
Malam harinya aku membantu mempersiapkan semuanya
karena besok Alex akan kembali ke Jakarta, aku membantunya melipat bajunya dan
memasukkan kedalam koper miliknys sedangkan Alex masih sibuk dengan
pekerjaannya yang harus selesai mala mini juga. Sebenarnya aku mengetahui Alex
yang sebenarnya itu siapa belum lama karena sedari dulu Alex selalu menutupi tentang
keluarganya, entahlah mungkin aku dulu juga tak terlalu peduli dengan hubungan
kami memang aku dulu hanya bermain-main dan tak serius menjalin hubungan dengan
Alex maka aku juga meninggalkannya tanpa kasih kabar ke dia.
Sejak awal aku memang sudah curiga dengan Alex, entah
apa dia seperti menyembunyikan sesuatu tapi sampai saat ini aku juga belum
mengetahuinya. Tapi ya sudahlah, lagi pula itu juga bukan urusanku dan mungkin
suatu saat nanti Alex juga akan membicarakannya kepadaku.
Aku pun keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk
mengambil minum, aku mengambil botol air mineral dan membawanya ke meja makan
dan duduk di sana sambil meminum menatap keluar yang ternyata sedang hujan.
Jika malam saat hujan seperti biasa Rehan akan muncul tiba-tiba dan memeluknya
dengan sangat erat setelah itu selalu saja terjadi hal panas.
“Nes, apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Alex yang
tiba-tiba muncul.
“Tidak hanya saja aku tadi mengambil minum karena
merasa tenggorokan aku kering dan sambil duduk di sini, aku mau tidur akan
tetapi belum mengantuk,” ucapku.
Alex pun tersenyum dan berjalan mendekatiku,”Apa kau
merindukan aku Nes?” tanya tiba-tiba, ia juga duduk di sampingku.
“Hm, gimana ya? Rindu nggak ya? Mana besok mau di
tinggal ke Jakarta lagi,” godaku pada Alex.
“Itu kan agar kita biar cepat dapat restu dari orang
tuaku dan aku mohon kamu mau menunggu ku di sini. Ah, ya. Ini kartu black card
bisa kamu gunakan untuk apa saja dan yang satu lagi ini atm juga untukmu jadi
semuanya bebas kamu gunakan dan aku mohon kamu jangan menolaknya Nes, aku
sangag menyanyangimu,” ucapnya kembali.
“Tapi Lex, aku tak mau menggunakan ini dan ini sama
saja seperti aku memanfaatkan kamu,” ucapku sambil menatap wajah Alex dan Alex
menggelengkan kepalanya dan tersenyum padaku. Tangannya mengelus wajahku dengan
lembut.
“Tidak Nes, dan tolong ya kamu gunakan saja. Ini juga
Cuma aku buat khusus untukmu dan jika nanti terjadi sesuatu padaku maka kartu
ini masih bisa kamu gunakan dengan baik sesuai keinginan kamu,” ucap Alex.
“Lex, kenapa kamu bicara seperti itu? Bukan kah kamu
akan kembali ke sini dan apa maksud kamu berbicara seperti itu,” ucapku dengan
menatapnya serius.
“Nggak, bukan maksud apa-apa Nes. Hanya saja aku
sedikit takut kalau malam ini dan besok pagi adalah pertemuan dan kebersamaan
kita untuk yang terakhir kalinya,” ucap Alex. Aku menggelangkan kepalanya dan
memeluk erat Alex, entah kenapa aku seperti membenarkan perkataan Alex tapi aku
juga tak mau ini terjadi.
“Aku harap kamu kembali ke sini dengan cepat dan kedua
__ADS_1
orang tua kamu merestui hubungan kita,” ucapku, dan air mataku juga keluar
begitu saja tanpa di suruh.
Alex mengelus punggungku memberikan ketenangan agar
aku juga tak terlalu memikirkan dengan apa yang ia katakan tadi.
“Nes, selama aku di Jakarta kamu baik-baik ya di sini
dan tetap jaga keselamatan kamu kalau kamu butuh apa-apa bisa menyuruh bibi apa
bodyguard aku nggak mau jika sampai terjadi apa-apa denganmu,” ucapnya kembali.
Aku pun mengusap air mataku dengan kasar lalu
melepaskan pelukkan ku dan mengangguk, menatap Alex sejenak.
“Apa pun kehidupan kita kedepannya jangan pernah kita
menyesalinya ya,” ucap Alex.
“Tentu, aku tak akan pernah menyesalinya. Karena hanya
tuhan yang mengatur hidup kita, dan aku juga berdoa untukmu agar tuhan selalu
melindungimu,” ucapku. Entahlah, mungkin mulai sekarang memang aku harus
menerima kehidupqn aku yang seperti dan belajar lebih keras lagi mencintai Alex
walau kedepan apa yang akan terjadi aku akan tetap berusaha.
Pagi harinya aku mengantarkan Alex ke bandara bersama
dengan bibi, aku mengantarkan ia sampai dalam dan berpisah di pintu
masuk.”Cepat kembali,” ucapku, dan Alex pun mengangguk ia juga tak lupa mencium
keningku serta memelukku dengan sangat erat. Setelah itu ia benar-benar masuk
ke dalam sedangkan aku dan bibi kini berjalan keluar di parkiran sudah ada
sopir yang menunggu kami.
“Bi setelah ini aku akan pergi ke tepi pantai, sedangkan
bibi sama pak sopir nanti bisa kembali ke villa saja,” ucapku.
“Tapi nona Nesya, saya sudah berjanji pada tuan agar
Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum pada
bibi,”Bibi nggak usah khawatir, lagi pula tak akan ada yang menggangu Nesya,
jadi bibi bisa kembali saja ke villa bersama dengan pak sopir dan Nesya juga
janji akan pulang tepat waktu,” ucapku meyakinkan Bibi.
Bibi pun menganggu dan tersenyum padaku, kami pun
berjalan ke parkiran dan setelah itu masuk kedalam mobil dan mengantarkan aku
ke pantai, sebenarnya aku hanya ingin sendiri saja lagi pula di villa aku juga
tak ngapa-ngapain lebih baik aku pergi kepantai.
Sampai di pantai aku pun langsung keluar dari dalam
mobil dan menyuru bibi serta pak sopir kembali pulang, setelah kepergian mereka
aku pun berjalan medekati tepi pantai sambil merentangkan kedua tanganku.
“Nyamana, semoga apa yang terjafi selanjutnya akan
baik-baik saja,” ucapku.
“Pagi,” sapa laki-laki dan suara itu sangat aku kenali
sebelumnya, dan aku pun menoleh ke belakang lalu tersenyu melihag Candra.
“Pagi juga Can, kenapa kamu ada di sini? Apa kamu
nggak kerja?” tanyaku.
Candra berjalan mendekatiku dengan kedua tangannya di
masukkan kedalam saku celananya.”Nanti, telat sedikit juga nggak apa. Kamu sendiri
kenapa juga ada di sini?” tanyanya.
“Menenangkan diri, lagi pula aku juga nggak ada
pekerjaan. Jadi kesini saja, kalau di villa saja itu sangat membosankan,”
__ADS_1
ucapku tersenyum.
Aku mengajak Candra mengobrol sambil berjalan di tepi
pantai,”Bagaimana hubungan kamu dengan kekasihmu?” tanyaku.
“Masih sama saja, akan tetapi aku akan tetap
berusaha,” ucap Candra.
“Bagus, tetap semangat jangan menyerah,” ucapku. Jangan
sampai seperti apa yang aku alami Ndra, semuanya sangat rumit dan membuatku
pusing tujuh keliling.
Candra tertawa dengan lepas,”Kamu bisa saja,
sebenarnya masalah kamu serumit apa sih kalau boleh tahu?” tanya Candra
penasaran.
“Panjang Ndra, jika aku bicara dari awal mungkin tak
akan pernah selesai. Namun saat ini aku sedang menunggu kepastian dan jika
memang itu sudah pasti maka aku akan benar-benar menerimanya dan mencintainya
dengan tulus dan meninggalkan masa laluku yang entah jika aku meninginkannya
akan terjadi atau tidak,” ucapku.
Mau bagaimana lagi memang perasaanku tetap untu Rehan
dan mencoba mencintai dan menerima Alex sangat masih sulit bagiku. Kalau memang
itu sudah takdirku maka aku harus menerimanya dan bagaimana pun aku juga tak
bisa menolak. Aku tak mau memikirkan itu lagi yang hanya akan membuat pikiranku
semakin bercabang kemana-mana.
Bagaimana tidak selama ini aku selalu memikirkan
tentang keadaanku, entahlah aku juga lelah akan hal ini sampai akhirnya
membuatku menjadi sakit. Hal apa lagi yang akan terjadi selanjutnya maka dengan
lapang dada aku harus menerimanya.
“Pasti kamu sangat sulit untuk melewati semuanya, dan
aku juga kagum denganmu kamu bisa melewatinya dengan sabar dan sampai saat ini
kamu terlihat sangat tegar,” ucap Candra.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum pada Candra, memang
aku terlihat tegar namun kenyataannya tak seperti apa yang Candra katakan, aku
sangatlah lemah. Bahkan aku selalu menangis saat aku sendirian tanpa ada orang
yang mengetahu, aku hanya takut jika selamanya aku hanya akan dipermainkan oleh
cinta dan nafsu saja. Aku benar-benar sangat takut.
“Hm, aku rasa aku harus segera pergi Nes. Aku ada
meeting dengan klien, aku tinggal kamu nggak apa-apa kan?” tanya Candra.
“Nggak apa, kamu bisa pergi,” ucapku, Candra pun
langsung berpamitan padaku dan aku pun melambaikan tanganku dan tak lupa bilang
agar hati-hati di jalan. Setelah itu aku melanjutkan berjalan di tepi pantai
sendirian ada beberapa orang yang datang kepantai seperti bule yang ingin
berjemur.
Aku duduk di pinggiran pantai dan duduk, aku
mengeluarkan hpku dari tas dan mengambil potret diriku beberapa kali, lalu aku
mengunggahnya di media sosial instagramku yang sudah lama tak pernah aku buka.
Aku hanya sedikit malas karena setiap kali aku mengunggah fotoku di sana ada
beberapa teman yang mengirimkan pesan padaku dan menanyakan keberadaanku dimana
mereka menjadi ingin dekat padahal dulu mereka menjauhi ku. Jujur saja dalam
hidupku aku memiliki sahabat tidaklah banyak, mungkin karena mereka menjauhiku
__ADS_1
karena aku orang biasa atau hal yang lain aku juga tak tahu, aku juga tak
terlalu memikirkannya.