
"Em... Vio kamu ya kalau udah makan baso telur, lupa deh segalanya. Em... tapi memang enak sih ini baso. Em... yummy" kata Viona pada dirinya sendiri.
"Udah ah... sesuap lagi. Am... enak."
"Sekarang kita ambil yang baso iga, ya ampun ini baso iganya aja sampai kaya gini. Coba aku belah deh."
"Wow... luar biasa, makan iga nya dulu aja deh. Em...enak banget sih ini baso iga. Udah dulu ah... sekarang kita ganti makan baso urat."
"Ya ampun ini urat - urat yang ada di baso nya sampai keluar - keluar kaya gini. Kaya nya enak nih ada kriuk, kriuk kaya gitu nanti pas dimakannya."
"Wajib coba nih tiga suap dulu aja deh. Biar ntar bisa makan yang dua baso lagi."
"Em... em... ini kriuk nya enak banget. Sekarang ambil yang baso isi cabe nih. Yang paling aku tunggu makannya tadi."
Setelah Viona mengambil baso isi cabe dan menyimpan baso tersebut di hadapannya saat ini.
Ia pun mulai ingin membelah baso ini. Namun saat sendok sudah tepat berada di atas baso Viona malah ragu untuk memotongnya.
"Em... jadi nggak ya makan baso cabe ini. Kalau jadi nanti isi di dalam nya banyak nggak ya cabe nya. Terus, terus ntar baso nya pas di makan pedes nggak ya."
"Ya ampun Vio kamu ya masa iya baso isi cabe tapi rasanya malah semanis kolak, kan nggak mungkin. Ya pasti pedes lah. Vio, Vio kamu ya ko jadi ngaco sih bicaranya."
"Iya juga ya, ko aku malah bicara kaya gitu ya tadi. Padahal aku kan tau kalau baso isi cabe ya pasti pedes. Ckckck..."
"Ya udah deh langsung di potong aja. Ah... tapi gimana kalau cabe nya malah banyak. Siapa yang akan habisin cabe nya coba. Aku kan nggak terlalu suka cabe."
"Gimana nanti aja deh? kalau enak, baso pedes pun pasti habis sama kamu mah Vio. Ya iya lah gimana rasa dulu kalau enak dan buat kenyang pasti habis walau resiko nya sakit perut karena terlalu makan pedes. Hehehe..." kata Viona pada dirinya sendiri.
"Udah ah... Vio kapan belah baso nya. Kalau terus - terusan di bahas banyak dan pedes nggak nya ini baso isi cabe. Lebih baik langsung di potong aja."
Perlahan demi perlahan sendok pun kini mulai memotong baso. Saat sendok sudah berada di tengah - tengah baso yang di potong.
__ADS_1
Seketika kuah baso mulai menjadi merah karena di keluarkan dari baso yang di belah Viona saat ini.
"Em... baru setengah aja udah kaya gini kuah nya. Apalagi di potong semua. Ah... jadi... ragu nih mau lanjutinya juga. Tapi kalau nggak di lanjutin ntar malah penasaran lagi."
"Gimana dong ya, lanjut jangan lanjut jangan. Lanjut aja deh. Gimana nanti aja kalau udah di belah mau di makan atau pun nggak gimana nanti aja."
"Ayo Vio jangan goyah, tetep lanjutin potong nya. Oke, oke kita lanjut ya potong baso nya."
Baso itu pun kini telah terbelah sempurna dan saat itu juga kuah baso makin menjadi merah. Sampai - sampai Viona yang melihat pun tak berkedip sampai beberapa detik lama nya.
Mungkin karena ia sedikit terkejut melihat kuah baso yang dari bening menjadi merah seperti itu.
Bahkan ia sampai menepuk dua kali pipi kanan nya untuk menyadarkan ia dari rasa terkejut nya itu.
"Vio sadar Vio liat kuah nya merah kaya gitu. Yakin mau lanjut di makan ini baso nya." kata Viona setelah ia menepuk pipi kanannya itu.
"Hem... tapi kalau nggak di coba aku malah kepikiran nanti. Sayang banget kuah nya udah nantang aku kaya gini. Masa iya nggak aku coba sama sekali. Vio nggak mungkin menyerah sebelum berperang. Hehehe... kata - kata mu itu Vio. Tak ada dua nya."
Satu potong kecil baso cabe. Kini sudah berada di sendok dan siap untuk di makan.
Baru sampai bibir aja sendok tersebut sudah mulai membuat bibir Viona merasa kepedesan. Mungkin karena tadi sendok ini sudah berada di dalam kuah baso yang merah.
Hingga rasa pedas itu ada ketika sendok sudah berada di dekat bibir Viona.
"Huh... huh.... hah... pedes. Langsung makan aja deh. Argh.. luar biasa ini baso super super pedes banget sih. Huh... huh... hah... hah... air, mana air ya ampun mba - mba nya kemana sih ko belum bawa minum pesenan aku. Mana kepedesan lagi aku. Huh... hah... huh... hah..." kata Viona setelah ia memakan baso isi cabe.
Lalu Viona mulai ingin memanggil mba - mba nya. Tetapi sebelum itu terjadi mba - mba nya kini telah berada di hadapan nya.
"Maaf kak minum nya baru saya ke sini in. Silahkan di nikmati kak." kata mba - mba itu pada Viona.
"Em... iya mba makasih" kata Viona sambil langsung mengambil satu gelas minuman yang telah di simpan oleh mba - mba nya.
__ADS_1
Dan tanpa menunggu lama gelas minuman itu langsung di minum Viona yang seketika langsung habis tak tersisa.
Bahkan tak hanya itu setelah minum satu gelas Viona pun mengambil gelas yang ke dua dan mulai meminum lagi.
Hingga membuat mba - mba yang masih berdiri di hadapan Viona sampai kaget melihat tingkah Viona ini.
"Ya ampun ini kakak - kakak kehausan apa? sampai kaya gini minum juga." kata mba - mba nya di dalam hati membicarakan Viona.
"Hehehe... mba kaget ya liat saya minum kaya gini." kata Viona setelah meminum gelas kedua nya.
"Aduh kakak nya ko bisa tau gitu ya aku sempat kaget liat kakak nya barusan." kata mba - mba nya lagi di dalam hati nya.
Lalu ia pun mulai mengeluarkan suara nya untuk menjawab ucapan Viona.
"Em... i... ya kak" kata mba - mba nya dengan ragu.
"Nggak papa mba nggak usah ragu gitu. Saya lagi kepedesan tadi jadi minumnya sampai kaya gini."
"Oh gitu ya kak, sepertinya udah makan baso isi cabe ya kak."
"Em... iya mba"
"Gimana kak rasa pedes nya?" kata mba - mba nya ingin tahu pendapat Viona mengenai baso isi cabe.
"Wah... mba jangan di tanya lagi. Ini pedes nya luar... biasa pedes mba, nggak ada duanya. Ini mah kaya cabe di baso in bukan baso di pedesin." kata Viona menjawab ucapan mba - mba nya.
"Em... tapi enak kan kak baso nya" kata mba - mba nya lagi pada Viona.
"Enak ko mba tapi pedes aja." kata Viona menjawab ucapan mba - mba nya.
To be continued
__ADS_1