Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku

Cinta Ke Dua Dan Terakhir Ku
Dalam Khayalan


__ADS_3

Beberapa menit kemudian mereka semua telah selesai dengan makannya ini.


Papah Gilang dan mamah Vina pun telah pergi meninggalkan meja makan.


Sementara Viona dan Galang mereka berdua masih berada di meja makan.


Galang yang saat ini sedang mengambil piring dan gelas yang telah di gunakan untuk ia cuci.


Sedangkan Viona ia sedang membereskan makanan - makanan yang masih ada untuk ia simpan di lemari penyimpanan makanan.


"Kak hadiah uang taruhan nya mau kapan di kasihin ke adek. Adek udah nggak sabar nih. Pengen pegang hadiahnya." Kata Viona pada Galang.


Galang yang masih sibuk mengambil piring dan gelas tak menghiraukan perkataan Viona sama sekali.


"Ih... kak jawab dong ucapan adek barusan. Jangan memberi harapan palsu." Kata Viona berkata asal pada Galang.


"Kamu dek harapan palsu apa coba. Gaya bener ucapannya sampai ada harapan palsu segala." Kata Galang akhirnya menjawab ucapan Viona.


"Em... sengaja kak, biar kakak jawab ucapan adek dan terbukti kakak jawab juga kan ucapan adek ini." Kata Viona menjawab ucapan Galang.


"Ya ampun ternyata kakak kena tipu nih ceritanya."


"Mungkin bisa di bilang kaya gitu."


"Hem... tega bener sih kamu dek tipu kakak. Mana uang kakak harus di kasihin ke kamu lagi. Eh... sekarang di tambah kakak kena tipu kamu."


"Bagus dong kak, lagi pula yang tipu dan ambil uang nya kakak juga adek. Jadi nggak akan rugi - rugi amat lah kak."


"Ya tetep aja dek rugi. Mana mintanya lumayan banyak lagi. Kan jadi..."


"Udah lah kak terima aja. Eh... iya kak gimana udah nemu caranya belum buat adek bisa keluar rumah besok."


Sambil menggelengkan kepalanya Galang pun menjawab ucapan Viona.


"Belum dek"


"Terus gimana dong kak, jadi besok adek nggak akan keluar rumah."


"Nanti deh dek kakak pikirin dulu. Siapa tau ntar kakak nemuin caranya."


"Oke kalau gitu kak"


Berbeda hal dengan kediaman Rendi. Rendi yang baru saja menyelesaikan makan malam nya bersama mamah Reni dan papah Gilang.


Kini ia pun sedang berada di kamarnya.


Terlihatlah Rendi yang sedang duduk di tempat tidur nya. Sambil terdiam dan entah apa yang sedang Rendi pikirkan saat ini.


Sampai di mana Rendi pun mulai mengeluarkan suaranya pada dirinya sendiri.


"Ko aku jadi kepikiran kaya gini ya. Jadi nggak sabar pengen cepet ketemu gadis aneh."


"Nanti kira - kira tuh gadis aneh akan bicara apa ya. Apa aku berdebat lagi ya sama dia."


"Tapi ko aku malah pengen dia tuh selalu ada gitu. Walau harus berdebat juga sama dia. Rasanya malah pengen ketawa terus. Kalau lagi inget dia. Perasaan apa ya ini. Em... ada rasa pengen, kalau gadis aneh itu selalu ada di setiap hari yang ku lewati. Marah nya aja aku kangen apa lagi liat senyumnya. Tapi kapan ya aku bisa liat senyumnya."


"Ya ampun Rendi kamu ini ya. Nggak boleh berpikiran kaya gitu. Nggak baik ntar yang ada malah berkhayal lagi. Liat dia lagi tidur di samping kamu."

__ADS_1


"Eh... ya ampun nih bibir baru aja di bilangin jangan berpikiran kaya gitu. Eh... malah bilang gitu."


"Hem... lebih baik aku langsung tidur aja deh. Biar nggak berpikiran kaya gitu lagi. Bisa - bisa makin berkhayal lebih nanti."


Di pejamkan lah kedua mata Rendi saat ini. Namun, sudah berulang kali mencoba untuk tidur tetap ia tak bisa tidur sama sekali.


"Ayo lah Rendi tidur jangan kaya gini."


Rendi pun mencoba lagi memejamkan matanya. Sudah enam kali ia mencoba memejamkan mata.


Namun, hasilnya ia masih tetap tak bisa memejamkan matanya.


"Argh... kenapa nggak tidur - tidur sih." Kata Rendi yang mengacak - acak rambutnya.


"Ayo tidur jangan kaya gini lah. Besok kan mau ketemu. Ntar pas ketemu mata nya kaya mata panda gimana. Nggak banget dong ntar jadi nya."


"Harus terlihat baik dong. Biar bisa berdebat lama sama gadis aneh itu."


"Tapi kira - kira tuh kakaknya gadis aneh bisa penuhi keinginan aku nggak ya. Biar tuh gadis aneh bisa ketemu aku besok.


"Em... semoga aja bisa. Aku kan udah kangen sama gadis aneh itu."


"Jadi pengen ku bawa ke rumah deh. Ya ampun Rendi ko bicaranya kaya gini sih. Emangnya dia mau gitu di bawa ke rumah kamu. Bertemu sama kamu aja kemungkinan karena terpaksa. Apalagi harus ikut kamu ke rumah."


"Ckckck... bicara mu ini Rendi. Ada - ada aja."


"Eh... tapi bisa aku pertimbangin sih buat ku bawa ke rumah. Tapi kapan ya aku bawa tuh gadis aneh ke rumah."


"Mungkin dalam khayalan mu Rendi."


"Em... itu mah udah pasti bisa. Aku kan mau nya beneran."


"Hem... sedang di rencanakan."


Kata Rendi yang bertanya pada dirinya sendiri. Lalu ia pun sendiri yang menjawab nya.


Aneh mungkin tapi itu lah yang dilakukan Rendi saat ini. Berbicara pada dirinya sendiri.


Setelah di rasa cukup berbicaranya, Rendi pun mulai memejamkan lagi matanya.


Dan akhirnya Rendi bisa tertidur dengan sendirinya.


Sementara di kediaman Viona. Galang dan Viona yang telah menyelesaikan apa yang mereka lakukan.


Kini mereka pun telah berada di kamar Viona.


"Dek" kata Galang memanggil Viona.


"Apa kak" kata Viona menjawab ucapan Galang.


"Uang yang tadi pagi kakak kasih ke kamu. Kamu beliin apa?"


"Oh... uang itu ya kak, nih coba kakak liat aja sendiri ada di handphone aku kak." Kata Viona yang memberikan hanphone nya pada Galang.


Galang lalu mulai mengambil handphone Viona.


"Di mananya dek?"

__ADS_1


"Liat di galeri foto nya kak."


Di liat lah galeri foto yang ada di hanphone Viona oleh Galang.


"Apa an ini dek? Ko malah foto kamu yang ada di taman."


"Oh ya ampun mati aku."


"Em... itu kak yang sebelum foto di tamannya. Coba di liat lagi deh."


Kemudian Galang mulai melihat apa yang dikatakan oleh Viona barusan pada dirinya.


"Ya ampun dek, kamu nggak salah makan baso sebanyak ini."


"Hehehe... nggak kak"


"Terus baso nya pada abis atau nggak."


"Em... nggak semuanya abis sih kak."


"Kamu ini dek, makannya jangan berlebihan kaya gini makan basonya."


"Hem... iya deh kak aku salah."


"Kalau udah kaya gini baru deh kamu bilang salah."


"Terus ini kamu main di taman sampai jam berapa."


Viona lalu memberitahukan Galang waktu yang ia habiskan saat di taman.


"Terus setelah di taman, kamu kemana lagi." Kata Galang yang telah mengetahui waktu yang di habiskan Viona saat di taman.


"Em... aku nggak kemana - kemana lagi kak. Tapi malah kejebak macet. Ah... sebelnya kak. Apalagi tadi ketemu bapak - bapak yang... ah... pokoknya buat aku kesel."


"Hem... gitu ya dek"


"Iya kak"


"Ya udah mana uang yang kakak berikan ke adek tadi pagi. Setengah nya lagi harus adek kembalikan kan."


"Ih... jahat bener sih kak, nggak bisa gitu dong kak. Uang yang udah di berikan itu nggak boleh di ambil lagi."


"Ya kan perjanjian kita kalau kamu pulang main nya lama. Uangnya harus di kembali in ke kakak kan."


"Iya sih kak, tapi mamah kan kan nggak marahin adek. Jadi uangnya masih punya adek dong."


"Ko bisa mamah nggak marah."


"Bisa dong aku gitu loh."


"Ya pokoknya tetep aja dek uang nya harus di kembali in ke kakak."


"Jahat bener sih kak, ya udah deh tapi uang hadiah taruhannya dulu kasihin ke adek. Ntar uang yang setengah nya adek kasih ke kakak."


"Ko gitu sih dek"


"Ya memang harus kaya gitu kak." Kata Viona menjawab ucapan Galang.

__ADS_1


To be continued


__ADS_2