
Sudah berapa hari ini Rehan tak pernah menghubungi Nesya, bahkan ke apartemen saja tidak, Nesya mengirimkan pesan tak adabalasan dari Rehan dan bahkan Nesya menelponnya saja tak ada jawaban dari Rehan dan bahkan saat Nesya menghubungi nomor Rehan sudah tak aktif kembali.
Nesya sudah menghubungi mama Rehan namun juga sama tak ada jawaban dan itu sangat membuat takut Nesya, semenjak Rehan terakhir kali berkunjung ke apartemen memang gelagat Rehan sudah aneh dan saat Nesya mendesak Rehan untuk bicara dirinya enggan bicara.
“Rehan kamu dimana? Kenapa pesan dan telepon aku tak kamu jawab sama sekali,” batin Nesya.
Nesya yang sedang duduk di sofa sendirian sambil menunggu kabar dari Rehan, Nesya merasa gelisah karena Rehan tiba – tiba menjauh darinya, padahal Nesya tak berbuat salah sama Rehan.
“...”
Di lain tempat Rehan, Maria, Kalina dan Robert sedang berada di ruang tamu mereka sedang berbicara dengan serius tentang kehamilan Kalina dan kelanjutan hubungan Kalina dan Rehan, Rehan yang hari ini akan memberi keputusan kepada Kalina dan kedua orang tuanya, sedangkan Kalina sendiri tak akan memberi tahu ke dua orang tuanya.
__ADS_1
Takut jika sang papa dan mamanya tak merestui hubungan mereka kembali Kalina lebih memilih diam dari pada memberi tahu mereka.
“Jadi gimana Re keputusan kamu?” Robert yang menatap Rehan yang sedari tadi hanya diam saja.
“Ya, Re gimana dan mama harap ini keputusan yang memuaskan.” Maria menyahuti kembali setelah sang suami berbicara.
“Baiklah, ini keputusan yang Rehan ambil dan bagaimanapun keputusan Rehan kalian akan tetap terima dan jangan pernah menyalahkan keputusan Rehan.” Rehan yang berbicara seperti itu membuat Kalina agak gelisah entah kenapa perasaannya kali ini berbeda, jika kali ini Rehan mungkin saja mencari keputusan jalan pintas.
“Kalina aku akan menikahimu, tapi kita hanya akan nikah siri dan hak asuh anak nanti aku yang akan mengurusnya jadi kamu nanti bisa sesukamu tanpa kamu harus capek – capek mengurus anak dan jangan pernah meminta lebih dari ku karena ini hanya pernikahan siri saja, dan kamu juga jangan pernah ikut campur urusan pribadi aku bahkan atau yang lainnya, jadi kita masing – masing, apa kamu paham?” Rehan melirik ke arah Kalina yang hanya terbengong dengan keputusan Rehan saat ini.
“Iya ma, ini sudah keputusan yang paling baik, gimana Kalina aku tanya sekali lagi padamu?” Rehan masih menunggu Kalina berbicara.
__ADS_1
“Re, apa kita sebaiknya nggak nikah secara sah saja?” Kalina masih tak mau jika Rehan mantan suaminya itu menikahi dirinya kembali secara siri.
“Apa kamu nggak dengar Kalina aku tadi bicara apa? Atau kamu nggak mau nikah siri? Itu lebih bagus kalau kamu nggak mau maka jangan pernah sesekali meminta pertanggung jawaban untuk menikahi kamu padaku Kalina, aku masih baik hati dengan mau menikahi kamu dan membesar anak yang ada di kandunganmu,” tegas Rehan kepada Kalina kembali yang kini Kalina menundukan wajahnya tak mau melihat Rehan.
“Re, kamu pikirin sekali lagi ya.” Maria masih meberikan Kalina kesempatan Rehan untuk berpikir lagi yang terbaik.
“Maaf ma, ini sudah keputusan terbaik untuk aku dan Kalina, karena Rehan juga nggak bisa ninggalin Nesya dan Rehan juga akan menikah secara sah dengan Nesya nanti.” Rehan masih bersih keras dengan keputusannya dan sudah tak mau di ubah kembali.
Papa Rehan hanya menjadi pendengar tanpa menyahuti sedari tadi, Robert percaya jika Rehan memili keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri, dan mereka berdua juga sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi, biarlah Rehan yang memutuskan apa pun itu Robert akan mendukungnya.
“Sudahlah ma, mama jangan terlalu ikut campur, biarla Rehan yang memutuskannya sendiri dan Kalina, mereka sudah dewasa ma.” Robert memilih mengajak Maria pergi kebelakang meninggalkan ruang tamu yang hanya tersisa oleh Rehan dan Kalina saja.
__ADS_1
Kalina masih diam saja, memikirkan keputusan yang di buat oleh Rehan, kini dirinya malah terjebak oleh permainannya sendiri, Kalina berpikir jika dirinya bisa mengandung anak Rehan maka Kalina bisa mendapatkan Rehan kembali seutuhnya tanpa ada yang menganggu, namun kenyataannya berbeda dengan yang ia pikirkan.
“Jadi gimana Kalina? Apa kamu setuju dan tolong kamu jawab pertanyaan saya sekarang juga, aku tidak mau menundanya, jika kamu mengiyakan maka nanti malam akan aku urus semuanya dan kita menika secara siri malam nanti.” Sambil menaru kedua tanganya di depan dada dan menatap tajam Kalina yang masih terdiam saja.