Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya


__ADS_3

Nesya membaca pesan dari Alex dengan pesan yang penuh


arti, namun apakah ia akan tetap bertahan dengan lama? Bagaimana jika


selanjutnya ia tak bisa bertahan? Dan sampai kapan ia akan bertahan menunggu


kedatangan Alex. Jika sangat lama? Apa ya, Alex akan tetap kembali kepadanya?


Pikira Nesya jadi bercabang kemana-mana, bagaimana tidak jika Alex saja


mengirimkan pesan seperti itu.


Aku pun menghela nafas dan menaruh hp ku kembali tanpa


berniat membalas pesan dari Alex, biarkan seperti itu dulu. Jika nanti aku sudah


punya pertanyaan untuknya maka aku akan mengirimkan pesan kepadanya. Sungguh


kejam dunia ini seakan mempermainkannya, bagaimana tidak? Dia di sini hanya


sebatang kara karena ia jauh dari orang tua dan saudara. Di sini ia hidup


mengandalkan orang lain dan ia juga tak punya pekerjaan, jika nanti terjadi


apa-apa denganku maka siapa yang akan menolongku.


Memang ini tak adil bagiku, dan aku juga tak mau hidup


seperti ini. Bagaimana hidupku selanjutnya jika semua orang meninggalkan aku?


Bahkan Alex saja kini sudah tak bisa kupercaya dan aku yakin ia juga akan


meninggalkannya.”Arrgggh! Sialan,” teriakku sambil membanting semua


barang-batang yang ada di kamarku, biarlah aku dianggap tak tahu diri karena


sudah merusak semuanya. Aku benci dengan semua ini, mereka semua


mempermainkanku dengan sesuka hati mereka, aku juga memiliki hati dan perasaan


namu mereka dengan seenak hatinya melakukan semua ini kepadaku, keterlaluan


bukan?


“Nona, nona Nesya tidak apa-apa kan,” teriak bibi dari


luar pintu kamarku.


“Tidak bi, aku tak apa-apa. Bibi tak usah khawatirkan


aku,” teriakku dari dalam kamar.


Aku duduk di lantai dengan air mataku yang sudah


keluar tak terbendung lagi, aku benar-benat takut dan tahu apa yang harus


selanjutnya aku lakukan, memang aku memiliki uang dengan menggunakan semua


fasilitas yang di berikan oleh Alex. Tapi aku hatus pergi kemana? Apa iya, aku


harus pulang dan kembali ke orang tuaku dengan keadaan seperti ini? Aku sungguh


malu dan tak sanggup melihat mereka bersedih.


“Maafkan Nesya, ma, pa. Mungkin Nesya bukan anak yang


baik bagi kalian, Nesya hanya seorang anak yang bisa bikin kalian malu, Nesya


benar-benar minta maaf,” ucapku sambil memukul dadaku dengan pelan.


Aku hanya bisa terduduk sambil menangis, aku juga


malas untuk keluar dari kamar. Jadi aku akan menghabiskan waktuku seharian ini


di kamar saja, aku ingin menyendiri dan tak ingin di ganggu oleh siapa saja.


Aku meraih hp ku dan membalas pesan dari Alex.


“Sampai kapan aku harus menunggu? Jika memang


kamu tak bisa memutuskan kapan waktunya, maka lebih baik kamu menyerah saja


Alex. Untuk apa kamu berkata seperti itu? Untuk apa aku harus menunggu jika


kamu saja tak bisa memastikan. Jadi? Bukannya aku lebih baik pergi dari awal


dan tak menerima semuanya dari kamu jika akhirnya begini, aku lelah Lex. Selama


ini aku hanya di permainkan oleh lelaki, mereka hanya mau enaknya saja. Ya,


mungkin memang aku sudah terlanjur menjual tubuhku ke banyak lelaki, hingga


semua lelaki memandangku rendah tak terkecuali kamu dan Rehan. Lalu apa bedanya


kamu dan Rehan? Tak ada semuanya sama. Di sini aku tak akan menyalakan kamu


karena ini adalah salahku yang salah mengambil jalan, jadi aku hanya ingin


berterima kasih kepadamu atas semua yang telah kau berikan kepadaku. Selamat


jika kamu sudah bahagia.”


Aku langsung mematikan hpku karena aku juga tak mau


orang menelponku dan malah mengangguku. Karena aku tak ingin di ganggu sama


sekali. Bagiku sekarang semuanya sudah usai dan hubunganku dengan Alex juga


sudah berakhir dan untuk selanjutnya aku harus menjalani hidup ku bukan? Atau


sebaliknya, hahaha.


“Ternyata kamu benar-benar bodoh Nesya,” ucapku dengan


tawaku yang memenuhi ruang kamar ku yang sudah beratakan seperti kapal pecah

__ADS_1


dan tak layak lagi di sebut kamar lagi. Kaca yang berserakan dimana-mana dan


kapan saja bisa melukai tubuhnya.


Kali ini Nesya benar-benar rapuh dan entah apa yang


ada di pikirannya, dirinya seperti orang gila dan sudah kehilangan arah,


sebenarnya ini salah siapa?


Kali ini Alex sudah tak bisa apa-apa balasan dari


Nesya begitu menusuk sampai hatinya. Ia ingin marah pada dirinya sendiri dimana


dia sudah menyakiti hati orang yang telah ia cintai selama ini.


“Maafkan aku Nes, aku benar-benar minta maaf


dan aku harap kamu tidak melakukan hal-hal bodoh yang akan menyakiti dirimu


sendiri. Kalau bisa aku menentukan hari itu maka aku ingin hari ini selesai Nes


dan aku bisa kembali secepatnya namun apa yang aku pikirkan beda dengan


kenyataan. Maafkan aku sekali lagi Nes, mohon maaf kan aku.”


Hanya itu pesan terakhir yang bisa aku kirimkan


kepadamu Nes, dan aku harap kamu tak akan menyakiti dirimu kamu sendiri Nes.


Kalau pun aku bisa kabur dari sini maka nyawa kamu yang akan bahaya Nes. Alex


yang sedari tadi tak tenang memikirkan akan keadaan Nesya hanya bisa menghela


nafas panjang untuk menenangkan dirinya agar tak memikirkan hal yang aneh-aneh.


“Lex, kamu sudah bangun?” tanya Adeline yang baru saja


masuk ke dalam kamar Alex dan melihat Alex yang sudah terduduk di balkon.


Alex hanya memutar tubuhnya lalu kembali mengalihkan


pandangannya tanpa menjawab pertanyaan dari Adeline.”Aku tahu kamu sedang tak


baik-baik saja Lex, begitu juga denganku. Tapi ini keputusan yang terbaik yang


harus kita ambil,” ucap Adeline sambil satu tangannya memegang pundak Alex


dengan pelan. Namun Alex menepis tangan Adeline dengan cepat agar tak memegang


dirinya.


“Yang terbaik seperti apa Adeline? Apa kamu tahu semua


yang dilakulan ini sangat melukai banyak orang dan kamu juga mendukung, satu


lagi kamu kenapa haru menemui Nesya dan harus bilang hamil anak aku. Padahal


selama ini aku tak menyentuhmu dan yang selalu menyentuh tubuhmu itu Candra


tapi kenapa kamu datang kepadaku Adeline! Kenapa?” teriak Alex sambil menatap


sedang marah.


“Cobalah Lex berpikir jernih lagi? Jika memang kamu


mencintai Nesya maka kamu tak akan memperebutkannya dari Rehan. Bahkan kamu


seharusnya membantu Nesya agar kembali lagi dengan Rehan namun yang kamu


lakukan apa Lex? Kamu memaksa kehendak kamu mengajak Nesya untuk bertunangan.


Apa kamu juga nggak pikirin perasaan Nesya? Cobalah Lex kamu pikirkan kembali


di sini aku tak akan mengadu domba namun aku hanya bilang yang sesungguhnya.


Satu lagi kamu juga kasih harapan palsu bagi Nesya yang sebenarnya akan


bertambah hancur, aku juga tahu kamu kasih fasilitas pada Nesya dan orang tua


kamu mengetahui itu dan ingin block semua kartu yang telah kamu berikan namun


aku mencegahnya karena aku tahu Nesya juga tak akan membutuhkan semua itu,”


ucap Adeline.


“Lalu? Bagaimana dengan perasaanku Adeline? Apa mama


dan papa aku juga memikirkannya? Tidak Adeline mereka juga egois seperti kamu.


Ingin mendapatkannya dengan instan dan hanya karena uang semuanya berjalan


dengan mulus,” ucapku kesal, hingga kedua tanganku mengepal ingin rasanya


memukul seseorang tapi siapa karena tak ada tempat untuk melampiaskan marahnya.


“Bukan aku yang egois Lex tapi kamu, sudahlah aku akan


pergi dari sini dan tak akan menganggumu untuk saat ini. Lebih baik kamu


gunakan waktu kamu untuk berpikir dahulu dan untuk fitting bajunya kita undur


jadi besok pagi saja,” ucap Adeline, lalu ia melangkahkan kakinya meninggalkan


ku.


“Adeline!” teriakku.


“Ini bukan hutan Alex, kamu bisa memanggil namaku


dengan pelan kamu tak perlu berteriak lagi pula aku juga nggak budek,” ucap


Adeline dengan kesal, ia berbalik menatap Alex dengan sangat tajam. Sebenarnya


siapa sih di sini yang bersifat seperti anak-anak? Adeline sendiri juga tak

__ADS_1


tahu, jujur ia juga sudah pusing mengatasi semuanya.


“Aku mohon tolong batalkan pernikahan kita, dan kamu


bisa menikah dengan Candra,” ucap Alex.


Aku tersenyum kecut,”Tidak bisa Lex, itu sudah menjadi


keputusanku. Mari kita jalani hubungan kita yang baru sebagai calon suami istri


dan menerima kenyataan ini,” ucap Adeline.


Kali ini Adeline benar-benar pergi meninghalkan aku


setelah berbicara barusan ia sudah tak memperdulikan umpatan dariku. Apa ya,


aku harus menerimanya? Aku seorang lelaki aku bisa menolaknya, bahkan aku bisa


mendapatkan yang lebih segalanya namun kenyataanya kehidupanku sedari kecil


diatur oleh orang tuaku.


Aku pun menghela nafas panjang lalu bergegas menuju


kamar mandi untuk segera membersihkan badanku dan segera ikut bergabung makan


siang. Aku tahu mereka sedang menunggu dan Adeline juga akan beralasan jika


hari ini aku tak bisa untuk diajak fitingg baju, baiklah aku akan memenuhi


keinginan mereka. Untuk Nesya, aku benar-benar nggak tahu apa yang harus aku


lakukan selanjutnya, mungkin aku harus menemuinya dan meminta maaf secara


langsung.


Di tempat yang berbeda Nesya masih mengurung dirinya


di kamar, walau pun bibi sudah mengetok pintu kamar Nesya namun tetap saja


Nesya tak mau keluar dan memilih berdiam diri di kamar. Kini semuanya sudah


hancur bukan? Selanjutnya ia akan berbuat apa? Nesya juga tak tahu selain


melanjutkan hidupnya dengan tak ada tujuan sama sekali.


“Kenapa tuhan selalu tak adil kepadaku? Kenapa!”


teriakku sambil menjambak rambutku.


Sampai kapan? Semuanya akan berakhir dengan bahagia


dan bukan kesedihan yang ia dapatkan selama ini ia sudah cukup lama bersabar


menunggu hari yang bahagia namun hanya sakit yang ia dapatkan. Sungguh kejam,


merasa bahwa dunia mempermainkannya.


“Nona Nesya, bibi mohon jangan seperti ini nona. Jika


nanti nona kenapa-napa maka bibi yang akan mendapatkan masalah besar. Bibi bisa


kena marah habis-habisan dari tuan Alex,” ucap bibi, mencoba berbicara agar


nonanya keluar dari kamarnya.


“Bibi tenang saja, aku tidak kenapa-napa. Nanti aku


juga keluar, lebih baik sekarang bibi siapkan makan siang untukku,” ucapku.


“Baik nona, asalkan nona


keluar dari kamar,” ucap bibi.


Lalu setelah itu aku tak mendengarkan suara dari bibi


lagi dari luar. Setelah aku kembali dari pantai aku langsung membuat


berantakkan kamar dan semuanya sudah hancur. Aku bergegas untuk pergi kekamar


mandi untuk membersihkan badanku, mungkin dengan berendam akan membuat badanku


rilex.


Ini lah kehidupan yang sesungguhnya semuanya sangat


pana, masalah yang akan datang bertubi-tubi tanpa ada hentinya. Roda kehidupan


juga akan terus berjalan yang tadinya diatas akan menjadi di bawah. Apa yang kita


sudah susun dengan baik namun semuanya hancur begitu saja.


Setelah setengah jam menghabiskan waktunya hanya untuk


berendam kini Nesya membilas tubuhnya dan setelah itu keluar kamar mandi dengan


sudah berpakaian rapi. Lalu ia berjalan keluar kamar dan menyuruh beberapa


pegawai yang bekerja di villa agar membersihkan kamarnha yang sudah tak


berbentuk seperti kamar itu. Nesya berjalan ke ruang makan dan di sana sudah


ada banyak makanan yang sudah di sajikan oleh bibi. Nesya pun menyeret kursi


dan segera dudul lalu mengambil nasi dan beberapa lauk pauk, namu saat akan


memasukkan makanan ke dalam mulutnya, Nesya sama sekali tak selera untuk makan


dan ia kembali mengeluarkan air matanya.


“Nona kenapa menangis?” tanya bibi, aku pun segera


mengusap air mataku dengan kasar lalu tersenyum kepada bibi.


“Aku tidak kenapa-napa bi, hanya saja aku teringat

__ADS_1


drama yang aku lihat tadi. Dramanya sangat sedih jadi aku ikutan menagis,”


ucapku dan beruntung saja bibi mempercayainya.


__ADS_2