
Pagi seperti biasa Nesya pergi ke kafe dengan menggunakan angkutan umun, Nesya menunggu di halte bus seperti biasa yang tak jauh dari apartemen yang dirinya tinggalin.
Dari kejauhan tampak Rehan melihat Nesya yang duduk sendirian, lalu Rehan segera menghampiri Nesya dan memberhentikan mobilnya di depan Nesya. Rehan keluar dari mobilnya, tanpa basa basi Rehan menyeret tangan Nesya agar cepat masuk ke dalam mobilnya.
Rehan memasuki mobilnya lalu melajukan mobil meninggalkan tempat tadi menuju ke suatu tempat.
“Rehan kamu ini apa-apaan seenaknya kamu berbuat seperti ini kepadaku,” ucap Nesya dengan keras.
“Baby maafkan aku, hanya ini yang bisa aku lakukan agar kamu tak menghindariku lagi, sekali lagi maafkan aku,” ucap Rehan.
“Turunkan, terunkan aku sekarang juga Re aku bilang,” ucap Nesya.
Namun lagi-lagi Rehan tak memperdulikan ucapan Nesya dan lebih fokus dengan mengemudikan mobilnya.
“Rehan, apa kamu tuli. Hentikan mobilnya sekarang juga!” ucap Nesya lebih keras.
Rehan menghela nafas panjangnya dan menoleh ke Nesya.
“Maaf sayang untuk kali ini aku tak akan menuruti perintahmu, dan tenanglah sebentar. Sebentar lagi kita juga akan sampai,” ucap Rehan.
Nesya mengepalkan tangannya sambil memejamkan matanya, sungguh dirinya ingin meninju wajah Rehan namun apa daya dirinya tak bisa melakukan sekarang yang ada dirinya dan Rehan bisa ke akhirat bersama.
Nesya hanya diam saja tanpa ada pembicaraan lagi, sedangkan Rehan hanya fokus dengan menegemudikan mobilnya sambil sesekali menoleh ke Nesya.
__ADS_1
Rehan membelokkan mobilnya ke perumahan elit yang ada di bilangan jakarta, dan Rehan pun memasuki salah satu rumah yang terlihat sangat mewah dan pintu gerbang pun di bukakan oleh satpam yang berjaga.
Rehan memberhentikan mobilnya persis di depan pintu utama, Rehan keluar mobil dan berjalan mengitari mobilnya membukakan pintu untuk Nesya. Nesya keluar dari mobil sambil melihat sekitaran rumah yang terlihat rapi dan banyak tanaman hingga membuat udara di rumah sejuk.
“Ini rumah siapa? Dan ngapain kamu mengajakku ke sini,” ucap Nesya dengan nada dingin.
Rehan tersenyum dan satu tangannya menepuk pundak Nesya dengan pelan.
“Ini rumah kita baby,” ucap Rehan dengan senyuman manisnya.
“Maksud kamu apa? Kita juga sudah putus hubungan dan satu lagi aku juga tak akan kembali kepada Re,” ucap Nesya ketus dan bergegas meninggalkan Rehan. Namun baru beberapa melangkah tangan Nesya sudah di tarik oleh Rehan dan itu membuatnya terkejut.
Rehan mengendong Nesya seperti karung beras ke dalam rumah, membawa Nesya ke kamar mereka yang berada di lantai dua.
Rehan menjatuhkan Nesya di atas ranjang ukuran king size.
“Arrrgggghhh!” teriak Nesya, Nesya bangun dan melihat Rehan yang mengunci pintu kamarnya, dan kembali berjalan mendekati Nesya.
Rehan melepaskan jas kerjanya dan melemparkan ke sembarang arah, tak lupa juga melepaskan ikatan dasinya yang melingkar di lehernya.
“Re, apa yang akan kamu lakukan padaku,” ucap Nesya yang merasa sedikit takut terhadap Rehan.
Rehan menghela nafasnya dan tersenyum kepada Nesya,” tentu saja kita akan bersenang-senang sayang dan aku sangat merindukanmu,” ucap Rehan sambil melepaskan kancing kemejanya.
__ADS_1
“Rehan aku mohon jangan lakukan itu,” ucap Nesya kepada Rehan yang kini sudah ada di atasnya.
“Why? Aku sangat menginginkannya sayang, dan aku akan menanamkan benih-benih cinta kita di rahimmu agar kamu tak menghilang dariku ataupun kabur dariku lagi baby,” ucap Rehan sambil tersenyum sepeti devil.
“Please Re, aku mohon jangan lakukan itu,” ucap Nesya memohon tapi itu sudah tak berarti lagi karena Rehan sudah terselimuti egonya.
Rehan mencium bibir Nesya yang membuatnya candu, tak hanya itu saja Rehan juga merobek baju dan dalaman Nesya begitu saja. Membuangnya entah kemana, ciuman Rehan yang awalnya hanya di bibir turun kebawah.
Nesya yang memberontak tetap saja tak bisa berbuat banyak karena tangan Rehan lebih kuat dan hanya sia-sia apa yang di lakukan Nesya.
“Aaahhh! Hentikan Re, aku mohon,” ucap Nesya dengan sesekali Nesya mendesah dan itu membuat gabut gairah Rehan mengebu-gebu.
“Teruslah mendesah sayang dan panggil namaku, karena aku akan tetap melakukannya,” ucap Rehan dan kembali bermain di bukit kembar milik Nesya dan satu tangannya meremasnya dengan kuat membuat Nesya sedikit kesakitan.
“Aarrgghh, Re,” ucap Nesya di sela-sela desahannya.
Rehan tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya,” ya, baby kenapa?” tanya Rehan namun tak menghentikan tangannya bermain di bukit kembar Nesya.
“Please jangan lakuin ini Re,” ucap Nesya dengan lirih sambil menahan air matanya agar tak keluar.
“Apa? Aku tak mendengarkannya baby, lebih baik kita lanjutkan saja permainan kita,” ucap Rehan.
Nesya hanya mengelengkan kepalanya namun itu semua tak di dengarkan oleh Rehan dan lebih memilih melanjutkan permainan mereka.
__ADS_1