
Hari ke dua dimana Nesya masih mengurung dirinya di dalam kamar, Nesya berada di balkon sambil termenung dan masih memikirkan dimana Rehan dan Kalina terlihat sangat mesra, ketika mengingat itu semua rasanya sakit sekali.
Nesya kembali meneteskan air matanya,” kenapa? Kenapa Re, kamu tega berbohong kepadaku,” ucapnya dengan lirih sambil memukul dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Nesya terperosot duduk di lantai balkon sambil menangis,” ini sangat menyakitka,” ucapnya dengan air mata yang berderai di pipi Nesya.
“Nesya,” teriak Alex sambil berlari kecil menghampiri Nesya yang sedang duduk menangis.
Alex merengkuh tubuh mungil Nesya ke dalam pelukkannya,” kamu kenapa menagis? Kamu jangan pikirkan laki-laki brengsek itu lagi,” ucap Alex menenangkan Nesya sambil mengelus punggungnya dengan lembut.
“A-aku ng-nggak bi-bisa melupakannya b-begitu saja Lex,” ucap Nesya terbata-bata.
“Sudah jangan menangis lagi, sekarang kamu mandi ayo kita jalan keluar mencari udara segar sekalian cari makan, kamu kan dari kemarin belum makan,” ucap Alex.
Nesya masih diam, dirinya masih menagis dalam pelukkan Alex, sedangkan Alex masih berusaha menenagkan Nesya.
“Sudahlah Nes, jangan menangis lagi, air matamu sangat berharga,” ucap Alex sambil melepaskan pelukkannya, Alex mengusap wajah Nesya dari air mata yang mengalir deras.
__ADS_1
Alex membawa Nesya agar berdiri, Alex membawa Nesya masuk ke dalam kamar, Alex menyuruh Nesya duduk di tepi ranjang. Alex mengambil minum yang ada di nakas samping tempat tidur, Alex menyuruh Nesya untuk minum agar lebih baikkan.
“Apa kamu tak lapar hemm?” tanya Alex.
Namun Nesya hanya mengelengkan kepalanya,” aku nggak lapar Lex, lebih baik kamu tinggalin aku sendiri,” ucap Nesya.
“Ayolah Nes, jangan menyiksa dirimu sendiri untuk kali ini aku mohon kamu jangan begini,” ucap Alex memohon.
Alex berjongkok di hadapan Nesya dan memohon agar Nesya tak menyiksa dirinya sendiri seperti ini,” untuk kali ini tolong turuti permintaanku, ayo kita jalan keluar sekalian cari makan karena dari kemarin kamu belum makan,” ucap Alex.
“Tapi apa? Ayo kamu sekarang mandi dan berdandan yang cantik aku mau ajak kamu keluar jalan-jalan untuk mencari udara segar sekalian kita makan,” ucap Alex yang masih berusaha membujuk Nesya.
Hingga akhirnya Nesya menuruti apa yang Alex mau, Nesya berjalan ke kamar mandi dan Alex keluar dari kamar Nesya dan menunggunya di sofa.
Nesya mandi di bawah guyuran shower dengan menggunakan air dingin, begitu menyegarkan membuat dirinya lebih fress dan membuat kepalanya menjadi dingin.
“Apa aku akan seperti ini? Apa aku akan tetap mengharapkan Rehan?” tanya Nesya dalam hati.
__ADS_1
Nesya menyibakkan rambutanya ke belakang karena menutupi wajahnya, karena Nesya membasuh rambutnya yang panjang itu.
Nesya keluar kamar dengan menggunakan bathrobe, lalu berjalan ke arah koper yang dimana berisi semua pakaian dan peralatan Nesya.
Nesya membingkar semuanya, dan mencari baju yang cocok untuk pergi keluar hari ini. Setelah berpakaian rapi Nesya duduk di bangku dan bercermin lalu memakaikan bedak tipis-tipis di wajahnya tak lupa memakai blush on dan juga lipstik kesukaannya agar bibirnya tak terlihat pucat.
Dengan memakai atasan sabrina dan bawahan jeans panjang dipadukan dengan memakai tas jinjing dan sepatu warna lilac, setelah di rasa semuanya pas Nesya keluar.
“Lex ayo,” ucap Nesya dari belakang, dan Alex pun menoleh kebelakang dan tersenyum kepada Nesya.
“Begitu dong, kalau begini kan cantik,” puji Alex lalu berdiri dari tempat duduknya dan segera mengandeng Nesya.
“Kamu jangan sedih-sedih lagi ya, aku nggak mau kamu sedih dan mengeluarkan air mata kamu untuk laki-laki brengsek itu,” ucap Alex.
“Sudahlah Lex kamu jangan bahas itu, aku lagi nggak ingin bahas dia,” ucap Nesya.
Mereka berjalan bersamaan menuju lift, saat lift terbuka mereka masuk dan memencet tombol ke turun ke lantai dasar.
__ADS_1