Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Marah


__ADS_3

Alex membawa Nesya ke apartemennya agar Nesya istirahat terlebih dahulu, sekaligus menenangkan pikirannya.


“Nes, sekarang kamu istirahat dulu di kamar ini atau kamu butuh sesuatu?” tanya Alex.


“Nggak Lex, aku hanya ingin sendiri, apa kamu bisa tinggalin aku sendirian dan satu lagi apa kamu bisa bantuin aku mengambil barang-barang aku di apartemen Rehan, dan ini tolong di taruh di atas kasur agar nanti saat Rehan ke apartemen dia tahu dan karena ini miliknya,” ucap Nesya sambil memberikan beberapa kartu atm dan kredit yang diberikan oleh Rehan.


Tak sampai di situ juga Nesya kasih tahu kata sandi memasuki apartemen milik Rehan agar Alex mengambilkan barang-barang miliknya.


“Baiklah, kalau begitu aku keluar dulu ya, sekalian ambilin barang kamu di apartemen,” ucap Alex lalu berjalan keluar meninggalkan Nesya sendirian di dalam kamar.


Alex menutup pintu kamar dan menghembuskan nafas panjangnya, melihat Nesya yang begitu terlihat hancur, dan Alex tak rela jika Nesya harus bersedih dan menangisi laki-laki brengsek itu.


Alex berjalan keluar apartemen menuju pintu lift, Alex memencet tombol paling atas untuk menuju apartemen Rehan dan mengambil barang milik Nesya dan Alex pastikan jika Rehan tak akan menemukan Nesya lagi.


Setelah ini Alex akan membawa Nesya pergi dari Jakarta, agar Nesya tak bertemu dengan Rehan yang sudah menyakitinya.


**


Sedangkan di rumah Kalina, Rehan sedang duduk santai sambil memegang ipadnya dengan di temani Kalina di samping.

__ADS_1


“Terima kasih Re, kamu mau menuruti aku dan anak kita yang ada di kandungan aku,” ucap Kalina dengan memegang lengan Rehan.


“Kamu jangan besar kepala Na, aku hanya tak mau kamu membuat masalah di kantorku, dan aku melakukan ini sangat terpaksa,” ucap Rehan ketus tanpa menoleh sedikitpun ke Kalina.


Kalina memanyunkan bibirnya tak suka jika Rehan berbicara seperti itu dan bersikap ketus padanya.


“Terserah apa katamu Re, yang pasti hari ini aku bahagia dan aku mau kamu hari ini juga menginap di rumahku,” ucap Kalina.


Rehan hanya diam dan fokus ke ipadnya tak memperdulikan lagi perkataan Kalina dan dirinya juga enggan menyahutinya yang ujung-ujungnya nanti Kalina akan berulah lagi.


“Kamu mau buah? Biar aku aku ambilin sama kupasin?” tanya Kalina kembali.


“Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu,” ucap Kalina lalu berdiri dan berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.


Rehan menghembuskan nafas panjangnya sambil melonggarkan dasinya yang terasa sangat mencekik lehernya, dan menaruh ipadnya di meja. Rehan mengusap wajahnya dengan kasar, dirinya sudah tak sanggup menghadapi semua ini.


Reahan mengambil hpnya dari kantong saku celananya, Rehan ingin menelpon Nesya, ingin tahu apakah dirinya sudah makan siang apa belum.


Namun saat Rehan mencoba menelpon Nesya beberapa kali hanya penolakan yang dirinya dapatkan. Rehan lagi-lagi menghembuskan nafas berat, yang bisa di katakan jika Nesya sedang sibuk dengan temannya atau sedang marah dengan diriny.

__ADS_1


Rehan pusing memikirkan kedua wanita yang dimana keduanya sangat keras kepala, tapi mau bagaimanapun Kalina pernah menjadi bagian hidupnya dan Nesya juga kini yang telah membuatnya jatuh cinta, namun karena kebodohannya kini dirinya terjerat masalah yang rumit ini.


“Arrggghh!” teriak Rehan dan membanting hpnya ke sofa lalu meninggalkannya, Rehan berjalan ke dapur untuk mengambil segelas air minum untuk membasahi tenggorokannya yang kering.


Rehan duduk di bangku yang biasanya untuk makan malam sambil menatap keluar air yang tenang kolam renang.


“Tuan, apa tuan butuh sesuatu?” tanya pelayan wanita di rumah Kalina.


Rehan menoleh dan tersenyum kepada pelayan wanita itu,” tidak bi, saya nggak butuh apa-apa,” ucapnya.


“Baiklah tuan, kalau begitu saya permisi dulu,” ucap pelayan wanita, dan Rehan mengangguk mempersilahkan pelayan itu pergi.


Rehan kembali berjalan ke ruang tamu dan mengambil ipadnya kembali, seharusnya Rehan menyelesaikan pekerjaannya di kantor bukan di rumah tak jelas seperti ini.


Ini semua gara-gara Kalina yang selalu saja mempunyai akal busuk untuk membohongi dirinya dan sayangnya Rehan tak bisa menilak akan permintaan Kalina.


“Arrrgghh sial! Brengsek kenapa aku bodoh, bisa-bisanya aku percaya,” ucapnya dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun.


Rehan mengambil hp, kunci mobil dan ipadnya lalu berjalan keluar rumah, Rehan memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah Kalina.

__ADS_1


__ADS_2