Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Alex


__ADS_3

Malam ini seperti biasa Nesya dan Alex makan malam bersama, semenjak mereka tinggal berdua di villa, Nesya jadi lebih rajin memasak untuk dirinya dan Alex dengan di bantu oleh bibi. Nesya yang kini juga sudah menjadi calon istri untuk Alex maka dirinya juga harus menjadi yang terbaik.


Setelah makan malam selesai kami berdua duduk di ruang keluarga sambil mengobrol ringan.”Lex, apa boleh aku bekerja?” tanyaku pada Alex, namun Alex mengeryitkan dahinya kenapa aku tetap meminta padanya apa boleh aku bekerja.


“Nes, bukannya sebelumnya kita sudah membahas ini dan aku tetap tak akan mengizinkan kamu bekerja. Jika kamu bosan kamu bisa ajak bibi untuk pergi ke mall di sana kamu bisa belanja sepuas kamu, aku tetap dengan pendirian aku Nes kamu tetap nggak akan aku izinkan kerja,” ucapku, karena aku khawatir ke dua orang tuaku menyuruh orang-orangnya untuk menyelidiki siapa wanita yang menjadi tunanganku sekaligus calon istriku. Kedua orang tuaku memang sudah menjodohkan aku dengan wanita pilihan mereka akan tetapi aku selalu menolaknya karena aku masih berharap pada Nesya mau menerimaku menjadi suaminya walau ada penghalang diantara kami.


“Kenapa Lex? Bahkan aku saat ini sudah baik-baik saja dan tak kenapa-napa,” ucap Nesya sambil memanyunkan bibirnya dan itu terlihat sangat lucu sekaligus mengemaskan.

__ADS_1


“Dengar ya, sayang. Aku tak mau kamu kecapean dan yang aku mau kamu cukup di rumah saja dan tak perlu harus capek-capek bekerja lagi,” ucapku, lalu aku memajukan wajahku dan mencium bibirnya dengan lembut, entah kenapa aku menyukainya. Walaupun sampai sekarang aku masih berjuang untuk membuat Nesya jatuh cinta lagi kepadaku karena yang aku tahu Nesya juga masih memikirkan Rehan, dan yang aku dengar sekarang Rehan juga tak baik-baik saja karena lelaki sekarang banyak marah walau hanya hal sepele namun tempramennya tinggi dan aku yakin itu terjadi karena kepergian Nesya dari hidupnya.


“Baiklah, kalau begitu besok aku mau pergi jalan-jalan saja. Tapi aku tak mau di ikuti dengan salah satu bodyguardmu,” ucap Nesya sebal namun itu terlihat sangat lucu.


“Ok, kalau begitu kamu harus di temani bibi perginya,” ucapku, dan Nesya hanya mengangguk mengerti. Lalu aku mengajak Nesya ke kamar untuk segera istirahat, aku memeluk Nesya dari belakang karena Nesya membelakangiku. Aku memeluknya sangat erat dan berharap bahwa dia tak akan pernah meninggalkan aku.


Rehan memejamkan matanya karena rasa kantuk yang menglayutinya seakan sudah tak bisa di tahan lagi, memang Rehan juga suka meninggalkan waktu tidurnya untuk pekerjaan yang utama dan itu tidaklah baik untuk kesehatan. Rehan pun langsung meminta sekretarisnya untuk membuatkan kopi untuknya agar ia tak tertidur karena pekerjaannya yang masih menumpuk.

__ADS_1


“Mungkin jika kamu masih berada di sini aku tak akan seperti Nes,” ucapku sambil menatap bingkai foto Nesya, mungkin aku sudah di butakan oleh cinta itu karena kamu Nes. Aku bahkan melupakan segalanya dan yang ada di pikiranku hanya kamu tak ada yang lain, mungkin dulu aku lelaki bodoh yang lebih percaya dengan mantan istrinya namun kenyataannya tidak seperti itu justru kau meninggalkan aku. Rehan tersenyum kecut jika mengingat kebodohannya akan waktu itu.


Rehan menghela nafas panjangnya dan tak lama setelah itu sekretarisnya membawakan kopi untuknya, sebelum kepergian sekretarisnya Rehan menyuruhnya untuk duduk terlebih dahulu.


“Tolong besok kamu suruh anak buah kamu untuk mencari keberadaan Nesya lagi dan aku juga tak mau tahu Nesya harus di temukan,” ucapku.


“Baik tuan, apa tuan apa ada yang lainny,” ucap sekretarisku namun aku hanya menggelengkan kepalaku dan menyuruhnya segera keluar dan tak lupa juga menyuruhnya pulang lebih dahulu karena aku merasa kasihan dia dengan setia menemaniku lembuh selama seminggu ini. Aku menyesap kopi yang di buat oleh sekretarisku dan itu membuatku sedikit hilang dari rasa kantukku.

__ADS_1


Aku mulai mengkerjakan satu persatu pekerjaanku hingga berkas-berkas di atas mejaku itu berkurang dan lama kelamaan selesai tanpa sadar aku tertidur di kantor kembali. Namun itu hanya sebentar karena sekretarisku membangunkan aku menyuruhku untuk pulang dan istirahat saja di rumah namun aku menolaknya dan lebih memilih untuk melanjutkan tidurku di kantor hingga siang hari. Ini akan lebi baik aku lakukan dari pada mama akan mengomel karena aku tak bekerja dan sebagainya hingga membuatku semakin malas saja untuk pulang kerumah.


__ADS_2