Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Alex


__ADS_3

Malam harinya aku membantu mempersiapkan semuanya


karena besok Alex akan kembali ke Jakarta, aku membantunya melipat bajunya dan


memasukkan kedalam koper miliknys sedangkan Alex masih sibuk dengan


pekerjaannya yang harus selesai mala mini juga. Sebenarnya aku mengetahui Alex


yang sebenarnya itu siapa belum lama karena sedari dulu Alex selalu menutupi tentang


keluarganya, entahlah mungkin aku dulu juga tak terlalu peduli dengan hubungan


kami memang aku dulu hanya bermain-main dan tak serius menjalin hubungan dengan


Alex maka aku juga meninggalkannya tanpa kasih kabar ke dia.


Sejak awal aku memang sudah curiga dengan Alex, entah


apa dia seperti menyembunyikan sesuatu tapi sampai saat ini aku juga belum


mengetahuinya. Tapi ya sudahlah, lagi pula itu juga bukan urusanku dan mungkin


suatu saat nanti Alex juga akan membicarakannya kepadaku.


Aku pun keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk


mengambil minum, aku mengambil botol air mineral dan membawanya ke meja makan


dan duduk di sana sambil meminum menatap keluar yang ternyata sedang hujan.


Jika malam saat hujan seperti biasa Rehan akan muncul tiba-tiba dan memeluknya


dengan sangat erat setelah itu selalu saja terjadi hal panas.


“Nes, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Alex yang


tiba-tiba muncul.


“Tidak hanya saja aku tadi mengambil minum karena


merasa tenggorokan aku kering dan sambil duduk di sini, aku mau tidur akan


tetapi belum mengantuk,” ucapku.


Alex pun tersenyum dan berjalan mendekatiku,”Apa kau


merindukan aku Nes?” tanya tiba-tiba, ia juga duduk di sampingku.


“Hm, gimana ya? Rindu nggak ya? Mana besok mau di


tinggal ke Jakarta lagi,” godaku pada Alex.


“Itu kan agar kita biar cepat dapat restu dari orang


tuaku dan aku mohon kamu mau menunggu ku di sini. Ah, ya. Ini kartu black card


bisa kamu gunakan untuk apa saja dan yang satu lagi ini atm juga untukmu jadi


semuanya bebas kamu gunakan dan aku mohon kamu jangan menolaknya Nes, aku


sangag menyanyangimu,” ucapnya kembali.


“Tapi Lex, aku tak mau menggunakan ini dan ini sama


saja seperti aku memanfaatkan kamu,” ucapku sambil menatap wajah Alex dan Alex


menggelengkan kepalanya dan tersenyum padaku. Tangannya mengelus wajahku dengan


lembut.


“Tidak Nes, dan tolong ya kamu gunakan saja. Ini juga


Cuma aku buat khusus untukmu dan jika nanti terjadi sesuatu padaku maka kartu


ini masih bisa kamu gunakan dengan baik sesuai keinginan kamu,” ucap Alex.


“Lex, kenapa kamu bicara seperti itu? Bukan kah kamu


akan kembali ke sini dan apa maksud kamu berbicara seperti itu,” ucapku dengan


menatapnya serius.


“Nggak, bukan maksud apa-apa Nes. Hanya saja aku


sedikit takut kalau malam ini dan besok pagi adalah pertemuan dan kebersamaan


kita untuk yang terakhir kalinya,” ucap Alex. Aku menggelangkan kepalanya dan


memeluk erat Alex, entah kenapa aku seperti membenarkan perkataan Alex tapi aku


juga tak mau ini terjadi.


“Aku harap kamu kembali ke sini dengan cepat dan kedua

__ADS_1


orang tua kamu merestui hubungan kita,” ucapku, dan air mataku juga keluar


begitu saja tanpa di suruh.


Alex mengelus punggungku memberikan ketenangan agar


aku juga tak terlalu memikirkan dengan apa yang ia katakan tadi.


“Nes, selama aku di Jakarta kamu baik-baik ya di sini


dan tetap jaga keselamatan kamu kalau kamu butuh apa-apa bisa menyuruh bibi apa


bodyguard aku nggak mau jika sampai terjadi apa-apa denganmu,” ucapnya kembali.


Aku pun mengusap air mataku dengan kasar lalu


melepaskan pelukkan ku dan mengangguk, menatap Alex sejenak.


“Apa pun kehidupan kita kedepannya jangan pernah kita


menyesalinya ya,” ucap Alex.


“Tentu, aku tak akan pernah menyesalinya. Karena hanya


tuhan yang mengatur hidup kita, dan aku juga berdoa untukmu agar tuhan selalu


melindungimu,” ucapku. Entahlah, mungkin mulai sekarang memang aku harus


menerima kehidupqn aku yang seperti dan belajar lebih keras lagi mencintai Alex


walau kedepan apa yang akan terjadi aku akan tetap berusaha.


Pagi harinya aku mengantarkan Alex ke bandara bersama


dengan bibi, aku mengantarkan ia sampai dalam dan berpisah di pintu


masuk.”Cepat kembali,” ucapku, dan Alex pun mengangguk ia juga tak lupa mencium


keningku serta memelukku dengan sangat erat. Setelah itu ia benar-benar masuk


ke dalam sedangkan aku dan bibi kini berjalan keluar di parkiran sudah ada


sopir yang menunggu kami.


“Bi setelah ini aku akan pergi ke tepi pantai, sedangkan


bibi sama pak sopir nanti bisa kembali ke villa saja,” ucapku.


“Tapi nona Nesya, saya sudah berjanji pada tuan agar


Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum pada


bibi,”Bibi nggak usah khawatir, lagi pula tak akan ada yang menggangu Nesya,


jadi bibi bisa kembali saja ke villa bersama dengan pak sopir dan Nesya juga


janji akan pulang tepat waktu,” ucapku meyakinkan Bibi.


Bibi pun menganggu dan tersenyum padaku, kami pun


berjalan ke parkiran dan setelah itu masuk kedalam mobil dan mengantarkan aku


ke pantai, sebenarnya aku hanya ingin sendiri saja lagi pula di villa aku juga


tak ngapa-ngapain lebih baik aku pergi kepantai.


Sampai di pantai aku pun langsung keluar dari dalam


mobil dan menyuru bibi serta pak sopir kembali pulang, setelah kepergian mereka


aku pun berjalan medekati tepi pantai sambil merentangkan kedua tanganku.


“Nyamana, semoga apa yang terjafi selanjutnya akan


baik-baik saja,” ucapku.


“Pagi,” sapa laki-laki dan suara itu sangat aku kenali


sebelumnya, dan aku pun menoleh ke belakang lalu tersenyu melihag Candra.


“Pagi juga Can, kenapa kamu ada di sini? Apa kamu


nggak kerja?” tanyaku.


Candra berjalan mendekatiku dengan kedua tangannya di


masukkan kedalam saku celananya.”Nanti, telat sedikit juga nggak apa. Kamu sendiri


kenapa juga ada di sini?” tanyanya.


“Menenangkan diri, lagi pula aku juga nggak ada


pekerjaan. Jadi kesini saja, kalau di villa saja itu sangat membosankan,”

__ADS_1


ucapku tersenyum.


Aku mengajak Candra mengobrol sambil berjalan di tepi


pantai,”Bagaimana hubungan kamu dengan kekasihmu?” tanyaku.


“Masih sama saja, akan tetapi aku akan tetap


berusaha,” ucap Candra.


“Bagus, tetap semangat jangan menyerah,” ucapku. Jangan


sampai seperti apa yang aku alami Ndra, semuanya sangat rumit dan membuatku


pusing tujuh keliling.


Candra tertawa dengan lepas,”Kamu bisa saja,


sebenarnya masalah kamu serumit apa sih kalau boleh tahu?” tanya Candra


penasaran.


“Panjang Ndra, jika aku bicara dari awal mungkin tak


akan pernah selesai. Namun saat ini aku sedang menunggu kepastian dan jika


memang itu sudah pasti maka aku akan benar-benar menerimanya dan mencintainya


dengan tulus dan meninggalkan masa laluku yang entah jika aku meninginkannya


akan terjadi atau tidak,” ucapku.


Mau bagaimana lagi memang perasaanku tetap untu Rehan


dan mencoba mencintai dan menerima Alex sangat masih sulit bagiku. Kalau memang


itu sudah takdirku maka aku harus menerimanya dan bagaimana pun aku juga tak


bisa menolak. Aku tak mau memikirkan itu lagi yang hanya akan membuat pikiranku


semakin bercabang kemana-mana.


Bagaimana tidak selama ini aku selalu memikirkan


tentang keadaanku, entahlah aku juga lelah akan hal ini sampai akhirnya


membuatku menjadi sakit. Hal apa lagi yang akan terjadi selanjutnya maka dengan


lapang dada aku harus menerimanya.


“Pasti kamu sangat sulit untuk melewati semuanya, dan


aku juga kagum denganmu kamu bisa melewatinya dengan sabar dan sampai saat ini


kamu terlihat sangat tegar,” ucap Candra.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum pada Candra, memang


aku terlihat tegar namun kenyataannya tak seperti apa yang Candra katakan, aku


sangatlah lemah. Bahkan aku selalu menangis saat aku sendirian tanpa ada orang


yang mengetahu, aku hanya takut jika selamanya aku hanya akan dipermainkan oleh


cinta dan nafsu saja. Aku benar-benar sangat takut.


“Hm, aku rasa aku harus segera pergi Nes. Aku ada


meeting dengan klien, aku tinggal kamu nggak apa-apa kan?” tanya Candra.


“Nggak apa, kamu bisa pergi,” ucapku, Candra pun


langsung berpamitan padaku dan aku pun melambaikan tanganku dan tak lupa bilang


agar hati-hati di jalan. Setelah itu aku melanjutkan berjalan di tepi pantai


sendirian ada beberapa orang yang datang kepantai seperti bule yang ingin


berjemur.


Aku duduk di pinggiran pantai dan duduk, aku


mengeluarkan hpku dari tas dan mengambil potret diriku beberapa kali, lalu aku


mengunggahnya di media sosial instagramku yang sudah lama tak pernah aku buka.


Aku hanya sedikit malas karena setiap kali aku mengunggah fotoku di sana ada


beberapa teman yang mengirimkan pesan padaku dan menanyakan keberadaanku dimana


mereka menjadi ingin dekat padahal dulu mereka menjauhi ku. Jujur saja dalam


hidupku aku memiliki sahabat tidaklah banyak, mungkin karena mereka menjauhiku

__ADS_1


karena aku orang biasa atau hal yang lain aku juga tak tahu, aku juga tak


terlalu memikirkannya.


__ADS_2