
Malamnya Rehan dan Nesya baru saja sampai di apartemen dan kali ini Nesya benar – benar kesal dengan Rehan yang membuang uangnya buat belanja baju, heels, dan tas yang jelas – jelas Nesya nggak terlalu di butuhkan sedangkan baju yang kemarin Rehan belikan juga semuanya belum Nesya pakai.
Nesya duduk di sofa dan di ikuti Rehan dengan duduk di sampingnya, Rehan masih merayu Nesya agar tak marah kepadanya.
“Sayang, sudah dong jangan marah lagi.” Rehan memeluk Nesya dari belakang karena kini posisi Nesya membelakangi Rehan.
Namun Nesya masih mendiamkan Rehan dan belum mau bicara, dan Nesya lebih melepaskan pelukan Rehan lalu meninggalkan Rehan dengan pergi ke kamarnya. Nesya langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sedangkan Rehan masih duduk di sofa sambil mengecek hpnya, di sana ada sang mama yang mengirimkan pesan kepadanya untuk pulang, akan tetapi Rehan di suruh untuk melihat keadaan Kalina terlebih dahulu, Rehan yang membaca pesan dari sang mama hanya tersenyum kecut, tanpa membalasnya Rehan meletakkan hpnya kembali ke meja.
Rehan tak mau bertemu dengan Kalina untuk beberapa hari ke depan, Rehan lebih baik menghabiskan waktunya dengan Nesya, karena hanya dekat dengan Nesya mood Rehan membaik, Rehan membaringkan badannya di sofa dan menutup matanya untuk istirahat sebentar.
Setengah jam sudah Nesya baru saja keluar dari kamar mandi dan sudah rapi mengenakan baju tidur, Nesya mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil dengan duduk di meja rias, setelah itu Nesya membersihkan wajahnya dengan pembersih dan setelah itu menggunakan skincare rutin.
Nesya menoleh ke arah pintu karena Rehan tak menyusulnya masuk ke dalam kamar, setelah selesai dengan memakai skincarenya Nesya keluar kamar melihat apa yang sedang dilakukan oleh Rehan.
Nesya melihat Rehan yang ketiduran di sofa tak berani membangunkannya, Nesya kembali masuk kedalam kamar untuk mengambil selimut untuk Rehan, Nesya kembali ke sofa dan menyelimuti tubuh Rehan yang sangat terlihat kelelahan.
Nesya duduk tak jauh dari Rehan, Nesya menatap wajah Rehan yang sedang tertidur terlihat sangat tenang dan tentunya tampan, walaupun umurnya sudah memasuki kepala tiga akan tetapi dengan wajah tampan tak menutup kemungkinan orang mengira jika umur Rehan sudah memasuki kepala tiga.
__ADS_1
“Kenapa aku bisa tertarik denganmu,” lirik Nesya sambil menyungingkan senyumnya.
Nesya mengusap pipi, hidung dan bibir dengan pelan agar tak menganggu tidur Rehan, lalu yang terakhir dengan mencium kening Rehan dan mengucapkan selamat malam, Nesya bangkit dari duduknya dan berjalan masuk kedalam kamarnya.
Nesya merebahkan badanya di ranjang dan menggunakan selimut sampai dada, Nesya memejamkan matanya karena sudah merasakan kantuk.
**
Kalina sedang berada di balkon sendirian dan melamun, samapi malam ini Rehan juga belum mengabarinya, Kalina ingin marah namun dengan perjanjian yang di ajukan oleh Rehan, Kalina jadi enggan untuk melakukan semua itu, lagian mereka hanya menikah sirih, namun bagaimana juga Kalina istrinya.
“Rehan apa begini kamu memperlakukan aku,” ucapnya lirih sambil mengeluarkan air mata yang tiba – tiba jatuh dari pelupuk matanya.
Kenapa kini malah dirinya yang terjebak di permainan ini dan Kalina menjadi orang yang tersakiti, Kalina mengusap air matanya dengankasar dan tersenyum jahatnya.
“Kamu tunggu saja siapa yang akan jadi pemenangnya, dan kamu Rehan akan menjadi milikku selamanya,” Ucap Kalina dengan tawa jahatnya.
Mungkin kali ini Kalina akan membuat trik agar Rehan selalu dekat dengannya dan tak bertemu dengan Nesya yang katanya calon tunangannya itu. Kalina masuk kedalam kamarnya dan mengambil hp yang berada di atas nakas, Kalina mendeal nomor Rehan kali ini Kalina akan pura – pura sakit agar Rehan mau menemaninya.
Beberapa detik kemudian teleponnya di angkat oleh Rehan yang terlihat suaranya baru saja bangun tidur.
__ADS_1
“Re, kamu bisa kesini nggak perut aku tiba – tiba sakit, aku nggak mau terjadi apa – apa dengan calon bayi kita,” ucap Kalina sambil menangis dan menahan rasa sakit.
“Sekarang kamu dimana Na?” Rehan bertanya dengan rasa khawatir dengan Kalina, dirinya yang terbangun dari tidurnya dan mendapat telepon dari Kalina, langsung buru – buru keluar apartemen tanpa berpamitan kepada Nesya.
“Aku sedang ada di rumah sendirian Re,” ucap Kalina dar sebrang telepon.
“Baiklah, kamu tunggu aku akan segera ke rumah,” ucap Rehan sambil mematikan hpnya sepihak.
Rehan melajukan mobilnya meninggalkan apartemen menuju rumah Kalina dengan kecepatan tinggi karena khawatir dengan calon bayi yang sedang di kandung oleh Kalina, untung saja jalan raya malam ini sepi nggak ramai.
Setengah jam Rehan sampai di rumah Kalina dan langsung memencet tombol yang ada di samping pintu, pintu di bukakan oleh bibi dan Rehan langsung berlari ke kamar Kalina.
Kalina yang sedang berbaring di ranjangnya sambil berpura – pura kesakitan, Rehan langsung mendekati Kalina.
“Apa kita perlu ke dokter?” Rehan memegang perut Kalina.
“Nggak, nggak perluh, kamu cukup temani aku saja di sini,” Ucap Kalina sambil tangannya menepuk kasur yang di sampingnya kosong.
“Tapi benet kita nggak kerumah sakit saja,” ucap Rehan dengan masih ke kahawatirannya.
__ADS_1
Kalina hanya menggeleng dan menyuruh Rehan menemaninya di sampingnya, dan Rehan menuruti perintah Kalina, Rehan membantu Kalina membenarkan posisi duduknya.
“Makasih ya sudah datang.” Lalu Kalina menatap Rehan sebentar sambil tersenyum dan setelah itu memejamkan matanya, Rehan lagi – lagi hanya mengangguk dan mengelus kepala Kalina dengan pelan.