
"Beneran kan kak, nggak akan ulangi lagi." kata Viona yang mencoba memastikan kembali ucapan Galang itu.
"Iya adek ku yang bawel." kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Hahaha... sejak kapan adek jadi bawel kak." kata Viona yang malah tertawa saat Galang menjawab ucapannya itu.
"Sejak dulu, saat ini dan pasti akan seterusnya." kata Galang menjawab ucapan Viona dengan asal.
"Ya ampun kak" kata Viona sambil menutup bibirnya dengan salah satu tangannya. Lalu Viona pun melanjutkan ucapannya "Semuanya di borong, tapi ko adek baru sadar ya kak kalau adek itu ternyata bawel. Hahaha... ada - ada aja sih kak, masa yang belum pasti aja kakak sampai sebutin kalau adek akan seterusnya bawel, bisa aja kan nanti adek itu berubah..." kata Viona yang belum sempat meneruskan ucapannya. Namun harus dipotong oleh Galang
"Berubah jadi Ultraman."
"Apa Ultraman? masa berubah jadi itu sih kak. Bukanlah bukan itu."
"Terus apaan kalau bukan itu?"
Viona lalu terdiam sejenak sebelum ia menjawab ucapan Galang. Setelah itu Viona pun mulai mengeluarkan suara nya untuk menjawab ucapan Galang.
"Em... berubah..." kata Viona malah terdiam lagi.
Semua ini pun akhirnya membuat Galang mengeluarkan lagi suaranya.
"Kelamaan kamu dek, bisa - bisa keburu beruban nih, nunggu kamu kasih taunya."
"Ya nggak sampai gitu juga kali kak. Emangnya ini film - film gitu yang baru beberapa menit udah beberapa tahun kemudian. Ini tuh real kak real dunia nyata. Jadi nggak mungkin kaya gitu." kata Viona yang protes dengan ucapan Galang tersebut.
"Ya siapa tau aja dunia nyatanya pengen cepet - cepet. Jadi ya nggak salah kakak bilang kaya gitu."
"Terserah kakak aja. Karena bicara sama kakak itu memang nggak pernah nyambung. Jadi percuma juga aku jelasin panjang kali lebar kali tinggi juga. Nggak akan nyambung - nyambung." kata Viona yang mulai geram dengan capan Galang.
"Hahaha... kalau gitu sambungin aja dek pake kabel. Tuh banyak kabel. Kamu sabungin gih biar nyambung bicaranya ntar." kata Galang menjawab ucapan Viona sambil menunjuk kabel yang ada di dapur pada Viona dan menyuruh Viona untuk menyabungkan kabel tersebut dengan ucapannya saat ini.
Aneh itu lah yang saat ini di rasakan Viona pada kakak nya Galang.
"Ma....." kata Viona yang belum sempat menyelesaikan ucapannya. Namun, suara Galang malah terdengar lagi.
"Bentar dek, kakak belum selesai bicara. Jadi kamu harus dengerin dulu kakak sampai selesai bicara baru deh kamu jawab ucapan kakak." inilah kata yang membuat Viona tak jadi mengeluarkan suara nya untuk Galang.
"Hem... kakak nyebelin. Ya udah lanjutin sampai puas bicaranya."
"Oke kalau gitu dek, dengerin nih kakak mau bicara."
__ADS_1
"Iya, iya aku dengerin."
"Awas kalau ntar malah tanya balik. Kakak nggak akan ulangi lagi ucapan kakak."
"Iya aku nggak akan tanya balik. Terus mau sampai kapan kakak tanya kaya gini terus ke adek."
"Hem... udah sampai sini. Sekarang kamu dengerin kakak mau lanjutin ucapan kakak."
"Kata nya udah sampai sini, tapi ko malah mau di lanjutin ucapannya. Terus yang mananya yang bener dong kalau kaya gitu."
"Ih... dek kamu ya. Pokok nya kamu dengerin aja kakak bicara sekarang ke kamu dek. Jangan banyak bicara lagi."
"Ya udah iya, adek dengerin."
"Nah, ini baru bener."
"Jadi gini dek, em... kakak mau bicara apa ya ke kamu dek. Ko jadi lupa kaya gini. Dek tadi kakak mau bicara apa ke kamu." kaya Galang bertanya pada Viona.
Tetapi Viona saat ini. Ia malah terdiam tak ada suara apa pun yang di keluarkan Viona untuk ucapan Galang tersebut.
Membuat Galang akhirnya bertanya kembali pada Viona.
"Dek kamu denger nggak sih, kakak bicara apa ke kamu barusan."
Hingga membuat Galang mulai mengeraskan suaranya pada Viona.
"Dek... kakak bicara sama kamu loh ini. Kenapa nggak di jawab? jawab dek jawab kakak bicara ke kamu itu jawab dong jangan hanya diem aja." kata Galang yang terdengar sangat jelas di telinga Viona.
Sampai - sampai Viona mulai geram dengan tingkah Galang ini. Ia pun kemudian mulai mengata - ngatai Galang di dalam hatinya sebelum ia menjawab ucapan Galang.
"Ini kakak gimana sih? tadi suruh aku diem dengerin ucapannya itu. Lah sekarang malah marah - marah kaya gini ke aku. Karena aku nggak jawab ucapannya. Terus yang salah di sini siapa dong. Ntar kalau aku jawab kakak malah... em... ya udah deh lupain. Aku jawab aja ucapan kakak ini, daripada terus - terusan teriak - teriak seperti barusan yang ada telinga aku ntar sakit karena denger suara kakak ini." kata Viona di dalam hatinya.
"Apaan sih kak, nggak usah teriak - teriak kaya gitu adek juga denger." kata Viona yang akhirnya menjawab ucapan Galang.
"Di jawab juga ucapan kakak ini dek, kamu dari mana aja baru jawab ucapan kakak."
"Ya ampun kak, kakak nggak liat atau pura - pura nggak liat sih. Dari tadi aku tuh di sini kak di depan kakak. Nggak kemana - kemana."
"Ini kayanya kakak harus dibawa..." kata Viona yang melanjutkan ucapannya. Namun, dipotong oleh Galang.
"Dibawa kemana? udahlah sekarang kakak tanya ke kamu. Kenapa baru dijawab ucapan kakak."
__ADS_1
"Adek dulu tanyanya ke kakak. Kenapa kakak tanya ke adek. Padahal kan sebelumnya kakak kasih tau adek untuk diem dengerin ucapan kakak. Terus salah nggak adek ngak jawab ucapan kakak barusan karena dari awal kakak udah bilang ke adek untuk diem dengerin semua ucapan kakak. Baru setelah kakak bilang adek boleh jawab ucapan kakak. Setelah kakak bilang ke adek boleh baru adem langsung jawab ucapan kakak nya." kata Viona lalu menarik napasnya karena ia terlanjur emosi dengan apa yang Galang kata kan pada dirinya itu.
"Panjang bener dek, jadi capek sendiri kan." kata Galang yang malah berkata seperti itu pada Viona. Bukannya merasa bersalah atau apa, ini malah berkata seperti itu.
"Ya ampun kak, hanya gitu aja responnya."
"Ya iya lah dek terus apa lagi." kata Galang menjawab ucapan Viona dengan santainya
"Argh... kakak ya. Ih... ku cakar juga nanti kakak."
"Lah ko malah mau di cakar sih dek. Kaya binatang unggas aja kamu dek. Coba liat kuku kamu dek." kata Galang sambil meminta Viona untuk menunjuk kan kuku tangannya.
"Apaan sih kak, kenapa adek harus kasih liat kuku adek ke kakak. Apa hubungannya?"
"Ya kan kamu barusan bilang ke kakak, katanya kamu mau cakar kakak. Nah otomatis kan kamu pasti gunain kuku tangan kamu buat cakar kakak. Makannya kakak minta kamu buat kasih liat kuku kamu itu ke kakak." kata Galang menjelaskan ucapannya pada Viona.
"Jadi kakak anggapnya ucapan aku itu beneran. Kalau aku akan cakar kakak."
"Iya iyalah dek, kakak anggap nya beneran. Memangnya kamu bilang kaya gitu ke kakak cuman bohongan apa?"
"Argh... terserah kakak lah. Aku pusing bicara sama kakak terus - menerus. Ya udah sana kak, kakak makan aja. Kayanya efek dari kakak belum makan deh, makannya bicaranya jadi makin nyebelin dan buat emosi orang." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Masa sih dek, efek belum makan jadi kaya gitu." kata Galang yang tak percaya dengan ucapan Viona tersebut pada dirinya. Hingga Galang pun menanyakan kembali pada Viona.
"Ya bisa lah kak, karena daya konsentrasinya kakak terkuras habis karena kurangnya makanan yang masuk ke dalam perut kakak. Hingga mengakibatkan kakak menjadi..." kata Viona yang lagi - lagi di potong ucapannya oleh Galang.
"Ah... dek udah jangan di terusin, makin pusing kakak bicara sama kamu. Jadi udah jangan di terusin lagi." kata Galang yang malah berkata seperti ini pada Viona.
"Lah ko jadi adek yang buat pusing sih. Ini tuh kakak yang buat pusing adek."
Belum sempat Galang menjawab ucapan Viona. Lalu terdengar lah suara seseorang oleh mereka berdua.
"Ya ampun kalian berdua ya. Bicara sampai buat seisi rumah denger atau bisa juga sampai satu komplek denger ucapan kalian ini. Nggak capek apa dari tadi terus - terusan berdebat." inilah kata yang mereka dengar yang ternyata berasal dari mamah Vina yang baru saja keluar dari kamar.
"Em... adek tuh mah, makannya kakak terus - terusan bicara." kata Galang yang malah menyalahkan Viona.
Hingga membuat Viona tak terima dengan apa yang Galang ucapkan pada mamah nya ini.
"Apaan sih kak, ko jadi adek yang di salahin. Ini tuh yang salah kita berdua bukan cuman aku aja. Mamah aja bilangnya kalian bukan adek aja. Jadi yang salah otomatis kita berdua kan kak. Jadi jangan malah nyalahin adek." kata Viona yang protes karena tak terima di salah kan oleh Galang.
"Hem... iya juga ya dek. Kenapa kakak malah nyalahin kamu. Em... mah maafin kakak sama adek ya." kata Galang menjawab ucapan Viona. Lalu ia pun tak lupa meminta maaf juga pada mamah Vina.
__ADS_1
Sementara mamah Vina malah terdiam saat Galang meminta maaf pada dirinya itu.
To be continued