
"Hehehe... maaf kak barusan adek jawab asal aja ucapan kakak itu." kata Viona menjawab ucapan Galang dengan tersenyum.
"Mana ada dek asal, bilang aja kalau kamu baru kepikiran apa susahnya sih dek. Akuin kalau kamu salah. Ini malah kasih alasan." kata Galang bertanya pada Viona.
"Ih... apa sih kak, adek kan udah minta maaf. Itu juga sama ko artinya kalau adek tuh akuin kesalahan adek. Kalau buat jawaban asal aja buat memperjelas aja kesalahan adek tuh karena apa. Gitu emang salah ya?" kata Viona tak terima dengan ucapan Galang itu terhadap dirinya. Hingga Viona pun mulai protes dengan ucapan Galang pada dirinya.
"Hem... salah lah dek, kamu tuh tinggal bilang aja kalau kamu salah dan langsung minta maaf sama kakak. Gitu aja kan beres." kata Galang menjawab ucapan Viona yang menjelaskan keinginannya saat Viona seharusnya melakukan hal yang ia inginkan itu sebagai jawaban untuk pertanyaan nya.
"Iya beres, cuman bisa jamin nggak. Ntar kakak nggak tanya lagi alasan nya aku minta maaf dan akuin kesalahan aku itu ke kakak. Saat aku udah bilang ucapan yang kakak inginkan barusan." kata Viona pada Galang.
Sebelum menjawab Galang kemudian terdiam setelah mendengar perkataan Viona untuk nya barusan.
"Iya juga ya ucapn adek ini. Kenapa aku harus mempersalahkannya ya. Jadi panjang kan jadi nya. Hem... aku harus cari alasan nih biar bisa jawab ucapan adek ini. Ntar kalau salah jawab bisa - bisa adek malah..." kata Galang yang berbicara di dalam hatinya, tetapi harus terhenti saat Viona kembali berkata pada dirinya.
"Kak kenapa diem? bingung ya mau jawab apa? makannya kak kalau protes tuh, dipikirin dulu dua kali sebelum langsung protes jadi bingung sendiri kan."
"Siapa bilang kakak bingung dek? ini tuh kakak lagi mau diem aja bukan bingung."
"Gitu ya kak" kata Viona dengan nada suara yang sengaja di buat percaya dengan ucapan Galang barusan pada dirinya.
"Iya lah dek gitu. Jadi jangan..."
"Jangan apa?"
"Jangan asal potong ucapan orang."
"Lah kapan adek potong ucapan orang?"
"Barusan kamu potong ucapan kakak."
"Nggak ko, siapa yang potong ucapan kakak?"
"Kamu"
"Ih... aku kan udah bilang aku tuh nggak potong ucapan kakak."
"Terus yang barusan apa kalau bukan potong ucapan kakak?"
"Yang mana kak, ko adek nggak tau."
"Ya udah deh lupain aja. Awas kakak mau masuk."
"Masuk kemana kak?"
"Lah ke kamar lah"
"Kamar kakak"
__ADS_1
"Bukan kamar kamu,
"Ko ke kamar aku sih kak"
"Ya suka - suka kakak dong mau kemana?"
"Ya tapi mau apa ke kamar adek?"
"Mau tidur"
"Di kamar kakak kan juga bisa."
"Males"
"Males, ko bisa"
"Bisa karena bosen tidur nya di kamar kakak terus. Jadi sekarang kakak mau tidur di kamar kamu."
"Nggak boleh, kakak nggak boleh tidur di kamar aku. Awas aja kalau berani tidur di kamar aku."
"Emang salah ya kalau kakak mau tidur di kamar kamu?"
"Ya salah lah kak, buat apa ada kamar masing - masih kalau kakak mau tidur di kamar aku."
"Hem... ya udah kakak nggak jadi tidur di kamar kamu. By kakak masuk dulu."
"Masuk maksud nya kak"
Pintu pun di tutup dengan cukup keras dan cepat oleh Galang. Membuat Viona yang tak menyadari sama sekali wajah nya hampir terkena oleh pintu yang tertutup tersebut. Saat ia membalikan tubuhnya ketika Galang tiba - tiba masuk ke dalam sebuah kamar.
"Aduh kaget nya aku, kak... kak... tega bener sih sama adek sendiri. Tutup pintu nggak bilang - bilang hampir kena nih, wajah adek sama pintu yang kakak tutup barusan. Kak... kak..." kata Viona dengan ucapan yang keras pada Galang yang telah masuk ke dalam kamar.
"Nggak di jawab lagi. Mana udah capek teriak - teriak panjang lebar. Tapi malah nggak di jawab. Punya kakak ko gini banget ya sikap nya." kata Viona berbicara pada dirinya sendiri.
"Hahaha... rasain kamu dek. Makannya jangan berani - berani nya buat kakak mu ini emosi. Enakkan tuh wajah kamu hampir kena pintu. Hahaha..." kata Galang mengatai Viona sambil tertawa.
Dor... Dor...
Pintu kamar pun di gedor dengan sangat kencang oleh Viona.
Dor... Dor...
"Kak... kak... buka pintunya. Adek mau masuk. Kak... Kak... Kak... Ih nyebelin banget sih kak. Buka... buka pintu nya. Ntar ku dobrak juga nih pintu." kata Viona makin tambah teriak - teriak. Bahkan tak hanya itu, ia pun juga menendang pintu dengan salah satu kakinya saat telah menyelesaikan ucapannya itu.
Buk...
"Aduh... aduh kaki ku sakit banget nih." kata Viona yang langsung memegang kakinya setelah ia menendang pintu dengan sangat keras.
__ADS_1
"Aw... sakit banget. Aduh kaki ku nggak berdarah kan. Ini semua karena kakak sih. Jadi sakit kan kaki aku." kata Viona setelah memegang kakinya dan tak hanya itu, ia pun menyalahkan Galang karena telah membuat ia harus menendang pintu.
"Kak... tanggung jawab. Kaki aku sakit nih. Coba buka pintunya adek mau masuk."
"Kenapa kamu salahin kakak dek, itu kan kamu yang salah, ko malah salahin kakak sih. Aneh kamu dek, kakak juga nggak suruh kamu kan buat tendang pintunya. Darimana nya kakak harus tanggung jawab." kata Galang yang berteriak untuk menjawab ucapan Viona karena pintu tak di buka sama sekali. Sehingga ia harus berteriak agar Viona bisa mendengar suaranya.
"Ya tetep aja kakak yang salah. Kalau nih pintu"
Buk...
Viona kemudian memukul pintu dengan salah satu tangannya. Lalu ia pun mulai melanjutkan kembali ucapannya.
"Kakak buka, aku nggak akan tuh tendang pintu. Jadi semua ini kesalahan KAKAK" kata Viona dengan berteriak juga bahkan di kata yang terakhir Viona sangat menekan kata tersebut.
"Ya itu kan nggak sepenuhnya salah kakak dek. Kamu nya aja yang kurang bijak malah tendang pintu. Udah jelas - jelas pintu nggak salah dan nggak punya salah, kenapa kamu harus tendang?" kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Ih... makin nyebelin sih kak. Buka sekarang pintu nya adek mau masuk."
"Nggak mau"
"Buka nggak atau adek ntar..."
"Ntar apa?"
"Bilangin ke mamah sama papah kalau kakak masuk kamar adek terus nggak biarin adek masuk ke kamar adek."
"Coba aja bilangin kalau berani."
"Berani lah kenapa adek harus takut?
"Ya udah kalau berani sekarang kamu bilangin gih sama mamah sama papah."
"Oke aku serang bilang nih sama papah sama mamah."
"Ya udah sana bilang, kenapa masih diem aja."
"Ini juga mau pergi" kata Viona kemudian berpura - pura berjalan dengan menghentak - hentakan ke dua kakinya untuk berjalan diam di tempat.
Galang yang mendengar suara langkah kaki Viona. Kemudian berteriak lagi pada Viona.
"Dek kamu yakin mau bilang ke mamah sama papah."
Masih tak ada jawab dari Viona untuk ucapan Galang ini.
"Dek... dek... yakin nih kamu mau bilang ke mamah sama papah. Jawab dek sebelum nanti kamu malu sendiri."
"Iya lah kak yakin, emangnya ntar aku bakalan malu kenapa? kata Viona menjawab suara Galang seolah - olah ia memang sudah berada jauh dari pintu. Padahal yang sebenarnya ia masih tetap berada di dekat pintu tersebut.
__ADS_1
"Ya coba kamu pastiin dulu aja" kata Galang menjawab ucapan Viona.
To be continued