
"Ya udah kak terima nasib aja. Sekarang langsung minta maaf deh biar cepet selesai terus kita bisa pulang."
"Iya deh iya, tapi kakak harus panggil apa orang ini."
"Apa aja kak terserah kakak."
"Em... kalau di liat - liat sih masih di bawah kakak umur nya. Em... kira - kira kamu punya saran nggak panggilnya apa ke orang ini."
Dengan asal Viona meberikan saran pada kakak nya.
"Pak aja lah kak biar gampang dan nggak ribet."
"Tapi keliatan masih muda, masa di panggilnya pak."
"Ya udah kalau gitu panggilnya kakak aja, mas, bang atau bro gitu. Terserah kakak aja mau pilih yang mana tadi yang aku sebutin itu."
"Hem mas aja deh"
"Hem ya udah langsung aja deh kak minta maaf sama orang nya."
"Iya dek nggak sabaran bener sih kamu. Padahal kamu yang harusnya minta maaf."
"Ya ampun kak jangan bahas itu terus ntar kelamaan minta maaf nya."
"Iya bawel"
"Ya udah ayo cepet bicara"
"Ya bentar dong dek kakak tarik nafas dulu."
"Kelamaan kak"
"Nggak akan cuman sebentar ko"
"Ya udah deh terserah kakak"
Setelah di rasa cukup menarik nafas nya. Galang lalu mulai mengeluarkan suara untuk meminta maaf.
"Mas, maaf adek saya bertingkah kurang sopan sama mas."
Setelah cukup lama tak ada reaksi yang di tunjukan akhirnya seseorang yang di panggil mas itu mengeluarkan suaranya untuk menjawab ucapan Galang.
"Maaf anda ini siapa nya dia?" kata seseorang yang di panggil mas oleh Galang sambil menunjuk Viona.
Karena mendengar suara yang begitu berat akhirnya membuat Galang sedikit gemetar saat menjawabnya.
"Em... sa...ya... kakak nya mas" kata Galang menjawab ucapan seseorang itu.
__ADS_1
"Lalu kenapa anda yang meminta maaf bukannya yang salah itu adik anda." kata orang itu lagi pada Galang.
"Anu... em... itu..."
"Anda tidak perlu mewakili orang untuk meminta maaf walau itu adalah adik anda sendiri biarkan dia yang menanggung semuanya." kata seseorang itu memotong ucapan Galang.
"Em... sebenernya saya juga tadi menyarankan adek saya buat meminta maaf sama mas. Tapi... kata adek saya..."
"Cukup tidak perlu di jelaskan lagi saya udah mendengar semua nya. Dan kamu perlihatkan wajahmu lalu meminta maaf lah pada saya dengan cara yang benar dan bertanggung jawab jangan bisanya cuman menjadikan orang lain yang mewakili kamu buat meminta maaf pada saya." kata orang itu menjawab ucapan Galang dan berkata juga pada Viona.
Viona yang mendapatkan perkataan dari orang itu sempat merasa geram dan ingin marah saat itu juga.
Tapi kemudian ia mulai memikirkan kembali bahwa apa yang orang itu bilang memang benar adanya.
Bahwa kita yang berbuat salah memang harus meminta maaf sendiri tanpa harus di wakili itu adalah merupakan sebuah tanggung jawab yang sangat berarti.
Ketika kita melakukan kesalahan maka kita harus meminta maaf dengan cara menyelesaikannya dengan jalan yang baik.
Dengan mantap dan yakin Viona yang awalnya masih berada di belakang tubuh Galang.
Seketika melangkahkan kaki dan menampakkan wajahnya untuk melihat langsung orang yang berkata padanya barusan.
Saat Viona telah berada di samping kakaknya dan menatap wajah seseorang itu.
Viona sempat terpaku untuk beberapa detik melihat seseorang yang ada di hadapannya ini.
Yang sangat begitu tinggi, tampan, gagah, dan tentunya sangat berwibawa.
Karena Viona tak ingin orang itu malah bisa - bisa mengatainya lagi dengan bibir pedasnya itu.
Yang sepertinya menyalahkan Viona karena tak ingin meminta maaf padanya secara langsung.
Sementara seseorang itu juga merasakan hal yang sama dia terpaku melihat wajah Viona yang begitu cantik, manis dan lucu.
Tapi sayang sikap nya itu kurang begitu baik untuk mempertanggung jawabkan kesalahannya.
Sehingga rasa terpaku itu hilang dengan sendirinya.
Dengan sikap dingin seseorang itu lalu mengeluarkan suaranya pada Viona.
"Kenapa diem?"
"Em... maaf bang saya salah, tadi saya memang seharusnya tak bersikap ceroboh. Saya sangat - sangat minta maaf untuk itu." kata Viona dengan sangat tulus.
"Lalu kenapa kamu tidak meminta maaf secara langsung pada saya?"
"Itu... karena saya takut sama abang"
__ADS_1
"Emangnya saya hantu atau moster apa? kamu sampai takut tanpa melihat saya sama sekali."
"Em... maaf saya nggak berpikiran seperti itu."
"Lalu?"
"Em...untuk itu saya minta maaf yang sebesar - besarnya pada abang."
"Hanya itu saja"
"Iya hanya itu"
"Nggak ada yang lain lagi yang kamu bicarakan."
"Ngga ada bang saya hanya ingin meminta maaf, dan abang bisa memaafkan kesalahan saya. Hingga semua ini bisa selesai secepatnya."
"Semudah itu"
"Karena itu lah yang saya inginkan saya minta maaf sama abang lalu abang maafkan kesalahan saya semuanya jadi selesai."
"Tapi kalau saya nggak mau maafin kamu gimana?" Entah kenapa seseorang itu sepertinya menikmati pembahasan ini.
Hingga tak ingin Viona cepat pergi dan permasalahan ini tidak akan selesai - selesai.
"Kalau seperti itu, saya serahin lagi ke abangnya mau maafin saya ataupun nggak. Saya setidaknya sudah meminta maaf sama abang. Mari saya sudah tak ada kepentingan lagi sama abang. Kak yuk kita pulang." kata Viona menjawab ucapan seseorang itu lalu mengajak Galang untuk pulang.
Sementara Galang yang sedari tadi hanya diam melihat dan mendengarkan pembicaraan adeknya ini sangat membuat nya takjub.
Apalagi pertahanan argumen yang tak ada habisnya, selalu ada aja yang adek nya ucapkan dari kata - kata yang keluar oleh seseorang itu untuk adek nya ini.
"Iya dek, em... udah selesai dek pembicaraannya."
"Belum cuman lebih baik kita langsung pulang aja."
"Lah dek nggak akan menjadi masalah di kemudian hari."
"Ntah lah kak adek nggak tau, tapi adek jamin kita nggak akan pernah liat orang ini lagi ko."
"Kalau malah ketemu gimana?"
"Kalau kaya gitu, ya udah mungkin itulah yang seharusnya apa lagi coba kak, ya udah yuk langsung pergi." kata Viona yang langsung membalikan tubuhnya lalu melangkah kan kaki meninggalkan seseorang itu.
Galang yang melihat adek nya pergi begitu aja. Ia pun langsung menyusul adek nya meninggalkan seseorang itu juga.
Dan seseorang yang di tinggalkan oleh mereka berdua bener - bener takjub melihat keberanian gadis aneh itu yang memutuskan pergi tanpa tau bahwa ia sudah memaafkannya atau belum sama sekali.
"Luar biasa gadis aneh yang sangat luar bisa. Aku baru pertama kali liat gadis seperti itu. Sangat - sangat luar biasa." kata seseorang itu di dalam hatinya setelah Galang dan Viona pergi.
__ADS_1
Lalu tak lama setelah itu seseorang itu mendengar namanya di panggil oleh orang yang sedang ia tunggu kedatangannya.
To be continued