan adek nya juga beneran main. Jadi boleh ya kak adek main dulu sebentar dan kakak jangan bilang ke mamah."
"Hem... iya deh iya tapi beneran sebentar ya. Jangan lebih dari tiga puluh menit."
"Jangan segitu dong kak empat puluh lima menit ya. Tambahin lima belas menit. Kalau setengah jam aku nya kurang puas main nya kak." kata Viona meminta tambahan waktu pada Galang.
"Nggak bisa dek tiga puluh menit aja biar mamah nggak curiga."
"Empat puluh menit gimana kak? tambahin dikit lah kak jangan setengah jam. Adek di hukum sama mamah nya tiga minggu loh kak. Apa kakak beneran tega ke adek hanya kasih waktu tiga puluh menit buat main hari ini." kata Viona dengan memelas untuk meluluhkan Galang agar menyetujui keinginannya itu.
"Tapi janji dulu ke kakak hanya empat puluh menit nggak akan lebih." kata Galang pada Viona sebelum menyetujui keinginan Viona.
"Oke kalau gitu kakak pegang janji kamu dek. Kalau ternyata kamu mainnya lebih dari empat puluh menit uang yang barusan kakak kasih ke kamu harus di berikan setengah nya lagi ke kakak. Gimana kamu setuju nggak?" kata Galang menjawab ucapan Viona sambil bertanya juga pada Viona.
"Ye... ko gitu sih kak. Masa iya uang yang udah kakak kasih ke adek harus adek kembalikan lagi karena adek nggak nepatin janji adek." kata Viona yang memprotes ucapan Galang.
"Ya nggak papa dong dek. Ini tuh biar kamu nya nggak akan berani langgar janji yang kamu berikan ke kakak." kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Hem... iya deh kak adek setuju nanti kalau adek mainnya lebih dari empat puluh menit uang kakak yang di kasih ke adek setengahnya jadi milik kakak lagi." kata Viona pada akhirnya menyetujui keinginan Galang.
"Oke dek, kalau gitu sekarang adek mulai berangkat mainnya. Hati - hati bawa motor nya jangan ngebut." kata Galang pada Viona.
"Iya kak adek pamit ya. Assalamualaikum" kata Viona menjawab ucapan Galang.
__ADS_1
"iya dek, wa'alaikumussalam" kata Galang menjawab ucapan Viona.
Viona lalu mulai menyalakan motornya dan tak lama setelah itu ia pun melajukan motor nya tersebut.
Sementara Galang ia belum masuk lagi ke kantornya sebelum ia pastikan bahwa Viona telah pergi dari kantornya.
Ketika Galang telah melihat adek nya telah melajukan motornya dan sudah agak jauh. Ia pun mulai melangkahkan kaki masuk kembali ke kantornya.
Tap... Tap...
Langkah demi langkah Galang kini telah memasuki kantor nya lagi. Tak lama kemudian ia pun telah sampai di ruangan kerja nya.
"Huh... akhirnya sampai juga" kata Galang yang telah sampai di ruang kerja nya.
"Aku liat dulu sebentar kali ya dokumennya sebelum di beri kan pada bos."
"Hem... sebaiknya memang kaya gitu." kata Galang pada dirinya sendiri.
Tak lama setelah itu Galang mulai membuka dokumen nya satu persatu sampai ke yang terakhirnya dan akhirnya ia merasa lega karena dokumennya sudah siap untuk ia beri kan pada boss buat di tanda tangan.
"Akhirnya selesai juga aku baca nya. Tinggal aku minta tanda tangan dari boss beres deh semua nya."
"Tapi boss udah ada belum ya sekarang atau belum dateng." kata Galang bertanya pada dirinya sendiri.
"Kalau nggak salah sih tadi denger - denger boss belum dateng. Ya udah deh sambil nunggu boss dateng aku kerjain pekerjaan lain aja." kata Galang pada dirinya sendiri.
Kemudian Galang pun mulai sibuk kembali pada layar komputernya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena ia lupa membawa dokumen yang harus di tanda tangani sekarang oleh boss.
Saat Galang sedang sibuk pada pekerjaan nya saat itu juga boss di tempat ia bekerja pun telah datang.
Karena Galang terlalu fokus sampai ia hampir di buat lupa bahwa ia sedang menunggu boss nya datang agar dokumen yang telah ia kerja kan bisa segera di tanda tangani oleh boss.
__ADS_1
Karena saking fokus dan serius nya ia pada pekerjaan nya itu. Ia pun sampai lupa dengan tujuan awalnya.
To be continued