
Pagi ini Nesya bangub pagi dan dirinya juga terlihat sudah rapi dan siap untuk pergi ke kafe. Ya, hari ini Nesya akan kembali bekerja bagaimana pun dirinya harus bisa keluar dari rumah Rehan, Nesya tak mau di kurung seperti ini terus menerus dirinya harus bisa memberontak agar Rehan mengizinkannya.
“Sayang, mau kemana pagi-pagi sudah rapi?” tanya Rehan yang baru saja masuk ke dalam kamar Nesya.
“Aku harus kembali bekerja, aku tak enak dengan sahabat aku yang sudah mengizinkan aku bekerja di kafenya tapi aku sering nggak masuk,” ucap Nesya sedikit lembut.
“Aku nggak akan izinkan kamu keluar sayang, kalau kamu mau pergi ke kafe biar aku antar dan sekalian kamu mengundurkan diri,” ucap Rehan sambil berjalan mendekati Nesya.
Nesya menatap Rehan dan memejamkan matanya sebentar lalu menatap kembali Rehan,”tolong Re kamu jangan seperti anak kecil, aku juga butuh uang untuk memenuhi kebutuhan aku dan aku juga butuh aktivitas,” ucap Nesya dengan ketus.
“Aku bisa memberikan semuanya untukmu Nes, dan bahkan kamu nggak usah capek-capek kerja dan aku juga minta tolong kamu ngerti,” ucap Rehan.
Nesya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut,”maaf Re, tapi aku akan tetap pergi ke kafe untuk bekerja dan lebih baik kamu urus, urusan kamu sendiri bersama dengan istri kamu dan jangan pedulikan aku karena aku tak akan kembali ke rumah ini,” ucap Nesya lalu berjalan meninggalkan Rehan.
__ADS_1
“Tunggu,” ucap Rehan sedikit keras lalu membalikkana badannya dan menatap Nesya.
“Aku akan mengantar kamu sayang, tapi aku mohon kamu jangan tinggalin aku tetaplah kembali ke rumah ini,” ucap Rehan.
“Baiklah, aku akan kembali ke sini asalkan aku tetap di biarkan untuk pergi bekerja,” ucap Nesya lalu berjalan lebih dahulu. Rehan berjalan menyusul Nesya di belakangnya.
Rehan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumahnya, mereka saling berdiaman sedangkan Nesya mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Hanya keheningan saja yang tercipta di dalam mobil, jalanan pagi ini masih terlihay agak sepi dan belum terlalu padat.
Rehan menoleh ke Nesya,”Nes, aku harap kamu bakal tepatin ucapan kamu jika kamu tak akan pergi dari ku dan setelah selesai kerja kamu kembali ke rumah,” ucap Rehan lalu kembali fokus ke depan.
Setengah jam perjalanan mereka pun sampai di kafe milik Anton dan sebelum turun Nesya tak lupa mengucapkan terima kasih ke Rehan. Lalu setelah itu Rehan kembali melajukan mobilnya menuju arah kantornya.
Sedangkan Nesya yang masih berada di depan kafe Anton mencari cara dirinya akan kabur kemana. Saat itu pula Anton baru saja sampai di kafenya dan melihat Nesya kebingungan dan Anton pun mendekati Nesya.
__ADS_1
“Nes,” panggil Anton sambil menepuk pundak Nesya pelan.
“Anton, kamu bikin kaget saja,” ucap Nesya.
“Habis kamu kenapa seperti orang bingung,” ucap Anton.
“Hahaha, iya. Aku lagi mau cari cara kabur dari Rehan dan aku bingung harus kemana?” tanya Nesya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Anton hanya menggelengkan kepalanya,”kenapa kamu tak ikut Alex ke Bali setidaknya kamu bisa tinggal di sana untuk beberapa bulan,” ucap Anton memberi saran.
“Tapi nanti aku yang ada akan repotin Alex lagi,” ucap Nesya.
“Aku rasa Alex tak akan pernah merasa di repotkan olehmu Nes, jadi jangan berpikir seperti itu ini juga untuk kebaikkan kamu,” ucap Anton.
__ADS_1
Nesya masih diam dan berpikir, apa iya dirinya harus ke Bali? Apa sebaiknya tak pulang saja ke kampung halamannya.
“Nes lebih baik kami susul Alex saja, dan aku akan bantu kamu ke bandara antar kamu dan beli tiketnya,” ucap Anton lalu membawa Nesya ke mobilnya agar Nesya tak banyak berpikir lagi.