
Aku berjalan menuju meja makan di sana sudah ada mama,
papa dan Adeline mereka menatapku dengan tatapan bingung, padahal aku marah
pada mereka namun aku masih mau bergabung dengan mereka untuk makan siang.
Sebenarnya ini sudah lewat dari jam makan siang tapi ya, sudahlah perutku juga
sangat lapar. Aku pun duduk di samping Adeline lalu mengambil nasi dan lauk
pauk lalu menikmati makan siangku tanpa memperdulikan mereka yang masih
menatapku dengan heran.
Mungkin sikap ku lebih kekanak-kanakan di dalam rumah
ini akan tetapi beda kalau di luar rumah. Ingin dari dulu memberongak namun
terkadang aku masih ingat bahwa mereka orang tuaku dan aku tak mau menjadi anak
yang durhaka kepada mereka.
Aku menileh kepada Adeline, ia juga menatapku dengan
bingung.”Setelah ini kita bisa pergi untuk fitting baju,” ucapku dengan singkat
dan Adeline hanya bisa mengangguk, dan aku pun fokus kembali pada makananku
kembali.
Skip
Selesai makan siang aku langsung mengajak Adeline
untuk pergi ke butik untuk fitting baju, sepeanjang perjalanan menuju butik
hanya ada keheningan karena baik aku dan Adeline hanya saling berdiam, aku tak
peduli dengan itu yang pasti aku hanya menuruti mereka apa yang di inginkan.
Setelah ini mungkin aku akan kembali ke Bali dengan
bantuan Adeline karena orang tuaku tak mungkin aku mengizinkan aku untuk pergi
ke Bali sendira dan pasti juga menyuruhku untuk mengajak Adeline. Itu pun kalau
berhasil, sebenarnya aku ini laki-laki bisa memberontak kapan saja namun aku
masih takut akan dosa karena selama ini aku selalu bersabar menghadapi sifat
kedua orang tuaku.
Sampai di dalam butik kami pun langsung mencoba baju
untuk pernikahan kita, aku sendiri juga tak banyak bicara dan semuanya terserah
dengan Adeline.
“Lex, kamu kenapa sedari tadi hanya diam? Kamu juga
tak memberi masukan tentang gaun yang aku kenakan,” ucap Adeline sebal sambil
berjalan menghampiriku dengan kedua tangannya di taruh di depan dada.
“Ini kan pernikahan yang kamu inginkan Adeline,
sedangkan aku tidak menginginkan pernikahan kita terjadi,” ucapku.
“Tapi ini demi kebaikan kita Lex, tolong kamu pahami
itu. Aku mau pulang sendiri saja,” ucapnya lalu Adeline pergi meninggalkan ku.
Aku hanya bisa tersenyum kecut lagi-lagi demi kebaikan, sungguh memang tak adil
semuanya bagiku.
Aku pun juga langsung beranjak dari duduk ku lalu
mengejar Adeline dan beruntung saja ia belum menaiki taksi.
“Adeline tunggu,” panggilku lalu menghampirinya. Ia
pun menoleh dan menatapku dengan tersenyum.
“Ada apa Lex?” tanyanya.
“Apa kamu mau membantuku untuk bertemu Nesya, jika mau
__ADS_1
maka besok kita akan pergi ke Bali,” ucapku dengan lembut.
Adeline menggelengkan kepalanya,”Tidak bisa Lex, maaf
mau bagaimana alasannya kita tidak bisa ke Bali karena semuanya sudah ditutup
oleh papa kamu.
“Apa kamu bilang?” tanyaku tak mengerti.
“Ya, kita tidak bisa pergi dari Jakarta sebelum kita
menikah dan walau pun kamu melanggarnya kamu tetap saja nggak akan bisa terbang
ke Bali karena papa sudah tutup akses kemana pun agar kamu tak pergi
meninggalkan Jakarta. Jalani saja Lex sampai pernikahan kita itu yang perlu
kamu ketahaui, percuma saja kamu memberontak pada akhirnya juga akan tetap
kalah. Maaf aku tak bisa membantu banyak, namun hanya perkataanku yang keluar
dari mulutku lah untuk sekarang yang entah kau percaya atau tidak,” ucap
Adeline.
“Kenapa? Apa sampai segitunya mereka melakukan ini
kepadaku padahal selama ini aku sudah patuh pada mereka. Mengapa mereka
membuatku semakin menderita, aku juga perlu bahagia bukan? Dan kamu Adeline
kamu juga bisa mencari kebahagian kamu sendiri bukan?” tanyaku, namun lagi-lagi
hanya gelengan yang aku dapatkan dari Adeline.
Adeline menepuk pundakku dengan pelan,”Sudahlah Lex
jangan menyesalinya dan lebih baik kita jalani saja semua ini. Aku yakin
kedepannya akan berjalan dengan baik-baik saja dan kamu tak perluh khawatirkan
semuanya,” ucap Adelin, namun tetap saja aku tak menerima semua ini. Karena
pada kenyataannya mereka hanya memikirkan kebahagiannya sendiri bukan orang
Nesya untuk saat ini aku saja juga tak tahu.
Hari ini Rehan sudah bersiap untuk keberangkatannya ke
Bali untuk menemui Nesya, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nesya.
Walaupun nantinya ia hanya akan melihat Nesya dari jarak jauh namun Rehan ingin
melakukannya, walaupun menatap wajah Nesya dari jarak jauh sedikit mengurangi
rasa rindunya. Ini Rehan lakukan karena ini demi menjaga Nesya agar tak kembali
meninggalkan, apa lagi jika meningat perbuatan yang waktu itu dan ia pastikan
jika Nesya juga belu memaafkannya. Rehan menghela nafas, meyakinkan dirinya
bahwa ia mampu membuat Nesya kembali kepadanya walau kali ini sedikit penuh
perjuangan. Namun kali ini juga Rehan juga tak akan menyerah, ia akan terus
mencoba dan terus meyakinkan Nesya karena sesungguhnya ia sangat mencintai
Nesya.
“Apa kamu yakin akan pergi ke Bali untuk menemui
Nesya, Re?” tanya Maria yang sudah ada di belakang anaknya menatap punggung
kokoh yang selama ini terlihag kuat namun sangat rapuh dan banyak kesedihan
yang ia terima dan tanggung sendirian.
Aku pun tersenyum, lalu menatap mama.”Iya, ma. Kali
ini Rehan benar-benar tak ingin kehilangan Nesya dan bagaimana pun Rehan akan
mendapatkan cinta kembali Nesya ma,” ucapku.
Mama tersenyum padaku, lalu memegang pundakku dengan
pelan,” Mama yakin kamu bisa membawanya kembali ke sini dan mama yakin jika
__ADS_1
Nesya juga masih mencintaimu. Untuk kali ini kamu harus meyakinkan dan bawalah
segera kembali ke sini Re, mama dan Raina menunggu kalian,” ucap Maria.
“Ya, ma. Rehan pastikan jika kita akan kembali ke sini
dan Rehan juga akan cepat menikahi Nesya agar kita bisa menjadi keluarga yang
bahagia,” ucapku.
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi dan kini
saatnya Rehan harus berangkat ke bandara dengan di antarkan sang sopir. Namun
Maria dan Raina juga ikut mengangarkan Rehan pergi ke bandara karena Raina
memaksa untuk ikut mengantarkan papanya ke bandara.
“Pa, papa nggak bohong pada Raina kan jika nanti papa
akan mengajak tante Nesya kembali ke Jakarta, jadi nanti Raina bisa bermain
lagi drmgan tante,” ucap Raina pada Rehan, di sini Raina sangat senang jika
sang papa akan menjemput tante kesayangan itu yang telah lama menghilang.
“Tentu saja sayang, papa akan bawa tante Nesya kembali
ke Jakarta dan bersama kita lagi, dan kamu juga harus sabar menunggu,” ucapku
sambil mengusap puncak rambut Raina.
Perjalanan menuju ke bandara kurang lebih memakan
setengah jam perjalanan jika tak macet dan semoga saja jalanan kali ini sengang
jadi aku jadi lebih cepat sampai bandara. Setelah mengetahui Nesya di Bali aku
sangat senang dan tanpa berpikir banyak aku langsung memesan tiket pesawat
untuk ke Bali.
Aku hanya memikirkan Nesya bagaimana nantinya aku juga
bisa menemui Nesya dari dekat walaupun awalnya aku hanya akan melihat dari
jarak jauh, dan aku juga baru tahu kemarin jika Nesya berada di Bali dengan
mantannya dan mereka juga telah bertunangan namun Rehan juga mendapatkan kabar
jika tunangannya pergi ke Jakarta dan menurut kabar ia juga akan di jodohkan.
Lalu bagaimana nasib Nesya? Yang ada di pikiran Rehan pasti Nesya juga sangat
merasakan sakit teramat dalam namun dengan kejadian ini ia bisa merebut Nesya
kembali kepadanya. Rehan tak peduli bagaimana caranya karena dari awal memang
Nesya adalah miliknya selamanya.
Sampai di bandara pun aku langsun buru-buru masuk
namun sebelum itu tak lupa berpamitan pada mama dan Raina, aku juga mencium
Raina dan memeluknya setelah itu bergantian dengan mama dan berpesan pada mama
agar menjaga Raina dengan baik. Aku yakin jika tanpa berpesan pada mama, mama
juga akan mengurus Raina dengan baik karena Raina adalah cucunya. Aku pun
melambaikan tangan kepada mereka berdua, lalu setelah itu aku masuk kedalam
pintu untuk menuju ke dalam pesawat.
Aku pun duduk lalu mengambil hp ku dari dalam kantong
celanaku untuk melihat foto Nesya yang kini terlihag semakin cantik namun
badannya terlihat sangat kurus dari yang sebelumnya dan sorot matanya juga tak
terlihat begitu bahagia hanya ada kesedihan dan kekosongan.
“Maafkan aku sayang, dan kali ini aku akan menebus
semuanya. Aku juga akan membuatmu bahagia selamanya dan membangun keluarga
kecil kita dengan bahagia,” ucapku sambil tersenyum kecil.
__ADS_1