
"Ya makannya kak cepetan kakak kasih tau ke adek nya." kata Viona pada Galang.
"Ya udah deh iya kakak langsung kasih tau kamu." kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Katanya mau langsung tapi ko malah diem kak" kata Viona lagi pada Galang yang saat ini memang sedang terdiam.
"Bentar dong dek ini kakak lagi coba mempersingkat nya untuk kasih tau kamu nya."
"Oh gitu"
"Ya udah kak langsung ke intinya aja"
"Iya deh"
"Jadi gini dek singkat cerita kakak udah dapet nih, udah dapet tandatangan dari orang itu."
"Lah terus kenapa kakak takut kehilangan pekerjaan kalau dokumen yang kakak mintai tandatangan aja di tandatangani." kata Viona yang merasa heran dengan cerita yang Galang kasih tahu pada nya ini.
"Iya dek awalnya sih kakak juga berpikiran kaya gitu. Sama kaya kamu tapi pas udah di tandatangani orang itu minta kakak untuk datang lagi ke ruangan nya di jam istirahat." kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Oh gitu, terus apa yang terjadi setelah itu?"
"Ya kakak kembali lagi ke ruangan kakak"
"Hem... maksud adek setelah kakak temui abang itu lagi di jam istirahat." kata Viona menjelaskan apa yang ia maksud pada Galang.
"Oh kirain, maaf dek kakak kira kamu mau dengerin nya secara detail gitu cerita kakak."
"Nggak perlu detail kak adek kan tadi bilang cepetan, itu berarti adek mau nya kakak langsung cerita ke permintaan abang - abang itu."
"Iya juga ya dek, kenapa kakak harus repot - repot cerita detail gini ke kamu."
"Tapi nggak papa lah dek udah terlanjur kakak ceritanya secara detail aja."
"Hem... iya deh kak" kata Viona menjawab ucapan Galang dengan pasrah.
__ADS_1
"Tapi ko kamu keliatan nggak suka gitu dek." kata Galang yang melihat wajah Viona yang tak suka kalau dirinya cerita secara detail.
"Nggak ko kak ini adek cuman lagi kepikiran aja pengen lanjut baca novel. Tapi ntah kapan di lanjutin nya lagi." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Jangan bohong dek" kata Galang pada Viona.
"Nggak kak adek nggak bohong memang bener ko adek lagi kepikiran tentang itu." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Ya udah kak ayo di lanjutin lagi ceritanya."
"Nggak usah dek kakak udah nggak mau lanjutin lagi ceritanya dan kakak mau langsung ke kamar kakak aja." kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Lah ko gitu sih kak, ayo lah kak cerita ya, ya cerita." kata Viona mencoba membujuk Galang.
Galang yang sebenernya hanya berpura - pura bersikap seperti itu. Jadi ingin tertawa melihat Viona yang berusaha membujuk nya.
Apa lagi suara yang di keluarkan nya itu membuat Galang ingin sekali langsung meledak kan tawa nya.
Namun ia tak jadi melakukan hal tersebut karena besar kemungkinan adek nya ini akan marah pada nya.
Tadi aja ia harus mengeluarkan uang untuk adek nya agar tak bersikap seperti tadi pada dirinya.
Lah kalau sekarang ntahlah Galang nggak tahu akan kehilangan apa lagi. Jadi ia hanya bisa tertawa di dalam hati nya.
"Aduh udah nggak tahan aku ingin tertawa denger adek ini. Tertawa nggak masalah kali ya. Iya deh aku tertawa aja mana bisa denger adek kalau aku tertawa di dalam hati. Hahaha... hahahaha... haha... lucu banget sih dek suara bujukan kamu itu. Keliatan banget di buat - buat nya. Tapi tak apa buat hiburan yang akhirnya buat kakak ketawa kaya gini." kata Galang di dalam hatinya.
Tak hanya itu Galang bahkan menampilkan ekspresi wajah yang bahagia membuat Viona menjadi heran saat melihat ekspresi kakak nya ini.
"Lah ini kakak ko aku bujuk malah keliatan bahagi gini. Apa jangan - jangan..." kata Viona di dalam hatinya
"Oh ya ampun ini kayanya kakak lagi ketawain aku deh. Awas aja kak kalau apa yang aku tebak ini bener akan aku balas tingkah kakak ini." kata Viona lagi di dalam hatinya.
Lalu setelah itu Viona mulai mengeluarkan suara nya lagi pada Galang.
"Kak ko malah terlihat bahagia gitu. Lagi mikirin apa?" kata Viona pada Galang.
__ADS_1
"Kepo kamu dek suka - suka kakak dong mau terlihat bahagia kek nggak kek itu hak kakak."
"Hem iya memang hak kakak tapi ko kakak kaya yang lagi tertawain adek."
"Siapa yang bilang gitu? kakak nggak lagi tertawain kamu ko."
"Nggak ada yang bilang sih kak, tapi yang adek liat dan rasain sih kakak memang lagi tertawain adek."
"Nggak dek nggak, kakak nggak tertawain kamu ko." kata Galang langsung menjawab ucapan Viona.
"Lah ini adek ko bisa bener gitu ya ucapannya. Kalau aku memang lagi tertawain dia tadi." kata Galang di dalam hatinya.
"Hem... gitu ya kak padahal jujur juga nggak papa kak." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Lah emangnya kakak keliatan bohong gitu dek. Kakak beneran dek nggak lagi bohong sama kamu." kata Galang bertanya pada Viona sambil ia pun meyakinkan ucapannya barusan pada Viona.
"Keliatan kak tapi nggak masalah sih buat adek. Karena buat adek kakak barusan jawab ucapan adek aja udah keliatan banget bohongnya."
"Iya deh iya kakak ngaku kalau kakak memang ngetawain adek. Maaf dek." kata Galang akhirnya mengakui kebohongannya itu pada Viona dan tak lupa Galang pun meminta maaf pada Viona.
"Jujur kan akhirnya, kenapa nggak dari tadi aja kak jawab kaya gini. Kenapa coba harus bohong dulu adek kan nggak suka di bohongin." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Soalnya kakak takut kamu ngambek dek jadi terpaksa bohong deh." kata Galang menjawab ucapan Viona.
"Terus kalau aku di bohongin kaya gini emangnya aku nggak bakalan ngambek gitu sama kakak." kata Viona menjawab ucapan Galang dengan sebuah pertanyaan.
"Ya nggak akan dek kalau kamu nggak tau kakak bohongin kamu."
"Lah terus sekarang aku udah tau atau nggak aku emang nya nggak bakalan ngambek." kata Viona mulai sedikit emosi pada Galang.
"Maaf dek kakak salah, ya udah lupain deh kita langsung bahas cerita kakak lagi aja." kata Galang menjawab ucapan Viona sambil ia pun mengalihkan ucapannya itu.
"Gini nih kakak suka ngehindar gitu kalau aku bahas hal kaya gini suka nggak di tuntasin. Ya udah deh kak lebih di persingkat cerita nya. Aku udah males kalau denger ceritanya terlalu panjang." kata Viona menjawab ucapan Galang.
"Bukan kaya gitu dek tapi karena kakak..." kata Galang yang menghentikan ucapannya.
__ADS_1
To be continued