Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya dan Rehan


__ADS_3

Aku berjalan menuju meja makan di sana sudah ada mama,


papa dan Adeline mereka menatapku dengan tatapan bingung, padahal aku marah


pada mereka namun aku masih mau bergabung dengan mereka untuk makan siang.


Sebenarnya ini sudah lewat dari jam makan siang tapi ya, sudahlah perutku juga


sangat lapar. Aku pun duduk di samping Adeline lalu mengambil nasi dan lauk


pauk lalu menikmati makan siangku tanpa memperdulikan mereka yang masih


menatapku dengan heran.


Mungkin sikap ku lebih kekanak-kanakan di dalam rumah


ini akan tetapi beda kalau di luar rumah. Ingin dari dulu memberongak namun


terkadang aku masih ingat bahwa mereka orang tuaku dan aku tak mau menjadi anak


yang durhaka kepada mereka.


Aku menileh kepada Adeline, ia juga menatapku dengan


bingung.”Setelah ini kita bisa pergi untuk fitting baju,” ucapku dengan singkat


dan Adeline hanya bisa mengangguk, dan aku pun fokus kembali pada makananku


kembali.


Skip


Selesai makan siang aku langsung mengajak Adeline


untuk pergi ke butik untuk fitting baju, sepeanjang perjalanan menuju butik


hanya ada keheningan karena baik aku dan Adeline hanya saling berdiam, aku tak


peduli dengan itu yang pasti aku hanya menuruti mereka apa yang di inginkan.


Setelah ini mungkin aku akan kembali ke Bali dengan


bantuan Adeline karena orang tuaku tak mungkin aku mengizinkan aku untuk pergi


ke Bali sendira dan pasti juga menyuruhku untuk mengajak Adeline. Itu pun kalau


berhasil, sebenarnya aku ini laki-laki bisa memberontak kapan saja namun aku


masih takut akan dosa karena selama ini aku selalu bersabar menghadapi sifat


kedua orang tuaku.


Sampai di dalam butik kami pun langsung mencoba baju


untuk pernikahan kita, aku sendiri juga tak banyak bicara dan semuanya terserah


dengan Adeline.


“Lex, kamu kenapa sedari tadi hanya diam? Kamu juga


tak memberi masukan tentang gaun yang aku kenakan,” ucap Adeline sebal sambil


berjalan menghampiriku dengan kedua tangannya di taruh di depan dada.


“Ini kan pernikahan yang kamu inginkan Adeline,


sedangkan aku tidak menginginkan pernikahan kita terjadi,” ucapku.


“Tapi ini demi kebaikan kita Lex, tolong kamu pahami


itu. Aku mau pulang sendiri saja,” ucapnya lalu Adeline pergi meninggalkan ku.


Aku hanya bisa tersenyum kecut lagi-lagi demi kebaikan, sungguh memang tak adil


semuanya bagiku.


Aku pun juga langsung beranjak dari duduk ku lalu


mengejar Adeline dan beruntung saja ia belum menaiki taksi.


“Adeline tunggu,” panggilku lalu menghampirinya. Ia


pun menoleh dan menatapku dengan tersenyum.


“Ada apa Lex?” tanyanya.


“Apa kamu mau membantuku untuk bertemu Nesya, jika mau

__ADS_1


maka besok kita akan pergi ke Bali,” ucapku dengan lembut.


Adeline menggelengkan kepalanya,”Tidak bisa Lex, maaf


mau bagaimana alasannya kita tidak bisa ke Bali karena semuanya sudah ditutup


oleh papa kamu.


“Apa kamu bilang?” tanyaku tak mengerti.


“Ya, kita tidak bisa pergi dari Jakarta sebelum kita


menikah dan walau pun kamu melanggarnya kamu tetap saja nggak akan bisa terbang


ke Bali karena papa sudah tutup akses kemana pun agar kamu tak pergi


meninggalkan Jakarta. Jalani saja Lex sampai pernikahan kita itu yang perlu


kamu ketahaui, percuma saja kamu memberontak pada akhirnya juga akan tetap


kalah. Maaf aku tak bisa membantu banyak, namun hanya perkataanku yang keluar


dari mulutku lah untuk sekarang yang entah kau percaya atau tidak,” ucap


Adeline.


“Kenapa? Apa sampai segitunya mereka melakukan ini


kepadaku padahal selama ini aku sudah patuh pada mereka. Mengapa mereka


membuatku semakin menderita, aku juga perlu bahagia bukan? Dan kamu Adeline


kamu juga bisa mencari kebahagian kamu sendiri bukan?” tanyaku, namun lagi-lagi


hanya gelengan yang aku dapatkan dari Adeline.


Adeline menepuk pundakku dengan pelan,”Sudahlah Lex


jangan menyesalinya dan lebih baik kita jalani saja semua ini. Aku yakin


kedepannya akan berjalan dengan baik-baik saja dan kamu tak perluh khawatirkan


semuanya,” ucap Adelin, namun tetap saja aku tak menerima semua ini. Karena


pada kenyataannya mereka hanya memikirkan kebahagiannya sendiri bukan orang


Nesya untuk saat ini aku saja juga tak tahu.


Hari ini Rehan sudah bersiap untuk keberangkatannya ke


Bali untuk menemui Nesya, ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nesya.


Walaupun nantinya ia hanya akan melihat Nesya dari jarak jauh namun Rehan ingin


melakukannya, walaupun menatap wajah Nesya dari jarak jauh sedikit mengurangi


rasa rindunya. Ini Rehan lakukan karena ini demi menjaga Nesya agar tak kembali


meninggalkan, apa lagi jika meningat perbuatan yang waktu itu dan ia pastikan


jika Nesya juga belu memaafkannya. Rehan menghela nafas, meyakinkan dirinya


bahwa ia mampu membuat Nesya kembali kepadanya walau kali ini sedikit penuh


perjuangan. Namun kali ini juga Rehan juga tak akan menyerah, ia akan terus


mencoba dan terus meyakinkan Nesya karena sesungguhnya ia sangat mencintai


Nesya.


“Apa kamu yakin akan pergi ke Bali untuk menemui


Nesya, Re?” tanya Maria yang sudah ada di belakang anaknya menatap punggung


kokoh yang selama ini terlihag kuat namun sangat rapuh dan banyak kesedihan


yang ia terima dan tanggung sendirian.


Aku pun tersenyum, lalu menatap mama.”Iya, ma. Kali


ini Rehan benar-benar tak ingin kehilangan Nesya dan bagaimana pun Rehan akan


mendapatkan cinta kembali Nesya ma,” ucapku.


Mama tersenyum padaku, lalu memegang pundakku dengan


pelan,” Mama yakin kamu bisa membawanya kembali ke sini dan mama yakin jika

__ADS_1


Nesya juga masih mencintaimu. Untuk kali ini kamu harus meyakinkan dan bawalah


segera kembali ke sini Re, mama dan Raina menunggu kalian,” ucap Maria.


“Ya, ma. Rehan pastikan jika kita akan kembali ke sini


dan Rehan juga akan cepat menikahi Nesya agar kita bisa menjadi keluarga yang


bahagia,” ucapku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi dan kini


saatnya Rehan harus berangkat ke bandara dengan di antarkan sang sopir. Namun


Maria dan Raina juga ikut mengangarkan Rehan pergi ke bandara karena Raina


memaksa untuk ikut mengantarkan papanya ke bandara.


“Pa, papa nggak bohong pada Raina kan jika nanti papa


akan mengajak tante Nesya kembali ke Jakarta, jadi nanti Raina bisa bermain


lagi drmgan tante,” ucap Raina pada Rehan, di sini Raina sangat senang jika


sang papa akan menjemput tante kesayangan itu yang telah lama menghilang.


“Tentu saja sayang, papa akan bawa tante Nesya kembali


ke Jakarta dan bersama kita lagi, dan kamu juga harus sabar menunggu,” ucapku


sambil mengusap puncak rambut Raina.


Perjalanan menuju ke bandara kurang lebih memakan


setengah jam perjalanan jika tak macet dan semoga saja jalanan kali ini sengang


jadi aku jadi lebih cepat sampai bandara. Setelah mengetahui Nesya di Bali aku


sangat senang dan tanpa berpikir banyak aku langsung memesan tiket pesawat


untuk ke Bali.


Aku hanya memikirkan Nesya bagaimana nantinya aku juga


bisa menemui Nesya dari dekat walaupun awalnya aku hanya akan melihat dari


jarak jauh, dan aku juga baru tahu kemarin jika Nesya berada di Bali dengan


mantannya dan mereka juga telah bertunangan namun Rehan juga mendapatkan kabar


jika tunangannya pergi ke Jakarta dan menurut kabar ia juga akan di jodohkan.


Lalu bagaimana nasib Nesya? Yang ada di pikiran Rehan pasti Nesya juga sangat


merasakan sakit teramat dalam namun dengan kejadian ini ia bisa merebut Nesya


kembali kepadanya. Rehan tak peduli bagaimana caranya karena dari awal memang


Nesya adalah miliknya selamanya.


Sampai di bandara pun aku langsun buru-buru masuk


namun sebelum itu tak lupa berpamitan pada mama dan Raina, aku juga mencium


Raina dan memeluknya setelah itu bergantian dengan mama dan berpesan pada mama


agar menjaga Raina dengan baik. Aku yakin jika tanpa berpesan pada mama, mama


juga akan mengurus Raina dengan baik karena Raina adalah cucunya. Aku pun


melambaikan tangan kepada mereka berdua, lalu setelah itu aku masuk kedalam


pintu untuk menuju ke dalam pesawat.


Aku pun duduk lalu mengambil hp ku dari dalam kantong


celanaku untuk melihat foto Nesya yang kini terlihag semakin cantik namun


badannya terlihat sangat kurus dari yang sebelumnya dan sorot matanya juga tak


terlihat begitu bahagia hanya ada kesedihan dan kekosongan.


“Maafkan aku sayang, dan kali ini aku akan menebus


semuanya. Aku juga akan membuatmu bahagia selamanya dan membangun keluarga


kecil kita dengan bahagia,” ucapku sambil tersenyum kecil.

__ADS_1


__ADS_2