
Namun, hal tersebut bukan karena Rendi tak ingin menjawab ucapan Viona. Melainkan ia sedang merasa senang. Apalagi saat tertawa itu begitu lepasnya tanpa beban sama sekali.
Membuat Rendi yang ingin mendapatkan senyuman dari gadis aneh ini. Malah mendapatkan tawa nya.
Ada rasa aneh saat melihat hal tersebut terjadi di depan matanya. Tertawa yang berlangsung tak lama ini. Ingin sekali Rendi melihatnya lagi.
"Bukan gitu dek, abang diem karena abang malah ingin liat kamu tertawa lagi. Please tertawa lagi dek. Ayolah dek beri abang tawa kamu lagi." kata Rendi di dalam hatinya berharap Viona bisa kembali tertawa lagi.
Namun bukannya mendapatkan tawa. Ia malah dapat omelan Viona lagi.
"Ya ampun bang, ini abang mau terus - terusan diem kaya gini. Di tanya tapi nggak di jawab. Di mintai kunci nggak di kasih juga. Abang maunya apa sih?" inilah kata - kata yang Viona keluarkan untuk Rendi.
"Kamu... eh... maksudnya kamu ko bawel banget sih dek." kata Rendi yang spontan menjawab ucapan Viona. Namun, kemudian ia tersadar dengan ucapannya yang spontan tersebut dan mulai mencari hal lain untuk menutupi jawaban spontan itu.
"Aku kira abang beneran jawab itu. Barusan aku mau langsung tanya, ko bisa. Tapi beruntung ternyata abang salah bicara. Eh... tapi bang ko aku di bilang bawel sih. Aku tuh nggak bawel, cuman ingetin abang aja biar nggak terus - terusan diem kaya barusan. Tau nggak sih bang? aku kaya orang yang bicara sendiri atau bicara sama manusia batu. Kan nggak suka aku nya." kata Viona menjawab ucapan Rendi.
"Hem... gitu ya, tapi dek kalau abang beneran pengen kamu gimana?" kata Rendi mencoba bertanya pada Viona.
"Ya aneh bang, masa iya pengen aku. Aku kan bukan barang dan bukan hal yang bisa di pengenin jadi aneh lah bang kalau abang berpikiran kaya gitu." kata Viona menjawab ucapan Rendi.
Sebelum Rendi menjawab ucapan Viona, ia kini mulai melangkahkan kaki nya menuju tempat Viona berada.
Lalu ia pun mulai duduk di samping Viona. Viona yang aneh dengan sikap Rendi yang malah tiba - tiba duduk di samping nya. Sempat merubah ekspresi wajah nya. Menjadi terheran - heran. Bahkan banyak pertanyaan yang ia pikirkan saat ini.
"Eh... ini abang ko malah duduk di samping aku sih, mau apa? mau ngapain? jadi takut nih aku. Liat wajah nya serius gitu. Lagi mikirin apa sih? ko jadi penasaran." kata Viona di dalam pikirannya.
Saat Viona sedang sibuk berkata di dalam pikirannya itu. Ia lalu di buat kaget ketika Rendi kini malah mendekatkan wajahnya ke telinga Viona.
"Lah, lah abang ko malah mendekatkan wajahnya sih. Mau apa?"
__ADS_1
Tak lama setelah itu, Rendi pun mulai mengeluarkan suara nya.
"Diem dek, abang mau bicara sama kamu. Kamu cukup dengerin aja apa yang abang bilang ke kamu. Kamu paham kan dek." kata Rendi di dekat telinga Viona.
Viona yang mendapatkan perkataan Rendi seperti itu. Awalnya bingung mau menjawab apa ucapan Rendi itu.
Namun karena Rendi memanggil dirinya, ia pun malah spontan mengiyakan ucapan Rendi.
"Dek...(Rendi pun terdiam sejenak sebelum meneruskan kembali ucapannya) mau diem kan?" kata Rendi setelah terdiam.
"Iya bang, eh... maksudnya iya buat panggilan abang nya ya, bukan buat permintaan abangnya." kata Viona menjelaskan ucapan spontan nya itu pada Rendi.
"Nggak bisa gitu dek, abang anggap nya itu jawaban kamu buat permintaan abang. Jadi sekarang kamu dengerin baik - baik apa yang abang ucapin ke kamu."
"Lah ko gitu sih bang, ini nggak adil lah. aku kan udah bilang kalau ini bukan jawaban yang abang minta."
"Pokoknya abang nggak mau tau sekarang kamu harus dengerin ucapan abang. Kalau nggak ntar abang..." kata Rendi yang ucapannya di potong oleh Viona.
"Abang... abang..." belum sempat Rendi menyelesaikan ucapannya. Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu.
Tok... Tok...
Awalnya ketukan itu pelan. Namun, lama kelamaan menjadi sebuah gedoran.
Dor... Dor... Dor...
"Siapa sih? ko malah gedor pintu kaya gitu. Nggak tau apa lagi serius bicara kaya gini." kata Rendi yang mulai emosi dengan orang yang menggedor pintu ruangannya itu.
Namun, berbeda hal dengan Viona. Justru ia malah senang ada seseorang yang menggedor pintu ruangan Rendi. Karena besar kemungkinan itu adalah kakak nya Galang yang akan membantu ia keluar dari ruangan ini.
__ADS_1
Ruangan yang sudah sedari tadi ingin ia tinggalkan. Karena sudah bosan berada di ruangan ini apa lagi kalau harus satu ruangan sama abang nyebelin.
Makin tak ingin ia berada di sini terus - menerus. jadi sekarang ia malah senang ada seseorang yang menggedor pintu ruangan Rendi.
"Akhirnya penyelamat ku datang, aku yakin itu pasti kak Galang. Semoga aja beneran itu kak Galang. Aku kan bisa keluar dari ruangan ini secepatnya. Mana udah nggak betah lagi, dari tadi berada di satu ruangan sama abang - abang nyebelin ini." kata Viona di dalam hatinya.
Sementara di luar ruangan Rendi. Galang dan sekretaris Reta yang sebelumnya sempat berbicara mengenai Viona. Hingga akhirnya sekretaris Reta percaya dengan isi pesan Viona. Seketika menjadi panik karena Galang telah memberikan sebuah kesimpulan bahwa Viona adek nya besar kemungkinan memang di sekap oleh Rendi.
Walau awalnya sekretaris Reta tak mempercayai ucapan yang Galann bilang itu. Tapi karena Galang yakin bahwa adek nya itu beneran disekap. Sekretaris Reta pun menjadi percaya juga dengan ucapan Galang.
Bahkan yang ketuk pintu ruangan Rendi adalah sekretaris Reta. Namun, yang menggedor pintu ruangan Rendi itu adalah Galang yang sudah tak sabar ingin di buka kan pintu.
"Gimana nih bu? boss sama adek saya nggak ada yang buka pintu nya. Saya jadi makin khawatir bu." kata Galang memberitahukan kekhawatiran nya pada sekretaris Reta.
"Tenang pak Galang, mungkin bentar lagi pintunya di buka. Sabar ya pak, kalau misalnya nggak di buka juga, bapak bisa langsung rusak aja pintu nya." kata sekretaris Reta mencoba menenangkan Galang dan memberikan solusi untuk Galang.
"Iya bu yang ibu bilang itu benar. Kalau gitu kita tunggu tiga menit. Kalau masih nggak di buka juga. Saya langsung rusak aja pintu nya. Saya takut adek saya malah di apa - apain sama boss. Walau adek saya itu suka berdebat sama saya tapi saya juga takut kehilangan dia bu. Ntar nggak ada lagi yang bisa saya jahilin." kata Galang pada sekretaris Reta.
"Ya ampun pak, dalam keadaan seperti ini. Bapak masih sempat - sempatnya bilang kaya gitu. Emangnya bapak selalu jahilin adek bapak." kata sekretaris Reta menjawab ucapan Galang dan bertanya juga pada Galang.
"Maaf, maaf bu barusan saya berucap asal aja bu. Karena saya terlalu khawatir." kata Galang menjawab ucapan sekretaris Reta.
"Oh jadi karena panik, saya kira beneran bapak berucap kaya gitu buat adek nya."
"Bukan bu, saya mana mungkin jahilin adek saya terus - menerus kalau sekali - sekali sih suka bu tapi kalau tiap hari jarang bu." kata Galang menjelaskan ucapannya pada sekretaris Reta.
"Oh gitu ya pak" kata sekretaris Reta menjawab ucapan Galang.
"Iya bu gitu" kata Galang menjawab ucapan sekretaris Reta.
__ADS_1
To be continued