
Setelah makan malam Rehan segera pergi dari rumah Kalina tanpa ada rengekan yang di tunjukkan oleh Kalina. Ya, untuk kali ini memang Kalina membiarkan Rehan untuk bersenang-senang lebih dahulu dengan wanita ****** dan kedepannya akan menyingkirkan wanita itu sejauh mungkin dari kehidupan Rehan.
“Lihat saja siapa yang akan menjadi pemenangnya,” ucapnya dengan pelan sambil melihat kepergian Rehan. Kalina tersenyum devil lalu kembali masuk kedalam rumahnya sambil mencari nomor hp seseorang dan segera menelponnya.
“Hallo terus awasain, dan nanti jika wanita itu keluar dari rumah maka segera kabari aku,” ucap Kalina lalu mematikan teleponnya sepihak. Lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Hp Kalina kembali berbunyi dan yang menelponnya adalah bos tempatnya bekerja dimana Kalina sudah tak pernah masuk bekerja kembali dan Kalina juga berminat untuk mengundurkan diri saja.
“Selama malam pak Robert, ada apa bapak menelpon saya malam begini,” ucap Kalina.
“Nggak ada apa-apa hanya saja saya ingin menanyakan keadaanmu apakah sudah baikan?” tanya Robert dari sebrang sambungan telepon.
“Sudah pak, dan maaf pak Robert mungkin besok akan masuk sambil menyerahkan surat pengunduran diri saya,” ucap Kalina.
“Na, kamu yakin akan mengundurkan diri?” tanya Robert kembali.
__ADS_1
“Ya, pak. Saya nggak enak karena juga saya juga sudah lama nggak masuk ke kantor, lebih baik saya mengundurkan diri saja,” ucap Kalina.
“Baiklah, kalau begitu aku tak bisa menghentikan kamu,” ucap Robert lalu mematikan teleponnya sepihak.
Sedangkan Kalina menatap hpnya dimana panggilan dari bosnya itu sudah terputus,”duh! Gimana ini pasti pak Robert marah,” ucapnya lalu menaruh hpnya di nakas samping tempat tidur. Setelah itu Kalina membaringkan badannya di ranjang lalu menutup matanya.
Di rumah Rehan, Nesya belum juga tertidur dan lebih suka menatap hujan turun di luar sambil duduk di sofa. Entah kenapa memang Nesya tak merasakan kantuk, dirinya lebih menikmati melihat air hujan dan lama-lama angin malam terasa dingin dan masuk ke dalam tubuhya.
Nesya yang menggunakan celana pendek serta hoodie panjang saja,”kenapa tiba-tiba menjadi dingin,” ucapnya pelan sambil mengusap-usap lengannya dengan telapak tangannya. Nesya membaringkan tubuhnya di sofa sambil meringkuk dan memainkan hpnya untuk mengisi kejenuhannya.
“Kenapa kalau dingin tak memakai baju yanv hangat ini kenapa cuma pakai celana pendek,” ucap Rehan sambil kedua tangannya di taruh di depan dada.
Nesya yang kaget sampai menjaguhkan hpnya ke lantai sedangkan dirinya langsung bangun dan menatap tajam Rehan.
“Kamu?” sambil menunjuk ke wajah Rehan dengan menggunakan jari telunjuknya, tanpa ada rasa takut Nesya menatap Rehan.
__ADS_1
“Bisa nggak, nggak bikin kaget orang. Gimana kalai aku punya penyakit jantung dan tiba-tiba kamu kagetin seperti barusan langsung bikin aku meninggal,” ucap Nesya, sedangkan Rehan hanya menatap mimik wajah Nesya yang terlihat lucu jika sedang marah-marah.
Rehan tersenyum,”maaf, lagu pula kenapa kamu ada di sini nggak ada di kamar saja,” ucap Rehan.
“Memangnya nggak boleh kalau aku ada di sini, aku juga sangay bosan di kamar. Lagi pula kamu juga nggak bolehin aku keluar dari rumah ini,” ucap Nesya dengan ketus.
Rehan menghela nafasnya lalu berjalan ke sofa dan duduk, Rehan kembali menatap Nesya.
“Maaf sekali lagi tapi aku harus lakuin ini sayang biar kamu nggak kabur dariku lagi dan aku mohon tolong mengertilah. Sayang bersabarlah sebentar dan aku akan selesaikan semuanya, lalu kita bisa hidup dengan bahagia,” ucap Rehan.
“Hahahahhahh,” suara tawa Nesya memenuhi ruang tamu rumah Rehan.
“Apa kamu bilang? Aku harus bersabar dan menyuruh untuk menunggumu yang jelas-jelas kamu sudah menikah lagi dengan mantan istri kamu itu. Apa aku masih berguna?” tanya Nesya dengan ketus dan tatapan Nesya juga ingun seperti membunuh Rehan.
“Dengar ya, aku lebih baik pergi selamanya dari kamu dari pada aku harus menderita dan harus di cerita oleh orang banyak jika aku ini hanya akan dianggap pelakor. Lebih baik kamu bebaskan aku biar aku pergi sejauh mungkin dan bisa meninggalkanmu,” ucap Nesya lalu langsung pergi dari hadapan Rehan, Nesya menaiki anak tangga untuk menuju ke lantai dua dimana kamarnya berada.
__ADS_1
Sedangkan Rehan hanya bisa melihat kepergian Nesya dan meminjat kepalanya yang terasa berdenyut. Entahlah Rehan hanya bisa melakukan ini untuk sementara agar dirinya bisa melepaskan Kalina dengan secepat mungkin.