
Setelah perkataan mereka selesai. Terdengarlah suara kunci yang di putar sebanyak dua kali.
Tak lama setelah suara itu tak terdengar lagi. Perlahan demi perlahan pintu pun terbuka. Saat pintu terbuka dengan sempurna.
Saat itu juga baik Galang atau pun sekretaris Reta, mereka berdua merasa lega karena pintu kini telah terbuka.
Bisa di lihat dari ekspresi wajah mereka saat ini. Namun, ekspresi wajah mereka yang terlihat lega. Berubah menjadi khawatir saat ternyata hanya Rendi yang berada tepat di hadapan mereka.
Bahkan pikiran - pikiran yang tak baik pun di rasakan oleh Galang dan sekretaris Reta saat ini.
"Aduh Adek nya kemana? ko cuman boss aja yang terlihat. Apa beneran di sekap ya, terus aku harus gimana kalau adek beneran di sekap?" kata Galang di dalam hatinya.
"Ya ampun ini ternyata beneran. Boss sekap adek nya pak Galang sampai nggak terlihat sama sekali adek nya pak Galang. Sekarang ada di mana ya, apa udah di apa - apain sama boss." kata sekretaris Reta di dalam hatinya.
Rendi yang melihat mereka berdua malah terdiam. Menjadi tak sabar ingin tahu mengapa mereka berdua harus gedor - gedor pintu ruangannya.
"Kalian berdua mau apa? kenapa gedor pintu ruangan saya?" kata Rendi langsung pada intinya bertanya pada mereka berdua.
"Ki...ta berdua, em... maksudnya saya pribadi ingin bertemu adek saya boss. Adek saya masih ada di dalam kan boss." kata Galang menjawab ucapan Rendi.
"Kalau kamu Reta mau apa gedor pintu ruangan saya. Apa ada hal yang harus saya kerja kan atau ada pertemuan yang harus segera saya datangi." kata Rendi sebelum menjawab ucapan Galang bertanya pada sekretaris Reta.
"Ng...gak ada boss, saya hanya..." kata sekretaris Reta yang terdiam karena ia sedang berpikir kata apa yang harus ia berikan sebagai jawaban pada Rendi.
Lima detik sekretaris Reta terdiam. Akhirnya ia pun mulai meneruskan kembali ucapannya itu.
Di saat bibir nya sudah ingin mengeluarkan suara di saat itu, Viona berada tepat di samping Rendi.
Membuat kata yang ingin keluar pun menjadi tertahan karena akan menjadi masalah jika sekretaris Reta melanjutkan ucapannya itu.
__ADS_1
Rendi yang melihat sekretaris Reta malah sepertinya tak ingin melanjutkan ucapannya itu. Kembali bertanya pada sekretaris Reta.
"Reta kenapa kamu malah diam? cepat kasih tau saya."
"Maaf boss yang boss kata kan nggak ada sama sekali hubungannya dengan saya yang menggedor pintu, melainkan karena saya..." kata sekretaris Reta yang di potong ucapannya oleh Galang.
"Boss saya mau bicara sama adek saya, bolehkan saya temui adek saya dulu sebentar." kata Rendi yang sengaja memotong ucapan sekretaris Reta sambil mengalihkan pembicaraan agar sekretaris Reta yang kebingungan menjawab ucapan Rendi menjadi tak harus ia jawab. Karena Galang kini mencoba mengalihkan pembicaraan.
Dalam hati Galang terlihat harap - harap cemas, apa ucapannya barusan bisa mengalihkan Rendi atau nggak sama sekali.
"Aduh gimana nih? boss bakal jawab aku nggak ya atau malah masih ingin mendengarkan ucapan sekretaris Reta." kata Galang di dalam hatinya.
"Em... adek kamu lagi..." kata Rendi pada Galang yang ucapannya di potong oleh Viona.
"Kak Galang akhirnya kakak datang juga. Kak adek mau pulang, tapi nggak boleh sama abang ini." kata Viona yang memotong ucapan Rendi yang belum sempat di selesaikan itu. Sambil ia pun menunjuk Rendi agar Galang mengetahui siapa orang yang di maksudnya itu.
"Adek juga nggak tau kak, adek cuman di suruh duduk dan kuncinya di pegang sama abang ini." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Saya masih ingin bicara sama adek kamu. Jadi saya sengaja kunci pintunya biar adek kamu nggak pergi saat saya belum selesai bicara dengannya." kata Rendi menjawab ucapan Galang.
"Hem... jadi karena itu boss, kalau boleh tau sekarang boss udah selesai atau belum bicara sama adek saya nya. Adek saya barusan udah bilang dan pastinya boss mendengar ucapan adek saya itu. Apa sekarang adek saya boleh pulang boss?" kata Galang menjawab ucapan Rendi.
"Saya masih ingin bicara sama dia, sepertinya belum bisa saya perbolehkan adek kamu pulang." kata Rendi menjawab ucapan Galang.
"Gitu ya pak, tapi pak adek saya udah pengen pulang. Bisa bicaranya di lanjutin nanti aja pak."
"Nggak bisa saya maunya sekarang, nggak mau nanti."
"Aduh gimana lagi nih? boss ko susah banget di bujuk nya. Mana nggak enak lagi liat wajah adek yang cemberut gitu. Aku harus cari cara lain nih biar bisa izinin adek pulang." kata Rendi yang saat ini berbicara di dalam hatinya.
__ADS_1
Viona yang saat ini sedang cemberut karena Rendi masih tetap menahan dirinya untuk tetap berada di ruangan nya ini pun menjadi geram dengan sikap Rendi tersebut.
"Ih... abang ini ya, ku kunci juga ntar di dalam sini biar nggak bisa kemana - kemana juga." kata Viona di dalam hatinya.
Namun, setelah ia berkata seperti itu. Ia seperti mendapatkan ide untuk bisa pergi dari ruang ini dengan cara yang barusan ia bilang.
"Eh... bentar, bentar barusan aku bilang kunci aja nih abang di ruangan ini. Bener juga ya, kaya nya cara ini bisa berhasil agar aku bisa keluar dari ruangan ini. Tapi bentar kuncinya ada di mana sekarang." kata Viona lagi masih di dalam hatinya sambil ia pun mulai mencari keberadaan kunci yang di maksudnya itu.
Setelah ia mencari dan sekarang ia menemukan letak kunci itu masih menggantung di pintu. Ia pun mulai mendekati dirinya pada kunci tersebut sambil melihat - lihat agar apa yang ia lakukan saat ini tak di sadari oleh Rendi.
"Em... aman, abang ini masih fokus bicara sama kak Galang. Ayo kak Galang alihkan abang ini agar tak melihat aku yang sedang mencoba mengambil kunci untuk bisa mengunci abang - abang ini." kata Viona di dalam hatinya.
Ya setelah Galang berbicara di dalam hatinya dan akhirnya ia menemukan cara untuk meminta Viona agar segera di izin kan pulang. Saat ini mereka berdua pun sedang fokus berbicara.
Dan hal tersebut membuat keberuntungan untuk Viona. Tanpa menunggu lama setelah ia berada di dekat kunci, ia pun mulai mengambil kunci itu.
"Akhirnya aku dapat juga kuncinya. Sekarang tinggal nunggu situasi yang tepat untuk mengunci abang ini." kata Viona yang merasa lega karena kunci nya sedang ia pegang saat ini.
Viona yang melihat Galang dan Rendi yang masih bicara. Kemudian ia pun mulai merencanakan hal yang akan ia lakukan, di mana saat Rendi lengah ia akan mulai melakukan hal itu.
Lima menit berlalu Galang dan Rendi masih tetap mempertahankan keinginan mereka masing - masing. Membuat Viona yang mendengar perdebatan mereka berdua pun menjadi tak sabar lagi untuk melakukan aksinya itu.
Viona pun mulai ikut dalam pembicaraan mereka berdua. Di saat Rendi sedang mempertimbangkan apa yang barusan Galang katakan untuk dirinya. Di saat itu lah Viona tak membiarkan kesempatan itu hilang. Ia lalu mulai mendorong tubuh Rendi untuk berada di dalam ruangan nya cukup jauh dari pintu.
Setelah Rendi masuk ke dalam ruangannya karena dorongan dari Viona itu. Membuat ia kaget seketika karena di dorong secar tiba - tiba seperti ini. Jika ia tak lagi dalam keadaan fokus mempertimbangkan, dorongan yang Viona lakukan tak akan membuat ia masuk kedalam ruangan nya sampai tiga langkah saat ia berjalan.
Dan hal ini pun membuat Viona langsung menutup pintu dan buru - buru mengunci pintu tersebut.
To be continued
__ADS_1