Cinta Om Duda

Cinta Om Duda
Nesya


__ADS_3

Seperti biasa Nesya hanya akan melamun di balkon


setiap bangun tidur dan tak ada hal yang lainnya yang ingin ia kerjakan. Jujur


ia masih merasa terpukul dengan semuanya yang terjadi dan beberapa hari ini


juga tak ada kabar dari Alex, dia seperti tak ingin hidup dan lebih baik


mengakhiri hidupnya. Apa lagi ia juga tak kerjaan di sini hanya mengandalkan


hidup dari uang yang di berikan oleh Alex yang juga menyakitinya, bagi Nesya


ini memang benar-benar permainan yang menyakitkan.


Entahlah mungkin ini adalah karma yang di berikan


tuhan karena selama ini ia sudah melakukan banyak dosa, dan juga selama ini ia


juga tak pernah memberikan kabar kepada orang tuanya. Kehidupannya memang sudah


hancur beberapa tahun yang lalu ketika ia sudah melakukan hubungan yang


seharusnya nanti ia berikan pada suaminya namun ia berikan pada lelaki brengsek


yang hanya untuk memuaskan nafsunya namun ia juga melakukannya karena juga


membutuhkan uang.


“Ma, pa. Maafkan Nesya sekali lagi, tuhan sudah


memberikan hukuman pada Nesya dan lihatlah sekarang Nesya menjadi seperti


sekarang ini dan tak ada yang peduli pada Nesya,” ucapku sambil air mataku


keluar tanpa di suruh, padaha aku sudah menangis setiap hari namun ternyata air


mataku juga belum kering ia masih begitu saja keluar dengan derasnya dari


mataku.


Ternyata benar jika menjadi dewasa itu sangatlah tidak


mengenakan harus melewati hidup yang begitu pelik dan masalah selalu datang


begitu saja, walau pun ia mau mengelak tetaplah tak bisa.


Aku menghela nafas lalu beranjak dari dudukku dan


berjalan masuk kedalam kamar dan berniat untuk segera membersihkan badanku lalu


setelah itu akan pergi untuk mencari aktivitas agar aku tak teringat dengan


semuanya dan itu sedikit menghilangkan rasa sedihku.


Setelah selesai mandi aku mengenakan dress warna


putih, tidak lupa aku memoles wajahku dengan bedak dan sedikit memakai lipstik


di bibir agar tak terlihat pucat. Aku pun keluar dari kamar dan ada beberapa


bodyguard yang berjaga sedangkan bibi aku tahu dia ada dimana mungkin sedang


ada di dapur.


“Maaf nona mau kemana?” tanya salah satu bodyguard.


“Aku hanya akan berjalan-jalan di luar saja, aku bisa


berjalan sendiri dan kalian tidak usah mengikutiku. Aku akan baik-baik saja,”


ucapku, dan mereka hanya bisa mengangguk. Mereka tak bisa membantahku lagi,


karena sekarang hanya aku yang bisa memerintah mereka, sedangkan Alex aku juga


tak tahu ia akan kembali ke sini atau tidak dan aku juga sudah tak bisa


berharap kepadanya.


Aku berjalan dengan santai menikmati udara pagi ini


walaupun jam sudah mau menunjukkan pukul 10.00 pagi. Ada banyak para wisatawan


yang sudah berjalan kesana kemari melakukan aktivitasnya entah itu lari pagi


atau sebagainya.


“Ternyata aku salah melakukan semuanya,” ucap seorang


laki-laki dengan tiba-tiba yang sudah berada di sampingnya berjalan menyamakan


langkahku.


“Candra, kenapa kamu seperti hantu sih. Bikin kaget


saja,” ucapku dengan kesal dan memukul lengannya dengan keras, dan ia hanya


bisa meringis saja.


“Sakit Nes, aku sangat sedih tahu nggak,” ucap Candra


sambil mengelus tangannya karena habis di pukul oleh Nesya.


“Apa kamu tak bisa meyakinkan dia? Atau orang tuanya


benar-benar menolakmu?” tanya ku lalu menoleh pada Candra dan ia hanya


tersenyum kecut.


“Ya, begitulah. Kekasihku juga tak kasih aku alasan


yang membuatku masuk akal, namun bagaimana pun aku mencobanya tetap saja dia


akan memilih lelaki itu,” ucap Candra dengan sorot mata kesedihan yang tak bisa


diungkapkan dengan kata-kata.


“Apa kamu sudah mau menyerah Ndra? Lalu apa arti


hubungan kau selama itu?” tanya ku kembali. Lagi dan lagi Candra menghela nafas

__ADS_1


beratnya dan menatapku sebentar.


“Ternyata dia hanya menggunakan aku sebagai pelarian


karena semenjak dulu kekasihku hanya mencintai laki-laki yang di jodohkan


padanya, namun itu menurutku juga tak masuk akal Nes, karena selama ini kita


menjalani hubungan sebagai pasangan kekasih pada umumnya bahkan kami selalu


melakukan yang lebih dan kenapa ia juga lebih memilih lelaki itu,” ucap Candra.


Aku hanya tersenyum,”Bagiku semua pasangan juga pernah


melakukannya Ndra tapi tak menjamin hubungan mereka akan bahagia selamanya atau


pun akan hidup bersam selamanya,” ucapku.


“Apa maksud kamu Nes berbicara seperti?” tanya Candra.


“Tapi memang begitu kenyataannya Ndra, bahkan aku juga


sudah melakukannya dan sempat memiliki buat hati namun beberapa kali aku


mengalami keguguran,” ucapku dengan sedih.


“Apa? Kenapa kamu bisa mengalamknya Nes. Lalu


bagaimana dengan laki-laki yang telah menghamili kamu?” tanya Candra yang kini semakin


kepo.


“Laki-laki itu kini meninggalkan ku dan kini aku hanya


sendiri dan entahlah untuk kehidupanku selanjutnya aku juga tak tahu,” ucapku.


Nesya dan Candra duduk di bangku taman sambil


menikmati es krim yang barusa saja mereka beli, sampai Nesya lupa bertanya


kenapa Candra bisa sampai di sini.


“Oh, iya. Kenapa kamu bisa sampai di sini?” tanya ku


menatapa Candra.


“Kebetulan hari ini aku baru saja pinda ke salah satu


villa yang ada di sini, memangnya kenapa? Apa ada masalah?” tanya Candra kepadaku.


“Tidak, hanya saja aku ingin tahu. Soalnya aku juga


tinggal salah satu villa di sini,” ucapku, namun Candra hanya mengangguk dan


asik menikmati es krimnya, mungkin hanya dengan makan es krim rasa sakit


hatinya bisa terobati. Aku hanya menatapnya dengan tersenyum, hingga Candra


menatapku dan mengernyitkan dahinya.


“Kamu kenapa?” tanya Candra lagi.


“Tidak, lalu bagaimana dengan hubungan kamu? Apa kamu


“Akan aku coba sekali lagi, jika memang sudah tak


bisa. Ya, sudah aku menyerah mungkin dengan semua kejadian ini aku harus


berhati-hati memilih kekasih,” ucapnya.


Aku hanya menganggukkan kepalaku dan kembali memakan


es krim. Jam sudah menunjukkan pukul 12.000 siang dan Candra pun bergegas pergi


karena ada pekerjaan mendadak, padahal aku ingin mengajaknya makan siang


bersama tapi ya, sudahlah kini aku akan makan siang di rumah saja.


Aku kembali berjalan kaki menuju villa, banyak para


turis juga yang ingin kembali ke pantai untuk berjemur dan itu sudah hal biasa.


Aku sendiri malah takut dengan panas namun mereka tidak, aku segera mempercepat


langkah kakiku agar cepat sampai di villa.


Di bandara, Rehan baru saja tiba. Ia pun berjalan


keluar menuju parkiran dimana di sana biasanya ada banyak taksi yang mengantri


untuk mencari pelanggan, aku pun bergegas memasuki salah satu taksi dan


menyuruhnya mengantarkan aku ke villa yang sudah aku pesan sebelumnya.


Sepanjang perjalanan menuju villa aku sangat bahagia


dan senyumku yang sedari tadi terukir di bibirku. Bagaimana tidak villa yang


aku tempati nanti juga tak jauh dari villa yang di tempati oleh Nesya jadi


lebih mudah bukan mengamati Nesya dan tak perluh harus berjalan jauh-jauh namun


ia juga tetap waspada jika nantinya Nesya tahu hanya saja Rehan masih taku


dengan sikapnya yang sedikit kasar dan akan membuat Nesya kembali kabur. Jadi


tetap berhati-hati sesuai dengan misi awalnya.


Kini aku pun sampai di villa namun baru saja ku turun


dari taksi, aku melihat sosok wanita yang selama ini aku rindukan dia berjalan


sendirian aku tersenyum. Sungguh aku merindukannya namun tak bisa mendekatinya


dan untuk saat ini Rehan hanya bisa menatap Nesya dari kejauhan, sedangkan


Nesta tak mengetahui itu.


“Masih sama, namun kini kamu semakin kurus sayang. Apa

__ADS_1


yang kamu pikirkan hingga membuat badanmu menjadi seperti itu? Apa semua


gara-gara aku?” tanyaku pada diriku sendiri.


Aku menghela nafas lalu aku pun masuk ke dalam villa


untuk segera beristirahat sebentar, namun sebelum itu ia akan menyuruh penjaga


villa untuk membelikannya makan siang karena ia juga sudah sangat lapar.


Setelah menyuruh penjaga villa Rehan langsung masuk ke kamarnya dan merebahkan


dirinya di atas ranjang.


“Aku sangat ingin menyentuhmu sayang, namun sayangnya


aku harus sedikit bertahan agar kamu tak kabur lagi dariku,” ucapku.


Kehidupan yang ia lalui benar-benar sangat rumit,


dimana ia tak bisa mempertahankan pernikahan pertamannya dan kini kisah


cintanya harus terjadi seperti ini. Rehan tak habis pikir kenapa ia harus


melewati ini semua? Apakah ini sebuah ujian untuk kedua kalinya dan kali ini


tuhan menyuruhnya agar tetap bertahan.


“Lelah? Iya, aku sangat lelah menjalani ini semua.


Tapi aku nggak bisa menyerah begitu saja karena ini juga demi Raina dan juga


mama,” ucapku.


Bali, 13.30. Aku baru saja selesai dengan rutinitas


membersihkan badanku, karena sedari tadi aku merasakan gerah jadi lebih baik


aku memutuskan untuk mandi saja dan setelah itu keluar kamar menuju dapur untuk


membuat secangkir kopi. Mungkin besok akan menyuruh penjaga villa untuk mencarikan


pembantu agar ada yang membersihkan villa dan yang lainnya, sebenarnya di sini


Rehan hanya menyewa saja karena Rehan berpikir ia juga tak akan tinggal di sini


lama.


Rehan duduk di balkon sambil memegang ipadnya sambil


mengecek emai masuk dari kliennya, sambil sesekali menatap pemandangan di


sekitaran villanya yang begitu sangat sejuk ini.


Di tempat yang berbeda Nesya merbahkan badanya di


ranjang, dirinya bingung mau berbuat apa lagi. Dirinya ingin kembali ke Jakarta


namun ia juga tak punya tujuan di sana, ingin pulang ia juga sangat malu dengan


kedua orang tuanya. Mungkin mulai besok ia harus melamar pekerjaan jadi ia akan


bekerja di sini selama beberapa tahun dan setelah itu ia akan kembali pulang


menemui irang tuanya.


“Tuhan kenapa harus seperti ini,” teriakku sambil


melepamparkan bantal kebawah.


Aku menatap hpku dan berniat mengirimi pesan untuk


Alex dan aku pun segera meraih hpku lalu mengetikkan pesan untuk Alex.


“Bagaimana? Apa kamu sudah memutuskan Lex?


Apa kamu benar-benar akan meninggalkan aku di sini sendirian. Kamu benar-benar


tega Lex, aku di sini masih menunggumu Lex. Namun jika itu sudah menjadi


pilihanmu aku bisa apa Lex, aku juga tak bisa berbuat banyak. Rasanya sungguh


menyakitkan Lex karena aku hanya bisa menjadi boneka di sini atau lebih tepatnya


permainan.”


Aku pun langsung mengirimkan pesan itu pada Alex, lalu


kembali menaruh hp ku di atas nakas samping tempat tidur. Aku merebahkan


kembali badanku di ranjang, aku benar-benar seperti orang bodoh yang memang tak


memiliki tujuan sama sekali. Bahkan aku juga tak bisa menggambarkan bagaimana


masa depanku nanti, bahkan di sini aku hanya hidup sendirian tanpa ada orang


yang mengenalku, bahkan jika sampai nanti aku terjadi-jadi tak tahu siapa yang


akan menolongku, mungkin jikalau aku sudah tiada orang akan menemukan jasadku


saat sudah membusuk.


Hahaha, lucu ya? Aku lihat orang di luaran sana sangat


terlihat bahagia dan baik-baik saja dan hanya saya yang terlihat menyedihkan.


Seperti apa nantinya kisah yang akan aku gambarkan pada orang tuaku jika aku


kembali pada mereka, apa aku harus berkata jujur? Itu tidaklah mungkin karena


aku tak mau menyakiti mereka. Bahkan aku sudah berapa kali membahas tentang ini


namun aku benar-benar sudah tak bisa berpikir dengan jernih lagi kini isi


kepalaku sudah penuh dan rasanya juga ingin pecah seketika. Aku ingin


mengakhiri hidupku namun aku masih takut dengan kematian.


“Nesya, kamu benar-benar bodoh apa tak berguna di

__ADS_1


dunia ini. Kerjaan kamu yang hanya mengusahkan orang bukan? Hahaha, Nesya


hidupmu benar-benar buruk tahu nggak,” ucapku pelan, sambil menjambak rambutku.


__ADS_2