
Malam ini seperti biasa Nesya makan malam sendirian, Nesya juga masih menunggu kabar dari Rehan. Nesya sudah mengirimkan pesan namun juga Rehan tak membalasnya padahal sudah membacanya.
“Re sebenarnya ada apa,” ucap Nesya sambil melihat hpnya berharap Rehan membalas pesannya.
Nesya membereskan bekas dirinya makan, menaruh semuanya di wastafel pencucian piring. Nesya berjalan ke kamarnya dan tak lupa menutup pintu. Nesya berjalan ke arah balkon, udara malam ini hawanya agak panas.
Nesya menatap langit malam yang sedikit mendung, bulan dan bintang yang biasanya bersinar kini tak ada cahaya mereka yang menyinarinya.
“Re, aku menginginkanmu,” ucapnya, Nesya menghembuskan nafas secara kasar.
Nesya mwnyenderkan badannya di tiang penyanga sambil melihat kota Jakarta malam hari yang masih ramai kendaraan dan beberapa orang pejalan kaki.
Ting …
Terdengar suara bel pintu Nesya pun tersenyum lalu berlari keluar kamarnya untuk segera membukakan pintu, Nesya pikir itu Rehan yang datang namun ternyata bukanlah Rehan yang datang melainkan Alex.
“Alex, ada apa kamu ke sini?” tanya Nesya yang masih di pintu dan belum menyurh Alex untuk masuk ke dalam.
“Aku ke sini mau minta maaf soal tadi siang Nes,” ucap Alex yang terlihat merasa bersalah kepada Nesya.
__ADS_1
“Sudahlaha Lex, lupakan saja tentang tadi siang, lagian aku juga nggak marah sama kamu,” ucap Nesya.
Alex hanya mengangguk dan tersenyum kepada Nesya.
“Ayo masuk, jangan di luar nggak enak di lihat sama orang nanti,” ajak Nesya menyuruh Alex masuk ke dalam.
Nesya menyuruh Alex duduk di sofa sedangkan Nesya ke dapur untuk mengambil minuman dan beberapa camilan untuk menemani mereka berbicara.
Nesya dan Alex duduk di sofa sambil melihat acara tv yang menyiarkan film horor. Nesya yang penakut terkadang tanpa sengaja memeluk Alex karena takut saat hantunya terlihat.
Alex tersenyum tipis dan tak menyiakan kesempatan yang datang, Alex pun juga memeluk Nesya.
“Tak apa Nes, ada aku di sini,” ucapnya sambil mengelus rambut Nesya dengan lembut.
“Ya, ada apa Nes?” tanya Alex menatap Nesya dan kini mereka saling bertatapan.
Baik Nesya dan Alex kini mereka saling diam tak ada yang bersuara, hanya keheningan saja yang terdengar hanya suara teriakan dari siaran tv.
Alex mendekatkan wajahnya agar lebih dekat dengan wajah Nesya, Nesya hanya menutup matanya. Ya, Alex mencium bibir Nesya dengan lembut dan Nesya juga membalas ciuman Alex.
__ADS_1
Ada sekitar sepuluh menit mereka berciuman, Nesya mengakhiri ciuman mereka karena kehabisan nafas.
“Kenapa Nes?” tanya Alex yang masih menatap Nesya.
“A-aku nggak bisa nafas Lex,” ucapnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain karena malu dengan Alex, bisa – bisanya dirinya berciuman bibir dengan Alex.
“Maaf, seharusnya aku tak melakukannya, sebaiknya aku segera kembali ke apartemen ini juga sudah larut malam,” ucap Alex kepada Nesya.
Namun Nesya mengelengkan kepalanya, Alex tak boleh meninggalkannya sendiri di apartemen.
“Kamu di sini saja menemaniku Lex,” ucap Nesya sambil memegang erat tangan Alex.
Alex melihat tangan Nesya yang memegang tangannya, lalu menatap Nesya dan tersenyum kepada Nesya.
“Gimana jika laki – laki itu datang Nes, pasti dia akan mengamuk dan akan menghajar aku jika aku tidur di sini,” ucap Alex sambil mengambil ke ke dua tangan Nesya dan mencium punggung tangan Nesya.
“Nes, sebenarnya aku mau tapi aku tak bisa melakukannya, dan kamu Nes sudah menjadi tunangannya akan tak terlihat baik jika di lihay orang,” ucap Alex kembali.
Nesya hanya mengelengkan kepalanya dan tetap memegang tangan Alex dengan erat untuk mencegah Alex untuk kembali ke apartemennya.
__ADS_1
“Kalau begitu aku ikut kamu ke apartement kamu Lex,” ucap Nesya menatap Alex dengan serius.
Alex hanya tersenyum lalu mengangguk, setelah itu Nesya mematikan tv dan berjalan keluar apartement untuk ikut Alex ke apartemennya.