
Nesya membaca pesan dari Alex dengan pesan yang penuh
arti, namun apakah ia akan tetap bertahan dengan lama? Bagaimana jika
selanjutnya ia tak bisa bertahan? Dan sampai kapan ia akan bertahan menunggu
kedatangan Alex. Jika sangat lama? Apa ya, Alex akan tetap kembali kepadanya?
Pikira Nesya jadi bercabang kemana-mana, bagaimana tidak jika Alex saja
mengirimkan pesan seperti itu.
Aku pun menghela nafas dan menaruh hp ku kembali tanpa
berniat membalas pesan dari Alex, biarkan seperti itu dulu. Jika nanti aku sudah
punya pertanyaan untuknya maka aku akan mengirimkan pesan kepadanya. Sungguh
kejam dunia ini seakan mempermainkannya, bagaimana tidak? Dia di sini hanya
sebatang kara karena ia jauh dari orang tua dan saudara. Di sini ia hidup
mengandalkan orang lain dan ia juga tak punya pekerjaan, jika nanti terjadi
apa-apa denganku maka siapa yang akan menolongku.
Memang ini tak adil bagiku, dan aku juga tak mau hidup
seperti ini. Bagaimana hidupku selanjutnya jika semua orang meninggalkan aku?
Bahkan Alex saja kini sudah tak bisa kupercaya dan aku yakin ia juga akan
meninggalkannya.”Arrgggh! Sialan,” teriakku sambil membanting semua
barang-batang yang ada di kamarku, biarlah aku dianggap tak tahu diri karena
sudah merusak semuanya. Aku benci dengan semua ini, mereka semua
mempermainkanku dengan sesuka hati mereka, aku juga memiliki hati dan perasaan
namu mereka dengan seenak hatinya melakukan semua ini kepadaku, keterlaluan
bukan?
“Nona, nona Nesya tidak apa-apa kan,” teriak bibi dari
luar pintu kamarku.
“Tidak bi, aku tak apa-apa. Bibi tak usah khawatirkan
aku,” teriakku dari dalam kamar.
Aku duduk di lantai dengan air mataku yang sudah
keluar tak terbendung lagi, aku benar-benat takut dan tahu apa yang harus
selanjutnya aku lakukan, memang aku memiliki uang dengan menggunakan semua
fasilitas yang di berikan oleh Alex. Tapi aku hatus pergi kemana? Apa iya, aku
harus pulang dan kembali ke orang tuaku dengan keadaan seperti ini? Aku sungguh
malu dan tak sanggup melihat mereka bersedih.
“Maafkan Nesya, ma, pa. Mungkin Nesya bukan anak yang
baik bagi kalian, Nesya hanya seorang anak yang bisa bikin kalian malu, Nesya
benar-benar minta maaf,” ucapku sambil memukul dadaku dengan pelan.
Aku hanya bisa terduduk sambil menangis, aku juga
malas untuk keluar dari kamar. Jadi aku akan menghabiskan waktuku seharian ini
di kamar saja, aku ingin menyendiri dan tak ingin di ganggu oleh siapa saja.
Aku meraih hp ku dan membalas pesan dari Alex.
“Sampai kapan aku harus menunggu? Jika memang
kamu tak bisa memutuskan kapan waktunya, maka lebih baik kamu menyerah saja
Alex. Untuk apa kamu berkata seperti itu? Untuk apa aku harus menunggu jika
kamu saja tak bisa memastikan. Jadi? Bukannya aku lebih baik pergi dari awal
dan tak menerima semuanya dari kamu jika akhirnya begini, aku lelah Lex. Selama
ini aku hanya di permainkan oleh lelaki, mereka hanya mau enaknya saja. Ya,
mungkin memang aku sudah terlanjur menjual tubuhku ke banyak lelaki, hingga
semua lelaki memandangku rendah tak terkecuali kamu dan Rehan. Lalu apa bedanya
kamu dan Rehan? Tak ada semuanya sama. Di sini aku tak akan menyalakan kamu
karena ini adalah salahku yang salah mengambil jalan, jadi aku hanya ingin
berterima kasih kepadamu atas semua yang telah kau berikan kepadaku. Selamat
jika kamu sudah bahagia.”
Aku langsung mematikan hpku karena aku juga tak mau
orang menelponku dan malah mengangguku. Karena aku tak ingin di ganggu sama
sekali. Bagiku sekarang semuanya sudah usai dan hubunganku dengan Alex juga
sudah berakhir dan untuk selanjutnya aku harus menjalani hidup ku bukan? Atau
sebaliknya, hahaha.
“Ternyata kamu benar-benar bodoh Nesya,” ucapku dengan
tawaku yang memenuhi ruang kamar ku yang sudah beratakan seperti kapal pecah
__ADS_1
dan tak layak lagi di sebut kamar lagi. Kaca yang berserakan dimana-mana dan
kapan saja bisa melukai tubuhnya.
Kali ini Nesya benar-benar rapuh dan entah apa yang
ada di pikirannya, dirinya seperti orang gila dan sudah kehilangan arah,
sebenarnya ini salah siapa?
Kali ini Alex sudah tak bisa apa-apa balasan dari
Nesya begitu menusuk sampai hatinya. Ia ingin marah pada dirinya sendiri dimana
dia sudah menyakiti hati orang yang telah ia cintai selama ini.
“Maafkan aku Nes, aku benar-benar minta maaf
dan aku harap kamu tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan menyakiti dirimu
sendiri. Kalau bisa aku menentukan hari itu maka aku ingin hari ini selesai Nes
dan aku bisa kembali secepatnya namun apa yang aku pikirkan beda dengan
kenyataan. Maafkan aku sekali lagi Nes, mohon maaf kan aku.”
Hanya itu pesan terakhir yang bisa aku kirimkan
kepadamu Nes, dan aku harap kamu tak akan menyakiti dirimu kamu sendiri Nes.
Kalau pun aku bisa kabur dari sini maka nyawa kamu yang akan bahaya Nes. Alex
yang sedari tadi tak tenang memikirkan akan keadaan Nesya hanya bisa menghela
nafas panjang untuk menenangkan dirinya agar tak memikirkan hal yang aneh-aneh.
“Lex, kamu sudah bangun?” tanya Adeline yang baru saja
masuk ke dalam kamar Alex dan melihat Alex yang sudah terduduk di balkon.
Alex hanya memutar tubuhnya lalu kembali mengalihkan
pandangannya tanpa menjawab pertanyaan dari Adeline.”Aku tahu kamu sedang tak
baik-baik saja Lex, begitu juga denganku. Tapi ini keputusan yang terbaik yang
harus kita ambil,” ucap Adeline sambil satu tangannya memegang pundak Alex
dengan pelan. Namun Alex menepis tangan Adeline dengan cepat agar tak memegang
dirinya.
“Yang terbaik seperti apa Adeline? Apa kamu tahu semua
yang dilakulan ini sangat melukai banyak orang dan kamu juga mendukung, satu
lagi kamu kenapa haru menemui Nesya dan harus bilang hamil anak aku. Padahal
selama ini aku tak menyentuhmu dan yang selalu menyentuh tubuhmu itu Candra
tapi kenapa kamu datang kepadaku Adeline! Kenapa?” teriak Alex sambil menatap
sedang marah.
“Cobalah Lex berpikir jernih lagi? Jika memang kamu
mencintai Nesya maka kamu tak akan memperebutkannya dari Rehan. Bahkan kamu
seharusnya membantu Nesya agar kembali lagi dengan Rehan namun yang kamu
lakukan apa Lex? Kamu memaksa kehendak kamu mengajak Nesya untuk bertunangan.
Apa kamu juga nggak pikirin perasaan Nesya? Cobalah Lex kamu pikirkan kembali
di sini aku tak akan mengadu domba namun aku hanya bilang yang sesungguhnya.
Satu lagi kamu juga kasih harapan palsu bagi Nesya yang sebenarnya akan
bertambah hancur, aku juga tahu kamu kasih fasilitas pada Nesya dan orang tua
kamu mengetahui itu dan ingin block semua kartu yang telah kamu berikan namun
aku mencegahnya karena aku tahu Nesya juga tak akan membutuhkan semua itu,”
ucap Adeline.
“Lalu? Bagaimana dengan perasaanku Adeline? Apa mama
dan papa aku juga memikirkannya? Tidak Adeline mereka juga egois seperti kamu.
Ingin mendapatkannya dengan instan dan hanya karena uang semuanya berjalan
dengan mulus,” ucapku kesal, hingga kedua tanganku mengepal ingin rasanya
memukul seseorang tapi siapa karena tak ada tempat untuk melampiaskan marahnya.
“Bukan aku yang egois Lex tapi kamu, sudahlah aku akan
pergi dari sini dan tak akan menganggumu untuk saat ini. Lebih baik kamu
gunakan waktu kamu untuk berpikir dahulu dan untuk fitting bajunya kita undur
jadi besok pagi saja,” ucap Adeline, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan
ku.
“Adeline!” teriakku.
“Ini bukan hutan Alex, kamu bisa memanggil namaku
dengan pelan kamu tak perlu berteriak lagi pula aku juga nggak budek,” ucap
Adeline dengan kesal, ia berbalik menatap Alex dengan sangat tajam. Sebenarnya
siapa sih di sini yang bersifat seperti anak-anak? Adeline sendiri juga tak
__ADS_1
tahu, jujur ia juga sudah pusing mengatasi semuanya.
“Aku mohon tolong batalkan pernikahan kita, dan kamu
bisa menikah dengan Candra,” ucap Alex.
Aku tersenyum kecut,”Tidak bisa Lex, itu sudah menjadi
keputusanku. Mari kita jalani hubungan kita yang baru sebagai calon suami istri
dan menerima kenyataan ini,” ucap Adeline.
Kali ini Adeline benar-benar pergi meninghalkan aku
setelah berbicara barusan ia sudah tak memperdulikan umpatan dariku. Apa ya,
aku harus menerimanya? Aku seorang lelaki aku bisa menolaknya, bahkan aku bisa
mendapatkan yang lebih segalanya namun kenyataanya kehidupanku sedari kecil
diatur oleh orang tuaku.
Aku pun menghela nafas panjang lalu bergegas menuju
kamar mandi untuk segera membersihkan badanku dan segera ikut bergabung makan
siang. Aku tahu mereka sedang menunggu dan Adeline juga akan beralasan jika
hari ini aku tak bisa untuk diajak fitingg baju, baiklah aku akan memenuhi
keinginan mereka. Untuk Nesya, aku benar-benar nggak tahu apa yang harus aku
lakukan selanjutnya, mungkin aku harus menemuinya dan meminta maaf secara
langsung.
Di tempat yang berbeda Nesya masih mengurung dirinya
di kamar, walau pun bibi sudah mengetok pintu kamar Nesya namun tetap saja
Nesya tak mau keluar dan memilih berdiam diri di kamar. Kini semuanya sudah
hancur bukan? Selanjutnya ia akan berbuat apa? Nesya juga tak tahu selain
melanjutkan hidupnya dengan tak ada tujuan sama sekali.
“Kenapa tuhan selalu tak adil kepadaku? Kenapa!”
teriakku sambil menjambak rambutku.
Sampai kapan? Semuanya akan berakhir dengan bahagia
dan bukan kesedihan yang ia dapatkan selama ini ia sudah cukup lama bersabar
menunggu hari yang bahagia namun hanya sakit yang ia dapatkan. Sungguh kejam,
merasa bahwa dunia mempermainkannya.
“Nona Nesya, bibi mohon jangan seperti ini nona. Jika
nanti nona kenapa-napa maka bibi yang akan mendapatkan masalah besar. Bibi bisa
kena marah habis-habisan dari tuan Alex,” ucap bibi, mencoba berbicara agar
nonanya keluar dari kamarnya.
“Bibi tenang saja, aku tidak kenapa-napa. Nanti aku
juga keluar, lebih baik sekarang bibi siapkan makan siang untukku,” ucapku.
“Baik nona, asalkan nona
keluar dari kamar,” ucap bibi.
Lalu setelah itu aku tak mendengarkan suara dari bibi
lagi dari luar. Setelah aku kembali dari pantai aku langsung membuat
berantakkan kamar dan semuanya sudah hancur. Aku bergegas untuk pergi kekamar
mandi untuk membersihkan badanku, mungkin dengan berendam akan membuat badanku
rilex.
Ini lah kehidupan yang sesungguhnya semuanya sangat
pana, masalah yang akan datang bertubi-tubi tanpa ada hentinya. Roda kehidupan
juga akan terus berjalan yang tadinya diatas akan menjadi di bawah. Apa yang kita
sudah susun dengan baik namun semuanya hancur begitu saja.
Setelah setengah jam menghabiskan waktunya hanya untuk
berendam kini Nesya membilas tubuhnya dan setelah itu keluar kamar mandi dengan
sudah berpakaian rapi. Lalu ia berjalan keluar kamar dan menyuruh beberapa
pegawai yang bekerja di villa agar membersihkan kamarnha yang sudah tak
berbentuk seperti kamar itu. Nesya berjalan ke ruang makan dan di sana sudah
ada banyak makanan yang sudah di sajikan oleh bibi. Nesya pun menyeret kursi
dan segera dudul lalu mengambil nasi dan beberapa lauk pauk, namu saat akan
memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Nesya sama sekali tak selera untuk makan
dan ia kembali mengeluarkan air matanya.
“Nona kenapa menangis?” tanya bibi, aku pun segera
mengusap air mataku dengan kasar lalu tersenyum kepada bibi.
“Aku tidak kenapa-napa bi, hanya saja aku teringat
__ADS_1
drama yang aku lihat tadi. Dramanya sangat sedih jadi aku ikutan menagis,”
ucapku dan beruntung saja bibi mempercayainya.