
Seperti biasa Nesya hanya akan melamun di balkon
setiap bangun tidur dan tak ada hal yang lainnya yang ingin ia kerjakan. Jujur
ia masih merasa terpukul dengan semuanya yang terjadi dan beberapa hari ini
juga tak ada kabar dari Alex, dia seperti tak ingin hidup dan lebih baik
mengakhiri hidupnya. Apa lagi ia juga tak kerjaan di sini hanya mengandalkan
hidup dari uang yang di berikan oleh Alex yang juga menyakitinya, bagi Nesya
ini memang benar-benar permainan yang menyakitkan.
Entahlah mungkin ini adalah karma yang di berikan
tuhan karena selama ini ia sudah melakukan banyak dosa, dan juga selama ini ia
juga tak pernah memberikan kabar kepada orang tuanya. Kehidupannya memang sudah
hancur beberapa tahun yang lalu ketika ia sudah melakukan hubungan yang
seharusnya nanti ia berikan pada suaminya namun ia berikan pada lelaki brengsek
yang hanya untuk memuaskan nafsunya namun ia juga melakukannya karena juga
membutuhkan uang.
“Ma, pa. Maafkan Nesya sekali lagi, tuhan sudah
memberikan hukuman pada Nesya dan lihatlah sekarang Nesya menjadi seperti
sekarang ini dan tak ada yang peduli pada Nesya,” ucapku sambil air mataku
keluar tanpa di suruh, padaha aku sudah menangis setiap hari namun ternyata air
mataku juga belum kering ia masih begitu saja keluar dengan derasnya dari
mataku.
Ternyata benar jika menjadi dewasa itu sangatlah tidak
mengenakan harus melewati hidup yang begitu pelik dan masalah selalu datang
begitu saja, walau pun ia mau mengelak tetaplah tak bisa.
Aku menghela nafas lalu beranjak dari dudukku dan
berjalan masuk kedalam kamar dan berniat untuk segera membersihkan badanku lalu
setelah itu akan pergi untuk mencari aktivitas agar aku tak teringat dengan
semuanya dan itu sedikit menghilangkan rasa sedihku.
Setelah selesai mandi aku mengenakan dress warna
putih, tidak lupa aku memoles wajahku dengan bedak dan sedikit memakai lipstik
di bibir agar tak terlihat pucat. Aku pun keluar dari kamar dan ada beberapa
bodyguard yang berjaga sedangkan bibi aku tahu dia ada dimana mungkin sedang
ada di dapur.
“Maaf nona mau kemana?” tanya salah satu bodyguard.
“Aku hanya akan berjalan-jalan di luar saja, aku bisa
berjalan sendiri dan kalian tidak usah mengikutiku. Aku akan baik-baik saja,”
ucapku, dan mereka hanya bisa mengangguk. Mereka tak bisa membantahku lagi,
karena sekarang hanya aku yang bisa memerintah mereka, sedangkan Alex aku juga
tak tahu ia akan kembali ke sini atau tidak dan aku juga sudah tak bisa
berharap kepadanya.
Aku berjalan dengan santai menikmati udara pagi ini
walaupun jam sudah mau menunjukkan pukul 10.00 pagi. Ada banyak para wisatawan
yang sudah berjalan kesana kemari melakukan aktivitasnya entah itu lari pagi
atau sebagainya.
“Ternyata aku salah melakukan semuanya,” ucap seorang
laki-laki dengan tiba-tiba yang sudah berada di sampingnya berjalan menyamakan
langkahku.
“Candra, kenapa kamu seperti hantu sih. Bikin kaget
saja,” ucapku dengan kesal dan memukul lengannya dengan keras, dan ia hanya
bisa meringis saja.
“Sakit Nes, aku sangat sedih tahu nggak,” ucap Candra
sambil mengelus tangannya karena habis di pukul oleh Nesya.
“Apa kamu tak bisa meyakinkan dia? Atau orang tuanya
benar-benar menolakmu?” tanya ku lalu menoleh pada Candra dan ia hanya
tersenyum kecut.
“Ya, begitulah. Kekasihku juga tak kasih aku alasan
yang membuatku masuk akal, namun bagaimana pun aku mencobanya tetap saja dia
akan memilih lelaki itu,” ucap Candra dengan sorot mata kesedihan yang tak bisa
diungkapkan dengan kata-kata.
“Apa kamu sudah mau menyerah Ndra? Lalu apa arti
hubungan kau selama itu?” tanya ku kembali. Lagi dan lagi Candra menghela nafas
__ADS_1
beratnya dan menatapku sebentar.
“Ternyata dia hanya menggunakan aku sebagai pelarian
karena semenjak dulu kekasihku hanya mencintai laki-laki yang di jodohkan
padanya, namun itu menurutku juga tak masuk akal Nes, karena selama ini kita
menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih pada umumnya bahkan kami selalu
melakukan yang lebih dan kenapa ia juga lebih memilih lelaki itu,” ucap Candra.
Aku hanya tersenyum,”Bagiku semua pasangan juga pernah
melakukannya Ndra tapi tak menjamin hubungan mereka akan bahagia selamanya atau
pun akan hidup bersam selamanya,” ucapku.
“Apa maksud kamu Nes berbicara seperti?” tanya Candra.
“Tapi memang begitu kenyataannya Ndra, bahkan aku juga
sudah melakukannya dan sempat memiliki buat hati namun beberapa kali aku
mengalami keguguran,” ucapku dengan sedih.
“Apa? Kenapa kamu bisa mengalamknya Nes. Lalu
bagaimana dengan laki-laki yang telah menghamili kamu?” tanya Candra yang kini semakin
kepo.
“Laki-laki itu kini meninggalkan ku dan kini aku hanya
sendiri dan entahlah untuk kehidupanku selanjutnya aku juga tak tahu,” ucapku.
Nesya dan Candra duduk di bangku taman sambil
menikmati es krim yang barusa saja mereka beli, sampai Nesya lupa bertanya
kenapa Candra bisa sampai di sini.
“Oh, iya. Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya ku
menatapa Candra.
“Kebetulan hari ini aku baru saja pinda ke salah satu
villa yang ada di sini, memangnya kenapa? Apa ada masalah?” tanya Candra kepadaku.
“Tidak, hanya saja aku ingin tahu. Soalnya aku juga
tinggal salah satu villa di sini,” ucapku, namun Candra hanya mengangguk dan
asik menikmati es krimnya, mungkin hanya dengan makan es krim rasa sakit
hatinya bisa terobati. Aku hanya menatapnya dengan tersenyum, hingga Candra
menatapku dan mengernyitkan dahinya.
“Kamu kenapa?” tanya Candra lagi.
“Tidak, lalu bagaimana dengan hubungan kamu? Apa kamu
“Akan aku coba sekali lagi, jika memang sudah tak
bisa. Ya, sudah aku menyerah mungkin dengan semua kejadian ini aku harus
berhati-hati memilih kekasih,” ucapnya.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan kembali memakan
es krim. Jam sudah menunjukkan pukul 12.000 siang dan Candra pun bergegas pergi
karena ada pekerjaan mendadak, padahal aku ingin mengajaknya makan siang
bersama tapi ya, sudahlah kini aku akan makan siang di rumah saja.
Aku kembali berjalan kaki menuju villa, banyak para
turis juga yang ingin kembali ke pantai untuk berjemur dan itu sudah hal biasa.
Aku sendiri malah takut dengan panas namun mereka tidak, aku segera mempercepat
langkah kakiku agar cepat sampai di villa.
Di bandara, Rehan baru saja tiba. Ia pun berjalan
keluar menuju parkiran dimana di sana biasanya ada banyak taksi yang mengantri
untuk mencari pelanggan, aku pun bergegas memasuki salah satu taksi dan
menyuruhnya mengantarkan aku ke villa yang sudah aku pesan sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju villa aku sangat bahagia
dan senyumku yang sedari tadi terukir di bibirku. Bagaimana tidak villa yang
aku tempati nanti juga tak jauh dari villa yang di tempati oleh Nesya jadi
lebih mudah bukan mengamati Nesya dan tak perluh harus berjalan jauh-jauh namun
ia juga tetap waspada jika nantinya Nesya tahu hanya saja Rehan masih taku
dengan sikapnya yang sedikit kasar dan akan membuat Nesya kembali kabur. Jadi
tetap berhati-hati sesuai dengan misi awalnya.
Kini aku pun sampai di villa namun baru saja ku turun
dari taksi, aku melihat sosok wanita yang selama ini aku rindukan dia berjalan
sendirian aku tersenyum. Sungguh aku merindukannya namun tak bisa mendekatinya
dan untuk saat ini Rehan hanya bisa menatap Nesya dari kejauhan, sedangkan
Nesta tak mengetahui itu.
“Masih sama, namun kini kamu semakin kurus sayang. Apa
__ADS_1
yang kamu pikirkan hingga membuat badanmu menjadi seperti itu? Apa semua
gara-gara aku?” tanyaku pada diriku sendiri.
Aku menghela nafas lalu aku pun masuk ke dalam villa
untuk segera beristirahat sebentar, namun sebelum itu ia akan menyuruh penjaga
villa untuk membelikannya makan siang karena ia juga sudah sangat lapar.
Setelah menyuruh penjaga villa Rehan langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan
dirinya di atas ranjang.
“Aku sangat ingin menyentuhmu sayang, namun sayangnya
aku harus sedikit bertahan agar kamu tak kabur lagi dariku,” ucapku.
Kehidupan yang ia lalui benar-benar sangat rumit,
dimana ia tak bisa mempertahankan pernikahan pertamannya dan kini kisah
cintanya harus terjadi seperti ini. Rehan tak habis pikir kenapa ia harus
melewati ini semua? Apakah ini sebuah ujian untuk kedua kalinya dan kali ini
tuhan menyuruhnya agar tetap bertahan.
“Lelah? Iya, aku sangat lelah menjalani ini semua.
Tapi aku nggak bisa menyerah begitu saja karena ini juga demi Raina dan juga
mama,” ucapku.
Bali, 13.30. Aku baru saja selesai dengan rutinitas
membersihkan badanku, karena sedari tadi aku merasakan gerah jadi lebih baik
aku memutuskan untuk mandi saja dan setelah itu keluar kamar menuju dapur untuk
membuat secangkir kopi. Mungkin besok akan menyuruh penjaga villa untuk mencarikan
pembantu agar ada yang membersihkan villa dan yang lainnya, sebenarnya di sini
Rehan hanya menyewa saja karena Rehan berpikir ia juga tak akan tinggal di sini
lama.
Rehan duduk di balkon sambil memegang ipadnya sambil
mengecek emai masuk dari kliennya, sambil sesekali menatap pemandangan di
sekitaran villanya yang begitu sangat sejuk ini.
Di tempat yang berbeda Nesya merbahkan badanya di
ranjang, dirinya bingung mau berbuat apa lagi. Dirinya ingin kembali ke Jakarta
namun ia juga tak punya tujuan di sana, ingin pulang ia juga sangat malu dengan
kedua orang tuanya. Mungkin mulai besok ia harus melamar pekerjaan jadi ia akan
bekerja di sini selama beberapa tahun dan setelah itu ia akan kembali pulang
menemui irang tuanya.
“Tuhan kenapa harus seperti ini,” teriakku sambil
melepamparkan bantal kebawah.
Aku menatap hpku dan berniat mengirimi pesan untuk
Alex dan aku pun segera meraih hpku lalu mengetikkan pesan untuk Alex.
“Bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan Lex?
Apa kamu benar-benar akan meninggalkan aku di sini sendirian. Kamu benar-benar
tega Lex, aku di sini masih menunggumu Lex. Namun jika itu sudah menjadi
pilihanmu aku bisa apa Lex, aku juga tak bisa berbuat banyak. Rasanya sungguh
menyakitkan Lex karena aku hanya bisa menjadi boneka di sini atau lebih tepatnya
permainan.”
Aku pun langsung mengirimkan pesan itu pada Alex, lalu
kembali menaruh hp ku di atas nakas samping tempat tidur. Aku merebahkan
kembali badanku di ranjang, aku benar-benar seperti orang bodoh yang memang tak
memiliki tujuan sama sekali. Bahkan aku juga tak bisa menggambarkan bagaimana
masa depanku nanti, bahkan di sini aku hanya hidup sendirian tanpa ada orang
yang mengenalku, bahkan jika sampai nanti aku terjadi-jadi tak tahu siapa yang
akan menolongku, mungkin jikalau aku sudah tiada orang akan menemukan jasadku
saat sudah membusuk.
Hahaha, lucu ya? Aku lihat orang di luaran sana sangat
terlihat bahagia dan baik-baik saja dan hanya saya yang terlihat menyedihkan.
Seperti apa nantinya kisah yang akan aku gambarkan pada orang tuaku jika aku
kembali pada mereka, apa aku harus berkata jujur? Itu tidaklah mungkin karena
aku tak mau menyakiti mereka. Bahkan aku sudah berapa kali membahas tentang ini
namun aku benar-benar sudah tak bisa berpikir dengan jernih lagi kini isi
kepalaku sudah penuh dan rasanya juga ingin pecah seketika. Aku ingin
mengakhiri hidupku namun aku masih takut dengan kematian.
“Nesya, kamu benar-benar bodoh apa tak berguna di
__ADS_1
dunia ini. Kerjaan kamu yang hanya mengusahkan orang bukan? Hahaha, Nesya
hidupmu benar-benar buruk tahu nggak,” ucapku pelan, sambil menjambak rambutku.